Monthly Archives: September 2016

Kebiasaan buruk khas Indonesia: “Suka menggampangkan sesuatu dan ignoran”

Standard

Lagi-lagi saya membaca sesuatu yang bikin mengelus dada berkali-kali karena pelakunya kembali berstatus “mahasiswa” alias tergolong kelompok “intelektual” sehingga kalau menurut logika normal sih harusnya lebih punya kesadaran intelektual pula, sesuai statusnya gitu lho ^_^. Apalagi sudah jauh-jauh mengais ilmu di negara maju.
Kebiasaan buruk dari kampung halaman macam begini masih juga dipelihara: ignoran dan selalu menggampangkan sesuatu (karena di Indonesia setiap kali ada masalah selalu ada kemungkinan “penyelesaian secara kekeluargaan” atau kalau nggak ya dengan “nyogok” (anehnya pada komplen dengan banyaknya korupsi. Padahal “attitude”-nya sendiri mendukung budaya korupsi itu sendiri).

Sering sekali saya temui itu mahasiswa Indonesia panik karena tiba-tiba dapat “Mahnung” berjumlah besar, yang selalu membuat saya tak habis pikir apa sih sebenarnya yang selama ini mereka harapkan akan terjadi dengan menyingkirkan setiap surat yang berpotensi berisi tagihan kepojokan lemari dan pura-pura menganggapnya tidak ada?!? Emang dikira kalau nggak tampak mata lantas semua itu menghilang dan selesai begitu aja? Yang benar aja dong, ah!

Ujung-ujungnya jelas aja tagihan jadi makin menggunung… “bill” yang tadinya berjumlah nggak seberapa karena dicuekin ya kena bunga berbunga lah dan “Strafzinsen” itu “rate”-nya sangat tinggi. Tentu saja dong, namanya juga hukuman denda mana ada dikasih murah, kalau murah entar orang ngga takut lagi melanggar hukum dong.
Logisnya itu ya, seandainya pun surat tagihan yang didapat itu isinya tampak meragukan, mbok ya sesegera mungkin minta klarifikasi pada si pengirim surat. Jika perlu carilah informasi ke institut perlindungan konsumen, kemudian acara nanya-nanya ke forum-nya ya saat dapat surat yang pertama itu. Jangan nunggu setelah lewat sekian bulan bahkan kadang sampai sekian tahun baru nanya-nanya, ketika tagihan dan dendanya sudah mencapai belasan kali lipat. Kalau sudah begini yang mau nolongin untuk menyelesaikan masalahpun sudah kesulitan, mbak…mas!
Karena kalau ternyata kesalahan memang ada ditangan anda, maka kemungkinan terbaik yang bisa dicapai paling-paling cuma “menyetop” jalannya bunga dan dikasih kesempatan nyicil tagihan terutang. Sakit kaaan?!?
Sebaliknya, mencari bukti-bukti yang bisa menyelamatkan posisi sendiri setelah waktu begitu lama berlalu sudah jelas akan jauh lebih sulit daripada jika mencarinya ketika masalah terkait baru nongol didepan mata.
Saya nulis ini bukannya mau nyukurin dan ngetawain, tapi justru mencoba untuk membuka mata terutama yang masih termasuk pendatang baru di Jerman.
You just can’t hide here. Tak bisa lagi kita melarikan diri dari tanggung jawab dan kesalahan. Kita tidak lagi ada di Indonesia. Masalah tidak akan lenyap dengan sendirinya hanya dengan disembunyikan dan diabaikan. Cepat atau lambat mereka akan kembali mendatangimu, dan biasanya dalam kondisi yang lebih parah.

Yang paling sering terjadi itu adalah tagihan GEZ (saking ignorannya mengira saat ini tagihan itu masih cuma sekedar berhubungan dengan kepemilikan TV dan radio doang. Atau lebih parah lagi, ndableg mengira hanya karena dirinya WNI dan suatu saat akan minggat dari Jerman sehingga mengira bisa kabur begitu saja ninggalin utang 😀 ).
Contoh klasik lain adalah tagihan internet atau telepon yang masih muncul ketika ganti “provider”, biasanya terjadi juga karena keteledoran sendiri tidak memperhatikan “term & condition” mengenai syarat pembatalan kontrak. Dianggapnya mentang-mentang udah ganti provider dan mungkin udah pernah menyampaikan mau hentikan langganan dianggap otomatis langsung “valid”. Padahal setiap kontrak itu punya kondisi yang berbeda. Ada yang begitu berakhir maka kontrak juga takkan diperpanjang tanpa adanya permintaan pelanggan, tapi ada juga yang sistem perpanjang otomatis kecuali sekian bulan sebelum kontrak berakhir surat terminasi sudah diterima. Dan pastikan juga tanggal mana yang dianggap valid. Tanggal pengiriman atau tanggal sampainya surat di kotak pos. Dan pastikan surat terminasi kontrak itu selalu pakai bukti pengiriman, dalam arti kalau nggak memakai pos tercatat ya kirim lewat fax. Sebelum membuat kontrak baru dengan perusahaan lain, paling aman tentunya setelah ada konfirmasi persetujuan pembatalan dari perusahaan lama, supaya nanti tidak terbebani biaya dobel karena punya 2 kontrak yang masih berjalan.

Sebaliknya jangan terburu-buru mentransfer uang untuk membayar jika tidak yakin dengan isi tagihan. CARI informasi dan minta KLARIFIKASI dulu, dan pastikan sesegera mungkin sebelum tanggal batas waktu pembayaran terlewat, supaya jangan sampai kena “Mahnung”. Mahnung tidak hanya berarti denda melainkan juga tambahan cacat dalam catatan riwayat “Bonität” kita. Itu akan menjadi relevan jika suatu saat kita membutuhkan kredit entah untuk kebutuhan apa di negeri ini, yang mana kemungkinannya akan meningkat jika kebetulan nanti setelah lulus tiba-tiba mendapatkan pekerjaan dan ingin tinggal jangka panjang di sini.
Kenapa jangan buru-buru bayar? Karena di Jerman juga ada yang namanya “scammer post” alias penipu, selain itu tentu masih ada juga kemungkinan adanya kesalahan birokrasi. Kesalahan birokrasi mungkin masih bisa dibalikin duitnya tapi kalau ketemu scammer…hmmm… yo apes rek ^_^.

Selain itu saya sarankan hati-hati juga dengan kegiatan download men-download dari internet. Pastikan yang di download memang benar-benar gratis secara LEGAL, atau lebih baik “BAYAR”, karena anda bisa apes kapan saja.
Saya pribadi ada beberapa teman yang kena denda sekian ribu Euro gara-gara download 1 film saja. Jika tetap nekad ya sudah, resiko tanggung sendiri aja. Tapi jangan “nggrundel” kalau kena apes ^_^. Berani melanggar hukum ya harus berani menanggung resikonya, wuokeeeeeh??!??

Auf Wiedersehen 🙂 !

Menstrual Cup

Standard

Hallo… akhirnya ada waktu nulis lagi ^_^. Kali ini saya ingin mengulas soal “menstrual cup”, hmm… makanan apaan sih tuh?

Sejauh ini di Indonesia yang populer dipakai selama menstruasi masih pembalut wanita, walaupun mungkin sudah ada sebagian wanita di Indonesia yang memakai tampon. Hanya saja tampon di Indonesia masih tergolong produk mahal dan tidak bisa ditemukan disetiap toko atau super-/minimarket. Selain itu, meskipun sudah menikah akan tetapi tidak semua wanita merasa nyaman memakainya. Daya serap tampon yang kuat dan ditempatkan di dalam organ kewanitaan membuatnya tidak hanya menyerap darah menstruasi, melainkan juga seluruh cairan kewanitaan yang sebenarnya diperlukan untuk menjaga keseimbangan PH di organ intim wanita. Oleh karena itu para wanita yang memiliki sensitifitas cukup tinggi akan mudah mengalami iritasi di lokasi tersebut, seperti contohnya saya.

Setengah tahun terakhir dikala sedang mencari informasi tertentu di internet saya terantuk pada produk baru pesaing pembalut dan tampon, yaitu “menstrual cup”. Sebenarnya produk ini tidak bisa dibilang baru juga sih, karena dia sudah dipasarkan cukup lama, hanya saja sepertinya kurang begitu populer. Entah karena kurang sosialisasi atau mungkin memang target pasarnya yang masih berada dalam fase takut mencoba hal baru. Terutama karena dulu harganya cukup mahal. Supaya lebih gamblang berikut akan saya tulis nilai-nilai plus dari menstrual cup:
Bisa dipakai ulang ==> selama menstruasi tidak perlu disterilkan, cukup dicuci saja dan bisa dipakai lagi. Cup ada dalam beberapa pilihan ukuran sesuai volume menstruasi masing-masing wanita. Saya sendiri selama ini pakai ukuran S dan sepanjang malam masih tidak perlu ganti. Jika menstruasi selesai mensterilkannya pun tidak susah. Cukup merendamnya dengan air hangat dicampur sedikit cuka kemudian bisa dibilas dengan air hangat lagi. Sebelumnya bisa juga dicampur sedikit sabun cuci tangan jika diinginkan, cuma harus dibilas yang bersih supaya bagi yang sensitif sama sabun juga ngga terganggu. Saya sih ngga pernah pakai sabun. Kalau mau bisa beli juga cairan atau tissue pembersih khusus untuk cup yang diproduksi perusahaan yang bersangkutan. Tapi sebenarnya sama sekali nggak perlu.
Gampang banget kan?

Harga tidak lagi bisa disebut mahal jika dibandingkan dengan produk sekali buang seperti tampon dan pembalut, karena menstrual cup terbuat dari silikon lembut yang tahan lama dan bisa dipakai terus selama masih dibutuhkan. Di Jerman kita sudah bisa mendapatkannya dengan harga 9,90€ dan itu bisa dipake terus sampai kita udah nggak butuh lagi. Coba bandingkan dengan budget bulanan untuk tampon dan pembalut.
Lebih nyaman daripada tampon meskipun pemakaian juga didalam vagina. Kenapa? Karena dia hanya menampung darah menstruasi dan tidak menghisap cairan vagina, sehingga keseimbangan flora dalam vagina tetap terjaga. Vagina tidak akan kering dan iritasi lagi. Cairan dalam vagina tidak cuma berfungsi sebagai “lubricant”, tapi juga menjaga keseimbangan PH dan “antibacterial”. Karena itulah mengapa wanita yang tergolong sangat sensitif cenderung tidak cocok memakai tampon. Karena tampon menyerap semua cairan yang ada dalam vagina, termasuk “lubricant dan antibacterial substance” yang ada dalam vagina. Saya cuma pernah coba tampon sekali, itupun ngga sampai habis dan langsung berganti kembali pakai pembalut sampai saya bertemu dengan “menstrual cup”.
– Kita bisa tetap berenang dan berendam di bath tub selama datang bulan.
Praktis dan tidak makan tempat. Sekarang tak perlu lagi mengalami insiden: “Waaa, tiba-tiba hariku datang dan aku lagi kehabisan (atau nggak bawa pembalut), gimana nih?!?”

tasse

image: amazon

Bentuknya yang kecil dan saat beli biasanya diberi kantong

p60902-1500181

image: koleksi pribadi

cantik untuk bungkus, jadi memudahkan kita dalam membawanya setiap kali “travelling untuk liburan” atau pergi kemanapun di masa-masa menstruasi kira-kira akan datang. Ngga makan tempat di tas lho, tampon dan pembalut jelas makan tempat cukup banyak :-D.

Ini point terakhir yang menurut saya justru yang terpenting meskipun mungkin bagi sebagian besar orang kurang jadi perhatian, yaitu: “Dengan memakai menstrual cup kita ikut berkontribusi mengurangi SAMPAH di muka bumi. Dengan kata lain kita ikut berkontribusi memelihara bumi kita.” Bayangkan coba berapa banyak sampah yang diproduksi wanita setiap bulannya hanya dari pemakain tampon dan pembalut?!? Hal sangat besar artinya bagi Indonesia yang penduduknya segitu banyaknya dan tak punya managemen sampah yang baik.

Ada plus tentu ada minus, berikut adalah kelemahan produk ===>>> Ketika bepergian dan bertemu toilet umum yang tak memberikan cukup privacy untuk membuang isi cup (toilet yang lokasi bak untuk cuci tangannya berada diluar), misalnya saja saat pergi ke pantai. Masalah ini solusinya cukup mudah, bawa aja 1 pembalut untuk ganti ketika bepergian demi berjaga-jaga menghadapi situasi tak terduga seperti ini. Cup-nya sendiri untuk sementara cukup dibersihkan dengan tissue didalam bilik dan nanti dicuci di wastafel diluar bilik dan masukkan tas. Dengan memakai cup dan hanya membutuhkan ekstra pembalut untuk emergency saja, maka kita sudah berhasil mengurangi sampah dan berhemat dalam jumlah besar lho. Lagipula, pengalaman menunjukkan bahwa cup biasanya bisa bertahan selama setidaknya 10-12 jam, jadi sebenarnya masalah ini nyaris tak pernah saya jumpai. Tapi jika perlu kita juga masih bisa memakai satu ukuran lebih besar jika bepergian jauh dan dalam waktu lama, supaya tidak perlu membuang isi selama masih dijalan dan tak bertemu toilet yang layak. Untuk di Indonesia sendiri hal ini bahkan sama sekali bukan masalah karena di Indonesia kita cebok pakai air, jadi di dalam bilik toilet pasti ada fasilitas selang penyemprot yang bisa dipakai untuk mencuci “cup” hehehe.
Diluar hal ini saya tidak menemukan kelemahan apa lagi yang bisa saya sebutkan, kecuali mungkin bagi perempuan yang masih perawan yang tentunya tak ingin memasukkan apapun kedalam vagina hehehe.
Cara pemakaian dan melepasnya kembali juga sangat mudah. Jauh lebih mudah daripada yang saya bayangkan sebelumnya ketika baru membaca referensi di media cetak ataupun elektronik. Di Youtube bisa ditemukan banyak video tutorial tentang ini. Ya, saya memutuskan untuk mencoba tentu saja setelah banyak mempelajari referensi yang ada. Sekarang saya bisa membuat testimoni tangan pertama: Sama sekali tidak sakit, tak seperti yang saya khawatirkan sebelumnya, meskipun bentuknya terkesan besar. Cup-nya sangat lembut dan lentur, tidak seperti tampon yang meskipun kecil tapi keras. Daya serap tampon yang kuat itulah yang memberi saya rasa tidak nyaman dan cenderung menggigit, sehingga membuat saya selalu kesulitan dalam memasang meskipun cukup kecil. Apalagi jujur saja, saya selalu ada perasaan takut tidak bisa mengeluarkan si tampon kembali, ini cuma anggapan personal saya tentu saja 😀 😀 .
Tapi saat memakai menstrual cup rasa khawatir itu tidak saya rasakan.
Ketika memasukkan mangkuknya kita lipat supaya mulutnya cukup kecil untuk dimasukkan dan begitu sampai didalam cukup melepaskan jari dan otomatis akan tercipta situasi “vacuum” yang membuatnya menempel di mulut rahim dengan kuat untuk menampung darah menstruasi dan tak memberinya peluang untuk menetes keluar. Untuk melepasnya kembali kita cukup memasukkan satu jari dan menekan ujung bawah cup supaya kondisi “vacuum” hilang dan mulut cup pun terlepas dengan sendirinya dari mulut rahim sehingga bisa ditarik perlahan dengan dua jari sementara posisi mangkuk dijaga tetap vertikal agar tidak tumpah. Buang isi ke toilet, cuci di wastafel, lap dengan tissue dan pasang lagi, beres.
Untuk lebih jelasnya bisa dilihat panduan pemakaian di Youtube seperti berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=9jSGCqr3c74  atau disini:  https://www.youtube.com/watch?v=84Yjy9yR55w

https://www.youtube.com/watch?v=ilq2Mdau2TU (Yang ini berbau iklan hehehe, cuma lebih bagus penjelasannya)
dan masih banyak lagi  lainnya, silahkan di google saja sendiri ^_^.

Referensi pribadi dari saya: I’m really satisfied with this product, that’s why I’m now sharing it to you ^_^.
Good bye TRASH 😀 !!! Good Bye too stockpile of sanitary napkins ^_^!
And I can use the budget for those napkins to have some fun LOL!
What do you think friends 🙂 ?