Burnout-Syndrom: Depresi dimasa studi bukanlah isu ringan

Standard

DEPRESI, sepertinya topik ini di masyarakat Indonesia masih tabu untuk dibahas seolah itu adalah sebuah aib yang sangat memalukan. Depresi itu bukan dosa apalagi kejahatan, melainkan gangguan kesehatan yang efeknya tidak bisa dianggap remeh bahkan bisa menjadi sesal berkepanjangan tidak berhasil diatasi sebelum terlambat.
Untuk menemukan solusi yang optimal sebelumnya orang harus mencari akar masalahnya dulu, jadi menutup-nutupi masalah bukanlah jalan terbaik yang bisa diambil, karena hanya dengan tidak membahasnya dan menutupinya tidak lantas berarti masalah itu jadi menghilang dengan sendirinya.

Orang yang sedang mengalami depresi itu butuh support dari orang-orang disekitarnya, mereka tidak bisa berjuang sendirian. Semakin mereka merasa sendiri semakin besar perasaan “helpless” dan ancaman bunuh diri juga makin kencang. Karena itu “awareness” dari orang-orang disekitar kita sangat besar peranannya.
Belum lama saya menulis sentilan kepada orang-orang yang hobinya mencari perhatian publik dengan sengaja menyebar kisah dramatis pribadinya dan menjelek-jelekkan partner/anggota keluarganya sendiri. Tulisan tentang depresi ini tidak lantas berarti menunjukkan bahwa saya nggak konsisten dengan opini saya.
Karena ini adalah dua hal yang jauh berbeda.
Cukup jelas kok bedanya, orang yang berbagi dengan niat mencari solusi dengan orang yang cuma mencari “cheerleaders” dan teman bergosip, cuma mencari pembenaran akan attitude-nya dan keluhan-keluhannya yang jelas-jelas kekanak-kanakan (yang kayak gini mah lebay namanya).
Orang yang benar-benar depresi biasanya itu justru cenderung tertutup, karena itulah perasaan “helpless” jadi besar, seolah mereka ngga punya siapa-siapa yang bisa mengerti dirinya, mungkin bahkan adanya rasa malu dan gengsi untuk mengakui bahwa dirinya punya masalah itulah yang makin memperburuk keadaan. Apalagi jika kita tumbuh di masyarakat dimana “kehilangan muka” dan “kehormatan” serta “prestige” itu dipandang sebagai hal yang sangat krusial seperti Indonesia.

Saya bukan psikolog ataupun psikiater, sehingga saya tidak cukup berkualifikasi untuk menganalisa tentang depresi. Disini saya cuma ingin berusaha membangkitkan kesadaran akan adanya bahaya depresi dikalangan calon akademisi kepada masyarakat Indonesia yang kecenderungannya saya lihat masih berpandangan terlalu sempit, menganggap itu suatu hal yang memalukan hingga tak pantas untuk dibicarakan secara terbuka.
Padahal itu adalah isu yang bisa menimpa siapa saja, dan sekecil apapun kesediaan untuk berbagi atau memberi perhatian pada isu ini, mungkin akan bisa menyelamatkan nyawa banyak orang yang mungkin saat ini sedang menghadapi masalah tersebut.
Yang sudah pergi takmungkin kembali, sudah terlambat untuk berbuat sesuatu baginya kecuali sekedar mendoakan.
Tapi diluar sana masih banyak orang-orang lain yang mungkin masih bisa dibantu sebelum terlanjur terlambat pula baginya.
Sebagai kaum intelektual, seharusnya bisa membedakan antara “tulisan bertendensi gosip” dengan tulisan yang sifatnya informatif dan edukatif sehingga lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya.
Depresi dikalangan mahasiswa janganlah diremehkan. Di Jerman sendiri tercatat setidaknya 1 dari 5 mahasiswa didiagnosis mengalami depresi. Informasi bisa dilhat disini, disini dan disini. Dan kasus bunuh diri karena depresi juga bukanlah hal yang langka. Mahasiswa Indonesia juga tidak terkecualikan dari ancaman ini. Terutama karena mereka di usia dimana kondisi psikologis dan emosi mereka cenderung masih labil dan sudah harus hidup merantau dinegeri orang sendirian. Yang orang lokal saja tidak sedikit yang kena lho.
Apalagi kita semua tahu betapa besar pengaruh keluarga dan orang tua pada anak-anak Asia. Banyak sekali kasus dimana mereka bahkan bersekolah itu demi memenuhi ambisi orang tuanya dan bukannya untuk mengeksplorasi bakat dan potensinya sendiri. Banyak anak-anak asia yang terpaksa harus ambil jurusan teknik atau kedokteran cuma karena gengsi dan reputasinya yang bagus, padahal mungkin bakat dan “passion” mereka tidak ada disana. Ini juga merupakan faktor tambahan penyebab depresi lho.
Sementara itu, kultur kita biasanya membawa “bad consciousness” yang sangat tebal ketika yang bersangkutan merasa tak mampu untuk bisa memenuhi harapan-harapan orang tuanya. Ketakutan untuk pulang membawa kegagalan karena bisa memberikan malu pada keluarga, tebalnya rasa bersalah ini membuat semuanya semakin buruk.

Disinilah letak pentingnya kesadaran orang-orang tercinta disekitarnya agar tidak membuat tekanan perasaan ini semakin besar. Supaya kelak tidak ada sesal dibelakang hari jika si anak pada akhirnya benar-benar tak bisa menahan godaan untuk mengakhiri semuanya dengan cara yang salah.
Disinilah perlunya tulisan-tulisan yang bisa membuka mata orang-orang kita akan potensi depresi bahkan pada anak-anak yang “sepertinya” sejauh ini baik-baik saja, patuh, tidak pernah nyusahin keluarga, bahkan mungkin pinter.
Jangan salah, “the really intelligent people are even more likely to have stress and they are often pessimistic/skeptical towards the world.”
Terlalu tinggi harapan pada anak (apalagi sampai pada level “tuntutan”) itu sama riskannya dengan terlalu memanjakaan anak.
Tolong jangan abaikan peluang untuk menunjukkan pada anak bahwa mereka tetap dicintai dan ngga akan dianggap sebagai perusak reputasi keluarga hanya karena mereka ngga selalu pulang membawa kesuksesan karir atau prestasi akademis.
Didunia ini ngga semua orang harus jadi insinyur, dokter, ilmuwan ataupun ekonom top.
Yang tidak bisa memiliki karir seperti itupun ngga lantas berarti mereka ngga berharga dan nggak layak dibanggakan lagi.
Dengan begini, setidaknya mungkin kita bisa mengurangi beban mental mereka yang sedang berjuang menempuh studi dinegeri orang.
Kuliah di jerman itu nggak gampang… angka kegagalannya mencapai hampir 50%, secara general… ngga cuma pada mahasiswa asing melainkan seluruh mahasiswa di negeri ini.
Gagal bukanlah hal yang memalukan, itu bukan dosa bukan tindakan kriminal, dan bukan pula akhir dari hidup. Gagal disatu bidang tidak lantas berarti kita akan gagal dalam semua hal.

Yang paling penting lagi… sebaiknya dikembangkan kebiasaan untuk terbuka. Kita memang nggak harus mengumumkan masalah pribadi pada setiap orang, kepada publik, tapi setidaknya janganlah semua hanya disimpan sendiri jika itu terasa berat.
Berbagilah pada teman terdekat atau siapapun itu yang bisa diajak berbagi cerita.
Jika memang tak ada teman yang bisa dipercaya, pergilah mencari bantuan professional bila ada masalah. Di Jerman sini apalagi, ada banyak sekali layanan konseling gratis.
Setiap orang juga punya asuransi sehingga mencari konsultan yang nggak gratis juga bukanlah sebuah masalah.
Jangan anggap “depresi”, “stress” dan “burnout syndrom” itu hal yang memalukan. Itu hal yang bisa terjadi pada siapa saja.
Forum-forum online untuk saling berbagi secara anonym seperti ini misalnya,  juga bisa dimanfaatkan.
Semoga tulisan ini bisa dianggap bermanfaat, karena saya sama sekali nggak ingin bergosip ^_^ .
Turut berduka cita bagi siapa saja yang saat ini sedang berduka karena orang yang dikasihi meninggalkannya gara-gara tak mampu mengatasi depresinya…
Semoga angka korban depresi dikalangan mahasiswa (khususnya) bisa berkurang dimasa mendatang.

Sampai Jumpa.

Advertisements

2 responses »

  1. Stress sama depresi kondisinya udah beda sih… Biasanya kalau udah sampai tahap depresi orang tidak bisa mengatasinya tanpa bantuan orang lain, terutama professional. Karena itu dukungan dari orang2 di sekitar mereka sangat krusial perannya. Jadi disini sebenarnya lebih ke upaya untuk membangkitkan awareness Kita terhadap kemungkinan orang dekat Kita dalam situasi seperti itu dan butuh pengertian serta support ekstra dari Kita… Sekaligus menghindari memberikan tekanan tambahan kepadanya dengan tuntutan2, harapan, permintaan, keluhan dan semacamnya. Ini adalah hal2 yg tanpa disadari Kita berikan pada pasangan Kita, anak Kita, orang tua Kita dan saudara Kita sendiri lho.
    That’s the biggest point 😊.
    Kenapa Kita sebaiknya aware? Karena memang ngga semua orang itu outspoken dan optimistic. Bad combination is phlegmatic and pessimistic.
    Sebagian orang suka menyimpan sendiri masalahnya bahkan ketika itu udah ada pada level unbearable 😊. Ini yang bahaya… Makanya sensibilitas orang disekitarnya yang sangat dibutuhkan.
    Sayangnya yg bikin saya “sighing” adalah…. Di kalangan orang Indonesia Thema ini dianggap tabu untuk dibahas tanpa memperhatikan konteks pembicaraannya.
    Bergosip dengan berbagi informasi itu ngga sama… Seharusnya sih orang yg tergolong berilmu dan punya common sense bisa membedakannya 😊

    Like

  2. Aku juga termasuk orang yang nggak bisa curhat di sosmed…kayaknya masalah pribadi lebih pantas dibagikan dengan teman dekat dan keluarga saja…
    Kalau ada masalah yang paling prowerful itu ya datang sama Tuhan, dan berdoa..itu saja. 🙂

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s