China layak diperhitungkan, akhirnya pengakuan itu resmi muncul dari institusi internasional yang cukup berpengaruh

Standard

2014 / DenzaHari ini saya membaca artikel ini:

http://www.marketwatch.com/story/its-official-america-is-now-no-2-2014-12-04
yang akhirnya menggelitik saya untuk menulis lagi hari ini. Terutama karena sebelumnya saya membaca banyak tulisan beredar di Facebook yang membodoh-bodohkan Presiden baru kita karena mendekatkan diri kepada China dan bukannya USA.

Well… orang yang berkata begitu jelas tidak tahu apa-apa tentang perkembangan dunia, terutama tentang pergerakan masa depan, atau mungkin jauh lebih tepat jika dikatakan terlalu ignoran dan masih punya mengidap ‘inferiority complex’ sebagai orang “Asia” penduduk negara berkembang bekas jajahan.

Seorang pemimpin yang punya visi masa depan sudah pasti akan melihat posisi China dalam permainan global dan tahu juga bahwa bersahabat dengan mereka lebih dekat dan tentunya mencoba belajar dariĀ mereka akan jauh lebih menguntungkan daripada berlengket-lengket dengan bangsa kulit putih saja.
Tidak hanya karena China sekarang makin kuat secara ekonomi, akan tetapi juga karena kedekatan kultural yang kita miliki. Problematika yang dialami juga kurang lebih sama, karakteristik masyarakatnya, tendensi ketertarikan mereka akan sesuatu, bahkan kita pun punya aset yang tak jauh berbeda ==> Sumber Daya Manusia yang sangat besar.
Itu adalah aset sekaligus pasar yang sangat besar. Jadi belajar dari mereka hasilnya mungkin akan jauh lebih mengena, lebih gampang menirunya jika tekad cukup besar.
Jika anda menganggap presiden anda bodoh karena mendekati China, maka sepertinya andalah yang seharusnya banyak membaca dulu dan belajar sebelum berkomentar yang membuat anda tampak konyol sendiri.

Jika hanya menggunakan jeleknya kualitas produk China yang banyak beredar di Indonesia dan negara lain sebagai argumen sepertinya itu terlalu dangkal. Karena adalah hal yang lumrah jika yang dibicarakan adalah produk “Low End”, maka harusnya jangan mengharapkan kualitas premium. Prinsip ekonomis China adalah mengeksploitasi pasar semaksimal mungkin, jadi mereka akan menyediakan produk dari kelas bawah sampai kelas premium… karena mayoritas penduduk dunia ini dari kalangan menengah kebawah sudah tentu produk ‘low end’ lah yang lebih banyak mereka sebar. Begitu juga dengan pasar barang KW… di Indonesia sangat besar tentunya karena peminatnya disana memang besar. Kita jangan bicarakan moral dulu disini, karena itu lain lagi bahasannya. Kita sedang bicara soal prinsip bisnis. Apalagi jika masyarakat kita sendiri ikut berkontribusi didalamnya dengan menjadi “pasar potensial”-nya. Jadi… jika di Indonesia yang lebih banyak beredar adalah yang jelek-jelek, tentunya karena masyarakat kita maunya dan sanggupnya beli yang kelasnya begitu.

Tapi bagi yang mengikuti perkembangan ekonomi dan teknologi dunia dengan baik, maka mereka akan tahu bahwa China belakangan ini “strive to the excellence future”. Key Technologies to the future: mereka semua punya dan dalam perkembangan yang sangat positif.
Daimler belum lama membentuk Joint Venture bersama BYD dan meluncurkan mobil listrik kelas premium dan tahukah anda bahwa mesin dan baterai yang dipakai justru buatan BYD dan bukannya dari pihak jerman. Kenapa?
Tentunya karena baterai mobil listrik terbaik dengan kapasitas besar saat ini yang punya adalah BYD, China.
Dan nyawa dari mobil listrik adalah “electro engine and it’s battery”.
Dan hanya orang ignoran yang tidak mau mengakui bahwa itu adalah teknologi masa depan.
Minyak akan habis, tapi kebutuhan energi tidak akan berkurang justru bertambah seiring tuntutan standar hidup manusia dan pertumbuhan populasi. Jadi tidak ada solusi lain selain energi terbarukan.
Dan China juga punya gurun yang cukup luas untuk diberdayakan dan tak ragu pula membelanjakan APBN nya untuk investasi dengan orientasi hasil yang mungkin baru bisa dilihat paling cepat 20 tahun kedepan.
Dari bidang yang terkecil pun semua pasti tahu bahwa orang sukses adalah orang yang bisa melihat jauh kedepan, dan bukannya yang cuma mikir besok, sampe akhir bulan atau paling banter 5 tahun kedepan bisa punya apa.
Jadi subsidi-subsidi yang diberikan pemerintahnya akan menunjukkan hasil dikemudian hari, itu pasti.
Inilah yang bisa kita sebut sebagai subsidi produktif, dan bukannya subsidi bensin yang justru membuat pemborosan cadangan minyak bumi yang masih tersisa semakin besar dan cepat.
Cuma negara yang sudah mulai bergerak kearah sana demi mengntisipasi hal inilah yang akan memiliki kejayaan di masa depan. Terlambat bergerak sedikit saja maka anda harus siap untuk menjadi pasar saja.
Berita salah satunya bisa dibaca disini:
http://media.daimler.com/dcmedia/0-921-656186-1-1694689-1-0-1-0-0-0-0-0-0-1-0-0-0-0-0.html

Kecerdasan mereka melihat jauh kedepan juga ditunjukkan dengan tetap nekadnya mereka mengembangkan eksplorasi “Rare earth” di masa lalu, yang kini hasilnya mereka nikmati dengan menguasai pasar dunia disini. Padahal sumbernya tidak cuma ada di China. Tapi sudah jauh lebih dulu bergerak sebelum Eropa, USA dan Australia menyadari arti pentingnya “rare earth” demi teknologi masa depan.

Dan masih banyak lagi yang takmungkin saya uraikan semua disini. Tapi yang jelas sudah cukup untuk menunjukkan bahwa “membodoh”kan presiden anda hanya karena dia bisa mengenali “potensi” masa depan malah membuat anda sendiri akan terlihat bodoh.
Dan menyebut bahwa melakukan bisnis dengan negara asing itu menjual negara adalah ucapan yang juga sangat konyol. Di era globalisasi adalah sesuatu yang absurd untuk menutup diri terhadap tetangga. Anda tidak bisa hidup sendiri didunia. Kemana anda akan menjual produk anda dan sebaliknya membeli produk yang tidak bisa anda hasilk sendiri jika anda tidak mau membuka pintu kerjasama dengan negara lain?
Negosiate smartly, trade smartly, knowing your own strength & weaknesss, opportunity and thread possibility… this way it will be more or less safe to deal with your opponents.
Untuk anda-anda yang mengatakan bahwa Jokowi cuma manajer yang baik, tidak cukup bagus mengurus negara yang besar seperti ini…
Hmmm… saya tidak tahu seberapa jauh dia akan bisa membawa Indonesia melompat kedepan, karena ketertinggalan indonesia sudah lumayan jauh dan masalah yang kita hadapi terlalu besar, khususnya jika kita masih harus menghadapi rakyatnya sendiri yang sebagiannya sangat tidak supportif dan enggan berkontribusi, tapi justru cuma bisa mengeluh, mencela dan marah-marah tanpa urun solusi yang nyata tapi justru cuma memperkeruh suasana saja membuat panas iklim di masyarakat.
Kritikan dan cercaan itu adalah dua hal yang sangat jauh berbeda. Memantau secara rasional untuk membantu pencegahan kesalahan fatal demi kepentingan bersama yang lebih besar itu tidak sama dengan prejudice yang disertai ancaman-ancaman tanpa dasar/alasan yang konkrit dan realistis.
Tapi yang saya yakini… seorang yang berpengalaman sebagai pemimpin sebuah perusahaan yang sudah bisa menembus pasar internasional dengan pertumbuhan pasar yang positif dan pernah memimpin sebuah kota, memimpin rakyat sipil dengan jejak kesuksesan yang bisa diukur, jelas jauh lebih “qualified” daripada seorang mantan jendral yang belum pernah punya prestasi publik yang nyata selain daripada bintang-bintang jasa dimedan perang.
Just so you know… perang dimasa depan yang lebih signifikan bukan lagi perang senjata, akan tetapi perang ekonomi… jadi kehebatan dalam mengangkat senjata itu bukanlah hal kunci, apalagi bahwa sebagai presiden anda punya cukup jendral yang bisa anda perintah. Memulai perang bukanlah ide yang bagus dimasa sekarang ini.
Ataukah mungkin rakyat indonesia lebih suka jika indonesia menjadi seperti Syiria atau Afganistan?
Mengenai ketegasan bertindak, saat ini kita bisa lihat bahwa Presiden ceking kita ini bukan orang yang mudah digertak.
Dengan posisi koalisi yang lemah sekalipun beliau tidak gentar untuk menolak panggilan parlemen yang dianggapnya masih nggak masuk akal. Reaksi terhadap serangan politis disana-sini pun cukup kalem tapi tanpa menunjukkan kesan terintimidasi. Jadi tuduhan menjadi presiden lemah sepertinya kembali bisa ditepikan bukan?

Ngomong-ngomong, tindakan pencurian ikan dari tetangga bukanlah argumen untuk memancing keributan dan mencap negara tetangga sebagai negara pencuri ya. Hanya karena ada rakyat anda yang maling itu tidak selalu berarti bahwa negaranya lantas semuanya kualitas maling. Itu adalah dua hal yang jauh berbeda, jadi penanganannya harus dipisahkan. Tangkap malingnya, hukum mereka, tapi hubungan antar negara tetap bisa jalan terus. Hanya cukup dipastikan saja bahwa segala tindakan sudah sesuai dengan payung hukum.

Picture source: Der Spiegel

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s