Catatan kecil tentang atmosfir di lingkungan kerja di Jerman

Standard

 

du-bist-der-grund-warum-ich-jeden-morgen-aufstehe-nein-spass-ich-muss-zu-arbeit

Quelle:www.spruch-des-tages.org

Sudah lama banget aku tidak menulis lagi… yah mau gimana lagi. Sejak 3,5 bulan yang lalu aku menjalani periode praktek yang menjadi bagian dari studiku di Jerman. Ini adalah pengalaman pertama kerja fulltime di negeri ini dan tiap kali pulang kerumah  rasanya benar-benar KO. Belum lagi dengan status menikah tentu masih ada banyak hal lain yang harus dikerjakan dirumah: belanja, masak, beres-beres, dan seterusnya. Emang sih suami nggak ngerepotin dan mau bantuin, tapi tetep aja lah…. For you who are married must know what I’m saying :-D.

Selama aku menjalani masa praktek ini, ada beberapa catatan kecil yang cukup mengesankan dan mau tidak mau membuatku jadi membanding-bandingkan dengan situasi di lingkungan kerja Indonesia khususnya yang kantoran. Bukannya saya mau sok mentang-mentang sekarang tinggal di LN trus lebay menganggap semua yang ada di negara baru itu TOP dan yang di Indonesia semuanya jelek ya.. Hell NO! Saya hanya bercerita dan membandingkan berdasarkan fakta yang saya jumpai dan alami pribadi. Orang lain bisa saja memiliki kesan dan pegalaman yang lain, tapi yang ini adalah kisah saya. Saya berusaha seobyektif mungkin dalam berkisah, tapi jika ada unsur subyektif yang terlibat tentunya itu bukan hal yang aneh. Tidak semuanya yang ada di Jerman sini menurut saya oke… tapi saya rasa jika sebuah bangsa/masyarakat bercita-cita untuk bisa “develope” dan “improve” kondisi mereka menjadi lebih baik, maka sebaiknya masyarakat itu sendiri..artinya “KITA” bersedia untuk melakukan “self reflection”, terbuka pada kritik dan meskipun hal yang baik itu datangnya dari pihak luar atau bahkan yang tak disukai, tetap ngga akan gengsi untuk meneladaninyaa.

Ok… back to the main topic…

Saya saat ini menjalani kontrak kerja selama 6 bulan dengan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang export import sparepart mobil, bus dan truk. Seperti yang sudah saya sebut diatas, maka berikut ini akan saya daftar beberapa hal yang sangat berkesan bagi saya selama memasuki lingkungan kerja profesional di Jerman:

1. Sistem hirarki yang nggak kental.

Disini biarpun jadi bos tapi nggak lantas “bossy”. Ditempat kerjaku bahkan si bos besar biasa dipanggil cukup dengan nama depan saja. Dan semuanya menyapa dengan “du” (kamu/kau) dan bukannya “Sie” (Anda, atau mungkin kalau di Indonesia lebih umum menyapa orang yg lebih berpangkat dengan sebutan “Bapak/Ibu”).
Setiap kali mau ngasih perintah ataupun sekedar meminta sesuatu tak pernah lupa bilang “tolong”. Pak Bos besar kalau pas lewat di ruanganku dan tiba-tiba ingin sekedar menyapa, ataupun bertanya “Is everything okay?” atau mungkin ingin tahu sesuatu tentang “project” yang kupegang, atau apapun itu; sesudahnya pasti selalu bilang…
“Ah..gut..alles klar. Danke schön.” (Ah, good.. I see… Thank you).
Ya… selalu kata “terima kasih” tak pernah lupa, bahkan meskipun ngga ada hal yang berarti sekalipun. Yang jadi atasan langsungku pun tak jauh beda. Di setiap E-Mail, atau dipenghujung pembicaraan telepon, selalu ditutup dengan ucapan terimakasih. Meskipun yang dia minta itu hal yang memang sudah menjadi tugasku, udah sewajarnya jika kulakukan.
So… it’s not like in Indonesia, where everything seems to be taken for granted. Begitu punya posisi bagusan dikit aja banyak yang udah langsung menunjukkan “kekuasaan/pengaruh”, dan menganggap bahwa dia selalu berhak untuk dilayani. Boro-boro deh menunjukkan penghargaan atas “effort” orang lain yang jadi bawahannya.
Tapi lain Indonesia lain disini.
Bahkan ketika kita ada meeting kecil untuk bahas sebuah “project” dengan bagian IT, aku nyaris tak percaya pada pendengaranku ketika atasanku cewek rusia yang cantik itu malah bilang: “Ana, kamu mau duduk? Silahkan kamu aja yang pake gak papa…”
Well hmmm, kebetulan ruangannya memang agak sempit dan cuma ada satu kursi ekstra. Tapi malah bosku nawarin aku yang duduk. Gimana aku ngga sempat terhenyak coba :-D. Hal kaya gitu ngga akan pernah terbayang deh di Indonesia. FYI itu sama sekali bukan basa-basi, tapi serius bener. You just know when someone is serious or not.
Lagipula, hal itu tidak cuma sekali dua kali doang..but it is just what they do here. Dan saya ini cuma sekedar anak magang lho.
Tawaran itu dikala itu kutolak, karena kebiasaan kultural yang “memberiku rasa tidak enak alias risih jika aku duduk dan bosku berdiri hehehe”. Tapi dilain kesempatan pernah aku terima karena situasi memang “terkesan” pantas kalau aku yang duduk. Karena saat itu aku yang “take in charge” alias yg di plot untuk kerjain nyaris semuanya dan saat itu yang lagi butuh dibimbing oleh sang tokoh utama. Jadi atasanku ya berdiri saja.

2. Tidak ada office boy yang bisa disuruh-suruh segala macam yang bahkan ngga ada urusannya sama pekerjaan.
Seperti misalnya disuruh bikinin kopi, disuruh muter-muter kota untuk beliin makanan, minuman.
Kamu mau minum teh atau kopi? Good, silahkan bikin sendiri ==>pantry fasilitasnya komplit, kita cuma harus mau angkat pantat dan bergerak. Lapar? Monggo beli sendiri… kalau ngga mau keluar kantor ya bawa makanan dari rumah dong. Microwave ada, kompor juga ada, kulkas pun ada. Hampir semuanya bawa makanan dari rumah, kecuali lagi kesiangan. Satu-satunya situasi dimana pegawai harus bikinin kopi/teh buat orang lain adalah cuma jika ada tamu perusahaan yang berkunjung. Selebihnya adalah cuma “kerelaan berbaik hati” sesama teman saja. Tentu saja kalau ada kolega yang kebetulan turun ke kota, atau sopir kantor kebetulan harus ngantar sesuatu ke kota misalnya, boleh ajalah kita minta nitip… tapi itu namanya “minta tolong” jadi yang jelas “tidak boleh nyusahin alias nggak sampai merepotkan”. Cuma masuk akal jika yang bersangkutan kebetulan perginya searah dengan tempat dia harus beliin barang titipan misalnya. Yang perlu ditekankan disini adalah, tugas sopir kantor itu bukan untuk melayani staff untuk urusan yang ngga ada hubungannya sama kebutuhan kantor.
Pak bos besar ku juga kadang makan di pantry semeja sama pegawainya kalau lagi nggak makan diluar.

3. You clean up your own mess.
Cleaning service itu cuma bersihin toilet, sedot debu, ngepel lantai, ngelap jendela dan buang sampah kantor doang.
Urusan pantry adalah urusan kita bersama… Tidak peduli apapun pangkatnya, semuanya mendapatkan jatah piket. Yang dapat giliran maka seminggu lamanya tugasnya menjaga kondisi pantry tetap nyaman. Membawa ketiga tong sampah yang penuh keluar (plastik, kertas, sampah dapur yang kotor), dan mengganti kantongnya dengan yang baru jika yang lama penuh. Menjalankan mesin cuci piring dan merapikan isinya jika selesai.
Meskipun ada yang piket, ngga lantas berarti yang lain trus seenaknya aja ninggalin kotorannya dan piring kotornya gitu aja diatas meja ya. Temen piketmu itu bukan budak kita. Kalau sampai ada yang jorok dan suka ninggalin barangnya geletakan sembarangan dimeja pantry, apalagi dalam kondisi kotor ==> pasti nasibnya masuk tempat sampah biarpun isinya masih penuh atau tempat makannya masih bagus. Dan itu bukannyaa ngawur ya… peringatan sudah diberikan dari awal. Ada dipapan tuliss dan ada pula di “Hausordnung” (setiap pegawai baru mendapat satu buklet tata tertib kantor dihari pertama bekerja)
Kalau dah bersih sih lain, sebenernya nggak boleh juga geletakin sembarangan meskipun di pantry karena “kerapian” itu kultur yg harus dijaga juga disini..tapi kalau ngga keseringan sih masih bisa ditolerir, namanya manusia kadang bisa lupa. Tapi jangan heran kalau tiba-tiba ketika kamu ingat mau ngambil udah nggak ada. Cari aja ke mesin cuci piring, biasanya nangkring disana :-D.

4. Ngga ada dresscode. dan make up juga bukan hal yang penting. Tergantung selera yang bersangkutan saja.
You work with your head or some others may work with their hands, but absolutely not the outfits decide whether you are able to work well or not ^_^. Pemilik perusahaan ini, juga adik ceweknya aja kalau ngantor nggak jarang cuma pake t-shirt, pullover sama jeans dan muka polos los. Juga nggak bossy sama sekali. As long as you do your job all right, everything is ok.
Mungkin kalau kerja di bank atau institusi keuangan lainnya situasi akan agak beda… tapi diluar itu, sejauh yang saya amati di Jerman ini rata-rata bener-bener low profile gayanya.

5. Satu hal lagi yang khas dan jelas takkan terbayangkan terjadi di Indonesia. Memasang staff yang sudah berumur, kagak kinclong alias no make up, dengan body yang cenderung bulet dan pendek pula di posisi resepsionis!!!
Impossible 😀 :-D. Tapi seperti itulah di kantorku.
Yang satu juga udah punya beberapa anak tapi suka dandan. Tapi yang satunya lagi udah lebih berumur, gemuk, dan nggak suka dandan… Tapi keduanya sangat ramah dan bisa bicara 4 bahasa. That is what exactly relevant for their position. Tampang bukan prioritas. Well… untuk bidang lain saya nggak begitu kaget, tapi bahwa resepsionis perusahaan ekspor impor pun ngga ada tuntutan “penampilan menarik dan masih segar”, saya benar-benar surprise.
You would never expect that in Indonesia, right?

Itu adalah beberapa hal yang menjadi catatan istimewaku menjalani pengalaman pertamaku masuk dunia kerja profesional di Jerman. Apakah semuanya begitu ditempat lain? Tentu saya tak bisa bilang dengan pasti.
Tapi kalau mengacu kepada korelasi dengan pengalaman di lingkungan sehari-hari…maka saya cenderung berpendapat: “ya”, setidaknya 75 % dari poin-poin diatas berlaku “general” disini, mungkin hanya dengan perbedaan sedikit dibeberapa situasi berbeda.

Saya rasa dari sini bisa dilihat, kenapa saya bisa kerasan disini… Karena apa yang saya temui kurang lebih merefleksikan prinsip hidup saya sehingga saya ngga perlu terlalu sering “gatal-gatal” wkwkkwkwkkwwk
Ngomong-ngomong, perusahaan tempat saya saat ini bekerjaa memakai sistem “jam kerja fleksibel”. Jadi saya ngga perlu panik kalau bangun kesiangan atau ketinggalan bus hahaha. Karena saya fleksibel mau masuk kerja antara jam 7-10, bisa milih. Kunci kantor elektronis yang kupegang berfungsi sekaligus sebagai pencatat waktu.
So that’s my experience this far, how is yours? Lain kali kalau ada lagi yang baru akan kutambahkan lagi, sampai jumpa… ;).

Advertisements

2 responses »

  1. Di kantorku yang sekarang atmosfernya sudah hampir equal dan orang dipekerjakan benar2 karena kapasitasnya. Bullying karena merasa senior, sayangnya masih ada 😦

    Btw, kalau teh dan kopi di ruang meeting kami biasanya sedia air panas aja. Tamunya suruh bikin sendiri. Praktis

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s