Monthly Archives: May 2016

Management Waktu bagi calon Student

Standard

Management Waktu yang optimal itu perlu bagi setiap orang, tapi bagi calon mahasiswa yang pengen kuliah di Jerman artinya bisa sangat krusial, khususnya bagi yang berencana ambil Bachelor sampai Master dan kalau perlu lanjut sampai doktoral. Karena Visa studi itu jangka waktunya terbatas. Dan tidak ada jaminan akan selalu bisa diperpanjang hanya karena masih punya uang di rekening. Staff Imigrasi butuh perspektif positive dari jalannya studi sebelum memutuskan akan memberikan perpanjangan visa. Orang asing ngga bisa sembarangan dan sering gonta-ganti jurusan seperti orang lokal kalau jalannya studi nggak lancar atau merasa salah pilih jurusan misalnya.
Selain itu WN non EU dan dari negara lainnya yang non sekutu Jerman “pada umumnya” sebelum bisa mendaftar untuk program Bachelor harus lulus FSP dulu (apa itu FSP silahkan baca di “post” terdahulu) yang membuat batas waktu visa studi yang bisa diperolehnya sudah terpotong banyak untuk masa-masa pra-Studium ini.
Tentu saja mengikuti ujian FSP sebagai peserta eksternal itu selalu mungkin, akan tetapi kalau melihat statistik kuota kegagalan bagi mahasiswa yang bahkan menjalani di Studienkolleg juga kuota mahasiswa yang baru lulus setelah harus mengulang ujian di semester (atau bahkan mungkin di tahun berikutnya, karena tidak semua Studienkolleg mengijinkan mengulangi kelas dan tidak semua Studienkolleg memiliki kelas untuk program studi yang sama disetiap semester), maka sangatlah penting untuk mengatur waktu kapan harus mulai urus dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk keperluan kuliah di Jerman serta tentunya kapan sebaiknya saat yang tepat untuk masuk Jerman.

Kembali disini “being self informed” itu sangat penting artinya, karena agency kemungkinan besar tidak akan “assisting” calon student sampai sedetil itu, apalagi sampai membantu mencarikan “deadline” pendaftaran untuk setiap jurusan yang diminati di setiap kampus universitas yang dimau.
Tapi itu adalah sepenuhnya masuk akal, karena untuk memberikan “assistance” dengan menyesuaikan diri pada minat dan bakat SETIAP calon mahasiswa itu bebannya terlalu besar dan sangat tidak fleksibel.
Khususnya bagi lulusan SMU jurusan IPA yang mana memberi fleksibilitas paling gede dalam memilih jurusan. Maka dari itu hanya si anak sendiri lah pada dasarnya yang bisa menyaring serta memutuskan, jurusan apa saja yang kira-kira masih relevan dengan minat serta bakat personalnya.
Meminta orang lain yang mencarikan informasi untuk itu dan sekaligus mengatur manajemen waktunya dalam proses perburuan kursi adalah hal yang nggak realistis sebenarnya. Kenapa?

  • karena kemungkinan adanya perbedaaan nama jurusan di setiap kampus yang berbeda meskipun sebenarnya yang dipelajari kurang lebih sama itu selalu ada.
    Atau spesifikasi jurusan tidak selalu sama persis. Hal ini relevan bagi yang berminat kuliah di jurusan-jurusan yang tergolong “exotisch”.
  • ada jurusan yang statusnya “restricted admission” dan ada yang bebas.
  • tidak semua jurusan buka pendaftaran di setiap semester. Ada yang cuma menerima pendaftaran di Sommersemester atau sebaliknya hanya di Wintersemester. Terlalu rumit kalau agensi harus melayani hal-hal detail seperti ini, apalagi karena setiap calon mahasiswa bachelor itu pada umumnya bakalan berjuang mencari kursi di Studienkolleg disetiap Bundesland. Perlu diingat bahwa jumlah Studienkolleg belakangan ini makin berkurang sehingga persaingan mencari kursi bagi mahasiswa asing akan semakin ketat.
  • persyaratan pendaftaran bagi jurusan yang sama belum tentu seragam di setiap universitas. Misalnya saja: sebuah jurusan X di Perguruan Tinggi A mengharuskan adanya bukti TELAH selesai menjalani “Vorpraktikum” (internship) dengan spesifikasi tertentu di bidang yang sesuai atau pernah bekerja di bidang yang relevan. Sementara di PT  B mungkin saja mengijinkan bukti sertifikat internship tersebut diberikan paling lambat di awal semester 3, jadi boleh daftar dulu dan menjalan internship nanti di Jerman di masa liburan semester. Sedangkan PT C bisa saja tidak meminta adanya bukti menjalani “internship” sama sekali.
    Nah, adalah jauh lebih masuk akal tentunya kalau setiap calon mahasiswa menyaring sendiri informasi tentang setiap jurusan yang sesuai dengan bakat dan minatnya serta perguruan tinggi dikota apa saja yang disukai. Sangat tidak efisien kalau meminta orang lain yang mencari informasi ini secara umum.

Beberapa PT di jerman memiliki website berbahasa inggris yang cukup bagus, terutama yang memiliki banyak program studi dengan bahasa pengantar bahasa inggris, tapi banyak juga yang tidak. Hanya saja, bagi yang memang pada dasarnya ingin kuliah di jurusan yang tidak “spesial” dan atau jurusan yang tidak menawarkan bahasa pengantar bahasa inggris untuk seluruh mata kuliahnya, maka sang calon mahasiswa itu sendiri seharusnya toh sudah mempersiapkan diri dengan kemampuana bahasa yang cukup memadai untuk mencari informasi.
Kalaupun belum sampai pada level yang “excellent” untuk bisa memahami semua isi website tanpa ada keraguan, setidaknya harusnya tetap cukup memadai untuk bisa menemukan “masalah” / “ketidakjelasan” tertentu yang nantinya bisa ditanyakan lebih lanjut, baik kepada “contact person” yang tersedia ataupun kepada teman-teman senior di forum-forum mahasiswa yang tersebar online.

Rata-rata deadline pendaftaran di Sommersemester adalah 15 Januari. Sementara pembukaan mulai 1 Desember (tapi inipun variatif, tidak semua Universitas sama persis). Sedangkan untuk Wintersemester rata-rata deadline 15 juli, pembukaan mulai 1 Juni.
Tapi deadline ini tidak selalu sama bagi setiap jurusan. Bagi jurusan-jurusan yang statusnya “ohne NC” atau “unrestricted admission” biasanya memiliki jadwal pendaftaran yang berbeda.
Perburuan tempat di Studienkolleg dilakukan diseluruh jerman, karena itu pastikanlah untuk bisa efisien dalam mengatur “itinerary” perjalanan dalam menjalani test masuk. Pendaftaran memang dilakukan online, tapi sang calon mahasiswa nantinya akan harus menjalani test masuk yang fungsinya tidak hanya menyaring calon mahasiswa tapi juga untuk menentukan ada di level berapa sebenarnya kemampuan bahasa jermannya. Dan jadwal test ini juga bervariasi.
Karena jujur aja ya, pengalaman menunjukkan bahwa “ein B2 -Zertifikat” dari negara asal nggak selalu menampakkan hasil yang sesuai dengan ijasahnya. Ini ada dua alasan yang mungkin: pertama, di Indonesia siswa yang rajin ikut bimbingan test pada umumnya udah terbiasa dengan pola-pola ujian sehingga faham trik bagaimana untuk bisa lulus ujian dengan baik :-D, karena udah biasa di “drill” sebelumnya. Ini secara umum bisa berguna memang untuk bisa lolos saringan. Tapi tidak selalu berguna bagi tes yang tujuannya murni untuk mengecek level seseorang.
Karena tes ini pada prinsipnya hasilnya harus benar2 representatif, karena tujuannya untuk menentukan materi pelajaran yang benar-benar sesuai dengan kemampuannya. Bagi yang bahasa jermannya belum begitu bagus maka tentunya lebih bijak jika yang bersangkutan mengikuti kelas bahasa Jerman yang belum terlalu “advance” supaya hasilnya lebih membangun. Yang hasilnya ini sangat menentukan bagi “efisiensi manajemen waktu”. Semakin bagus level bahasa jerman yang dimiliki, akan semakin besar kemungkinan bisa memperpendek masa studi. Masa-masa pre-Studienkolleg jadi nggak akan lebih lama dari 3 bulan (visa 3 bulannya benar-benar hanya akan dipakai untuk menjalani kursus bahasa di masa transisi diawal kedatangan, dan untuk mencari kursi di salah satu Studienkolleg yang tersedia), dan masa Studienkolleg-nya pun mungkin benar-benar bisa dibatasi maksimal 1 tahun saja.
Jangan lupa bahwa calon mahasiswa cuma punya waktu “maksimal” 1 tahun (3 bulan pertama+9 bulan perpanjangan) sejak mendarat di Jerman, hanya untuk mencari kursi di Studienkolleg. Ingat! Itu maksimalnya.
Dan setelah itu, perpanjangan visa tidak hanya tergantung pada jumlah uang di rekening tetapi juga biasanya justru jauh lebih tergantung pada “prospek” studi nya. Status terdaftar di sebuah institusi pendidikan adalah persyaratan terpenting disini.

Selain itu, pengaturan waktu yang optimal tentu saja efeknya cukup besar bagi isi rekening. Makin bagus dalam mengorganisir jadwalnya dan “itinerary” nya sendiri, maka makin sedikit duit yang akan terbuang dimasa-masa persiapan studi ini.
Jangan lupa, bahwa selama status belum menjadi mahasiswa penuh sebuah PT, maka ijin kerja yang diberikan sangat terbatas. Terlebih lagi dimasa-masa awal perkuliahan, sebenarnya sangat tidak disarankan untuk memforsir diri dengan pekerjaan, apalagi kalau dimasa masih pra-Studium alias belum benar-benar kuliah.
Jangan sampai nanti masuk kelompok pasukan yang pulang sebelum masuk medan perang yang sesungguhnya. Sayang kan…
Most people are not born as genius ^_^. Geniuses are rare products.
So, being optimistic is good, but don’t overestimate your self. Success people know how to do self assessment properly (well…being honest to oneself is very crucial matter).
And don’t get easily insulted. You are now in Germany, people in general have no hidden meaning in their words, most of the case people here are merely stating a fact :-D. This also applied to many foreign students who already got settled here. They tend to be more pragmatical and outspoken than before.

If you really want to build your self, then get accustomed to it. Kalau ingin jawaban yang membangun atas pertanyaan yang diajukan di forum, sebaiknya ya jangan gampang tersinggung dengan komentar-komentar yang tidak lagi faham basa-basi ala indonesia.
Karena kalau mau fair dalam menilai, justru mereka-mereka yang tipe pragmatis inilah yang biasanya justru memberikan komentar yang “layak” untuk menjadi pertimbangan serius, karena pada umumnya mereka ngga sekedar memberikan “harapan-harapan” bagus saja.

Sampai jumpa lagi…

Note: untuk mengajukan visa studi, diminta bukti penerimaan di sebuah institusi pendidikan, dan yang paling mudah didapat adalah mendaftar kursus bahasa jerman di VHS atau Goethe Institut misalnya. Pastikan saat pengajuan visa memberikan pernyataan bahwa visa yang diminta adalah mengikuti kelas bahasa dengan perspektif untuk kuliah di jerman, sehingga visa (3 bulan) ini habis masa berlakunya akan bisa di konversi menjadi ijin tinggal sementara untuk mencari Studienkolleg/Universitas. Daftarlah kursus untuk midsemester, yang masa selesainya mendekati waktu-waktu pendaftaran Studienkolleg, supaya ngga buang-buang waktu terlalu lama di Jerman.
Informasi seperti yang semacam ini sudah tentu bisa diperoleh dari forum mahasiswa online, jadi kalau bisa nyari sendiri percayalah… meskipun nggak pake agen semua akan baik-baik saja.

Kuliah sambil kerja di Jerman

Standard

Dari hasil “sharing” pengalaman sesama mahasiswa di Jerman, saya ambil kesimpulan bahwa informasi yang diberikan oleh agen pendidikan kepada peminatnya hanya fokus pada hal-hal yang indah saja dan tidak menyeluruh/mendetail.
Bohong sih ngga selalu ya, tapi ngga jarang cenderung “misleading” gitu deh, karena infonya nggak lengkap.
Belum lagi realita itu kan dimana-mana lebih menggigit daripada teori.
Banyak yang percaya mati bahwa di Jerman itu sekolah gratis dan mahasiswa boleh kerja legal, jadi ngga usah terlalu takut mikirin biaya, karena dari kerja sambilan dijamin bisa sukses.
Ya, itu memang benar, tapi cuma dalam tanda kutip. Masih ada aspek-aspek lain yang harus diperhatikan lho. Hanya saja, kalau memang ke Jerman itu adalah sebuah cita-cita, seharusnya banyak browsing dulu dan sebisa mungkin jangan di website-website yang komersil. Website kedutaan jerman, DAAD atau GIZ misalnya, yang versi bahasa indonesia juga ada kok.
Jaman sekarang enak ada internet, nggak kayak dulu. Dengan begitu ntar pas nanya ke teman-teman yang di Jerman itu udah punya modal bagus, jadi tinggal nanya aja “praktek”nya disini gimana… realitanya gimana, seberapa jauh bisa melenceng dari teori begitu lho.
Na ja…sudahlah, saya langsung aja lah ya…
Disini saya mau meringkas informasi untuk menjawab rasa penasaran peminat studi di Jerman tentang kemungkinan “kuliah sambil kerja” ini, karena mengenai “topik kuliah gratis” dibahas di postingan yang lain supaya nggak kepanjangan.
Ini khususnya relevan bagi mahasiswa indonesia yang murni cuma memegang visa studi, tanpa adanya sponsor keluarga yang memiliki paspor atau PR (permanent residence) di Jerman.

Seringkali dalam diskusi di forum ada yang bilang boleh kerja 8 jam sehari lah, 4 jam sehari lah, maksimal 20 jam seminggu lah, 450€ sebulan lah, ada juga yang bilang yang penting ngga lebih dari 8354€ setahun, mana yang benar?
(Note: artikel ini dulu dibuat tahun 2014. Yang teraktual untuk 2017 PTKP nya sekarang menjadi 8820€)

Sebenarnya ngga ada yang salah kok, hanya saja juga ngga bisa dibilang 100% tepat.
Kasus yang umum adalah sekedar “misintrepretasi” informasi, entah karena kurang mengerti disebabkan oleh kendala bahasa tapi malu bertanya lebih detail kepada petugas imigrasi yang bertanggungjawab, atau memang ngga bener-bener baca sendiri dari sumber yang “reliable”.
Melainkan hanya dari “katanya” si A, si B dan si C misalnya. Hati-hati, apa yang selama ini biasa dilakukan oleh beberapa teman dan sejauh ini selamat alias nggak menemui masalah, itu nggak selalu berarti bahwa apa yang mereka lakukan itu benar-benar legal lho.
Contoh sederhana memakai analogi: ketika terjadi kebakaran kecil, dan jumlah kerugian kebetulan tidak lebih dari 1000€ misalnya, lantas asuransi A tanpa banyak cingcong langsung bayar klaimnya. Di kasus lain asuransi B menolak klaim senilai sama, dengan alasan kewajiban memasang sensor asap disetiap rumah tidak dipenuhi korban misalnya. Pertanyaan: kalau memang ada aturan pemerintah mewajibkan memasang sensor asap, kenapa asuransi A kok mengganti rugi tanpa banyak suara, apakah asuransi B menipu?
Tentu saja tidak… alasannya sebenarnya simpel saja, asuransi A punya kebijakan sampai pada batas nilai klaim kerugian tertentu memilih untuk “skip” penyelidikan menyeluruh, karena biaya penyelidikan juga cukup mahal, makan waktu dan tidak “worth it” jika dibandingkan dengan jumlah ganti rugi yang bisa dihemat dan efek “promosi kepuasan konsumen” yang bisa diperoleh. Khususnya karena kasus semacam itu secara statistik cukup jarang terjadi.
Jadi aturan tersebut memang ada, karena itu tidaklah salah bila ada asuransi yang “strict” dalam  memanfaatkan UU yang ada.
Tapi ngga berarti pula hanya karena ada perusahaan asuransi yang memberi banyak “kulanz” dan cenderung fleksibel, terus lantas UU nya jadi bisa dianggap ngga ada. Begitulah contoh analoginya.

Also… pada prinsipnya setiap mahasiswa asing dari negara dunia ketiga yang masuk ke Jerman tidak dengan memakai visa family, alias murni pakai visa studi, hanya boleh bekerja selama 120 hari (fulltime) atau 240 hari (half-day) dalam setahun. Dan itu keduanya bisa dikombinasi pembagian waktunya, seperti misalnya 100 hari “fulltime”, dan 40 hari “half-day”. Karena itulah bisa juga diartikan secara kasar: maksimal 20 jam seminggu atau 4 jam sehari. Tapi sebenarnya 8 jam sehari juga boleh, selama dalam setahun itu tidak melebihi 120 hari masa kerjanya.
Tapi shift kerja 4 jam sehari dan 240 hari dalam setahun itu juga cuma hitungan secara umum, dalam arti cuma berlaku pada “perusahaan” yang memang menerapkan shift kerja: 8 jam sehari. Jika misalnya yang bersangkutan bekerja di industri metal, yang menerapkan jam kerja 7 jam dalam satu shift, maka “half-day” disini berarti 3,5 jam. Jadi, kalau tiap hari kerja selama 3,5 jam dan itu sudah dilakukan di perusahaan yang sama selama 240 hari, ya hak kerjanya udah habis untuk kalender tahun tersebut. Terlepas dari kapan mulainya bekerja, limit ini diberlakukan tetap untuk satu tahun kalender penuh, yaitu dari 1 januari sampai 31 desember.
“Fulltime” ini terhitung seluruh hari kerja dimana yang bersangkutan bekerja di hari tersebut lebih lama dari separuhnya jam kerja normal.
Pada kasus pekerjaan dengan jam kerja fleksibel harus memperhatikaan hal berikut:
misalnya saja siapapun yang selama 3 hari dalam semingggu bekerja di sebuah perusahaan totalnya 12 jam dan bebas membagi sendiri jam kerjanya dalam periode tersebut, seandainya dia misalnya saja di hari pertama dan kedua kerja 3 jam, kemudian di hari ketiga 6 jam; atau di kasus kedua dia memilih kerja tiap hari kerja 4 jam.
Maka pada kasus pertama dia terhitung kerja penuh 1 hari dan kerja separuh hari selama 2 kali, disini dia tentu udah rugi “satu hari untuk itungan “half-day”.
Jadi yang lebih optimal tentu pilihan kedua. Dalam mengatur jam kerja pastikan bahwa tentu saja jauh lebih baik kerja 8 jam atau 4 jam langsung dalam sehari, dan sebisa mungkin jangan 5 jam atau 2 jam saja jika tidak terpaksa.
Kemungkinan kombinasi lain yang optimal, supaya selama semester berjalan bisa lebih banyak waktu untuk belajar, bisa dibagi seperti berikut: 22 hari bekerja “fulltime” di masa liburan panjang (2 kali setahun),
dengan begini masih tersisa 76 hari penuh untuk setahun yang bisa dibagi sepanjang semester berjalan menjadi 152 “half-day”.
Disamping itu, mahasiswa bisa juga melakukan aktifitas ekstra yang menghasilkan duit tanpa batasan waktu selama itu ada dilingkungan universitas. Dalam hal ini tetap harus diperhatikan syarat bahwa kesibukan ini tidak mengganggu aktivitas utama sebagai mahasiswa, yaitu belajar.
Untuk pekerjaan “freelance” dan wiraswasta seperti misalnya “web-designing”, “programming”, berdagang dan seterusnya, diperlukan ijin khusus dari imigrasi. Begitu juga apabila seseorang mendapatkan tawaran pekerjaan yang jam kerjanya melebihi batas dalam aturan, maka akan dibutuhkan ijin khusus dari “Arbeitsagentur” dan dari imigrasi. Meskipun “Arbeitsagentur” sudah menyetujui, masih ada kemungkinan pula bahwa imigrasi akan menolak, seandainya hasil observasi mereka menyimpulkan bahwa perkembangan studi mahasiswa yang bersangkutan terganggu oleh aktivitas pekerjaannya.
Mengenai nilai upah kerja, 450€ per bulan adalah status “mini-job”, yang mana secara kasar bisa dikatakan batas aman pekerjaan sambilan yang bisa dilakukan oleh mahasiswa tanpa resiko. Karena jam kerja dan nilai upah sebesar itu sudah pasti tidak akan melebihi batas aturan yang diijinkan bagi mahasiswa asing, dan masih bebas pajak, juga bebas “Sozialabgaben”.
Sebab di Jerman ada standar UMR (8,5 € perjam) dan kalaupun ada yang bandel dan cuma mau menggaji mahasiswa lebih rendah dari itu, kurleb per jam nya masih ada dikisaran 5-7 € (biasanya di gastronomi, kalau di pabrik atau perusahaan biasanya akan taat aturan).
Tergantung industri, jenis pekerjaan dan kota/negara bagiannya (tingginya biaya hidup masing-masing negara bagian itu beda), maka ada juga yang bisa beruntung mendapatkan upah sampai 15€ per jam, terutama jika itu berupa “seasonal job”, seperti “Ferienjob” atau jadi tenaga cabutan untuk “Messe” (eksibisi) misalnya.
Bagi yang masih berstatus siswa Studienkolleg atau kursus bahasa, limit jam kerja jauh lebih ketat. Mereka tidak bisa bekerja sebanyak yang sudah resmi berstatus mahasiswa di perguruan tinggi.
Sedangkan batas gaji 8354€ (sekarang 8820€) itu adalah batas maksimal gaji yang bebas pajak dalam setahun (PTKP istilah pajak indonesianya, yg diperuntukkan bagi student).
Pada prinsipnya memang bisa aja sih kerja sampai dapat gaji sebanyak itu, hanya saja pada prakteknya dan umumnya sebagai mahasiswa jumlah itu masih ngga akan terjangkau karena beberapa faktor.
Seberapa banyak memang bisa dijalani kerja sambil kuliah ini?
Orang jerman sendiri tidak mudah mencari pekerjaan yang layak. Berapa besar kemungkinannya sebagai orang asing yang berstatus masih mahasiswa pula dengan kemampuan bahasa yang jelas kalah dari “native speaker” dan pada umumnya nggak ada “network” yang menjanjikan, untuk bisa bersaing dengan orang lokal?
(Jadi ingat pertanyaan klasik yang sering diajukan teman lama, khususnya teman sekolah jaman SMA yang baru aja ada kontak setelah lama ngga ada kabar: “Ana, cariin kerjaan di Jerman dong, disana pasti lebih enak kan… gajinya gede bla bla…”
Ah ya, dikiranya gaji gede pengeluaran nggak gede kali hehehe. Di Zürich juga gaji 2 kali lipat daripada di Jerman, tapi harga kebab misalnya juga dua kali lipatnya di jerman LOL. Kadang-kadang emang orang itu nanyanya ngga logis banget wkwkwkwk.
Dimana-mana rumput tetangga selalu lebih hijau. )

Tentu saja tidak sedikit diantara mahasiswa asing yang melanggar aturan dan kerja dengan status “gelap”, melebihi batas yang diijinkan tentu aja. Dan karena gelap pula jadinya rela dibayar jauh lebih rendah dari pada UMR dan tanpa asuransi tentunya.
Itu adalah pilihan pribadi dan saya nggak mau nge-judge ya, tapi perlu saya ingatkan bahwa konsekuensi yang diambil tidak kecil. Bagi pemilik visa family ataupun WN Jerman, melanggar batas jam kerja bagi student sih ngga terlalu masalah, hanya status pajaknya aja yang berubah.
Tapi bagi pemilik visa studi murni tentunya ngga sesimpel itu.
Jika sampai ketahuan sudah tentu ada sanksinya, kalau sekedar didenda sih masih mending ya… tapi gimana coba kalau visa dibatalkan sementara studi sudah setengah jalan?
Lebih apes lagi kalau ketahuannya pas udah mau rampung, apa nggak sayang?
Selain itu di Jerman asuransi adalah obligatoris, jika sampai terjadi kasus kecelakaan kerja dan cukup serius, gimana coba? Siapa yang akan tanggung jawab? Dan ketika hal semacam terjadi, sudah pasti yang tersembunyi takkan bisa lagi disembunyikan ==> double bad luck.
Last but not least, bekerja terlalu banyak sudah pasti akan membuat studi keteteran.
Kuliah di jerman tidak cukup hanya butuh pintar, tapi juga “hard work” dan “persistence”. Harus tahan banting. Ada berapa persen sih jumlah orang jenius?
Rata-rata yang ada adalah adanya kecerdasan akademis yang cukup memadai untuk belajar dan kemauan untuk bekerja keras dalam mengejar kekurangan.
Kalau ingin studi lancar, maka bisa dipastikan sebagian besar waktu harus dihabiskan di perpustakaan. Karena itu, kerja sambilan seharusnya benar-benar cuma merupakan sambilan. Tidak boleh terlalu “excessive”, kalau tidak ingin terancam gagal.
Kuota kegagalan di jerman secara umum saja sudah cukup besar, apalagi bagi orang asing yang sudah jelas punya kendala bahasa. Sudah cukup banyak kegagalan mahasiswa asing yang sebenarnya tidak bodoh, tapi disebabkan oleh kekurang mampuan dalam me-manage waktu, kurang asertif, kurang belajar karena kebanyakan kerja  dan terlalu menggampangkan sesuatu.

Belajar sambil kuliah sepenuhnya itu disini memang tidak mustahil, tapi dalam melakukan “self assesment”, yang terpenting adalah harus berani jujur pada diri sendiri, supaya solusi yang diambil bisa optimal. Harus jujur dalam menilai mampu tidaknya kita; apakah kita memang tergolong cerdas dan tidak butuh waktu lama dalam memahami setiap pengetahuan baru; punya kemampuan bahasa asing yang bagus;
ataukah kita cenderung tergolong yang berkemampuan secukupnya dan butuh ekstra rajin untuk bisa menguasai keahlian tertentu.
Kedua tipe sama-sama bisa sukses dan sama-sama bisa gagalnya.
Yang jelas jangan sampai memompa kepercayaan diri terlalu berlebihan hingga sampai pada level menipu diri sendiri. Karena itu hanya akan mencelakai diri sendiri saja.
Bagi yang tidak tergolong “pintar” baik secara kognitif maupun pragmatis, serta dalam manajemen waktu, maka saya cenderung menyarankan untuk menyiapkan modal finansial yang memadai sehingga tidak perlu banting tulang dalam bekerja dan bisa menyediakan cukup waktu untuk belajar.
Atau menyelesaikan S1 di Indonesia aja dulu, baru kemudian mencari beasiswa untuk S2 di jerman. Jadi ngga perlu mikirin harus kerja keras sampai mengabaikan belajar demi bertahan hidup di negeri orang. Dan fase Studienkolleg pun tak perlu lagi dijalani. Terutama karena saat ini jumlah Studienkolleg negeri yang ada sudah semakin banyak berkurang sehingga perjuangan untuk mendapatkan tempat semakin berat, mengingat kita masih harus bersaing dengan mahasiswa lain dari banyak negara.
Terlebih lagi juga karena beban studi master tidaklah seberat bachelor. Di level master mahasiswa setidaknya jauh lebih fleksibel dalam memilih subjek yang diminati, jadi semangat belajarnya biasanya juga lebih gede.
Oke deh, sementara ini dulu.
Semoga bermanfaat.

Source: https://www.uni-bonn.de/studium/studium-in-bonn-fuer-internationale-studierende/betreuung-auslaendischer-studierender/pdf.dateien/arbeitsmoeglichkeiten-fuer-ausl.-stud.-2012

https://www.uni-bonn.de/studium/studium-in-bonn-fuer-internationale-studierende/studium-mit-abschluss/im-studium#Arbeiten_w_hrend_des_Studiums