Author Archives: Kobold

Teman, tolong deh jaga lidah dari pertanyaan usil tentang hal-hal yang masuk wilayah pribadi, karena itu tidak sopan …

Standard

Hari ini tepat setelah saya kirim ucapan selamat berlebaran kepada teman-teman lama tiba-tiba saya kembali mendapatkan pertanyaan macam ini:
“Maaf An, apakah kamu masih muslim?”

Tja… apakah itu penting? Ataukah barangkali, andai saya bukan muslim lagi, ucapan selamat dan “good wishes” dari saya tidak lagi punya nilai dan ngga layak lagi diterima? Apakah jika saya tdk lagi muslim, saya jadi tidak memenuhi kualifikasi sebagai teman lagi?
Lagipula… jika saya menjawab “masih” sekalipun, darimana sang penanya bisa tahu apakah saya bohong atau nggak?
Lalu andai si penanya menjawab balik begini: „Emang sih, saya mungkin nggak tahu, tapi kan kamu sendiri tahu apakah kamu bohong, juga konsekuensinya sebuah kebohongan. Tuhan juga kan tahu kalau kamu bohong.“
Aha…well said, kalau begitu, apa gunanya juga nanya?

Toh pada akhirnya cuma saya dan Tuhan yang tahu status spiritual saya bukan?
Ikhlas atau nggak dan diterima atau nggak ibadah saya juga cuma Tuhan yang tahu kan?
Jadi buat apa sih sering-sering menonjolkan status keagamaan dan ritual ibadah…?
Apakah demi mendapat pengakuan manusia lain?
Eniwei buswei … padahal apa sih artinya pengakuan manusia lain?

Jangan salah ngerti ya, saya nggak tersinggung atas pertanyaan itu kok,
karena saya menyadari bahwa bagi orang indonesia pertanyaan macam itu bukan hal yang langka alias biasa saja, karena konsep “privacy” alias “private affairs” bagi sebagian besar masyarakat Indonesia itu sepertinya hal yang sangat “asing”.

Tapi “menyadari” bukan berarti saya setuju untuk menerapkannya pada diri saya juga.

You may ask, but I also have the full right not to answer such question.
It’s not that I would mind if my social or spiritual status is being revealed, but merely because my private affairs just don’t concern you (…or anybody at all).

Jika itu sekedar “curiousity”, pertanyaan iseng, tanggapan saya adalah:

“Please, jangan pelihara lagi kebiasaan untuk kepo akan hal apapun yang sudah masuk wilayah pribadi orang.
It’s not appropriate question.
Pertanyaan soal agama, itu sebanding dengan pertanyaan akan umur orang (khususnya pada wanita), kapan punya anak atau kenapa ngga punya anak, suamimu sunat atau nggak, kapan kawin, gaji (eh serius lho, dulu sering dengar juga pertanyaan soal gaji ini, dan itu bukan karena ada topik yang sesuai seperti misalnya diskusi umum akan standar gaji profesi tertentu di daerah tertentu, melainkan emang sekedar kepo), dan semacamnya.
Pertanyaan tentang hal-hal pribadi macam itu sangat tidak sopan, terlepas dari fakta apakah yang ditanya sebenarnya punya jawaban menyenangkan atau nggak.
Tolong perhatikan itu jika kamu memang masih berminat untuk berada didalam lingkaran pertemanan dekat saya.”
Ini bukan karena saya merasa ngga punya jawaban yang membuat kalian senang… (I don’t live to get your approvement or your liking anyway…), melainkan lebih karena ini adalah soal prinsip.

Dulu ada juga teman lain yang bertanya hal yang sama dan beralasan bahwa itu karena dia ngga mau salah ketika ngasih ucapan selamat dan „good wishes“ pada saya (katakanlah: ngucapin selamat Natal, selamat berhari raya nyepi, waisak dst. pada orang yang merayakan Lebaran atau mungkin sebaliknya).
Well… let me tell you something!
Dimana letak kesalahan dalam mendoakan/mengharapkan hal-hal yang baik dan menyenangkan terjadi pada temannya?
Dimana jeleknya menyampaikan ucapan selamat berpesta dan bersuka ria dalam sebuah hari raya. Bahkan pada setiap hari raya, kita yang di Indonesia biasanya dapat libur lho. Dan saya kira, setiap hari libur itu pantas disambut dengan suka cita oleh siapapun hehehe.
Does it make sense at all to be angry or reverse, to apologize for some good wishes?
Jadi buat saya itu bukan isu.
Saya senang-senang aja menerima „good wishes“ dari teman-teman saya, apapun itu kepercayaan saya.
Kalau menerima “wishes” supaya segera “dilaknat” dan disumpahin jadi kerak “neraka”, kena “azab” dan semacamnya…
Naaaah itu baru deh beneran bikin sakit hati, ya nggak, hayooo?!?

Akan tetapi jika kamu memang merasa bahwa status spiritual saya itu jauh lebih penting daripada kepribadian saya dan cara saya memperlakukanmu sebagai manusia,
sehingga pertanyaan macam itu menjadi perlu kamu sampaikan, well…
Jika artinya kamu memang tergolong pada kaum yang menelan mentah ayat suci dengan mengabaikan akal sehat serta etika, hingga menganggap bahwa nonmuslim itu orang kafir yang bahkan dijadikan teman dekat pun sebenarnya nggak boleh… hmmm
yakinlah saya nggak akan merasa kehilangan kok kalau kamu keluar dari lingkup pertemanan saya.

Saya hanya suka berteman dekat dengan orang-orang yang juga berfikiran positif terhadap teman-temannya tanpa pandang bulu; yang berbuat baik, saling tolong dan bersikap menyenangkan tanpa memilah alias pilih-pilih status sosial juga spiritualnya.

If you’re nice to me then I’ll be nice to you, that’s the most essential law to be my friend. Period.

Hubungan saya dengan sang Pencipta itu cuma urusan saya langsung dengan DIA seorang.
Bukannya surga itu propertinya Tuhan?!?
Logika sih kayanya cuma Tuhan yang bisa kasih kita surga ya, jadi ngapain sih repot-repot mikirin
urusan spiritual orang lain hehehe.

Saya ngga membutuhkan pengakuan manusia lain apakah saya ini orang mukmin atau nggak, karena bagi saya yang punya hak prerogratif atas pengakuan dan penentuan kadar iman saya hanya Sang Pencipta itu sendiri.

Sungguh ngga disangka, hanya beberapa jam setelah saya posting ucapan selamat lebaran dan berniat ingin membersihkan jalur pertemanan dari sampah dan duri beracun seiring datangnya bulan syawal yang fitri, saya mesti membuat tulisan yang mungkin membuat jalan itu kembali penuh onak. Tapi itu sebenarnya bukanlah hal yang saya harapkan. However I just can’t help it, some people just have to drive me to do it…
Na ja, this is me and my principle— if you dislike it, just feel free to remove me from your friendlist.
I believe that if God really exist and so allmighty, then God wouldn’t be a petty personality.
I would definitely be understood.

See you next time. 🙂
And once again sincerely I wish you a happy celebration and nice moments with your loved ones.

Minal aidin walfaizin.

Semoga Ramadan kali ini benar-benar membawa hikmah bagi anda dan berhasil membuat anda menjadi manusia yang berkarakter lebih baik daripada sebelumnya 😉

Renungan kecil di Hari Kartini

Standard
Saya yakin banyak dari kita yang sering mendengar kalimat begini:
“Sia-sia amat ya sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma jadi Ibu RT dan ngurus anak doang? Punya banyak ilmu rugi amat nggak bisa dimanfaatkan, mending nggak usah sekolah aja sekalian, buang2 duit dan energi aja.”
Well, saya cuma punya satu balasan untuk ini:

>>>Sejak kapan yang namanya memiliki banyak ilmu itu merugikan dan sejak kapan pengetahuan itu tidak ada manfaatnya?
Apakah tujuan orang sekolah saat ini memang cuma untuk dapat ijazah dan buat nyari kerjaan doang? Apakah manfaat ilmu pengetahuan itu cuma bisa diukur dari banyaknya duit yang bisa dikumpulin dengan bantuannya?

Jadi bukannya lagi untuk membuat pikiran dan perspektif kita menjadi luas? <<<

Kalau memang tujuannya cuma untuk nyari ijasah, yeah…
pantas aja deh jaman sekarang ada begitu banyak orang dengan titel berderet tapi pikirannya picik, sempit kayak katak dalam tempurung dan begitu kolot serta ignoran.
Last but not least, ada ucapan satu narasumber saya untuk buku KKC yang sangat saya suka karena saya anggap sangat mengena, sehati sama saya dan saya rasa layak jadi renungan banyak orang tua khususnya kaum wanitanya, yaitu ini:

“Adakah pengasuh, pembimbing dan pendidik pribadi harian yang lebih baik lagi buat anak kita, selain ibu kandungnya sendiri yang punya kompetensi mumpuni dan berpendidikan tinggi? Lebih baik mana dengan membiarkan tumbuh kembang mereka dibawah asuhan utama dari orang bayaran yang adakalanya bahkan ijasah SMP aja belum tentu punya, apalagi hanya untuk ditukar dengan pekerjaan yang hasilnya setelah dipotong biaya bayar pengasuh belum tentu sebanding nilainya dengan pengorbanan yang diberikan ( seperti: waktu, energi, serta masa2 berharga bersama anak yang takkan terulang)?”
Well, saya disini ngga bermaksud merendahkan peranan asisten RT ataupun mereka yang tidak bersekolah tinggi, apalagi mencela mereka para wanita yang suka berkarir diluar rumah.

Not at all…
Saya cuma ingin memberikan perspektif lain bagi para wanita yang tak jarang merasa terintimidasi oleh ucapan-ucapan nyinyir macam diatas dari lingkungan sekitarnya.

Setiap kali saya melihat perseteruan antara kaum “pro-karir” dengan “ibu RT” yang begitu seru dan kadang bahkan ganas-ganas komennya, saya merasa semua itu sangatlah konyol dan seringkali argumen-argumennya juga sungguh absurd dan intinya cuma saling melecehkan saja.
Ada banyak alasan kenapa seorang wanita berkarir aktif setelah berkeluarga dan memiliki anak . Tidak sedikit yang melakukannya lebih karena tuntutan keadaan. Walaupun memang ada juga yang melulu karena ambisi, yang mana menurut saya juga bukan sesuatu yang secara prinsip pantas dianggap negatif ataupun disalahkan.
Kata siapa ambisi cuma boleh dimonopoli oleh laki-laki coba?
Dan bukankah tanpa adanya wanita pintar yang punya ambisi, kita tidak akan punya tokoh-tokoh macam Angela Merkel, Indira Gandhi, Sri Mulyani, Bu Menteri Susi, Bu Menteri Retno dst?!
Hanya saja, sampai pada titik tertentu, menurut saya pribadi kadangkala memang perlu lagi kita tanya pada diri sendiri dalam hal ini, apakah “membentuk keluarga dan memiliki anak” memang adalah pilihan yang tepat untuk hidupnya.
Bukankah kalau memang mengaku dirinya wanita independen yang mumpuni, seharusnya kita juga cukup mandiri dan berani untuk tidak membiarkan orang lain … meskipun itu keluarga sendiri … memaksakan pilihan, target, ataupun value tertentu pada kita, seperti misalnya dalam urusan ‘jodoh dan anak’, jika itu membuat hidup kita sendiri bukannya bahagia dan “content”, tapi justru malah cenderung menjadi terbebani’?!?
Sementara disaat yang sama juga menyeret individu lain: yaitu *sang partner* dan bahkan *anak-anak* yang pada dasarnya nggak pernah meminta untuk dilahirkan, jika akhirnya hanya harus menerima nasib untuk di “nomor sekian“-kan atau yang lebih parah lagi: “ditelantarkan”?!
Bagi yang bisa menjaga cukup keseimbangan, tentu lain lagi persoalannya ya …
Sebaliknya pula bagi yang kebetulah tidak memiliki peluang untuk menerapkan ilmu akademik dan keahliannya didunia profesional setelah memiliki anak, tak ada perlunya juga berkecil hati apalagi sampai merasa terintimidasi oleh nyinyiran orang kurang kerjaan.
You, as a highly educated and knowledgeable mother, are definitely the best teacher, carer and baby sitter your children could ever get.
So there is nothing to regret at all for spending so much time and effort in studying.
Ilmu pengetahuan itu ngga ada masa kedaluarsa, ngga akan basi, dan akan selalu ada manfaatnya, setidaknya jika kita memang benar-benar memahami apa intisari dari ilmu itu sendiri.
 
Disaat yang sama tak ada alasan pula bagi siapapun untuk nyinyirin para wanita yang memilih untuk menjadi “stay home Mommy“.
Emangnya kita ini siapa sih, sok tau amat dengan apa yang bikin orang lain bahagia ataupun susah?
Kalau kondisi finansial yang bersangkutan memang mengijinkan untuk bisa hidup layak dengan satu pencari nafkah aja, sementara yang bertugas nyari duit aja juga nggak komplen, lantas apa pula urusannya dengan orang lain?
Ngga semua wanita yang menjadi “stay home Mom” itu merasa ngga berguna cuma karena nggak menghasilkan duit lho, apalagi merasa ditekan oleh pasangannya.

Lagipula, kata siapa pekerjaan itu harus selalu berarti tiap hari ngantor? Itu pikiran kuno. Jaman digital begini, yang namanya “home office” itu bukan hal yang luar biasa lho.
Dan kata siapa pula bahwa “sukses dan performance” itu cuma bisa dinilai dari banyaknya uang ataupun piagam/piala yang dikoleksi?
Mengutip kata suami saya: “Dein Wert hat nichts mit Geld bzw. Arbeit zu tun”.
(Nilai dirimu tidak ada hubungannya dengan duit ataupun pekerjaan).
Karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk memiliki “self-esteem” yang rendah hanya karena ngga menyetor duit ke kas rumah tangga, jika memang keadaan finansial tidak memaksa kita untuk bekerja.
Orang hidup ngga harus mendongak terus kan ya?!
Kalau hobinya mendongak ketinggian melulu sih, mau sampe kiamat juga pasti akan selalu ada yang kurang lah hehehe. Jadi, sepanjang kondisi finansial sudah bisa dibilang “cukup”, mestinya status ‘bekerja’ ataupun ‘tidak bekerja’ tidak perlu menjadi isu, apalagi sampai dibiarkan menjadi beban pikiran, seramai dan semeriah apapun omongan orang disekeliling kita.
Aktivitas dan kesibukan untuk mengisi waktu luang  (yang berlebihan) itu kan nggak selalu harus diwujudkan dengan karir yang membawa duit.

Jadi kesimpulannya:
“Jika haus akan ilmu, belajar sajalah terus sebanyak yang diinginkan, baik itu di bangku sekolah ataupun diluar lingkungan akademis.
Ilmu bisa diperoleh dari mana saja dan belajar itu nggak mengenal umur, status ataupun gender.
Tak perlu pula memusingkan apakah nantinya ilmu yang didapat itu semuanya bakal menghasilkan duit atau nggak, karena orang yang benar-benar berilmu (bukan sekedar pengoleksi ijasah lho), itu tidak akan pernah merugi.”
Sampai jumpa lagi lain kali 😉

Apa sih intisari sholat, puasa, sedekah dst itu …?

Standard
16730429_10210228344678486_5139045341366644636_n.jpg

source: anonymous (found in Facebook site)

Tema kali ini mungkin rada sensitif, bagi anda yang nggak suka bercermin, baperan dan sensian … silahkan lewatkan saja.
Saya ngga bertanggungjawab kalau anda kena darah tinggi dan endingnya jadi jantungan gara-gara baca tulisan saya. 😀
Anda-anda yang mengaku dirinya muslim paling sejati, khususnya kalian yang suka menuduh muslim lain yang beda tafsir itu tersesat dan butuh “hadiyah” … 😀
saya ingin bertanya: apakah anda semua benar-benar mengerti apa sih sebenarnya intisari dan pesan yang dibawa oleh rukun islam: syahadat, sholat, puasa, zakat/sedekah, haji?

Hasil observasi saya sih, sepertinya banyak umat islam jaman sekarang yang tidak lagi belajar pada ustad yang memahami hal itu, melainkan lebih suka menghadiri ceramah ustad-ustad instant yang hanya mengajari cara menjalankan “RITUAL” nya doang.

Saya sendiri bukan ustad, bukan pula ahli agama … tapi saya masih ingat benar, jaman saya kecil dulu … guru agama saya sih ngajarinnya begini ini:

1. Syahadat itu pengakuan atas sang pencipta dan rasul, menghindari syirik.
Tapi realita yang ada saat ini, yang ditinggikan seolah bukan sang Tuhan dan yang diikuti bukanlah akhlak sang Rasul, melainkan “ulama”.
Padahal ulama itu bukan orang suci dan sama saja seperti manusia lainnya, tempatnya salah dan alpa. Dimata umat sekarang, ulama yang omongannya besar dan pinter silat lidah bicara berapi-api, sok dan justru suka “riya” plus hobi mengkafir-kafirkan orang lain yang dianggap hebat. Yang humble dan berusaha mencontoh akhlak nabi itu justru yang dipandang sesat.
Jadi bukannya menjadikan dirinya layak jadi tauladan bagi orang disekitarnya supaya terpikat dan jatuh cinta pada ajaran yang dia bawa, tapi yang ada nih … bahkan yang udah muslim malah dikafir-kafirkan juga cuma karena tafsir islam-nya beda darinya.
By the way … tidakkah semua ajaran agama itu sebuah “Tafsir”?
Kenapa pula disebut “ilmu Tafsir” coba?
Tidakkah dari arti kata literal nya aja sudah jelas terlihat?
Semuanya sekedar “intrepretasi”, dan sudah wajar sewajar-wajarnya kalau “intrepretasi” itu bisa berbeda antara satu kepala dengan lainnya.
Dan kita bukanlah pencipta Alkitab ataupun Hadist.
Jika Alkitab itu buatan Tuhan, maka hanya Tuhan-lah satu-satunya yang tahu benar apa yang dia maksudkan dengan setiap yang tertulis disana, kita semua cuma “MENAFSIRKAN”, jadi mbok ya jangan kurang ajar dan sok tahu gitu lho.
Or do you think you are “God”???
Yang tahu pasti itu ya cuma yang bikin gitu lhooooo, who are you to claim to know the best than everyone else? 

2. Sholat itu ngajarin kebersihan dan disiplin.
Realita? Kayanya saya ngga perlu tunjukkan satu-satu dan ngga usah nyari semut dikejauhan sana, kita lihat saja Indonesia: negara berpenduduk muslim terbesar didunia. Apakah indonesia bersih? Apakah penduduknya bisa dibilang disiplin dengan sendirinya?
Hmmm …
Kalau dibandingkan dengan negara kafir yang suka dihujat itu, kira-kira lebih bersih dan disiplin mana?
So, what has their “sholat” taught them? Has it given them any effect at all?

Well, obviously not … Cuma sebatas ritual doang. Oberflächlich.

 

3. Puasa.
Katanya untuk mengajari umat bersabar dan mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan empati bagi orang yang lebih nggak beruntung daripada kita.
Realita???
Setiap saatnya puasa tiba, boro-boro punya empati bagi orang yang nggak beruntung secara umum … empati bagi orang miskin seagama yang cuma bisa ngais rejeki dari jualan makanan aja nggak ada …
Tega-teganya mengobrak abrik lapak mereka (tanpa ngasih kompensasi apapun pula).
Menahan hawa nafsunya cuma sebatas nafsu seks dan nafsu makan doang.
Amarah dimanjakan, kebencian tetap dipupuk, pintu maaf tertutup rapat, tenggang rasa nggak ada, egoisme dipelihara, sifat agresif, anarkis dan kasar diutamakan.
Masih pantaskah disebut ujian hawa nafsu jika disetiap kesempatan selalu menuntut seluruh potensial “ujian” di blokir, yang nggak wajib puasa pun dipaksa ikut puasa juga, cuma supaya dirinya nggak perlu berjuang lagi terlalu berat menahan “nafsu” nya, 😀
minta dimanjakan dengan privilege “boleh malas-malasan” di lingkungan kerja dan sekolah cuma dengan alasan “kan lagi puasa”.
Menjadi mayoritas bukannya berusaha berperan menjadi pelindung pihak yang lemah, tapi malah menjadi penindas.
Malah lebih buruk daripada penjajah asing itu mah, lha wong sama saudara sebangsa setanah air aja tega menindas gitu.
Katanya rahmat bagi seluruh semesta, tapi kok kalah sama bangsa yang dijuluki kafir ya.
Yang disebut negara kafir itu masih mau menampung, ngasih makan dan tempat tinggal buat muslim yang merana lho.
Sementara yang menyebut dirinya pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia, lha kok malah begitu banyak yang jahat pada manusia dan makhluk lain?
Ngakunya aja muslim yang takwa, tapi kok kepada sesama muslim aja bisa jahat, apalagi pada umat dan makhluk lain?!?
So … akhirnya, apa coba dong hasil puasanya? Bawa hikmah nggak?
Kalau yang “attitude” nya begitu sih, kayaknya lebih logis dan masuk akal kalau jawabannya adalah …:

“NONE” … “NOTHING”

 

4. Zakat/sedekah
Tidakkah itu juga bertujuan untuk ber-empati pada orang yang nggak beruntung? Berapa banyak yang ikhlas melakukan itu tanpa memamerkannya pada dunia? Yang melakukannya benar-benar hanya untuk mengajari diri jadi umat yang berhati seluas samudera, nggak serakah dan nggak dengki pada orang lain, dan bukannya sekedar untuk mencari PENGAKUAN dari publik betapa ber-taqwa-nya dia?
Ketika orang benar-benar tergolong orang yang taqwa, kaya tapi tetap murah hati dan humble, itu akan terlihat dengan sendirinya tanpa harus sengaja ditunjukkan pada dunia lho …
Dan harusnya orang ibadah itu bukannya untuk membersihkan dirinya sendiri dan meningkatkan kualitas spiritualnya sendiri agar bisa merasa dekat pada sang Khalik?
Kalau mereka ini memang percaya bahwa Tuhan lebih suka umat yang sok merasa paling bertaqwa dan lebih berhak masuk sorga daripada orang lain
(ah ya, alangkah kurang ajarnya, mendahului kehendak Tuhan gitu lho, sok tahu isi hati dan isi kepala sang Tuhan ^_^ ).
Then actually this is a real Blasphemy to God … karena Tuhan seolah digambarkan sebagai sosok yang picik, diskriminatif dan dangkal.

Ataukah jangan-jangan, sekarang tujuan ibadah itu sudah berubah dan yang utama adalah demi mendapatkan PENGAKUAN publik?

5. Ibadah haji itu wajibnya cuma sekali, dan hanya wajib bagi yang benar-benar mampu.. ngga cuma secara finansial tapi juga jiwa dan raganya benar2 mampu.
Dan sepertinya sih hikmahnya adalah supaya manusia bisa bercermin pada hidupnya sendiri, apakah sejauh ini sudah jadi muslim yang baik, yang bisa jadi tauladan bagi saudara-saudaranya?
Belajar untuk menyadari bahwa tak peduli berapa banyak gelar jabatan dan duit yang dimiliki, berada dilautan manusia di bawah terik matahari itu semuanya terlihat sama, ngga ada istimewanya antara 1 manusia dengan yang lainnya.

Ketika mati semuanya cuma bawa badan dan paling banter juga sekedar secarik kain. MANUSIA semua sama dimata sang Khalik, jadi jangan sok.
Tapi realita???
Ibadah haji jaman sekarang lebih banyak malah cuma kayak objek wisata,
yang cuma bisa menunjukkan bahwa yang bersangkutan bisa bayar ongkosnya.
Benarkah pelakunya sudah sungguh mampu di lihat di segala segi?
Benar-benar mampu secara finansial aja belum tentu.
Betapa banyak yang masa depan anak-anaknya saja belum terjamin, banyak anggota keluarga dibawah tanggung jawabnya yang hidupnya masih sengsara, tapi sudah ngotot ber-haji.
Betapa banyak yang bahkan berani ber-haji pake duit nggak halal, seolah kalau dipake haji trus jadi halal begitu …
Betapa banyak pula yang ngotot mendapat jatah bisa berhaji berkali-kali tanpa peduli bahwa masih banyak muslim lainnya yang ngantri dapat jatah kuota haji dan belum pernah sekalipun merasakan.
Betapa banyak orang yang sepulangnya dari haji bukannya jadi muslim yang jauh lebih baik dari sebelumnya tapi sekedar pengen dapat embel-embel sebutan “Haji/Hajah” dan bisa ngeklaim shaf sholat di deretan depan. 😀
Boro-boro jadi tauladan umat yang baik, humble, sabar, murah hati penuh maaf, kalau ada orang lupa nyebut dia dengan “titel”nya aja bisa tersinggung berat. 😀 😀 😀
Ketika kita melihat kehancuran, kerusakan dan ketertinggalan di wilayah-wilayah dominan muslim, alangkah bagusnya kalau untuk sesaat kita tekan sejenak hasrat untuk mencari kambing hitam dan melempar kesalahan kepada pihak lain dulu …
tidakkah lebih berguna jika kita bercermin kenapa itu semua bisa terjadi?
Karena kalau kita sendiri solid dan menjalani hidup dengan baik di negara kita sendiri, saling mendukung sesama saudara sebangsa, punya kasih tanpa pilah-pilah, bisa menentukan prioritas dengan benar … bahwa dalam kehidupan bermasyarakat itu yang terbaik adalah pencapaian “mutual welfare and well being of everyone” di negara tersebut, dan bukan hanya bagi golongan tertentu saja …
Jika itu yang jadi prioritas, maka tidak akan ada pihak luar manapun yang bisa merusak tatanan di negara tersebut.Politik adudomba hanya akan berfungsi kalau yang diadu domba mau aja dijadikan domba bodoh yang suka diadu. 😀
Kenapa dengan ajaran agama yang katanya adiluhung dan terbaik didunia, agama yang merupakan Rahmat bagi semesta alam, tapi kok negara dominan muslim justru lebih banyak yang bukannya jadi makmur sejahtera aman tenteram bersih teratur, tapi justru sengsara dan mengalami perang berkepanjangan?!?
Boro-boro jadi rahmat seluruh alam semesta, menjadi rahmat bagi satu biji kota aja susyeh banget kayanya.
Ngeklaim menjadi Rahmat bagi semesta tapi nggak bisa memberi kasih kepada seluruh isi semesta tanpa pandang bulu,
tapi yang ada malah menciptakan kesan Tuhan itu rasis dan diskriminatif, menilai umatnya bukan lagi dari akhlak dan amalannya tapi cuma sekedar dari “cara mereka menjalankan ritual, berpakaian dan asal-usul serta latar belakang sosialnya” doang.
Ketika anda sendiri tergolong orang yang suka mengkotak-kotakkan manusia … maka anda adalah orang yang paling tidak pantas untuk berkhotbah bahwa ideologi anda itu adalah yang paling layak untuk disebut pembawa rahmat bagi SELURUH semesta.

Ambillah cermin dulu.

IRONIS rasanya, jika orang yang berkata bahwa dia memperjuangkan:
“The borderless nations, the world is for everyone, passport is only a part of bureucracy, only a piece of paper and shouldn’t separate humans, block their life and talent, now it’s time for GLOBALISATION bla bla bla …”

Jika disaat yang sama, dia justru berkampanye dan berprinsip bahwa “haram bagi umat islam untuk nyoblos non muslim dalam pemilu/pilkada, yang nyoblos itu berarti bukan muslim sejati” >>> dan itu disebuah negara yang memakai sistem demokrasi lho, bukannya Monarki. Monarki konstitusional aja nggak, apalagi monarki berasas agama <<<.

Is the statement: “borderless nation and the world for everyone, globalisation”
only a beautiful tagline of an advertisement for own special purpose and actually has no meaning at all?

 Schade echt schade …
Katanya sih berilmu, tapi kok mencampur adukkan antara “Hablumminallah dengan Hablumminannas.”
Banyak diantaranya berpendidikan akademis tinggi, tapi tidak bisa membedakan antara “Civil Servant” dengan “Otokrat/Raja”.
Dalam
 negara bersistem demokrasi, even kepala negara itu adalah “Pelayan Rakyat” yang jadi bos itu Rakyat, dan bukannya sang pejabat terpilih.
Jadi, bahkan andai kita anggap bahwa tafsir isi QS. Al Maidah seperti yang para islamis konservatif katakan itu benar, maka itu tetaplah nggak relevan untuk diterapkan di sebuah negara bersistem “Demokrasi”, karena konsep “pemimpin jalannya pemerintahan” yang dipakai tidaklah sama.
Kalau yang berprinsip ngawur dan bisa dicuci otak oleh ustad yang di“pakai” oleh politisi tertentu itu adalah orang bodoh awam tak berpendidikan sih masih masuk akal ya,
tapi kalau orang yang katanya berpendidikan tinggi dan punya integritas juga ikut-ikutan begitu, kok rasanya sayang banget ya … ironis sekali gitu …
Ilmunya diumpetin kemana? Ataukah integritas-nya sudah tergadai pula hingga sang “ilmu” disingkirkan saja begitu?
Sayang oh sayang …

Saya sih juga seneng-seneng aja milih kandidat muslim kalau emang nyata-nyata lebih kompeten dan janji-janjinya itu tergolong masuk akal, cukup “feasible”, nggak cuma bisa “umuk”.
Kalau cuma bilang “produk saya jaminan mutu dan pasti nomor satu”, setiap iklan mah pasti akan begitu lah.
Tapi kalau orang mau pake otak dengan baik, mestinya tahu dong: mana iklan yang kira-kira berpotensi untuk terwujud hasilnya dan mana yang cuma “nggedebus”.
Tapi kalau kandidat muslim yang ada tidak cukup menjanjikan, lah yo mosok ngotot dipilih juga cuma sekedar karena dia “muslim”?
Kalau kayak gitu, kok masih bisa-bisanya ngarepin masyarakat bisa punya masa depan cerah dan ada perbaikan situasi kesejahteraan yang signifikan, lah emangnya sihir?

 

Well … saya tidak akan minta maaf kalau ada yang tersinggung, karena EXACTLY anda yang merasa tersinggung itulah yang menjadi cerminan dari apa yang saya narasikan diatas.
Bagi yang tidak merasa begitu, sudah pasti ngga perlu tersinggung.

Lah apanya yang perlu di tersinggungkan, kalau dia bukan termasuk umat muslim yang begitu kan LOL ?!?
Ketika seseorang merasa tersinggung saat mendengar kritikan yang tidak mengandung unsur hinaan ataupun kata-kata kasar yang nggak relevan,
maka tidak lain tak bukan sebabnya hanyalah karena biasanya justru “kritikan itu tepat sasaran”, spot on gitu lhooo wkwkwkwkwk.
Orang yang punya akal sehat mestinya bisa menilai sebuah kritik dari sudut pandang objektif, dan ngga ambil pusing “siapa yang ngomong”, karena yang lebih substansial adalah isi omongannya masuk akal nggak, dan bukannya “siapa yang ngomong” hehehe.

Sementara disini dulu ocehan saya …
see you next time …
semoga aja setelah kita sudah sempat bercermin rame-rame dengan semestinya
 hehehe

Teman bukan sodara bukan, tapi cerewet, kepo dan usil…

Standard

Hari ini pas nge-brunch aku minum air kelapa muda lalu ingat almarhum nenekku yang dulu ngomel waktu aku kecil sampai gadis suka manjat kelapa gading dibelakang rumah karena pengen minum airnya yang manis dan segar. Aku cerita kalau nenekku selalu nyeletuk: “Anak gadis pecicilan, nanti ngga ada yang mau nikahin kamu lho.” (…nobody would want to marry you!“)
Suamiku ngangkat alis nyeletuk: “And that kind of statement would definitely only be said to a girl, isn’t it? Why is it always only about marrying issue? Is the aim of life for women really only to get a man and be a baby factory? Ok, let’s say it’s the core issue of evolution, but if we really would judge it from this point of view, then why are the men excluded here? Why are such a remark never said to boys?, kemudian setelah menenggak tehnya kembali melanjutkan dengan ini,“Well, apart from that… it is obvious now that I’m not just a *Nobody*. I married you  😀 “(narsisnya kumat hehehe).

Gara-gara ini aku jadi teringat pada insiden beberapa waktu lalu ketika Ira Koesno menghebohkan jagad virtual dengan penampilan “excellent-nya dalam Debat Pilkada Jakarta dan kecantikannya yang tak memudar sedikitpun diusianya yang mulai mendekati setengah abad. Kenapa aku jadi geregetan?
Karena diluar hebohnyaa netizens yang terpesona dan kagum baik pada kecantikannya dan prestasinya, ternyata ada yang nggak kalah mengundang berita: “statusnya yang masih single”. Dan komentar-komentar tentang itu sungguh sangat menyakitkan hati, nggak cuma bagi si target “bullying” tapi bagi setiap wanita yang masih punya pikiran waras sebenarnya sih.

Ya… saya sungguh heran betapa sukanya orang-orang di negeriku ini mencari-cari sisi negatif dari seseorang bahkan meskipun ada begitu banyak hal positif yang sebenarnya ada pada dirinya. Betapa pula sukanya sok kasih petuah sama orang dalam hal yang sebenarnya tergolong urusan pribadi seperti: pilihan hidup, jodoh dan agama. Padahal mereka itu statusnya bahkan teman aja kadang bukan, sodara pun bukan.
Andai saja mereka ini mau ngaca, kira-kira dirinya suka nggak kalau ada orang yang sama sekali bukan siapa-siapanya ngasih petuah panjang lebar tentang urusan pribadinya, tanpa diminta. Ini yang bersangkutan (yang dikuliahi) sama sekali ngga lagi dalam posisi curhat dan minta dikasih saran lho ya. Mungkin ada yang memang sedang butuh saran, tapi sama sekali ngga ada hubungannya dengan “isi kuliah” nya itu, gagal fokus deh ceritanya. Yang ditanya A jawabannya X,Y,Z…ngga sesuai dengan isi pertanyaan, melencengnya jauuuuh banget. Nanya gimana cara urus dokumen nikah A,B dan C, jawabannya tahu-tahu “jangan nikah dengan yang begini atau begitu…dosa, nggak sah dsb dst… Lah emangnya yang nanya dosa atau nggaknya itu siapaaaaa coba?
Emangnya hanya dengan embel-embel:”jangan tersinggung ya…saya ngga bermaksud SARA…dst dsb”, lantas sudah cukup untuk membuat kekurangajaran anda bisa dimaklumi begitu?
What a ridiculous remark…
Emangnya hanya dengan embel-embel kata pengantar begitu lantas membuat “statement yang “rasis” trus bisa jadi berubah nggak rasis begitu?
Apakah hanya dengan kasih embel-embel begitu lantas kalimat yang nyakitin bisa berubah kesan menjadi tawar begitu?
Coba aja kita praktekkan yang sebaliknya, kira-kira enak nggak rasanya…?
Terlepas dari apapun topik yang dibahas, intinya cuma satu: “ikut campur urusan pribadi orang, dan ngasih kuliah panjang lebar soal isu pribadi orang lain tanpa diminta, apalagi ngomentari soal agama, moral dan akhlak segala, itu artinya cuma ini:
TIDAK SOPAN dan TIDAK PUNYA TATA KRAMA.

Contoh lain ya insiden yang menimpa Ira Koesno kemarin itu…
ketika orang menyatakan kekagumannya sama dia, eh adaaaa aja yang mengejeknya macam-macam hanya karena dia belum menikah…seolah-olah “MENIKAH” itu adalah sebuah PRESTASI yang membanggakan dan tujuan hidup yang terbaik bagi setiap orang.
Hah… kalau sekedar nyari laki-laki untuk diajak menikah doang mah… gampaaang lagi.
Semua orang juga bisa lah… tentu aja dengan catatan, ngga usah pake kriteria, pokoknya asal bisa bercinta dan bikin anak gitu…
Ngga usah pula nyari yang bertanggung jawab segala, yang penting “Menikah” kan, nggak jadi perawan tua kan?
Gampaaaaaaang. Apalagi Ira cantik, pinter dan banyak duit pula… laki-laki mana ngga mau sama dia, asal ngga perlu memenuhi kualifikasi apapun sih, yang penting laki-laki dan bersedia menikahi kan?? Biar dia ngga perlu berstatus “perawan nggak laku begitu?”

Tuduhannya macam-macam deh:
-ada yang bilang “mungkin dia merasa paling sempurna, nyarinya anak raja” segala.
Heh, anda ini siapa sok tau amat. Kenal juga nggak…
-ada pula yang statusnya perempuan bisa-bisanya ngomong: “bohong kalau sendiri itu bisa happy, emangnya tinggal di hutan?”
Eh mbak, hanya karena situ hepi cuma karena sekedar ada “pejantan” yang mau menikahi situ dan ngasih banyak anak doang, nggak lantas berarti semua wanita juga bakal hepi hanya karena bisa nemu “anybody” asal berkelamin “laki-laki” dan burungnya bisa “berdiri” yang mau ngelamar ya mbak…
Jangan samain standar situ dengan standar semua orang, jangan sok yakin pula kalau tujuan hidup situ dengan tujuan hidup semua orang itu pasti sama lageeeee…
Kalau kualitas dirinya cuma mampu untuk “handle” barang pasaran, ya emang nggak logis kalau mau minta yang kualitas “premium” dong.
Tapi masak iya yang kualitas dirinya tergolong “premium” harus turun standar cuma biar bisa kawin yaaaa? Ada sih emang yang mau…tapi hanya karena ada satu dua perempuan yang mau gara-gara takut jadi bahan gosip, nggak lantas berarti yang lainnya juga harus mau pula kaaaaan.
Saya aja ogah membiarkan hidup dan kebahagiaan saya di kontrol oleh “gosip” dan orang-orang kepo model-model kayak anda begitu. Apalagi Ira Koesno wkwkwkkwk.

The biggest mistake a woman could make regarding this issue is: “If she gets married just for the sake of getting married. Getting married it self is not the problem, but if one really doesn’t want to get married, then one shouldn’t compromise at all. Getting married is not an obligation to fulfil for our parents. In the end, we’re the one that has to live our life, not them, let alone those strangers out there.

-ada pula yang bilang anak dan suami itu bahagianya 1000 kali dibanding materi, udah mau setengah abad..lekaslah menikah keburu tua…Kasihan siapa yang mau nikahin ayooo.
Hmmm… yang kasihan itu justru orang-orang model anda begini deh.
Tahu nggak kenapa banyak wanita asia yang usia juga belum ada 30 udah “ngelomprot” sementara yang single dan usia udah setengah abad masih kinclong?
Itu karena yang pada “ngelomprot” itu dulunya nyari suaminya asal-asalan aja yang penting nikah hingga akhirnya terperangkap mesti ngabisin umur sama laki-laki kayak begini ini.
Yang single dan tetep kinclong hidupnya bebas dari rongrongan suami kualitas kampret macam anda. 😀
Daripada dapat yang model begini, hidup sendiri jelas lebih bahagia, bebas stress, makanya jadi awet muda hehehehe.
Wanita yang kepalanya punya isi itu berdandan dan merawat dirinya bukan sekedar untuk menyenangkan laki-laki. That’s totally wrong. Mereka merawat diri dan berdandan karena mereka ingin merasa cantik untuk dirinya sendiri, karena dia merasa senang dan puas ketika bercermin dan melihat daya tariknya sendiri.
Sedang untuk pasangan hidup, yang kami cari adalah pria yang akan tetap membuat kami merasa menjadi wanita paling cantik dan terbaik kualitasnya dimatanya, baik kami ini berdandan atau nggak, melayaninya dengan pengabdian sampai kayak orang yang dibayar ataupun nggak.
Jadi kami ngga perlu setiap saat was-was bakal dicampakkan begitu aja hanya karena udah ada keriput di muka, dan ngga perlu pula memborong segala jenis produk “sari rapet” dan pergi ke dukun-dukun koleganya “mak Erot” karena takut ditinggal nyari perawan lagi.
Buat apa nikah cepat-cepat kalau baru juga masa bulan madu lewat udah harus diliputi kekhawatiran tiap kali suaminya dapat teman baru berstatus “cewek”, dan harus selalu mencurigai setiap perempuan yang kinclong dikit.
Gitu dibilang nikah dan beranak itu selalu menjamin hepi…lebih hepi daripada single?
Kalau yang ngantri cuma yang kelas begituan mah saya bahkan berani jamin lebih hepi jadi perawan tua wkwkwkwkwk.
Kecuali memang perempuannya itu ngga punya kemampuan lain dalam hidup kecuali “macak, masak dan manak” doang sih… hehehe.
-ada yang bilang udah expired segala, ngga subur lagi… well… kalau memang pengennya cuma bisa beranak… walaaah… ngga usah nikah juga bisa lagi bikin anak wkwkwkkwk, dan dijamin Ira ngga bakal kesulitan ngasih makan anak 10 biji sekalipun biarpun ngga punya suami hahaha.

Dan masih banyak lagi deh… nggilani pokoknya dah…
Tapi intinya sebenarnya cuma satu…
WHO ARE YOU people??? Who do you think you are?
Siapa yang ngasih situ hak untuk menilai-nilai hidup orang?
Kalaupun ada orang yang setidaknya punya “relevansi” untuk ngasih opini terhadap seseorang dalam hal pribadi kaya gini, itu cuma “Orang Tua”, “Saudara” atau setidaknya “sahabat”, bukan “completely strangers” gini.
Dan “ke-kepo-an” begini ini ngga lantas jadi representasi orang nggak berpendidikan doang lho., sama sekali ngga mencerminkan status sosial lho.
Saya ini orang kampung asalnya, ortu saya nggak berpendidikan tinggi, tapi mereka tahu tuh menghargai privasi.
Orang yang dari dulu suka sok kepo begini itu justru bener-bener orang yang sama sekali asing buat saya, teman dekat bukan sodara juga bukan.
Ortu saya, sodara-sodara dan teman dekat saya… justru sama sekali ngga ada yang ceriwis dan kepo sampai kayak begini ini.
Meskipun saya tahu kalau ortu pasti ada harapan punya cucu pula, tapi sepanjang 7 tahun terakhir pernikahan saya, baru sekali ibuku menyinggung soal anak, itu baru lebaran tahun lalu. Dan gara-garanya juga karena dalam percakapan tiba-tiba ada topik yang relevan, jadi beliau pun ada “kesempatan” untuk menyinggung soal itu.
Itupun tidak berupa tuntutan tapi lebih sekedar ungkapan rasa khawatir, apakah semuanya baik-baik saja. Karena tipikal orang asia khawatir “suami” bakal nyari bini baru kalau nggak dikasih anak.
Dan jawaban saya pun singkat saja: “Ngga usah khawatir macam-macam. Suamiku adalah tipe pria yang cuma akan suka dan sayang dengan “anaknya” hanya karena itu adalah “anak saya”, dan bukannya tipe pria yang suka dan sayang sama “saya” hanya karena saya adalah “ibu dari anaknya”. Jadi cinta dan sayangnya sama saya ngga tergantung dari eksistensi anak dalam hubungan kami.
Jika sampai hubungan kami berakhir, yang jelas itu bukan karena faktor “anak”.
Sedang dari sisi aku sendiri, ibu cuma perlu tahu: bahwa dari sejak remaja dulu keinginan saya adalah mencari suami yang tidak memandang perempuan sekedar sebagai teman bercinta, pengelola rumah tangga dan pabrik anak saja.
I don’t wish to marry a man who against the idea of having kids at all for all reason, but neither do I want a man who desperately want kids so that my existence has no meaning to him at all.”
Dan ibuku pun tidak bicara lebih jauh lagi.
So…. ini yang jabatannya ibu kandung aja nggak cerewet… ini orang yang bukan siapa-siapa pula sok ikut campur amat. Nggak tahu malu dan nggak punya sopan santun amat ya.
Setiap wanita punya kriteria yang berbeda-beda dalam memilih pasangan hidup, dan kompromi serta menentukan prioritas memang dibutuhkan untuk itu, tapi nggak lantas berarti kita harus banting harga dengan drastis, kasih diskon besar-besaran sampai nyaris gratis cuma demi status pernah “menikah” doang.
I’m okay with your criterias, whatever they are… (i don’t care whether it’s shallow or high) but please deh… that’s only yours, but not mine…and not always mean the criterias of every single woman on this earth either.
Silahkan jalani hidup sesuai standar nilai kamu, tapi jangan cerewetin orang lain dan jangan gunakan standar pribadi kamu untuk menilai hidup orang lain karena itu ngga masuk akal dan nggak sopan.
Apalagi sampai menyuruh orang lain untuk juga menerapkannya, karena kalau sudah sampai pada tahap ini, namanya sudah bukan lagi “ketidak sopanan dan tidak adanya tata krama”, melainkan sudah merupakan “Pelanggaran Hak Asasi”.
Kebahagiaan itu adalah hal yang sifatnya sangat personal, cuma yang bersangkutan yang bisa menilainya, bukan orang lain.

Kriteria dalam milih pasangan hidup yang rasional

Standard

Disini saya ngga bermaksud untuk menjadi ahli dalam percintaan ya. 😀
And this is a subjective opinion from me anyway… jadi bisa dibilang itu kriteria utama saya ketika nyari suami hehehehehe.
Ini juga nggak lantas berarti sudah jadi kunci bahwa pernikahan bakal langgeng, karena kelanggengan sebuah hubungan itu melibatkan banyak sekali faktor yang bagi setiap pasangan akan berbeda kasusnya.
Hanya saja, jika arti pentingnya faktor-faktor berikut ini aja kita udah ngga bisa memahami, saya rasa sih potensi kegagalan akan meningkat lebih tajam:

1. Kamu salah pilih suami kalau kamu menikah dengan target agar dia suatu saat berubah menjadi sosok ideal yang kamu impikan. Ini adalah kesalahan fatal. Never marry potential. Kalau lu ngga bisa cukup hepi dengan karakteristik yang dia miliki saat ini, mending balik kanan aja. Masih banyak ikan dilaut. Ini termasuk soal perbedaan kepercayaan ataupun mungkin ketaatannya dalam beribadah, watak, kebiasaan juga lho.
Watak itu bawaan orok, sementara kebiasaan itu…biarpun memang ada potensial untuk bisa dipengaruhi tapi garansi sukses ngga pernah ada karena mungkin sudah terlanjur berurat berakar dari kecil. Spiritualitas/agama?
Ini yang jauh lebih fatal. Kalau orang dasarnya emang nggak percaya, biarpun diancam dengan pedang dileher juga paling banter kalau ketakutan cuma mulutnya yang akan patuh, tapi apakah hati dan otak bisa dipaksa percaya?
Itu harapan yang konyol. Gedanken sind frei=thoughts are free.
Mungkin aja emang pada sekian persen kasus ada yang bisa berubah haluan, tapi garansi untuk itu tidak ada.
Kalau emang hatinya ngga bisa nerima sepenuhnya bahwa pasangannya tidak seiman, lebih baik nyari yang lain aja. Jangan menipu diri sendiri, jangan memaksakan diri untuk menjadi orang “toleran” kalau dirimu memang aslinya nggak cukup “toleran” untuk benar-benar bisa menghormati dan menerima perbedaan.
Jangan gunakan “api asmara yang sedang membara” sebagai senjata untuk “blackmail” calon kamu.
Kalau kamu bilang: “Kalau dia memang cukup besar mencintaiku, maka dia akan rela berkorban dong….” Hmmm apakah itu artinya cinta kamu pada dia nggak cukup besar? Kok cuma dia yang harus berkorban? Kalau kamu yang diminta untuk berkorban hal yang sama mau nggak kira-kira?
Jadi jujur aja deh pada diri sendiri. Kalau nggak, suatu saat kamu bisa menyesal… dan kalau penyesalan itu datang ketika anak-anak sudah ada, alangkah kasihannya mereka.

2. Karakter itu lebih penting dari sekedar perasaan ada “butterfly fluttering in your stomach”.
Chemistry itu emang yang bikin naksir, tapi yang bisa bikin rasa suka dan nyaman dengannya itu bisa tahan lama adalah kecocokan karakternya dengan kita. Menengok poin pertama kembali, ketika kita hidup bersama seseorang, kita akan saling mempengaruhi…jadi ngga cuma kita yang bisa membawa pengaruh pada pasangan, tapi yang sebaliknya juga akan terjadi.
Karena itu, tanya dulu pada diri sendiri, apakah kita siap dengan resiko bahwa kita ternyata lebih terbawa karakter pasangan kita daripada sebaliknya. Apakah kita siap jika anak-anak kita nanti ternyata lebih seperti pasangan kita daripada mengikuti kita? Kalau jawabannya “NO”, ya balik kanan aja lah.

3. Kita tidak bisa mendapatkan semuanya dalam hidup. Kompromi itu perlu.
Tapi untuk menentukan apakah kita bisa bertahan lama hidup dengan orang yang dulunya benar-benar asing bagi kita pada dasarnya yang penting cuma ini: adanya ketertarikan, some mutual interest (ngga harus semua sama ya, tp setidaknya ada yang sama hingga ada aktivitas yang bisa dilakukan bersama-sama tanpa salah satu bosan. Sementara pada aspek yang tidak sama, jadi tetap ada “space” untuk saling memberikan kebebasan menikmatinya sendiri tanpa salah satu merasa teracuhkan/terabaikan), nilai-nilai hidup yang dianut kurang lebih juga kompatibel.
Jangan paksain hidup dengan orang yang “standard value” dalam hidupnya berbeda drastis dengan anda cuma karena saat ini sedang berbunga-bunga hatinya karena si dia.
Suatu saat nanti bisa nyesel lho.
Suami/istri itu ngga sama dengan sekedar teman, kita harus hidup bareng dengan dia, setiap hari lho. Kalau teman mah, begitu ketauan ngga cocok tinggal cari teman baru lagi yang lain. Sedih dan kecewa sih iya, tapi kan konsekuensinya nggak segede kalau kita nikah, punya anak lalu cerai.

4. Apakah kita cukup merasa nyaman menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura bersamanya? Apakah kita bisa bercerita tentang nyaris tentang semua hal padanya, bahkan hal-hal yang biasanya membuat kita merasa rapuh atau malu jika orang lain tahu? Kalau kita merasa harus selalu ekstra berhati-hati SETIAP kali ngomong karena takut menyinggung pasangan, hingga kita sampai harus mengorbankan integritas dan jati diri sendiri, takut mengekspresikan perasaan dan pendapat kita secara terbuka… Hmmm artinya dalam hubungan itu ada yang nggak beres. Emangnya mau hidup selamanya seperti itu? Bisakah bahagia dengan kondisi begitu meskipun dia sangat cakep, kaya raya dan keliatannya benar-benar tergila-gila sama kita saat ini hingga apapun yang kita mau diturutin? Controlling and making suggestion are 2 different things.
Begitu juga jika kita merasa ada kebutuhan untuk selalu mengontrol pasangan, waaah…
artinya ada yang nggak beres itu. Emang mau gitu, hidup selalu dalam kekhawatiran suami selingkuh kalau nggak diawasi?
Gile, apa kalau perlu dipasangi chip sekalian untuk memonitor aktivitasnya biar aman gitu? 😀 😀

5.  Apakah dia cukup bisa diandalkan dan bisa mandiri dalam bertindak untuk pilihan-pilihan pribadinya sendiri sebagai manusia dewasa (tanpa pengaruh dari siapapun termasuk orang tuanya)? Omongannya bisa dipegang untuk hal-hal yang serius?
Hormat pada orang tua itu perlu, tapi itu nggak berarti bahwa kita harus membiarkan mereka mengendalikan hidup kita yang sudah jadi manusia dewasa dan punya kehidupan sendiri.
Yang akan menjalani pernikahan itu nanti adalah kita, yang bisa ngerasain seneng dan sebaliknya yang harus “struggle” itu juga nantinya kita bukan mereka.
Hal ini juga berlaku bagi kita sendiri. Kalau nggak siap untuk membuat keputusan terpenting dalam hidup secara mandiri, berarti sebenarnya kita belum benar-benar siap untuk menikahi orang ini. Jangan dipaksakan.
Patah hati itu sakit, tapi sakit sekarang itu kerusakannya nggak akan sefatal kalau udah terlanjur menikah dan beranak. ^_^

But by the way… kalau emang udah terlanjur menikah, dan ngga bahagia… ya sama aja jangan dipaksakan. Trying to save a marriage as good as possible is advisable, but if we’re already in a point where we’re not psychologically healthy in this relationship, then there would be no good outcome for everyone…even for our children.
It is not healthy for their development if they have to grow up in an unhealthy relationship. You’d be only giving them bad example in life.
Sometimes unhealthy marriage could at least still turn out to be a good friendship before they destroy each other and diminish the last respect left.
At least one can still cooperate to raise the children well when there is no hate involved yet.
Pada prinsipnya kalau menurut saya sih, kuncinya yang terpenting adalah ini:
“Jangan pernah mencoba membohongi diri sendiri”.
Hal-hal yang saya sebut diatas itu teorinya saya rasa banyak orang juga ngerti sih, cuma yang jadi masalah itu pada umumnya saya rasa ya karena “ketidak beranian untuk jujur pada diri sendiri” itu tadi.
So, tanya pada diri sendiri apa yang penting bagi kita dan apakah kandidat pasangan kita itu kompatibel atau nggak.
Dan kalau jawabannya “YA”, jangan biarkan orang lain mendikte kita dengan doktrin-doktrinnya dan “nilai-nilai” mereka. Biarkan orang lain berfikir atau bicara apa saja, hidup kita adalah kita yang atur.
Orang lain punya hidupnya sendiri, prioritas-prioritasnya sendiri dan “value” nya sendiri masing-masing. It’s just not applicable for everyone.

See you again next time. ^_^

Prenatal screening

Standard
Prenatal screening

Hallo teman-teman yang hobi baca ^_^…

Kali ini saya ingin berbicara mengenai tema yang biasanya menghantui para ibu yang sedang hamil muda: “prenatal screening“.
Sesuai dengan namanya, tema kali ini adalah tentang pemeriksaan dan diagnosa terhadap kondisi fetus di periode kehamilan trimester pertama, sehingga masih mungkin melakukan aborsi dengan alasan medis (setidaknya di Eropa), dimana diperiode ini resikonya masih relatif rendah (dinilai dari segi psikis maupun fisik calon ibu).
Di Jerman aborsi di masa kehamilan lanjut hanya bisa dilakukan dengan kondisi tertentu dan itupun tidak semua klinik mau melakukannya, karena itu “prenatal screening” memiliki peranan penting terutama bagi mereka yang kebetulan tergolong “high-risk pregnancy“. Data statistik menunjukkan bahwa sekitar 20% dari angka kehamilan yang ada tergolong “high-risk pregnancy” (note: statistik yang saya pakai disini adalah untuk wilayah jerman).

Sebelumnya saya ingin tegaskan bahwa saya tidak ingin berkomentar atas pilihan yang diambil masing-masing wanita apakah akan meneruskan kehamilannya atau tidak. Saya rasa orang luar sama sekali tidak berhak untuk men-“judge” keputusan orang lain. Pertama karena kita tidak tahu secara persis seburuk apa situasi si ibu dan bayi secara medis.
Seringkali ini tidak hanya menyangkut soal tema down syndrom semata melainkan juga apakah si fetus “überhaupt lebensfähig” (bisa bertahan hidup cukup lama) diluar rahim. Argumen bahwa jika bagaimana bisa seorang ibu menolak anak sementara banyak ibu lain bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan anak tidak selalu bisa diterapkan disini.
Come on, please let’s not be too naive…
Jika si ibu benar-benar tidak sanggup membesarkan karena satu dan lain alasan, lalu memberikannya untuk diadopsi, saya ingin tahu… berapa banyak sih orang yang mau dengan sukarela mengadopsi anak yang tidak sehat?
Kita nggak cuma bicara soal down syndrom lho, tapi juga “organ defekt” yang serius dan mungkin tak ada harapan sembuh, no quality of life, dalam hidup yang pendek itu mungkin si anak cuma harus menderita.
Kedua, karena hanya yang bersangkutan sendiri yang bisa menimbang kemampuan dirinya baik secara finansial ataupun psikologis untuk membesarkan anak yang tidak sehat.
Jika kita sendiri yang harus mengalami hal yang sama, saya yakin seyakin yakinnya bahwa kita ngga akan bisa semudah itu bicara.
So let’s just respect whatever people chose, it’s their life not ours.

Karena itu tolong dipahami bahwa tulisan saya ini hanya sebatas informasi yang sifatnya objektif agar setiap ibu yang sedang berada dalam kebingungan benar-benar paham dengan situasinya sebelum mengambil keputusan. Apapun itu keputusannya.
Hal ini mengingat bahwa banyak sekali ibu-ibu yang sebenarnya tidak mengerti betul tentang arti dari pemeriksaan yang disarankan pada mereka berikut konsekuensi dari hasil yang diperoleh, sehingga akhirnya malah mengalami stress yang tidak perlu, yang sebenarnya justru lebih merusak sifatnya bagi kesehatannya sendiri.
STRESS is harming us more severely as it could bring even more health problem, which could make everything even worse ^_^.
Ok, mari kembali ke topik utama :).

Yang tergolong pada “high-risk pregnancy” adalah berikut ini:
usia dibawah 18 tahun atau diatas 35 tahun, obesitas, diabetes, cacat fisik, riwayat penyakit serius (khususnya yang sifatnya genetis atau penyakit turunan), pernah keguguran/“stillbirth”(masalah kehamilan apapun yang lain sebelumnya), prediksi kehamilan dengan beberapa fetus sekaligus, calon orang tua adalah perokok/pengkonsumsi alkohol tinggi/pengkonsumsi obat terlarang, sudah melahirkan anak lebih dari 4 kali, “placenta insufficciency”, “chronic bladder infection”, dan ada masalah dengan kompatibilitas Rhesus.
Tingkat resiko akan makin meningkat seiring dengan makin banyaknya faktor-faktor resiko diatas yang dimiliki oleh sang ibu hamil.

Ada banyak jenis metode prenatal screening tapi disini saya cuma akan membahas beberapa yang paling sering menjadi rekomendasi oleh dokter saja, yaitu:

1. Nackentransparenz-Messung (Nuchal Translucency scan)
, atau kadang disebut sebagai “1st. trimester screening”.
Di Jerman 3 kali USG di setiap trimester adalah standard dalam jadwal kontrol kehamilan oleh ginekolog sehingga biayanya akan dicover oleh asuransi negara.
Pada dasarnya, organ defekt akan diketahui pada saat pemeriksaan trimester kedua untuk bisa dicari solusi medis yang bisa ditempuh demi menyelamatkan anak seoptimal mungkin, sehingga bagi yang tidak tergolong beresiko kehamilannya, 1st. trimester screening tidaklah benar-benar diperlukan, itu sebabnya pula mengapa dia tidak termasuk dalam standar pemeriksaan dan biayanya secara umum tidak ditanggung asuransi negara.
Tapi bagi yang menjadi klien beberapa jenis “private insurance” kadangkala masih bisa klaim atas biaya pemeriksaan ini dengan basis “kulanz=voluntary given for service purpose” walaupun si ibu tidak tergolong menjalani “high-risk pregnancy“.
Sedangkan asuransi negara hanya akan menanggung biaya untuk ini jika dokter menetapkan bahwa itu sangat penting untuk dilakukan mengingat riwayat medis si ibu.
Screening ini secara umum untuk mendeteksi kemungkinan adanya kelainan kromosom berikut ini: Trisomy 21  (yang utama) dan sisanya adalah: Turner syndrome, Trisomy 18, Trisomy 13 dan Triploidy. Probabilitas akan kelainan kromosom yang lainnya pada prinsipnya tidak bisa sepenuhnya terdeteksi dengan baik memakai metode ini.
Pemeriksaan ini memiliki rasio akurasi 90% dalam mendeteksi kemungkinan kasus Trisomy 21, tapi apakah sebenarnya artinya ini bagi kita?

Secara statistik, dari 100.000 wanita hamil, ada 170 probabilitas meningkatnya resiko akan kasus down syndrom.
Dari 170 ini cuma 153 yang resiko DS nya teranalisa meningkat (true posititve result), 17 sisanya hasilnya adalah potensial resiko tidak meningkat padahal hasilnya bisa jadi terbalik karena itu disebut “false negatif” (bayangkan shock-nya ketika sudah tenang merasa nggak beresiko tapi tiba-tiba ketika lahir terjadi hal sebaliknya.
Sementara itu, 99830 kasus lainnya realitanya tidak mengalami kasus DS. Meskipun begitu ada setidaknya 4991 fetus diduga akan mengalami DS dari hasil screening walaupun sebenarnya tidak. Mereka ini biasanya akan disarankan melakukan konsultasi lanjutan, screening tambahan disana-sini ==> STRESS dan KETAKUTAN, yang pada sebagian darinya sebenarnya tidak perlu ada dan bahkan 30 dari mereka menjadi kasus keguguran karena efek samping dari screening lanjutan yang sifatnya “invasive”.

Hanya saja kesimpulan yang terpenting disini yang paling sering disalah artikan adalah “HASIL dari NT-Messung itu CUMA sebuah PROBABILITAS.” Ini bukan sebuah diagnosa.
Informasi dari dokterku contohnya, menyatakan bahwa probabilitas kehamilan diusia 30 tahun untuk kasus DS adalah 1:895, seandainya kemudian setelah melakukan NT-Messung tiba-tiba mendapat hasil rasio resiko menjadi 1:300.
Apa sih artinya itu?
Tidak semua orang benar-benar menyadarinya lho.
Rasio ini artinya adalah: bahwa dari 300 kehamilan, hanya ada 1 bayi yang benar-benar mengalami DS. Dan apakah si ibu ini menjadi yang 1 ini atau termasuk pada yang 299 sisanya, itu tidak bisa dipastikan dengan test ini.
Jadi apakah kesimpulannya? Sangat jelas.
Artinya melakukan aborsi HANYA dengan berdasarkan hasil NT-Messung sebenarnya keputusan yang terlalu gegabah.
Bagaimana coba andai anak kita sebenarnya baik-baik saja, andai kita sebenarnya termasuk pada 299 ibu yang tersisa tadi?
Apalagi setiap klinik atau dokter bisa saja menemukan hasil yang berbeda karena mereka mungkin menggunakan software yang berbeda untuk menentukan rasio probabilitas ini.
Begitu juga sebaliknya, merasa 100% tenang sebenarnya kita juga nggak bisa.
Jadi… pada akhirnya hasil test ini bisa memberikan beban pikiran yang cukup berat pada para ibu yang pada sebagian dari mereka mungkin sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Selain itu, ada pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih penting disini, yaitu:
“Apa sebenarnya yang akan anda lakukan jika hasilnya resiko DS benar-benar  cukup tinggi pada anda? Apakah aborsi merupakan sebuah opsi bagi anda?
Jika jawabannya “YA”, well…oke.. mungkin memang screening ini jadi penting buat anda, bahkan meskipun harus bayar sendiri.
Tapi jika jawabannya adalah “TIDAK”, anda siap menerima apapun kondisi bayi anda… maka saya rasa screening ini sebenarnya tidak begitu perlu, dan mungkin hasilnya hanya akan makin membebani pikiran saja.

Screening ini menjadi sangat krusial artinya, hanya jika kita mempertimbangkan untuk aborsi diusia kandungan masih cukup dini. Karena potensi defekt yang lain, toh akan ketahuan juga begitu kehamilan berusia lebih tua nantinya, yaitu ketika menjalani screening terjadwal di trimester kedua.
Spina bivida misalnya.. itu juga baru akan terdeteksi paling cepat di usia kehamilan 22 minggu “anyway”, sementara NT-Scan dilakukan pada usia kehamilan antara 12-akhir usia 14 minggu. Begitu juga kelainan organ lain, pada dasarnya baru bisa dilihat lebih akurat apakah pertumbuhannya kurleb sesuai usia kehamilan atau tidak, baru ketika usia kehamilan masuk ke trimester kedua. Jadi NT-Scan tidaklah begitu menentukan disini.

Sementara jika alasan kita adalah untuk persiapan mental, well… saya rasa untuk ini tidak akan terlambat juga kan jika kita mengetahuinya ketika kehamilan berusia lanjut, ketika ciri-ciri yang bisa dilihat jauh lebih banyak dan lebih jelas?!
Karena pertimbangan inilah, mengapa pada akhirnya saya dan suami memutuskan untuk tidak melakukan NT-Messung, ataupun prenatal screening apapun.
Bahkan meskipun kami punya “private insurance” yang sudah memberikan konfirmasi tertulis bahwa mereka bersedia menanggung semua biaya prenatal screening atas dasar “kulanz”, termasuk bahkan jika kita mau mengambil metode test genetis terbaru melalui darah ibu yang tidak tergolong berbahaya buat janin dan terkenal tarifnya masih sangat mahal (dikenal dengan nama Harmony Test).

Saya sendiri jujur aja agak surprise dengan dukungan dari suami akan keputusan ini, mengingat dia sebenarnya tidak pernah mengharapkan punya anak, dia setuju memiliki anak cuma karena dia ingin melengkapi kebahagiaan saya saja.
Tapi komentarnya yang bikin saya benar-benar merasa tidak salah pilih partner adalah ini:
“Who can actually determine that someone with Down Syndrome would have a worse and unhappier life than those who are not? Having DS or having a family with DS is not the worst thing could ever happen to someone in this world.”
My husband is truly a caring person by nature… That’s the biggest reason why I chose him
(cieeee lebayyyyy …yang mau muntah monggoooo hahaha).
Jadi artinya kita sudah siap untuk menerima apapun yang terjadi nantinya :), karena itu pada akhirnya test-test itu tidak kita lakukan sama sekali.

Sebaliknya bagi kalian yang memilih melakukannya dan mendapatkan hasil yang mencurigakan, maka akan dibutuhkan pemeriksaan selanjutnya, yang sifatnya biasanya invasive yaitu:

2. pengambilan sample jaringan yang menyimpan informasi genetis bayi dari plasenta: 
Chorionzottenbiopsie/Chorionic villus sampling (CVS)

baby-2

source:embryology.med.unsw.au

baby

source: embryology.med.unsw.au

3. dari air ketuban: Amniocentesis

Tapi perlu diingat lagi bahwa kedua test ini memiliki resiko keguguran mencapai 1 %Padahal potensi kesalahan diagnosa metode ini juga masih ada walaupun hasilnya memang jauh lebih akurat dan pada dasarnya lebih merupakan sebuah diagnosa dan bukan sekedar probabilitas seperti pada NT-Scan.

Karena itu bagi yang secara finansial mampu dan ingin menjalani test untuk mengetahui adanya kelainan genetis pada fetus dengan tanpa risiko membahayakan calon bayi, mungkin jauh lebih baik untuk memilih melakukan:

4. Harmony pränatal test.
Disini sample genetis diambil dari darah si ibu sehingga tidak membahayakan fetus dengan tingkat keakuratan untuk mendeteksi Trisomy 21 mencapai setidaknya 99,5%, pada Turner Syndrom tingkat akurasinya 93%. Ongkosnya mencapai setidaknya 400€ (bisa lebih, tapi bisa juga kurang sedikit, tergantung berapa macam diagnosa yang ingin diketahui, dan di klinik mana test dilakukan). Cuma kembali jangan dilupakan bahwa artinya,  bahkan utk jenis test baru ini pun masih ada kemungkinan 0,5 % diagnosis meleset utk Trisomy 21 dan 7% ketidak akuratan pada kasus diagnosis Turner Syndrome, dan begitu jg pd jenis diagnosis kelainan kromosom lainnya. 

Dan perlu jg diingat bahwa TIDAK SEMUA jenis kelainan yang mungkin terjadi pada janin bisa di diagnosis dengan metode-metode diatas. Jadi sebenarnya menyalahkan dokter yang merawat Kita ketika Kita menjumpai hasil akhir diluar prognosis   juga tidak selalu bisa di benarkan 😊.

There are indeed still some error rates in those methods that one should always keep in mind. 

Well… kali ini sekian dulu ya ibu-ibu… walaupun lagi-lagi tulisan saya lumayan panjang hehehe, tapi semoga aja berguna bagi kalian yang sedang bimbang.

Source:

Harmony TestPränataldiagnostik1.st trimester screeningprenatal screening

“Tabu”-nya orang Indonesia itu kadang memang bikin “speechless”…

Standard
“Tabu”-nya orang Indonesia itu kadang memang bikin “speechless”…

Saya sering bicara bahwa sebuah kultur itu nggak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk daripada yang lainnya, mereka memang beda, cuma itu. Setiap kultur memiliki ciri khasnya masing-masing dan ada latar belakangnya pula mengapa begitu.  Dan pendapat saya ini masih tetap sama, akan tetapi itu adalah opini secara umum terhadap keseluruhan budaya sebuah bangsa, jadi nggak berarti bahwa saya anggap setiap jenis adab/nilai/kebiasaan/budaya tertentu dari suatu masyarakat itu sensibel dan sebaiknya dilestarikan.
Kultur itu sendiri pada dasarnya adalah hal dinamis, dari jaman prasejarah sampai abad digital akan selalu mengalami perubahan entah itu positif atau negatif arahnya sesuai dengan perkembangan pengetahuan kita (ilmu dan teknologi itu sendiri juga kan bagian dari produk kultur toh? Sejauh ini rata-rata orang cuma mengasosiasikan kultur dengan seni, kerajinan ataupun tradisi saja; padahal kultur itu sangatlah luas). Tentu saja yang ideal adalah jika perubahan itu membawa ke arah yang positif ya. Dan inilah yang ingin saya ungkapkan disini: beberapa hal tipikal di kalangan masyarakat indonesia yang cukup “irritating” hingga ingin saya bagi disini.

Tema kali ini ngga jauh beda dengan hal yang saya tulis beberapa hari yang lalu, hanya saja kali ini lebih relevan bagi khususnya kaum wanita. Saya tergelitik untuk menulis ini ketika kemarin tanpa sengaja membaca komentar-komentar ibu-ibu Indonesia pada artikel online tentang berita proses melahirkannya artis “Andien” yang kebetulan nongol di newsfeed akun medsos saya karena ada “mutual friend” saya yang komentar disitu.
Sejauh ini saya bukan tipe orang yang suka ngikutin berita artis, buat saya “up to date”soal artis sama sekali bukan hal penting dan nggak begitu menarik jadi seringnya saya ini cenderung kuper soal berita artis. Kalau ada info yang ngga sengaja nangkring gini aja sih, dan kebetulan isunya lumayan “nyentil” baru saya kadang iseng untuk nggugel karena penasaran mengapa orang-orang begitu hebohnya.
Seperti kali ini, yang menarik perhatian saya justru adalah komen-komen para wanita itu yang bikin saya jadi gatel. KENAPA?

Karena ada wanita-wanita yang bilang “JIJIK” dengan Andien, cuma gara-gara sang artis ini berbagi tentang proses kelahiran anaknya yang secara natural dan peran aktif sang suami dalam membantu proses kelahiran anak mereka.
Saya bisa mengerti bahwa tidak semua orang mau membagi hal-hal sakral dalam hidupnya, karena saya sendiri juga tidak. Saya juga ingin membatasi hal-hal yang ingin saya jaga dalam lingkungan pribadi saya dan mana yang bisa saya bagi kepada publik.
Saya juga bukan tipe orang yang suka PDA (Mamerin kemesraan dengan pasangan dimuka banyak orang, baik itu dulu ataupun sekarang ketika saya sudah tinggal di Eropa. Not that I find it unacceptable, but it’s simply not my cup of tea. I don’t need to show my affection anywhere anytime anyway)…
Tapi saya tetap tidak bisa bayangkan ada “wanita” yang sama-sama secara alami di desain untuk hamil dan melahirkan bisa-bisanya menganggap bahwa “proses kelahiran” dan ekspresi “cinta” dari pasangan hidup itu sesuatu yang “menjijikkan”.
Saya sampai penasaran dan nggugel lama untuk ngecek seperti apa sih foto-foto yang di bagi oleh Andien itu dan seperti apa dia menceritakan proses melahirkannya, kok sampai dianggap menjijikkan?!
Tapi sejauh ini yang saya temukan sama sekali belum layak untuk dikategorikan “menjijikkan” deh. Lebay juga nggak lho (nggak kayak acara lahiran anaknya si Anang yang sampai di siarkan langsung segala…itu baru lumayan pantes dikategorikan lebay).
Foto-foto yang di bagi oleh keluarga Andien sekedar menunjukkan ekspresi “cinta”, sama sekali nggak bernuansa “seksual” ataupun porno.
Sejak kapan orang melahirkan itu porno? Ini sama aja kayak orang-orang Amrik sana yang menganggap bahwa “menyusui” bayi itu juga hal yang “saru”, “tabu” dan “porno” :-D. Tapi anehnya berpose telanjang dianggap biasa-biasa saja. Semakin lama saya benar-benar semakin merasa betapa miripnya masyarakat amrik dengan indonesia ^_^.
Hal-hal yang secara natural dikodratkan pada makhluk hidup dimuka bumi, tapi dianggap “TABU”, how ridiculiously funny…

Baru juga informasi dan foto begitu aja dari Andien udah dibilang “menjijikkan” dan tabu… apalagi kalau mereka lihat betapa banyak video proses kelahiran natural yang bisa diakses dengan mudah di YouTube ya? Banyak dari para ibu di video itu bahkan sepenuhnya telanjang. Andien mah masih pake baju, ya!
Para wanita di Indonesia begitu terbiasa dengan begitu banyaknya servis yang ada mungkin, begitu banyaknya orang disekelilingnya yang bisa membantunya ngurus anak, dan begitu menganggap enteng “operasi caesar” sehingga membuat mereka melupakan bahwa proses melahirkan itu adalah hal yang sepenuhnya “NATURAL”, tidak layak untuk masuk kategori “tabu”, apalagi kita nggak lagi hidup di jaman kuno dimana bahkan wanita yang haid dan nifas pun dianggap “kotor” hingga “suami” pun ngga boleh “menyentuh”-nya.
Sungguh kolot pula memandang bahwa peran serta seorang suami dalam proses kelahiran dan ungkapan kebahagiaannya ketika si bayi lahir ditangannya dianggap “gesture” yang tidak pantas (rolling my eyes…).
For God sake, this man didn’t give her a french kiss! It was merely a light peck.
Ada bidan dan orang-orang lain disekitarnya gitu lho, yang benar aja lah…

Harap jangan salah tangkap ya, saya ngga bermaksud menganggap wanita yang melahirkan melalui operasi caesar itu lebih rendah nilainya daripada ibu yang melahirkan natural lho. Ada banyak situasi khusus yang membuat kelahiran caesar adalah hal yang terbaik bagi beberapa kasus tertentu. Tapi bagaimanapun adalah fakta bahwa SETIAP WANITA terlahir kedunia dengan membawa karakteristiknya yang khas sebagai media untuk membawa generasi baru kemuka bumi, jadi pada dasarnya kita sudah dilengkapi dengan semua yang dibutuhkan untuk membawa manusia baru ke muka bumi dengan selamat. Jangankan binatang liar, wanita-wanita yang hidupnya jauh dari peradaban modern semuanya juga melahirkan tanpa asistensi dokter ahli dengan peralatan canggihnya kan?!
Apakah kemampuan alami itu akan dimanfaatkan oleh setiap dari kita atau tidak, itu adalah soal lain lagi.
Mungkin wanita-wanita Indonesia yang menganggap lebay tulisan ataupun video tentang hal-hal semacam ini karena mereka nggak perlu ngerasain repotnya dan khawatirnya harus menjalani semua proses (yang bagi setiap “calon ibu baru” menakutkan) karena di sana ada banyak orang yang bisa mereka andalkan untuk membantu, bahkan bayar asisten banyak pun nggak susah karena murah.
Mereka nggak tahu betapa tulisan ataupun video yang di bagi oleh sesama ibu di dunia ini bisa sangat membantu sekali bagi kita-kita khususnya yang tinggal jauh dinegeri orang tanpa orang tua yang bisa dimintai tolong dan dimana jasa pembantu ataupun baby sitter adalah sebuah kemewahan.

Memang benar jasa medis di negara maju bisa diandalkan, tapi itu kan tidak lantas kita bisa mendapatkan semua informasi dan bantuan dari mereka. Dan tidak pula semuanya bisa ditanggung asuransi, khususnya jika itu hal-hal yang nggak mengancam kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi. Akan tetapi tetap saja itu bisa berupa hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh para calon ibu yang sedang mengandung untuk yang pertama kali.
Jadi adanya orang-orang yang bersedia berbagi pengalaman pribadinya (yang sebenarnya tergolong privacy dan sakral) adalah hal yang justru patut untuk dihargai.
Toh itu bukan sebuah aib, itu bukanlah hal yang memalukan gitu lho…

Saya juga kebetulan tertarik akan proses melahirkan dalam air, karena itu saya suka melihat dan membaca apapun yang bisa saya temukan tentang pengalaman pribadi orang yang mengalaminya, jadi nggak cuma informasi yang sifatnya teori saja dari jurnal-jurnal medis dan omongan dokter doang.
Kalian-kalian yang merasa tidak butuh, ya nggak papa, tapi mbok nggak usah nyinyir…
toh nggak ada yang menyuruh kalian untuk melihat atau membacanya kan?!
Kita semua tahu betapa banyaknya operasi caesar di indonesia yang dilakukan tanpa adanya rekomendasi medis, melainkan murni karena alasan: ngga mau sakit, takut vaginanya melebar (hingga suami jadi berpotensi untuk ngelirik perawan sebelah 😀 ), dan alasan-alasan nggak rasional lainnya semacam itulah, hanya karena merasa secara finansial mampu menanggungnya.
Jadi adalah hal yang menurut saya justru sangat positif, ketika ada publik figur yang mau berbagi karena itu bisa menjadi semacam “encouragement” pada para wanita yang sedang mengalami ketakutan untuk melahirkan normal dan sedang bimbang karena dibujuk dokter (yang mata duitan) dan sebenarnya ibu-ibu yang sedang bimbang ini secara medis nggak butuh operasi.
Bagaimanapun harus kita akui bahwa pengaruh “artis” dan efek persuasif dari tindakan mereka pada publik itu cukup besar.

Lagipula… rasanya lucu juga kalau menyebut “video dan foto orang melahirkan” itu tabu dan saru, tapi anehnya ngomongin aib suami sendiri, dan bercanda serta bercerita tentang kehidupan seksualnya bersama suami/istri, bikin jokes-jokes berbau seks kok nggak dianggap tabu ya… Malah kadang jadi topik tipikal di tayangan komedi lho…
Betapa paradoks… ^_^ .
Bahkan nguliahin orang tentang pilihan pasangan hidup orang make dalih agama (yang notabene adalah urusan pribadi yang paling pribadi), dianggap normal (lagi-lagi jadi “rolling my eyes…”), pada nggak sadar bahwa kalau sebaliknya ada orang yang negur atau nasehatin dia tanpa diminta, dianya marah-marah juga…merasa tersinggung 😀 .

Seharusnya, orang-orang yang ngaku dirinya “intelek” bisa membedakan mana yang patut untuk dikategorikan “lebay” dan pamer dengan yang nggak.
Kalau ngomongin “Ah, artis sih… cuma melahirkan aja pake masuk berita, semua wanita juga bisa melahirkan, apanya yang istimewa?!”
Hmmm saya jadi heran, siapa pula yang bilang kalau dia itu istimewa? Nggak ada kan?
Lagipula, dijaman media digital saat ini… siapa orangnya yang butuh jadi artis dulu untuk bisa memamerkan dirinya dimata dunia coba?
Setiap orang bisa upload gambar-gambar dan pengalamannya sendiri dan membaginya pada publik tanpa memandang apapun statusnya. Dan kalau beruntung, setiap orang juga punya kesempatan yang sama untuk membuat postingannya menjadi viral dan bikin dia terkenal di dunia.
Jadi siapa bilang cuma artis yang bisa melakukan itu?
Di jaman sekarang ini semua orang bisa melakukannya, itu kalau memang mau 😀 .
Saya kok trus jadi punya prasangka ya, para wanita yang suka sinis itu sebenarnya sirik karena suaminya kolot dan menganggap bahwa terlibat aktif dalam proses kelahiran anaknya sendiri itu hal yang “menjijikkan”.
Kalau mereka mau jujur, pasti akan mengakui bahwa orang yang paling terdekat dalam hidup kita dan paling punya potensi untuk memberikan dukungan moril dan kekuatan untuk berjuang, yang seharusnya paling bisa dipercaya adalah orang terkasih kita… (bahkan yang harusnya paling layak untuk jadi tempat kita mempercayakan nyawa. Bukankah setiap proses melahirkan itu adalah saat antara hidup dan mati?)
Dan siapa lagi itu kalau bukan belahan jiwa kita sendiri (logisnya lho ya)?
Yang paling diharapkan selalu ada disisi saat itu adalah pasangan hidup kita, kecuali jika sikon tidak mengijinkan itu.
Para wanita yang pasangannya tidak merasa bahwa mengekspresikan kasih itu hal yang memalukan dan tabu, tidak akan mengungkapkan hal-hal yang sinis seperti itu, bahkan meskipun dia sendiri kebetulan tergolong orang yang suka melindungi privacynya seperti saya.
Orang yang isi kepala dan hatinya bersih, merasa “content” dengan hidupnya, tidak akan sinis dengan kebahagiaan orang lain, karena dirinya sendiri juga sudah cukup bahagia :-D.
Sepertinya istilah: “Susah ngeliat orang lain senang dan senang ngeliat orang lain susah”, kadang-kadang emang tepat banget untuk diterapkan pada “jenis-jenis” tertentu manusia di Indonesia hahahahaha.

Saya sendiri… mungkin juga ngga selalu menganggap semua informasi yang saya temukan di Internet itu bagus untuk diterapkan pada saya, tapi saya tetap bisa menghargai setiap informasi yang dibagikan orang. Semua adalah tugas kita sendiri masing-masing untuk menyaring mana yang cocok dan mana yang nggak buat kita, tapi tetap sangatlah bagus bahwa ada begitu banyak yang bisa kita temukan dengan bantuan internet di jaman modern ini.
Meskipun tak ada ibu yang bisa mendampingi, kita jadi nggak merasa buta dan “helpless” dengan adanya semua itu.

Ok deh..sekian dulu ocehan saya hari ini… sampai jumpa lain kali hehehe.

 

 

Burnout-Syndrom: Depresi dimasa studi bukanlah isu ringan

Standard

DEPRESI, sepertinya topik ini di masyarakat Indonesia masih tabu untuk dibahas seolah itu adalah sebuah aib yang sangat memalukan. Depresi itu bukan dosa apalagi kejahatan, melainkan gangguan kesehatan yang efeknya tidak bisa dianggap remeh bahkan bisa menjadi sesal berkepanjangan tidak berhasil diatasi sebelum terlambat.
Untuk menemukan solusi yang optimal sebelumnya orang harus mencari akar masalahnya dulu, jadi menutup-nutupi masalah bukanlah jalan terbaik yang bisa diambil, karena hanya dengan tidak membahasnya dan menutupinya tidak lantas berarti masalah itu jadi menghilang dengan sendirinya.

Orang yang sedang mengalami depresi itu butuh support dari orang-orang disekitarnya, mereka tidak bisa berjuang sendirian. Semakin mereka merasa sendiri semakin besar perasaan “helpless” dan ancaman bunuh diri juga makin kencang. Karena itu “awareness” dari orang-orang disekitar kita sangat besar peranannya.
Belum lama saya menulis sentilan kepada orang-orang yang hobinya mencari perhatian publik dengan sengaja menyebar kisah dramatis pribadinya dan menjelek-jelekkan partner/anggota keluarganya sendiri. Tulisan tentang depresi ini tidak lantas berarti menunjukkan bahwa saya nggak konsisten dengan opini saya.
Karena ini adalah dua hal yang jauh berbeda.
Cukup jelas kok bedanya, orang yang berbagi dengan niat mencari solusi dengan orang yang cuma mencari “cheerleaders” dan teman bergosip, cuma mencari pembenaran akan attitude-nya dan keluhan-keluhannya yang jelas-jelas kekanak-kanakan (yang kayak gini mah lebay namanya).
Orang yang benar-benar depresi biasanya itu justru cenderung tertutup, karena itulah perasaan “helpless” jadi besar, seolah mereka ngga punya siapa-siapa yang bisa mengerti dirinya, mungkin bahkan adanya rasa malu dan gengsi untuk mengakui bahwa dirinya punya masalah itulah yang makin memperburuk keadaan. Apalagi jika kita tumbuh di masyarakat dimana “kehilangan muka” dan “kehormatan” serta “prestige” itu dipandang sebagai hal yang sangat krusial seperti Indonesia.

Saya bukan psikolog ataupun psikiater, sehingga saya tidak cukup berkualifikasi untuk menganalisa tentang depresi. Disini saya cuma ingin berusaha membangkitkan kesadaran akan adanya bahaya depresi dikalangan calon akademisi kepada masyarakat Indonesia yang kecenderungannya saya lihat masih berpandangan terlalu sempit, menganggap itu suatu hal yang memalukan hingga tak pantas untuk dibicarakan secara terbuka.
Padahal itu adalah isu yang bisa menimpa siapa saja, dan sekecil apapun kesediaan untuk berbagi atau memberi perhatian pada isu ini, mungkin akan bisa menyelamatkan nyawa banyak orang yang mungkin saat ini sedang menghadapi masalah tersebut.
Yang sudah pergi takmungkin kembali, sudah terlambat untuk berbuat sesuatu baginya kecuali sekedar mendoakan.
Tapi diluar sana masih banyak orang-orang lain yang mungkin masih bisa dibantu sebelum terlanjur terlambat pula baginya.
Sebagai kaum intelektual, seharusnya bisa membedakan antara “tulisan bertendensi gosip” dengan tulisan yang sifatnya informatif dan edukatif sehingga lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya.
Depresi dikalangan mahasiswa janganlah diremehkan. Di Jerman sendiri tercatat setidaknya 1 dari 5 mahasiswa didiagnosis mengalami depresi. Informasi bisa dilhat disini, disini dan disini. Dan kasus bunuh diri karena depresi juga bukanlah hal yang langka. Mahasiswa Indonesia juga tidak terkecualikan dari ancaman ini. Terutama karena mereka di usia dimana kondisi psikologis dan emosi mereka cenderung masih labil dan sudah harus hidup merantau dinegeri orang sendirian. Yang orang lokal saja tidak sedikit yang kena lho.
Apalagi kita semua tahu betapa besar pengaruh keluarga dan orang tua pada anak-anak Asia. Banyak sekali kasus dimana mereka bahkan bersekolah itu demi memenuhi ambisi orang tuanya dan bukannya untuk mengeksplorasi bakat dan potensinya sendiri. Banyak anak-anak asia yang terpaksa harus ambil jurusan teknik atau kedokteran cuma karena gengsi dan reputasinya yang bagus, padahal mungkin bakat dan “passion” mereka tidak ada disana. Ini juga merupakan faktor tambahan penyebab depresi lho.
Sementara itu, kultur kita biasanya membawa “bad consciousness” yang sangat tebal ketika yang bersangkutan merasa tak mampu untuk bisa memenuhi harapan-harapan orang tuanya. Ketakutan untuk pulang membawa kegagalan karena bisa memberikan malu pada keluarga, tebalnya rasa bersalah ini membuat semuanya semakin buruk.

Disinilah letak pentingnya kesadaran orang-orang tercinta disekitarnya agar tidak membuat tekanan perasaan ini semakin besar. Supaya kelak tidak ada sesal dibelakang hari jika si anak pada akhirnya benar-benar tak bisa menahan godaan untuk mengakhiri semuanya dengan cara yang salah.
Disinilah perlunya tulisan-tulisan yang bisa membuka mata orang-orang kita akan potensi depresi bahkan pada anak-anak yang “sepertinya” sejauh ini baik-baik saja, patuh, tidak pernah nyusahin keluarga, bahkan mungkin pinter.
Jangan salah, “the really intelligent people are even more likely to have stress and they are often pessimistic/skeptical towards the world.”
Terlalu tinggi harapan pada anak (apalagi sampai pada level “tuntutan”) itu sama riskannya dengan terlalu memanjakaan anak.
Tolong jangan abaikan peluang untuk menunjukkan pada anak bahwa mereka tetap dicintai dan ngga akan dianggap sebagai perusak reputasi keluarga hanya karena mereka ngga selalu pulang membawa kesuksesan karir atau prestasi akademis.
Didunia ini ngga semua orang harus jadi insinyur, dokter, ilmuwan ataupun ekonom top.
Yang tidak bisa memiliki karir seperti itupun ngga lantas berarti mereka ngga berharga dan nggak layak dibanggakan lagi.
Dengan begini, setidaknya mungkin kita bisa mengurangi beban mental mereka yang sedang berjuang menempuh studi dinegeri orang.
Kuliah di jerman itu nggak gampang… angka kegagalannya mencapai hampir 50%, secara general… ngga cuma pada mahasiswa asing melainkan seluruh mahasiswa di negeri ini.
Gagal bukanlah hal yang memalukan, itu bukan dosa bukan tindakan kriminal, dan bukan pula akhir dari hidup. Gagal disatu bidang tidak lantas berarti kita akan gagal dalam semua hal.

Yang paling penting lagi… sebaiknya dikembangkan kebiasaan untuk terbuka. Kita memang nggak harus mengumumkan masalah pribadi pada setiap orang, kepada publik, tapi setidaknya janganlah semua hanya disimpan sendiri jika itu terasa berat.
Berbagilah pada teman terdekat atau siapapun itu yang bisa diajak berbagi cerita.
Jika memang tak ada teman yang bisa dipercaya, pergilah mencari bantuan professional bila ada masalah. Di Jerman sini apalagi, ada banyak sekali layanan konseling gratis.
Setiap orang juga punya asuransi sehingga mencari konsultan yang nggak gratis juga bukanlah sebuah masalah.
Jangan anggap “depresi”, “stress” dan “burnout syndrom” itu hal yang memalukan. Itu hal yang bisa terjadi pada siapa saja.
Forum-forum online untuk saling berbagi secara anonym seperti ini misalnya,  juga bisa dimanfaatkan.
Semoga tulisan ini bisa dianggap bermanfaat, karena saya sama sekali nggak ingin bergosip ^_^ .
Turut berduka cita bagi siapa saja yang saat ini sedang berduka karena orang yang dikasihi meninggalkannya gara-gara tak mampu mengatasi depresinya…
Semoga angka korban depresi dikalangan mahasiswa (khususnya) bisa berkurang dimasa mendatang.

Sampai Jumpa.