Monthly Archives: November 2018

Mengajari thuyul kecil saya untuk jadi multilingual.

Standard

Halo sobat Steemian, apa kabar?

Kali ini saya ingin nulis tentang hasil pertama usaha kami untuk menciptakan thuyul kecil yang polyglot alias menguasai banyak bahasa. 😀

Dunia semakin mengecil dan batas negara semakin menipis. Globalisasi takhanya berarti pertukaran barang alias produk, akan tetapi juga termasuk SDM. Oleh karena itu kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa sudah pasti adalah poin plus dalam koleksi kompetensi seseorang. Hal ini makin penting mengingat dijaman modern ini pendidikan formal tak lagi tergolong barang mewah, setidaknya di negara berkembang bebas perang seperti Indonesia, apalagi di negara maju seperti Jerman.
Demi bisa memiliki nilai tawar yang cukup bagus didunia kerja, maka setiap orang harus memiliki nilai tambah yang istimewa.

Sebagai anak yang tumbuh di keluarga beda bangsa ataupun satu bangsa yang kebetulah tinggal di mancanegara, maka lingkungan ini seharusnya menjadi peluang berharga bagi si anak untuk bisa mempelajari setidaknya dua bahasa pada level bahasa ibu alias sangat fasih. Karena si anak tumbuh besar dengan otak yang masih bagai spon yang bisa menyerap informasi apapun dengan lebih cepat dan mudah plus memiliki guru pembimbing yang mengajari dengan penuh cinta, dedikasi dan kesabaran, bukan sekedar tutor yang bekerja demi uang, dan penutur asli bahasa tersebut pula. Sehingga bahasa yang dipelajari pun bisa dikenal dengan aksen dan intonasi aslinya.
Saya tahu bahwa ini nggak akan mudah, terutama karena tidak setiap anak punya ketertarikan dan bakat di bidang linguistik. Akan tetapi, saya rasa kita setidaknya harus mampu membuat anak sendiri bisa memahami bahasa ibunya meskipun pasif, jika kita memang cukup persisten.
(Tentu saja akan lain kasusnya jika si anak memiliki kondisi yang menghambatnya dalam belajar).
Karena akan sayang sekali jika anak kita bahkan ngga bisa ngobrol dengan tema dangkal sekalipun dengan kakek nenek dan sodara-sodaranya dari pihak ortu yang kebetulan tinggal diseberang lautan sana.
Saya rasa jauh lebih masuk akal untuk mengharapkan si kecil yang belajar dari pada menuntut kakek nenek yang sudah lanjut usia dimana kapasitas memorinya sudah terpakai terlalu banyak, ya nggak?!

Well, sejauh yang saya pelajari selama ini, teknik paling efektif dan simpel yang bisa diterapkan untuk melatih anak dengan dua bahasa pertamanya adalah teknik OPOL, yaitu: One Parent One Language.
Saya ngajarin bahasa indonesia sementara dengan bapaknya si kecil bercakap-cakap dalam bahasa jerman. Saya hanya berbahasa jerman dengan sikecil jika ada orang ketiga yang hanya menguasai bahasa jerman, seperti contohnya di tempat umum dimana sering ada nenek-nenek yang ngajak ngobrol.

Sebelum kita mudik ke Indonesia akhir September kemarin, anakku belum mulai bicara kecuali ngucapin Mama dan Papa.Tapi dia sudah mengerti banyak, baik itu dalam bahasa Indonesia ataupun Jerman. Disuruh buang sampah aja dia juga sudah ngerti.
Cuma butuh beberapa hari menghabiskan waktu bersama keluargaku yang memanjakannya, dia udah langsung mulai berbicaraa.
Contohnya aja nama-nama binatang yang dipelihara keluargaku, juga anggota badan dia udah bisa mengucapkan walaupun tidak semuanya sempurna.
Cuma uniknya, dia sepertinya milih-milih bahasa berdasarkan level kesulitan pengucapan.
Ada beberapa kata yang dia lebih suka ngucapin dalam bahasa jerman begitu juga sebaliknya.
Saya masih punya banyak PR untuk mengajari dia memilah bahasa sesuai partnernya hahaha.
Yang paling berkesan buat saya contohnya adalah ketika saya lagi dandan ssebelum menghadiri konferensi Steemfest 3 di Krakow tempo hari, tiba2 sikecil nongol di kamarmandi sambil memuji saya “schön” yang artinya cantik…gimana nggak GR saya hahaha.
Tak ada yang jauh lebih membahagiakan lagi dibandingkan pujian tulus dari anak kita yang masih batita. 😀
Nyaris nggak percaya saya ulangi lagi bertanya apakah dia bener2 lagi muji mamanya cantik, eeeeh dia ngangguk2 sambil bilang “schön” lagi. Hepiii hahaha. Apalagi karena waktu aku pakaikan dia rok yang memang bagus, dia kembali bilang “schön”, artinya dia beneran ngerti dong hehe.

Ngomong-ngomong, berhubung saya kemarin gagal terus upload video di DTube, jadi sekarang silahkan dilihat aja Little Kobold berbicara bahasa Indonesia di YouTube channel saya:

Sekian untuk sementara ini dan terimakasih untuk upvotenya yaaa!