Peluang Pendidikan Tingkat Lanjut di Jerman

Standard

Tulisan kali ini relevan bagi pemakai bahasa Indonesia yang akan/ingin ke Jerman untuk menetap karena mengikuti pasangannya ataupun yang datang dengan tujuan untuk menambah kualifikasi profesionalnya. Bagi imigran yang belum lama disini dan masih dalam fase menimbang-nimbang dalam menentukan aktifitas dinegara barunya pun mungkin akan bisa mengambil manfaatnya.

Disini saya akan mengupas beberapa kemungkinan yang bisa diambil dan pembaca bisa mempertimbangkan yang mana yang paling sesuai dengan kondisinya masing-masing. Selain itu saya juga hanya akan menulis hal-hal yang sifatnya umum saja, karena itu bagi yang merasa berkepentingan sudah selayaknya investasi sedikit waktu dan energi untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang setiap pilihan yang menarik perhatiannya sendiri-sendiri.
Tentu saja jika ada kesulitan dalam memahami petikan-petikan informasi tersebut, saya bersedia membantu sejauh kemampuan saya. Pertanyaan yang sifatnya pribadi seperti biasa bisa disampaikan melalui “contact form” dan akan saya jawab via E-Mail. Hanya saja tolong jangan mengajukan pertanyaan yang terlalu mentah, karena sudah terlalu sering saya mendapatkan pertanyaan semacam itu. Please do your homework first, as our topic here is actually about an advance level of education. Karena itu sudah selayaknya jika pertanyaan yang diajukan juga merepresentasikan “advance level” ^_^.
Terlebih lagi, untuk bisa mendapatkan informasi yang optimal, diperlukan pertanyaan yang berbobot juga kan? Mungkin ini terdengar tidak enak ditelinga, tapi percayalah, jika anda memang ingin “survive” di Jerman tanpa merasa sengsara, biasakanlah untuk mendengar komentar ala tembak langsung (“blunt”) semacam ini. Orang Jerman secara umum selalu menitikberatkan pada efisiensi dan efektifitas, karena itu basa-basi demi mencegah kehilangan muka adalah hal terakhir yang mungkin akan terlintas di benak orang jerman karena itu tergolong tindakan yang tidak efisien.

Ok, here we go:

  1. Ausbildung

Yang tergolong “Ausbildung” adalah setiap pendidikan keahlian yg diperlukan bagi siapapun yang ingin melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan khusus. Masa tempuh standard-nya kurang lebih sama dengan masa yang dibutuhkan untuk mendapatkan titel Bachelor yaitu 3-3,5 tahun akan tetapi Ausbildung lebih berorientasi praktek dan tidak memberikan gelar akademis.
Beberapa jenis profesi keahlian di Jerman hanya boleh dijalankan oleh lulusan Ausbildung yang berhasil lulus di ujian negara, yang disebut “Meisterprüfung”.
Contohnya saja: pemasangan instalasi listrik untuk peralatan elektronik tertentu sebenarnya hanya boleh dilakukan oleh seorang “Meister Elektriker”, atau juga pemasangan atap rumah, tangga utama, dan hal-hal sejenis lainnya yang memiliki resiko akan kesehatan dan keselamatan manusia. Jika hal ini dilanggar, maka jika sampai suatu saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka selain sanksi hukum bisa dipastikan asuransi juga akan menolak klaim.

Oleh karena itu, meskipun Ausbildung tidak memberikan titel dan untuk bisa mendaftar sekolah di Ausbildung Zentrum tidak selalu diperlukan kecerdasan akademis (ijazah  Realschule sudah cukup), tapi jenis pendidikan ini tidak sepatutnya dipandang sebelah mata. Seorang lulusan Ausbildung yang benar-benar bagus, biasanya tidak akan kesulitan dalam mencari pekerjaan. Mungkin mereka bahkan akan lebih mudah mencari duit daripada lulusan Universitas yang hanya punya ijasah dan tidak memiliki nilai lebih apapun (having no USP).
Jenis Ausbildung tidak hanya terbatas pada keahlian fisik seperti pertukangan saja, melainkan cukup variatif. Kualifikasi yang dibutuhkan pun variatif menyesuaikan bidang yang diambil (terutama sebagai orang asing yang paling relevan untuk diperhitungkan disini adalah kualifikasi bahasa). Secara umum, kursus Integrasi yang diwajibkan bagi setiap imigran yang menetapkan standar kelulusan ujian bahasa level B1 sudah cukup untuk mengikuti Ausbildung.
Akan tetapi untuk jenis-jenis profesi dimana dibutuhkan banyak komunikasi (profesional) dalam bekerja, secara logis akan menuntut level kemampuan bahasa jerman yang cukup baik. Misalnya saja: Ausbildung untuk menjadi Asisten dokter, perawat, pegawai bank atau asuransi, bisa saja (walaupun tidak selalu) akan mensyaratkan level kemampuan bahasa B2, atau setidaknya “Deutsch für Beruf” (sesuai okupansi yang dipilih). Sementara itu untuk Ausbildung menjadi: “Baker”, koki, tukang potong, atau pengasuh anak/lansia  misalnya, tentu saja B1 dari kursus integrasi pun sudah cukup.

Dalam Ausbildung sebagian masa pendidikan ditempuh di kelas (teori) dan sebagian lagi berupa praktek langsung di lingkungan kerja. Jadi selama menempuh pendidikan yang bersangkutan biasanya sudah mendapatkan gaji walaupun belum sebesar gaji yang berhak didapatkan oleh status pekerja tetap. Karena prosentase masa kerja yang cukup besar ini (sudah pasti melebihi batas waktu yang diijinkan bagi mahasiswa/pelajar untuk bekerja sambilan), maka dari itu itu jenis pendidikan ini secara umum cuma relevan bagi pemilik ijin tinggal (Resident Permit) dan warga negara jerman.
Orang asing yang masuk Jerman dengan visa studi tidak memungkinkan untuk memilih jalur ini karena visa studi tidak memberikan ijin kerja fulltime (ataupun midi-job). Bagi yang gagal dalam Studi dan ingin pindah haluan mengikuti Ausbildung, akan membutuhkan perubahan status visa terlebih dahulu. Kesuksesan upaya ganti haluan ini akan tergantung pada sponsor perusahaan tempat kita mengikuti Ausbildung dan jenis profesi yang ingin di pilih. Hal ini ada kaitannya dengan politik perlindungan hak tenaga kerja lokal. Perubahan status visa itu sendiri (secara umum) akan menuntut yg bersangkutan untuk kembali ke negara asal terlebih dahulu dan mengganti visanya dengan yang baru.

2. Normales Studium in Hochschulen (Universität und Fachhochschule)

Di Jerman ada dua jenis Perguruan Tinggi yaitu:
a. Universität: ini adalah PT umum, kurikulum nya lebih bersifat teoretikal.
b. Fachhochschule: ini bahasa inggrisnya: University of Applied Science. Jadi kurikulumnya lebih menitikberatkan kepada ilmu terapan, aplikasi dalam dunia kerja langsung. Karenanya mahasiswa akan dituntut menjalani “internship” (bisa lebih dari sekali dan salah satunya minimal 6 bulan) sebagai salah satu syarat kelulusan.
Perguruan Tinggi ini biasanya memfokuskan pada beberapa bidang tertentu saja. Misalnya: Technische Hochschule: cuma menyediakan jurusan berbau teknik, Music Hochschule: tentunya cuma untuk belajar musik, ada juga Hochschule yang menyediakan jurusan ekonomi dan teknik. Bagi yang memiliki ijasah SMU bisa melanjutkan studi di Universitas dan Fachhochschule, sedangkan yang ijasah sekolah menengahnya berasal dari SMK, hanya bisa menempuh studi di Fachhochschule dan dijurusan yang relevan dengan bidang yang diambil semasa di SMK. Akan tetapi sebelum bisa mendapatkan hak untuk melanjutkan studi di PT Jerman, setiap pemilik ijasah sekolah menengah di Indonesia harus lulus FSP dulu di Studienkolleg.

FSP ini semacam ujian persamaan untuk setara lulusan “Gymnasium” (SMU-nya Jerman). Sebelum bisa mengikuti FSP calon mahasiswa harus terdaftar sebagai siswa di Studienkolleg untuk mengikuti kelas persamaan dalam pelajaran-pelajaran tertentu sesuai jurusan yang dituju. Misalnya ingin kuliah dibidang farmasi, kedokteran atau biologi, maka kelas yang harus diambil adalah M-Kurs dan pelajarannya meliputi kimia, matematika dan biologi. Jika ingin kuliah di bidang teknik ya ambilnya T-Kurs dan disini yang dibutuhkan kimia, matematika dan fisika. Untuk yang ingin kuliah di jurusan Ekonomi, maka masuknya di W-Kurs dan disitu dibutuhkan nantinya lulus FSP di mata pelajaran: ekonomi (business study and macro economics), matematika, tergantung Hochschule-nya menawarkan jurusan apa saja mungkin akan ada pula IT dan fisika. Bagi yang ingin kuliah hukum masuknya di G-Kurs dengan pelajaran: literatur jerman, sejarah, ilmu sosial. Jadi kasarnya kayak UNAS ulang dah, cuma kali ini ujiannya dalam bahasa Jerman :-D.
Disamping itu tentunya mutlak akan ada kelas bahasa jerman yang ujian akhirnya ada di level C1.
Bagi orang indonesia yang sudah pernah mengikuti kuliah di Indonesia setidaknya 2 semester dan lulus di semua modul pada semester yg ditempuh tersebut dan mata kuliah yang diambil pun sesuai dengan jurusan yang diminati di jerman, maka dia memiliki “kemungkinan” untuk melewatkan kewajiban lolos FSP. Untuk ini harus konsultasi langsung kepada Universitas terkait. Ini relevan bagi setiap calon mahasiswa yang ingin kuliah level bachelor (S1). Bagi yang SMU nya adalah sekolah berkurikulum internasional, silahkan konsultasi langsung pada universitas yang bersangkutan untuk mencari tahu adanya kemungkinan “skip” fase Studienkolleg ini.
Sementara itu bagi yang ingin kuliah master, silahkan untuk “cross check” apakah diploma S1 Indonesia-nya dikeluarkan oleh PT yang diakui di Jerman.
Untuk studi level Master, kemungkinan menemukan jurusan berbahasa inggris cukup banyak.
Informasi tentang ijasah pendidikan dari negara asing (termasuk indonesia) bisa dilihat disini: http://anabin.kmk.org/no_cache/filter/hochschulabschluesse.html
Selebihnya silahkan konsultasi sendiri, selain itu juga bisa mencari informasi dari DAAD yang cabangnya ada di Jakarta dengan website berikut: http://www.daadjkt.org/
Pada dasarnya di setiap PT kita cuma punya kesempatan ujian 3 x untuk setiap mata kuliah. Jika gagal akan langsung di DO dan tertutup kemungkinan untuk pindah ke universitas lain di seluruh jerman untuk jurusan yang sama (ada kemungkinan bahkan bisa tertutup untuk setiap jurusan yang memiliki mata kuliah yang sama dengan yang telah menjadi batu sandungan tersebut).
Di Studienkolleg sendiri cuma bisa mengulang FSP satu kali, jika gagal dan di DO maka visa studi takakan bisa diperpanjang lagi. Untuk setiap visa studi yang diterbitkan bagi calon mahasiswa level Bachelor. Dengan visa studi tersebut setiap mahasiswa memiliki waktu 10 tahun untuk menyelesaikan masa studinya di Jerman. Terdengar cukup lama memang, tapi tidak sedikit WNA yang membutuhkan waktu sampai 3 tahun untuk bisa sampai lulus FSP.
Bagi anak lulusan SMU yang murni datang untuk sekolah, 2-2,5 tahun itu sudah termasuk cepat. Karena fase pencarian tempat di Studienkolleg itu sendiri aja udah bisa memakan waktu 9 bulan-1 tahun kalau si anak sendiri ngga efisien dalam mengatur urusannya sendiri, apalagi yang cuma ngandalin diurusin sama orang lain (oleh agen contohnya, hingga begitu sampai Jerman si anaknya “clueless” sama sekali dan ujung-ujungnya “gedandapan”, itu istilah jawanya).  3 bulan pertama adalah untuk kursus bahasa jerman yang diambil demi mendapatkan visa studi yang pertama.
Peraturan visa studi mengatur bahwa setelah masa 3 bulan pertama visa habis, visa tersebut bisa diperpanjang sampai maksimal 9 bulan sampai berhasil mendapatkan tempat di Studienkolleg atau di Perguruan Tinggi. Hal ini sesuai dengan jaminan finansial yang diminta dalam proses visa studi, yang merepresentasikan jaminan biaya hidup selama 1 tahun sebagai “student”. Jika dalam 1 tahun ini tidak mendapat tempat maka yang bersangkutan terpaksa harus pulang lagi ke negara asalnya. Setelah tempat didapatkan, maka visa studi akan diberikan mengacu pada perkembangan studinya). Di Jerman tidak ada banyak lagi Studienkolleg yang tersisa, sementara satu kelas cuma diisi 15-20 orang dan itu harus diperebutkan dengan pelajar dari negara lain.
Jika ada mapel di Studienkolleg yang harus ngulang, maka bisa jadi fase persiapan Uni ini aja totalnya udah makan waktu 3,5 tahun. Jadi praktis orang asing diperbolehkan maksimal sampai 14 semester untuk menyelesaikan Bachelor-nya. Jika melihat bahwa tidak sedikit orang jerman sendiri yg membutuhkan 10 semester untuk lulus, maka batas maksimal 10 tahun visa studi secara keseluruhan itu sudah merupakan batas yang moderat dan “murah hati”. Mahasiswa yang ngga cuma pinter tapi juga efisien dan efektif dalam me-manage waktu dan “study process”-nya,  tentu aja 10 tahun itu akan cukup buatnya untuk bisa sampai selesai master kalau mau.
Bagi mahasiswa yang berada di jerman dengan Familienzusammenführungsvisusm (family visa) tentu akan beda perlakuan dalam setiap urusan yang berkaitan dengan kebijakan visa.

3. Duales Studium / berufsbegleitendes Studium

Disini membicarakan tentang kemungkinan untuk menempuh studi sambil bekerja.
Syarat-syarat pendaftaran ke PT-nya bagi orang asing tetap sama seperti syarat masuk PT biasa, hanya saja status visa yang dibutuhkan yang beda. Kemungkinan ini banyak ditawarkan oleh “Fachhochschulen” sesuai dengan kurikulumnya yang memang “practice oriented”. Jadi sistemnya seperti Ausbildung, hanya saja penyelenggaranya adalah Perguruan Tinggi yang memiliki kerjasama dengan Perusahaan tertentu. Karena itu yang pertama harus ditempuh adalah melamar pada perusahaan  yang menawarkan kemungkinan tersebut terlebih dahulu. Jalur ini tentu saja cuma mungkin untuk dijalani oleh pemilik “resident permit” atau WN Jerman saja, karena seperti juga pada kasus Ausbildung, disini jam kerja yang dijalani cukup banyak melebihi batas hak seorang mahasiswa biasa dalam melakukan kerja sambilan.

4. Berufliche Weiterbildung
Ini adalah pendidikan tambahan yang bisa ditempuh oleh setiap orang yang menetap di Jerman untuk menambah kualifikasi diluar titel akademisnya. Sertifikasi SAP, CATIA, AutoCAD, Bahasa asing, intercultural communication, public speaking dan kualifikasi-kualifikasi tambahan lainnya. Bisa dicari peluangnya di institut-institut semacam “Volkshochschule”, “Caritas”, dan “Bildungszentren” lainnya.

Saya sendiri menempuh studi biasa di perguruan tinggi. Akan tetapi jika diperbolehkan memberi saran, jika pembaca (khususnya yang pindah ke Jerman karena mengikuti pasangan sementara usia tidak lagi muda) memang memiliki target untuk berkarir diluar rumah, entah karena ambisi pribadi atau tuntutan ekonomi, maka saya cenderung menyarankan untuk mengambil Ausbildung, atau jika ingin kuliah cobalah mencari peluang untuk menjalani “duales Studium”.
Pelaku Dual-Studium memang tidak selalu mendapatkan jaminan akan diambil sebagai pegawai tetap oleh perusahaan yang bersangkutan setelah lulus (mengingat setiap perusahaan selalu pengen ngirit gaji pegawai T_T. Ya… gaji karyawan yang sambil kuliah gini gajinya adalah level gaji internship, level gaji student part-timer, tidak ada UMR nya, sementara kerjanya full time lho itu).
Tapi apabila suatu saat perusahaan tersebut benar-benar membutuhkan tenaga kerja tetap, maka sudah pasti anak asuhnya sendiri lah yang akan mendapatkan peluang terbaik untuk diambil. Karena mereka kan sudah jauh lebih berpengalaman dalam pekerjaan terkait dan sudah familiar dengan seluk beluk perusahaan tersebut.
Pelaku Dual-Studium biasanya akan di rotasi ke setiap departemen dalam perusahaan yang relevan dengan jurusan yang dia ambil. Jadi pada prinsipnya, begitu dia lulus dia sudah memiliki pengalaman kerja di berbagai departemen berbeda. Sehingga dalam berkompetisi di pasar kerja pun mereka jelas memiliki nilai plus jika dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi biasa.
Yang perlu dipastikan cuma bahwa “performance” nya secara akademis juga cukup menjanjikan.
Bagi yang pintar masak dan ingin bekerja memanfaatkan keahlian dan hobi masaknya, mungkin bisa buka usaha gastronomi yang spesialisasinya masakan indonesia.
Karena khusus dalam hal ini, sebagai orang indonesia kita tidak wajib punya ijasah pendidikan memasak lagi jika yang kita jual adalah masakan dari daerah asal kita. Cukup ikut kursus singkat di Departemen Kesehatan Jerman utamanya untuk mempelajari tentang hygiene makanan saja maka kita udah boleh jadi tukang masak.
Cuma ya itu, buka usaha sendiri tentu lebih ribet dan harus berani ambil resiko bangkrut ^_^.

Jujur saja ketika saya menikah dulu dan pindah ke Jerman saya tidak ada “planing” apapun terkait karir, karena semua berlangsung terlalu cepat. Suami saya sendiri kebetulan penghasilannya cukup untuk kami berdua hidup layak dan kami bukanlah orang yang ambisius. Tidak ingin menjalani hidup yang “hectic”. Kami berdua sama-sama memiliki pandangan bahwa “Value” seseorang tidak ditentukan dari seberapa banyak uang yang dia hasilkan, “award” yang dia peroleh ataupun pencapaian akademis semata.
Pekerjaan buat kami hanyalah metode untuk mendapatkan uang secukup yang dibutuhkan untuk membiayai hidup yang layak, bukan untuk menentukan “value” diri. Karena itu selama kondisi finansial tidak mengharuskan, maka tidak perlu menargetkan diri saya harus berkarir. Saya bisa kerja sesuai pendidikan ya puji syukur, kalau nggak ya nggak papa. Tentu saja kalau saya bisa kerja dengan gaji lebih banyak dari suami, suami juga ngga keberatan jadi bapak rumah tangga…hanya saja, kayanya kok utopis banget kalau melihat sikon wkwkwkkwk.
Karena itu saya dulu tidak terlalu ambil pusing dengan pilihan aktifitas yang ada di tempat tinggal baru saya, ngga banyak cari info yang berkaitan dengan peluang kerja dan kuliah.
Tujuan utama saya hanyalah membuat otak saya tetap bekerja.
So, ANY activity will do, as long as it has a positive impact for my life.
Bosan?!? Makanan apa sih itu LOL.
Orang yang bisa memberdayakan otaknya tidak akan mengenal kata bosan, karena ilmu itu sumbernya dimana-mana dan tidak ada habisnya, tidak akan pernah ada cukup waktu untuk mempelajari semuanya.
Hanya saja, jika saya bisa putar balik waktu, saya mungkin akan pilih Dual-Studium saja jika dibandingkan dengan jalur studi yang saya ambil tempo hari :), karena energi dan waktu yang saya investasikan toh tidak akan jauh berbeda, sedikit banyak dapat gaji pula selama kuliah :-D.
Karena itulah saya nulis blog ini, dengan harapan bisa memberi manfaat buat generasi pelaku kawin campur Jerman-Indonesia dibawah saya yang mungkin masih bingung mau ngapain di Jerman diluar ngurusin rumah tangga.
Sampai jumpa lagi…

Advertisements

2 responses »

    • Halo Deasi,
      untuk info yang lebih detail aku kurang tahu karena aku ngga menjalani sendiri ya. Kurasa tergantung dari Vertrag nya dulu dengan perusahaannya gimana, dan juga kuliahnya di Hochschule privat atau staatlich, Finanzierung nya tentu akan beda pula.
      Hochschule yang staatlich, tidak ada Tuition fee, cuma Semesterbeitrag.
      Sedangkan untuk Hochschule yang pure swasta itu ada Tuition fee.
      Jika perusahaan menanggung biaya sepenuhnya, saya rasa prestasi studi yang diharapkan juga ada standar minimal-nya, dan si student terikat kontrak kerja selama sekian tahun (selama masa studi plus sekian tahun sesudah lulus).
      Berapa lama ikatan kontrak mungkin akan tergantung berapa besar biaya yg mereka keluarkan untuk si student selama belajar. Kalau kuliah di Hochschule staatlich, mungkin ngga akan lama atau mungkin justru ngga ada ikatan kontrak kerja setelah lulus, karena toh ngga ada Tuition Fee, sedangkan Semesterbeitrag jumlahnya ngga seberapa. Tapi utk pastinya aku kurang tahu.
      You have to inquire more about it by your self, at the company and the university in which you are interested to apply.
      Kalau di perusahaan dimana aku jalani praktikum dulu, mereka kerjasama dgn Hochschule swasta. Jadi biaya kuliah ditanggung perusahaan sehingga ada ikatan dinas selama 3 tahun.
      Hanya saja perlu disadari bahwa selama masa ikatan kontrak biasanya gajinya sangat kecil. Gaji standar Student, itu yang dikasih. So it normally doesn’t even cover a minimum wage standard, but you have to work full time ==> 40 hours a week.
      You are considered lucky if you get a payment with an intenship standard known in the market.
      That would not be easy for pure immigrant without support.
      Terutama karena setelah status kamu bukan student, kamu ngga bisa lagi klaim fasilitas student yang bisa meringankan beban finansial sehari-hari. Ngga bisa lagi tinggal di Studentenwohnheim, diskon tiket Bahn, misalnya.
      Problem berikut adalah visa tinggal. Karena Dual Studium itu kerjanya fulltime, itu sudah melebihi batas maksimal hak kerja bagi student asing, jadi kamu butuh visa khusus dengan ijin kerja dari Depnaker sini. Dan itu ngga akan gampang didapat untuk jurusan2 yang pake NC, atau bidang-bidang yang mana orang jerman sendiri banyak yang minat.
      Penduduk setempat dan penduduk EU itu statusnya priority. Jadi yang terpenting perusahaannya sendiri bersedia urusin ijin kerja dan jadi sponsor kamu atau nggak.
      Dan sesudah lulus kuliah, student asing cm bisa maksimal 2 tahun perpanjang visa utk nyari kerjaan yg bs kasih gaji yang bs mengcover syarat minimal utk apply Blue Card. 2 Tahun itu pun biasanya cuma utk jurusan MINT. Diluar itu lebih pendek. Jadi kalau kamu Dual Studium dengan ikatan kontrak kerja sesudah lulus, akan lebih ruwet.
      Ini cuma potensi problem yang mungkin ada… Apakah kamu akan menemuinya atau tidak, aku ngga bisa bilang. Satu-satunya jalan utk tahu ya kamu mesti cari informasi di perusahaan dan kampus target, plus ke ABH & Arbeitsagentur setempat.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s