Apa sih intisari sholat, puasa, sedekah dst itu …?

Standard
16730429_10210228344678486_5139045341366644636_n.jpg

source: anonymous (found in Facebook site)

Tema kali ini mungkin rada sensitif, bagi anda yang nggak suka bercermin, baperan dan sensian … silahkan lewatkan saja.
Saya ngga bertanggungjawab kalau anda kena darah tinggi dan endingnya jadi jantungan gara-gara baca tulisan saya. 😀
Anda-anda yang mengaku dirinya muslim paling sejati, khususnya kalian yang suka menuduh muslim lain yang beda tafsir itu tersesat dan butuh “hadiyah” … 😀
saya ingin bertanya: apakah anda semua benar-benar mengerti apa sih sebenarnya intisari dan pesan yang dibawa oleh rukun islam: syahadat, sholat, puasa, zakat/sedekah, haji?

Hasil observasi saya sih, sepertinya banyak umat islam jaman sekarang yang tidak lagi belajar pada ustad yang memahami hal itu, melainkan lebih suka menghadiri ceramah ustad-ustad instant yang hanya mengajari cara menjalankan “RITUAL” nya doang.

Saya sendiri bukan ustad, bukan pula ahli agama … tapi saya masih ingat benar, jaman saya kecil dulu … guru agama saya sih ngajarinnya begini ini:

1. Syahadat itu pengakuan atas sang pencipta dan rasul, menghindari syirik.
Tapi realita yang ada saat ini, yang ditinggikan seolah bukan sang Tuhan dan yang diikuti bukanlah akhlak sang Rasul, melainkan “ulama”.
Padahal ulama itu bukan orang suci dan sama saja seperti manusia lainnya, tempatnya salah dan alpa. Dimata umat sekarang, ulama yang omongannya besar dan pinter silat lidah bicara berapi-api, sok dan justru suka “riya” plus hobi mengkafir-kafirkan orang lain yang dianggap hebat. Yang humble dan berusaha mencontoh akhlak nabi itu justru yang dipandang sesat.
Jadi bukannya menjadikan dirinya layak jadi tauladan bagi orang disekitarnya supaya terpikat dan jatuh cinta pada ajaran yang dia bawa, tapi yang ada nih … bahkan yang udah muslim malah dikafir-kafirkan juga cuma karena tafsir islam-nya beda darinya.
By the way … tidakkah semua ajaran agama itu sebuah “Tafsir”?
Kenapa pula disebut “ilmu Tafsir” coba?
Tidakkah dari arti kata literal nya aja sudah jelas terlihat?
Semuanya sekedar “intrepretasi”, dan sudah wajar sewajar-wajarnya kalau “intrepretasi” itu bisa berbeda antara satu kepala dengan lainnya.
Dan kita bukanlah pencipta Alkitab ataupun Hadist.
Jika Alkitab itu buatan Tuhan, maka hanya Tuhan-lah satu-satunya yang tahu benar apa yang dia maksudkan dengan setiap yang tertulis disana, kita semua cuma “MENAFSIRKAN”, jadi mbok ya jangan kurang ajar dan sok tahu gitu lho.
Or do you think you are “God”???
Yang tahu pasti itu ya cuma yang bikin gitu lhooooo, who are you to claim to know the best than everyone else? 

2. Sholat itu ngajarin kebersihan dan disiplin.
Realita? Kayanya saya ngga perlu tunjukkan satu-satu dan ngga usah nyari semut dikejauhan sana, kita lihat saja Indonesia: negara berpenduduk muslim terbesar didunia. Apakah indonesia bersih? Apakah penduduknya bisa dibilang disiplin dengan sendirinya?
Hmmm …
Kalau dibandingkan dengan negara kafir yang suka dihujat itu, kira-kira lebih bersih dan disiplin mana?
So, what has their “sholat” taught them? Has it given them any effect at all?

Well, obviously not … Cuma sebatas ritual doang. Oberflächlich.

 

3. Puasa.
Katanya untuk mengajari umat bersabar dan mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan empati bagi orang yang lebih nggak beruntung daripada kita.
Realita???
Setiap saatnya puasa tiba, boro-boro punya empati bagi orang yang nggak beruntung secara umum … empati bagi orang miskin seagama yang cuma bisa ngais rejeki dari jualan makanan aja nggak ada …
Tega-teganya mengobrak abrik lapak mereka (tanpa ngasih kompensasi apapun pula).
Menahan hawa nafsunya cuma sebatas nafsu seks dan nafsu makan doang.
Amarah dimanjakan, kebencian tetap dipupuk, pintu maaf tertutup rapat, tenggang rasa nggak ada, egoisme dipelihara, sifat agresif, anarkis dan kasar diutamakan.
Masih pantaskah disebut ujian hawa nafsu jika disetiap kesempatan selalu menuntut seluruh potensial “ujian” di blokir, yang nggak wajib puasa pun dipaksa ikut puasa juga, cuma supaya dirinya nggak perlu berjuang lagi terlalu berat menahan “nafsu” nya, 😀
minta dimanjakan dengan privilege “boleh malas-malasan” di lingkungan kerja dan sekolah cuma dengan alasan “kan lagi puasa”.
Menjadi mayoritas bukannya berusaha berperan menjadi pelindung pihak yang lemah, tapi malah menjadi penindas.
Malah lebih buruk daripada penjajah asing itu mah, lha wong sama saudara sebangsa setanah air aja tega menindas gitu.
Katanya rahmat bagi seluruh semesta, tapi kok kalah sama bangsa yang dijuluki kafir ya.
Yang disebut negara kafir itu masih mau menampung, ngasih makan dan tempat tinggal buat muslim yang merana lho.
Sementara yang menyebut dirinya pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia, lha kok malah begitu banyak yang jahat pada manusia dan makhluk lain?
Ngakunya aja muslim yang takwa, tapi kok kepada sesama muslim aja bisa jahat, apalagi pada umat dan makhluk lain?!?
So … akhirnya, apa coba dong hasil puasanya? Bawa hikmah nggak?
Kalau yang “attitude” nya begitu sih, kayaknya lebih logis dan masuk akal kalau jawabannya adalah …:

“NONE” … “NOTHING”

 

4. Zakat/sedekah
Tidakkah itu juga bertujuan untuk ber-empati pada orang yang nggak beruntung? Berapa banyak yang ikhlas melakukan itu tanpa memamerkannya pada dunia? Yang melakukannya benar-benar hanya untuk mengajari diri jadi umat yang berhati seluas samudera, nggak serakah dan nggak dengki pada orang lain, dan bukannya sekedar untuk mencari PENGAKUAN dari publik betapa ber-taqwa-nya dia?
Ketika orang benar-benar tergolong orang yang taqwa, kaya tapi tetap murah hati dan humble, itu akan terlihat dengan sendirinya tanpa harus sengaja ditunjukkan pada dunia lho …
Dan harusnya orang ibadah itu bukannya untuk membersihkan dirinya sendiri dan meningkatkan kualitas spiritualnya sendiri agar bisa merasa dekat pada sang Khalik?
Kalau mereka ini memang percaya bahwa Tuhan lebih suka umat yang sok merasa paling bertaqwa dan lebih berhak masuk sorga daripada orang lain
(ah ya, alangkah kurang ajarnya, mendahului kehendak Tuhan gitu lho, sok tahu isi hati dan isi kepala sang Tuhan ^_^ ).
Then actually this is a real Blasphemy to God … karena Tuhan seolah digambarkan sebagai sosok yang picik, diskriminatif dan dangkal.

Ataukah jangan-jangan, sekarang tujuan ibadah itu sudah berubah dan yang utama adalah demi mendapatkan PENGAKUAN publik?

5. Ibadah haji itu wajibnya cuma sekali, dan hanya wajib bagi yang benar-benar mampu.. ngga cuma secara finansial tapi juga jiwa dan raganya benar2 mampu.
Dan sepertinya sih hikmahnya adalah supaya manusia bisa bercermin pada hidupnya sendiri, apakah sejauh ini sudah jadi muslim yang baik, yang bisa jadi tauladan bagi saudara-saudaranya?
Belajar untuk menyadari bahwa tak peduli berapa banyak gelar jabatan dan duit yang dimiliki, berada dilautan manusia di bawah terik matahari itu semuanya terlihat sama, ngga ada istimewanya antara 1 manusia dengan yang lainnya.

Ketika mati semuanya cuma bawa badan dan paling banter juga sekedar secarik kain. MANUSIA semua sama dimata sang Khalik, jadi jangan sok.
Tapi realita???
Ibadah haji jaman sekarang lebih banyak malah cuma kayak objek wisata,
yang cuma bisa menunjukkan bahwa yang bersangkutan bisa bayar ongkosnya.
Benarkah pelakunya sudah sungguh mampu di lihat di segala segi?
Benar-benar mampu secara finansial aja belum tentu.
Betapa banyak yang masa depan anak-anaknya saja belum terjamin, banyak anggota keluarga dibawah tanggung jawabnya yang hidupnya masih sengsara, tapi sudah ngotot ber-haji.
Betapa banyak yang bahkan berani ber-haji pake duit nggak halal, seolah kalau dipake haji trus jadi halal begitu …
Betapa banyak pula yang ngotot mendapat jatah bisa berhaji berkali-kali tanpa peduli bahwa masih banyak muslim lainnya yang ngantri dapat jatah kuota haji dan belum pernah sekalipun merasakan.
Betapa banyak orang yang sepulangnya dari haji bukannya jadi muslim yang jauh lebih baik dari sebelumnya tapi sekedar pengen dapat embel-embel sebutan “Haji/Hajah” dan bisa ngeklaim shaf sholat di deretan depan. 😀
Boro-boro jadi tauladan umat yang baik, humble, sabar, murah hati penuh maaf, kalau ada orang lupa nyebut dia dengan “titel”nya aja bisa tersinggung berat. 😀 😀 😀
Ketika kita melihat kehancuran, kerusakan dan ketertinggalan di wilayah-wilayah dominan muslim, alangkah bagusnya kalau untuk sesaat kita tekan sejenak hasrat untuk mencari kambing hitam dan melempar kesalahan kepada pihak lain dulu …
tidakkah lebih berguna jika kita bercermin kenapa itu semua bisa terjadi?
Karena kalau kita sendiri solid dan menjalani hidup dengan baik di negara kita sendiri, saling mendukung sesama saudara sebangsa, punya kasih tanpa pilah-pilah, bisa menentukan prioritas dengan benar … bahwa dalam kehidupan bermasyarakat itu yang terbaik adalah pencapaian “mutual welfare and well being of everyone” di negara tersebut, dan bukan hanya bagi golongan tertentu saja …
Jika itu yang jadi prioritas, maka tidak akan ada pihak luar manapun yang bisa merusak tatanan di negara tersebut.Politik adudomba hanya akan berfungsi kalau yang diadu domba mau aja dijadikan domba bodoh yang suka diadu. 😀
Kenapa dengan ajaran agama yang katanya adiluhung dan terbaik didunia, agama yang merupakan Rahmat bagi semesta alam, tapi kok negara dominan muslim justru lebih banyak yang bukannya jadi makmur sejahtera aman tenteram bersih teratur, tapi justru sengsara dan mengalami perang berkepanjangan?!?
Boro-boro jadi rahmat seluruh alam semesta, menjadi rahmat bagi satu biji kota aja susyeh banget kayanya.
Ngeklaim menjadi Rahmat bagi semesta tapi nggak bisa memberi kasih kepada seluruh isi semesta tanpa pandang bulu,
tapi yang ada malah menciptakan kesan Tuhan itu rasis dan diskriminatif, menilai umatnya bukan lagi dari akhlak dan amalannya tapi cuma sekedar dari “cara mereka menjalankan ritual, berpakaian dan asal-usul serta latar belakang sosialnya” doang.
Ketika anda sendiri tergolong orang yang suka mengkotak-kotakkan manusia … maka anda adalah orang yang paling tidak pantas untuk berkhotbah bahwa ideologi anda itu adalah yang paling layak untuk disebut pembawa rahmat bagi SELURUH semesta.

Ambillah cermin dulu.

IRONIS rasanya, jika orang yang berkata bahwa dia memperjuangkan:
“The borderless nations, the world is for everyone, passport is only a part of bureucracy, only a piece of paper and shouldn’t separate humans, block their life and talent, now it’s time for GLOBALISATION bla bla bla …”

Jika disaat yang sama, dia justru berkampanye dan berprinsip bahwa “haram bagi umat islam untuk nyoblos non muslim dalam pemilu/pilkada, yang nyoblos itu berarti bukan muslim sejati” >>> dan itu disebuah negara yang memakai sistem demokrasi lho, bukannya Monarki. Monarki konstitusional aja nggak, apalagi monarki berasas agama <<<.

Is the statement: “borderless nation and the world for everyone, globalisation”
only a beautiful tagline of an advertisement for own special purpose and actually has no meaning at all?

 Schade echt schade …
Katanya sih berilmu, tapi kok mencampur adukkan antara “Hablumminallah dengan Hablumminannas.”
Banyak diantaranya berpendidikan akademis tinggi, tapi tidak bisa membedakan antara “Civil Servant” dengan “Otokrat/Raja”.
Dalam
 negara bersistem demokrasi, even kepala negara itu adalah “Pelayan Rakyat” yang jadi bos itu Rakyat, dan bukannya sang pejabat terpilih.
Jadi, bahkan andai kita anggap bahwa tafsir isi QS. Al Maidah seperti yang para islamis konservatif katakan itu benar, maka itu tetaplah nggak relevan untuk diterapkan di sebuah negara bersistem “Demokrasi”, karena konsep “pemimpin jalannya pemerintahan” yang dipakai tidaklah sama.
Kalau yang berprinsip ngawur dan bisa dicuci otak oleh ustad yang di“pakai” oleh politisi tertentu itu adalah orang bodoh awam tak berpendidikan sih masih masuk akal ya,
tapi kalau orang yang katanya berpendidikan tinggi dan punya integritas juga ikut-ikutan begitu, kok rasanya sayang banget ya … ironis sekali gitu …
Ilmunya diumpetin kemana? Ataukah integritas-nya sudah tergadai pula hingga sang “ilmu” disingkirkan saja begitu?
Sayang oh sayang …

Saya sih juga seneng-seneng aja milih kandidat muslim kalau emang nyata-nyata lebih kompeten dan janji-janjinya itu tergolong masuk akal, cukup “feasible”, nggak cuma bisa “umuk”.
Kalau cuma bilang “produk saya jaminan mutu dan pasti nomor satu”, setiap iklan mah pasti akan begitu lah.
Tapi kalau orang mau pake otak dengan baik, mestinya tahu dong: mana iklan yang kira-kira berpotensi untuk terwujud hasilnya dan mana yang cuma “nggedebus”.
Tapi kalau kandidat muslim yang ada tidak cukup menjanjikan, lah yo mosok ngotot dipilih juga cuma sekedar karena dia “muslim”?
Kalau kayak gitu, kok masih bisa-bisanya ngarepin masyarakat bisa punya masa depan cerah dan ada perbaikan situasi kesejahteraan yang signifikan, lah emangnya sihir?

 

Well … saya tidak akan minta maaf kalau ada yang tersinggung, karena EXACTLY anda yang merasa tersinggung itulah yang menjadi cerminan dari apa yang saya narasikan diatas.
Bagi yang tidak merasa begitu, sudah pasti ngga perlu tersinggung.

Lah apanya yang perlu di tersinggungkan, kalau dia bukan termasuk umat muslim yang begitu kan LOL ?!?
Ketika seseorang merasa tersinggung saat mendengar kritikan yang tidak mengandung unsur hinaan ataupun kata-kata kasar yang nggak relevan,
maka tidak lain tak bukan sebabnya hanyalah karena biasanya justru “kritikan itu tepat sasaran”, spot on gitu lhooo wkwkwkwkwk.
Orang yang punya akal sehat mestinya bisa menilai sebuah kritik dari sudut pandang objektif, dan ngga ambil pusing “siapa yang ngomong”, karena yang lebih substansial adalah isi omongannya masuk akal nggak, dan bukannya “siapa yang ngomong” hehehe.

Sementara disini dulu ocehan saya …
see you next time …
semoga aja setelah kita sudah sempat bercermin rame-rame dengan semestinya
 hehehe
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s