Kuliah sambil kerja di Jerman

Standard

Dari hasil “sharing” pengalaman sesama mahasiswa di Jerman, saya ambil kesimpulan bahwa informasi yang diberikan oleh agen pendidikan kepada peminatnya hanya fokus pada hal-hal yang indah saja dan tidak menyeluruh/mendetail.
Bohong sih ngga selalu ya, tapi ngga jarang cenderung “misleading” gitu deh, karena infonya nggak lengkap.
Belum lagi realita itu kan dimana-mana lebih menggigit daripada teori.
Banyak yang percaya mati bahwa di Jerman itu sekolah gratis dan mahasiswa boleh kerja legal, jadi ngga usah terlalu takut mikirin biaya, karena dari kerja sambilan dijamin bisa sukses.
Ya, itu memang benar, tapi cuma dalam tanda kutip. Masih ada aspek-aspek lain yang harus diperhatikan lho. Hanya saja, kalau memang ke Jerman itu adalah sebuah cita-cita, seharusnya banyak browsing dulu dan sebisa mungkin jangan di website-website yang komersil. Website kedutaan jerman, DAAD atau GIZ misalnya, yang versi bahasa indonesia juga ada kok.
Jaman sekarang enak ada internet, nggak kayak dulu. Dengan begitu ntar pas nanya ke teman-teman yang di Jerman itu udah punya modal bagus, jadi tinggal nanya aja “praktek”nya disini gimana… realitanya gimana, seberapa jauh bisa melenceng dari teori begitu lho.
Na ja…sudahlah, saya langsung aja lah ya…
Disini saya mau meringkas informasi untuk menjawab rasa penasaran peminat studi di Jerman tentang kemungkinan “kuliah sambil kerja” ini, karena mengenai “topik kuliah gratis” dibahas di postingan yang lain supaya nggak kepanjangan.
Ini khususnya relevan bagi mahasiswa indonesia yang murni cuma memegang visa studi, tanpa adanya sponsor keluarga yang memiliki paspor atau PR (permanent residence) di Jerman.

Seringkali dalam diskusi di forum ada yang bilang boleh kerja 8 jam sehari lah, 4 jam sehari lah, maksimal 20 jam seminggu lah, 450€ sebulan lah, ada juga yang bilang yang penting ngga lebih dari 8354€ setahun, mana yang benar?
(Note: artikel ini dulu dibuat tahun 2014. Yang teraktual untuk 2017 PTKP nya sekarang menjadi 8820€)

Sebenarnya ngga ada yang salah kok, hanya saja juga ngga bisa dibilang 100% tepat.
Kasus yang umum adalah sekedar “misintrepretasi” informasi, entah karena kurang mengerti disebabkan oleh kendala bahasa tapi malu bertanya lebih detail kepada petugas imigrasi yang bertanggungjawab, atau memang ngga bener-bener baca sendiri dari sumber yang “reliable”.
Melainkan hanya dari “katanya” si A, si B dan si C misalnya. Hati-hati, apa yang selama ini biasa dilakukan oleh beberapa teman dan sejauh ini selamat alias nggak menemui masalah, itu nggak selalu berarti bahwa apa yang mereka lakukan itu benar-benar legal lho.
Contoh sederhana memakai analogi: ketika terjadi kebakaran kecil, dan jumlah kerugian kebetulan tidak lebih dari 1000€ misalnya, lantas asuransi A tanpa banyak cingcong langsung bayar klaimnya. Di kasus lain asuransi B menolak klaim senilai sama, dengan alasan kewajiban memasang sensor asap disetiap rumah tidak dipenuhi korban misalnya. Pertanyaan: kalau memang ada aturan pemerintah mewajibkan memasang sensor asap, kenapa asuransi A kok mengganti rugi tanpa banyak suara, apakah asuransi B menipu?
Tentu saja tidak… alasannya sebenarnya simpel saja, asuransi A punya kebijakan sampai pada batas nilai klaim kerugian tertentu memilih untuk “skip” penyelidikan menyeluruh, karena biaya penyelidikan juga cukup mahal, makan waktu dan tidak “worth it” jika dibandingkan dengan jumlah ganti rugi yang bisa dihemat dan efek “promosi kepuasan konsumen” yang bisa diperoleh. Khususnya karena kasus semacam itu secara statistik cukup jarang terjadi.
Jadi aturan tersebut memang ada, karena itu tidaklah salah bila ada asuransi yang “strict” dalam  memanfaatkan UU yang ada.
Tapi ngga berarti pula hanya karena ada perusahaan asuransi yang memberi banyak “kulanz” dan cenderung fleksibel, terus lantas UU nya jadi bisa dianggap ngga ada. Begitulah contoh analoginya.

Also… pada prinsipnya setiap mahasiswa asing dari negara dunia ketiga yang masuk ke Jerman tidak dengan memakai visa family, alias murni pakai visa studi, hanya boleh bekerja selama 120 hari (fulltime) atau 240 hari (half-day) dalam setahun. Dan itu keduanya bisa dikombinasi pembagian waktunya, seperti misalnya 100 hari “fulltime”, dan 40 hari “half-day”. Karena itulah bisa juga diartikan secara kasar: maksimal 20 jam seminggu atau 4 jam sehari. Tapi sebenarnya 8 jam sehari juga boleh, selama dalam setahun itu tidak melebihi 120 hari masa kerjanya.
Tapi shift kerja 4 jam sehari dan 240 hari dalam setahun itu juga cuma hitungan secara umum, dalam arti cuma berlaku pada “perusahaan” yang memang menerapkan shift kerja: 8 jam sehari. Jika misalnya yang bersangkutan bekerja di industri metal, yang menerapkan jam kerja 7 jam dalam satu shift, maka “half-day” disini berarti 3,5 jam. Jadi, kalau tiap hari kerja selama 3,5 jam dan itu sudah dilakukan di perusahaan yang sama selama 240 hari, ya hak kerjanya udah habis untuk kalender tahun tersebut. Terlepas dari kapan mulainya bekerja, limit ini diberlakukan tetap untuk satu tahun kalender penuh, yaitu dari 1 januari sampai 31 desember.
“Fulltime” ini terhitung seluruh hari kerja dimana yang bersangkutan bekerja di hari tersebut lebih lama dari separuhnya jam kerja normal.
Pada kasus pekerjaan dengan jam kerja fleksibel harus memperhatikaan hal berikut:
misalnya saja siapapun yang selama 3 hari dalam semingggu bekerja di sebuah perusahaan totalnya 12 jam dan bebas membagi sendiri jam kerjanya dalam periode tersebut, seandainya dia misalnya saja di hari pertama dan kedua kerja 3 jam, kemudian di hari ketiga 6 jam; atau di kasus kedua dia memilih kerja tiap hari kerja 4 jam.
Maka pada kasus pertama dia terhitung kerja penuh 1 hari dan kerja separuh hari selama 2 kali, disini dia tentu udah rugi “satu hari untuk itungan “half-day”.
Jadi yang lebih optimal tentu pilihan kedua. Dalam mengatur jam kerja pastikan bahwa tentu saja jauh lebih baik kerja 8 jam atau 4 jam langsung dalam sehari, dan sebisa mungkin jangan 5 jam atau 2 jam saja jika tidak terpaksa.
Kemungkinan kombinasi lain yang optimal, supaya selama semester berjalan bisa lebih banyak waktu untuk belajar, bisa dibagi seperti berikut: 22 hari bekerja “fulltime” di masa liburan panjang (2 kali setahun),
dengan begini masih tersisa 76 hari penuh untuk setahun yang bisa dibagi sepanjang semester berjalan menjadi 152 “half-day”.
Disamping itu, mahasiswa bisa juga melakukan aktifitas ekstra yang menghasilkan duit tanpa batasan waktu selama itu ada dilingkungan universitas. Dalam hal ini tetap harus diperhatikan syarat bahwa kesibukan ini tidak mengganggu aktivitas utama sebagai mahasiswa, yaitu belajar.
Untuk pekerjaan “freelance” dan wiraswasta seperti misalnya “web-designing”, “programming”, berdagang dan seterusnya, diperlukan ijin khusus dari imigrasi. Begitu juga apabila seseorang mendapatkan tawaran pekerjaan yang jam kerjanya melebihi batas dalam aturan, maka akan dibutuhkan ijin khusus dari “Arbeitsagentur” dan dari imigrasi. Meskipun “Arbeitsagentur” sudah menyetujui, masih ada kemungkinan pula bahwa imigrasi akan menolak, seandainya hasil observasi mereka menyimpulkan bahwa perkembangan studi mahasiswa yang bersangkutan terganggu oleh aktivitas pekerjaannya.
Mengenai nilai upah kerja, 450€ per bulan adalah status “mini-job”, yang mana secara kasar bisa dikatakan batas aman pekerjaan sambilan yang bisa dilakukan oleh mahasiswa tanpa resiko. Karena jam kerja dan nilai upah sebesar itu sudah pasti tidak akan melebihi batas aturan yang diijinkan bagi mahasiswa asing, dan masih bebas pajak, juga bebas “Sozialabgaben”.
Sebab di Jerman ada standar UMR (8,5 € perjam) dan kalaupun ada yang bandel dan cuma mau menggaji mahasiswa lebih rendah dari itu, kurleb per jam nya masih ada dikisaran 5-7 € (biasanya di gastronomi, kalau di pabrik atau perusahaan biasanya akan taat aturan).
Tergantung industri, jenis pekerjaan dan kota/negara bagiannya (tingginya biaya hidup masing-masing negara bagian itu beda), maka ada juga yang bisa beruntung mendapatkan upah sampai 15€ per jam, terutama jika itu berupa “seasonal job”, seperti “Ferienjob” atau jadi tenaga cabutan untuk “Messe” (eksibisi) misalnya.
Bagi yang masih berstatus siswa Studienkolleg atau kursus bahasa, limit jam kerja jauh lebih ketat. Mereka tidak bisa bekerja sebanyak yang sudah resmi berstatus mahasiswa di perguruan tinggi.
Sedangkan batas gaji 8354€ (sekarang 8820€) itu adalah batas maksimal gaji yang bebas pajak dalam setahun (PTKP istilah pajak indonesianya, yg diperuntukkan bagi student).
Pada prinsipnya memang bisa aja sih kerja sampai dapat gaji sebanyak itu, hanya saja pada prakteknya dan umumnya sebagai mahasiswa jumlah itu masih ngga akan terjangkau karena beberapa faktor.
Seberapa banyak memang bisa dijalani kerja sambil kuliah ini?
Orang jerman sendiri tidak mudah mencari pekerjaan yang layak. Berapa besar kemungkinannya sebagai orang asing yang berstatus masih mahasiswa pula dengan kemampuan bahasa yang jelas kalah dari “native speaker” dan pada umumnya nggak ada “network” yang menjanjikan, untuk bisa bersaing dengan orang lokal?
(Jadi ingat pertanyaan klasik yang sering diajukan teman lama, khususnya teman sekolah jaman SMA yang baru aja ada kontak setelah lama ngga ada kabar: “Ana, cariin kerjaan di Jerman dong, disana pasti lebih enak kan… gajinya gede bla bla…”
Ah ya, dikiranya gaji gede pengeluaran nggak gede kali hehehe. Di Zürich juga gaji 2 kali lipat daripada di Jerman, tapi harga kebab misalnya juga dua kali lipatnya di jerman LOL. Kadang-kadang emang orang itu nanyanya ngga logis banget wkwkwkwk.
Dimana-mana rumput tetangga selalu lebih hijau. )

Tentu saja tidak sedikit diantara mahasiswa asing yang melanggar aturan dan kerja dengan status “gelap”, melebihi batas yang diijinkan tentu aja. Dan karena gelap pula jadinya rela dibayar jauh lebih rendah dari pada UMR dan tanpa asuransi tentunya.
Itu adalah pilihan pribadi dan saya nggak mau nge-judge ya, tapi perlu saya ingatkan bahwa konsekuensi yang diambil tidak kecil. Bagi pemilik visa family ataupun WN Jerman, melanggar batas jam kerja bagi student sih ngga terlalu masalah, hanya status pajaknya aja yang berubah.
Tapi bagi pemilik visa studi murni tentunya ngga sesimpel itu.
Jika sampai ketahuan sudah tentu ada sanksinya, kalau sekedar didenda sih masih mending ya… tapi gimana coba kalau visa dibatalkan sementara studi sudah setengah jalan?
Lebih apes lagi kalau ketahuannya pas udah mau rampung, apa nggak sayang?
Selain itu di Jerman asuransi adalah obligatoris, jika sampai terjadi kasus kecelakaan kerja dan cukup serius, gimana coba? Siapa yang akan tanggung jawab? Dan ketika hal semacam terjadi, sudah pasti yang tersembunyi takkan bisa lagi disembunyikan ==> double bad luck.
Last but not least, bekerja terlalu banyak sudah pasti akan membuat studi keteteran.
Kuliah di jerman tidak cukup hanya butuh pintar, tapi juga “hard work” dan “persistence”. Harus tahan banting. Ada berapa persen sih jumlah orang jenius?
Rata-rata yang ada adalah adanya kecerdasan akademis yang cukup memadai untuk belajar dan kemauan untuk bekerja keras dalam mengejar kekurangan.
Kalau ingin studi lancar, maka bisa dipastikan sebagian besar waktu harus dihabiskan di perpustakaan. Karena itu, kerja sambilan seharusnya benar-benar cuma merupakan sambilan. Tidak boleh terlalu “excessive”, kalau tidak ingin terancam gagal.
Kuota kegagalan di jerman secara umum saja sudah cukup besar, apalagi bagi orang asing yang sudah jelas punya kendala bahasa. Sudah cukup banyak kegagalan mahasiswa asing yang sebenarnya tidak bodoh, tapi disebabkan oleh kekurang mampuan dalam me-manage waktu, kurang asertif, kurang belajar karena kebanyakan kerja  dan terlalu menggampangkan sesuatu.

Belajar sambil kuliah sepenuhnya itu disini memang tidak mustahil, tapi dalam melakukan “self assesment”, yang terpenting adalah harus berani jujur pada diri sendiri, supaya solusi yang diambil bisa optimal. Harus jujur dalam menilai mampu tidaknya kita; apakah kita memang tergolong cerdas dan tidak butuh waktu lama dalam memahami setiap pengetahuan baru; punya kemampuan bahasa asing yang bagus;
ataukah kita cenderung tergolong yang berkemampuan secukupnya dan butuh ekstra rajin untuk bisa menguasai keahlian tertentu.
Kedua tipe sama-sama bisa sukses dan sama-sama bisa gagalnya.
Yang jelas jangan sampai memompa kepercayaan diri terlalu berlebihan hingga sampai pada level menipu diri sendiri. Karena itu hanya akan mencelakai diri sendiri saja.
Bagi yang tidak tergolong “pintar” baik secara kognitif maupun pragmatis, serta dalam manajemen waktu, maka saya cenderung menyarankan untuk menyiapkan modal finansial yang memadai sehingga tidak perlu banting tulang dalam bekerja dan bisa menyediakan cukup waktu untuk belajar.
Atau menyelesaikan S1 di Indonesia aja dulu, baru kemudian mencari beasiswa untuk S2 di jerman. Jadi ngga perlu mikirin harus kerja keras sampai mengabaikan belajar demi bertahan hidup di negeri orang. Dan fase Studienkolleg pun tak perlu lagi dijalani. Terutama karena saat ini jumlah Studienkolleg negeri yang ada sudah semakin banyak berkurang sehingga perjuangan untuk mendapatkan tempat semakin berat, mengingat kita masih harus bersaing dengan mahasiswa lain dari banyak negara.
Terlebih lagi juga karena beban studi master tidaklah seberat bachelor. Di level master mahasiswa setidaknya jauh lebih fleksibel dalam memilih subjek yang diminati, jadi semangat belajarnya biasanya juga lebih gede.
Oke deh, sementara ini dulu.
Semoga bermanfaat.

Source: https://www.uni-bonn.de/studium/studium-in-bonn-fuer-internationale-studierende/betreuung-auslaendischer-studierender/pdf.dateien/arbeitsmoeglichkeiten-fuer-ausl.-stud.-2012

https://www.uni-bonn.de/studium/studium-in-bonn-fuer-internationale-studierende/studium-mit-abschluss/im-studium#Arbeiten_w_hrend_des_Studiums

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s