Solar power storage unit (baterai buat solar cell)

Standard

Mumpung ada waktu sedikit saya ingin berbagi informasi untuk pembaca.
Untuk yang di Indonesia semoga aja bisa menjadi inspirasi bagi bapak dan ibu pembuat kebijakan dibidang ekonomi dan energi (minyak tidak akan lama lagi habis dan ingatlah bahwa indonesia itu gudang matahari, sayang kalau disia-siakan), sedangkan bagi yang di berdomisili Jerman dan kebetulan tinggal di Saarland serta memiliki atau ingin memiliki solar cell informasi ini mungkin akan jauh lebih berguna lagi ^_^.

377286_10151057273973231_1696558761_n

Secuplik atap rumah gue

Sebenarnya infonya udah rada basi sedikit karena subsidi dari kementrian energi di Saarland udah diawali sejak oktober lalu sementara waktu itu kita bener-bener lagi ngga ada duit, jadi ya ngga begitu rajin update info tentang baterai untuk solar cell dengan lebih detail, walaupun aslinya udah lama pengen hehehe. Selama ini kalau produksi strom lebih banyak dari kebutuhan harian maka sisanya mau tidak mau di salurkan ke network PLN -nya jerman, dengan kata lain harus dijual ke negara. Cuma tujuan akhir pemilik solar cell pada prinsipnya adalah independen dalam memenuhi kebutuhan energinya sendiri, karena itu memiliki baterai penyimpan kelebihan produksi sebenarnya cukup vital untuk memenuhi target tersebut. Hanya saja harga baterai masih cukup mahal untuk kapasitas yang dimiliki. Karena itu dulu waktu beli solar cell kita pilih menunggu dulu beberapa tahun sebelum beli baterai. Selain nunggu teknologi yang lebih baik lagi
(well… kaya file storage ya, dari dulu segede gaban dengan kapasitas cuma beberapa Mbyte dan sekarang ukuran makin kecil tapi kapasitas berlipat-lipat, sampai Terabyte dengan harga yang cukup murah. Karena itu saya yakin kedepannya hal yang sama akan terjadi dengan teknologi solar energi. Bahkan sebenarnya andai aja kesadaran akan hal ini bisa ditanamkan dimana-mana lebih awal lagi dan ngga melulu di tanggapi dengan resistensi dan pesimisme, harusnya teknologi tersebut saat ini udah jauh lebih modern lagi dari yang saat ini ada), juga nunggu ngumpulin duit dulu tentunya.

Back to the main topic….
Jadi waktu kita dapat informasi tentang subsidi untuk solar baterai ini, kita sudah  ketinggalan 2,5 bulan, sementara subsidinya ada “budget limit”, ngga melulu cuma dibatasi waktu permohonannya seperti subsidi yang lain pada umumnya. Kalau celengan semar kementrian energi udah abis ya ngga bakal dikasih lagi ^_^.  Karena itu aku menunggu dulu sampai aplikasi kita dapat persetujuan baru berani bagi info kepada orang lain. Takutnya ntar dikira ngibul atau sok tau lagi ah wkwkwkwk.

Habis tidak ada lagi berita di koran online yang bisa dikutip untuk jadi sumber pendukung (seperti yang saya bilang sebelumnya, saya tahunya juga udah telat beberapa bulan, makanya berita tentang itu udah ngga beredar lagi). Ditambah lagi saya belakangan ngga punya banyak waktu buat nulis artikel yang serius dan butuh data yang bener-bener masih aktual, habis ini kan urusan duit ngga sedikit kalau salah bisa berabe. Nah, kalau saya sendiri sudah membuktikan bahwa informasinya masih valid dan aktual, maka baru deh saya berani mengumumkan hehe.

Well, langsung aja ya.
Saarland sejak oktober lalu memberikan subsidi untuk setiap pembelian baterai penyimpan energi listrik tenaga matahari. Variatif tergantung sampai seberapa besar “energy saving” yang bisa dicapai setelah memiliki baterai dibandingkan dengan sebelum memiliki baterai, subsidinya bervariasi mulai dari 35%-55% terhitung dari total biaya pembelian + pemasangannya. Target utama subsidi ini adalah untuk memaksimalkan pemakaian energi matahari yang dihasilkan oleh solar cell untuk diri sendiri, artinya penjualan kelebihan strom yang dihasilkan ke jaringan listrik publik yang selama ini dilakukan sebisa mungkin diminimalisir. Dengan begini maka beban kebutuhan energi nasional pun bisa ditekan, hingga lambat laun energi fosil termasuk nuklir bisa ditinggalkan secepat mungkin. Dengan adanya subsidi ini, harga baterai penyimpan listrik tenaga matahari menjadi jauh lebih terjangkau. Semakin banyak orang yang bisa memakai energi terbarukan, maka harganya pun akan semakin terjangkau. Aplikasi kami sudah dapat persetujuan dan subsidi akan ditransfer begitu tagihan pemasangan “solar battery” nya sudah kami terima dan teruskan pada kementrian terkait. Saat ini estimasi biaya untuk baterai dengan kapasitas 6 kWh sampai selesai dipasang kira-kira 12.600€, jika kami berhasil memaksimalkan pemakaian energi matahari untuk sendiri sampai 68% maka kita pada akhirnya cuma akan terbebani biaya 45% yaitu kira-kira 5.670€. Menurut “Techniker” yang kita ajak konsultasi target itu tidak mustahil untuk kita raih, jadi kesempatan ini mesti diambil. Umur baterai diperkirakan 15 tahun sebelum harus diganti dengan biaya penggantian kira-kira 1500€ (harga saat ini lho itu. Saya sendiri yakin, 15 tahun mendatang sudah pasti nilainya jauh lebih rendah dari itu. Karena minyak, gas dan uranium tidak bisa beranak wkwkkwkwk). Dan perlu diingat pula bahwa investasi berupa solar cell unit disini bisa diamortisasi dalam laporan pajak tahunan dan pemilik akan mendapatkan restitusi pajak dari departemen keuangan sejumlah nilai amortisasinya. Jadi siapa bilang solar energi tidak oke? Saya rasa, selama dana untuk investasi awal nya ada, maka itu sangat “advisable”, jika kita memang ingin mendukung terciptanya masa depan yang lebih baik bagi bumi ini dan isinya. Karena ngga cuma subsidi, tapi nanti toh juga  bisa dapat restitusi juga (wink wink to indonesian government).

Sometimes it’s all just about setting up priority. Yes… For us, buying solar cell is simply more precious and important than having a car. And this time, again, for this solar power storage I must cancel my trip to Indonesia this year, and additionally I must cut my shopping budget for a while hehehe. However, we still think that this is really worth it the sacrifice anyway. Chance doesn’t come twice… makin lama ditunda mungkin kelak tidak akan ada subsidi lagi. Yeah…kalau udah makin banyak yang mau pake ngapain pula dikasih subsidi, iya kan? Slowly I’m gonna say, “Selamat tinggal energi fosil ^_^”.

Bagi yang merasa berkepentingan, silahkan membaca informasi yang lebih detail di website “Ministerium für Wirtschaft, Arbeit, Energie und Verkehr” (kementrian ekonomi, tenaga kerja, energi dan transportasi) berikut ini: http://www.saarland.de/130895.htm

Semua formulir yang dibutuhkan bisa langsung didownload di link tersebut. Dan saya sarankan pula untuk langsung kontak kepada departemen yang bersangkutan, karena informasi dari tangan pertama jelas yang paling akuntabel, dan tentunya jauh lebih efektif karena informasi yang didapat akan bisa disesuaikan dengan situasi anda masing-masing dengan kondisi anda masing-masing, relevansi nya jauh lebih dekat tentunya. Disini saya cuma memberikan gambaran kasar saja.

Ok…that’s all for today. Semoga informasinya bermanfaat.

PS: Ah ya lupa, ada yang ketinggalan. Dengan menjadi anggota Sonnen Community (Networking bagi pemilik solar cell, dimana masing-masing anggota saling sharing kelebihan strom-nya ke “community network” untuk membantu anggota network yang sedang kekurangan strom, link: https://www.sonnenbatterie.de/de/community-konfigurator-dehttps://www.sonnenbatterie.de/de/community-konfigurator-de),
maka bagi setiap pembelian baterai merk “Sonnenbatterei” akan mendapatkan diskon sebesar 1875€, jadi biaya yang harus dikeluarkan lebih berkurang lagi dari yang sudah saya sebut diatas wkwkwkwkkwk. That’s why finally we chose to buy that brand ;).

Advertisements

2 responses »

  1. Beruntunglah yg hidup di Jerman dan negara lain yg sistem pemakaian energinya sudah memulai proses transisi seagresif dan serapi itu! Gemes dan ngebet pingin Indonesia cepat memulai langkah sistemis spt itu.. moga2 jangan sampe jadi negeri terakhir deh.. akan konyol kalo sampe gitu mengingat negri tropis dimana matahari berlimpah tak kenal musim.. 🙂

    Like

    • Well Inda, kalau dibandingkan dengan Indonesia, Jerman emang udah jauh didepan (Sayang sebenernya karena indonesia punya lebih banyak matahari, kenapa kok ya subsidi nya lebih suka dikasih ke konsumsi BBM fosil dan konsumsi lainnya).
      Tapi kalau melihat record bahwa Jerman sebenernya yg jadi pioneer untuk “energie revolution/transition” dan target nya sendiri udah di set sejak belasan tahun yang lalu, maka apa yang sekarang ada di jerman itu masih jauh dari cukup.
      Di sebuah negara yang masih punya teknologi andalan yang masih bisa menghasilkan duit, maka teknologi baru (yang membutuhkan investasi gede dengan return yang belum bisa dibilang “high”) akan selalu dianggap sebagai saingan akan produk lama.
      Karena itu industri lama akan selalu mencoba menunda-nunda.
      Itu masalah utama Jerman.
      Negara-negara dunia ketiga, sebenernyaa memiliki start point yang jauh lebih strategis, karena inovasi dalam teknologi masa depan tidak perlu harus mematikan industri lama yang mereka memang “tidak pernah miliki”, there is no internal competition.
      Sayangnya dari semua negara dunia ketiga yang ada, cuma China yang cukup punya pandangan kedepan, dan berani set up goal dan berusaha mewujudkannya.
      Hal yang ngga dilakukan oleh Indonesia sejauh ini.
      Just a comparison, China gives much subsidy to solar cell industry, and electro mobility.
      Look… even the latest Electro car made by Daimler-ByD for example, Daimler only made the body but the soul of the car: the electro motor and battery are both made by ByD.
      So, germany is actually not leading at all in this area :-D.
      Even my solar cell is made in China, the battery is made in Japan (Actually we wanted to buy from ByD, as they have the best battery with affordable price, unfortunately, at the moment when the subsidy were given to us, ByD still had no delivery to Germany yet. Now they already have an office here but we have already bought one. But it’s ok… as long as it works well too hehehehe..)

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s