Author Archives: Kobold

Kebiasaan ngasih makan anak orang tanpa ijin ortunya di Indonesia

Standard

Repost from my page in Steemit, original URL=
https://steemit.com/parenting/@kobold-djawa/kebiasaan-ngasih-makan-anak-orang-tanpa-ijin-ortunya-di-indonesia-indonesians-are-accustomed-to-just-share-food-to-children

__________________________________

Halo sobat Steemians…
kali ini tulisan saya membahas tentang isu yang cukup penting untuk jadi bahan renungan bagi publik Indonesia, karena itu saya merasa penting untuk menulisnya dalam bahasa Indonesia.

Sebelum saya mudik beberapa waktu lalu, ada beberapa hal yang menjadi sumber kekhawatiran saya terutama karena sekarang saya akan membawa anak satu-satunya yang umurnya baru 1,5 tahun.
Tapi berhubung ada beberapa isu yang ingin saya bahas sementara saya ingin tulisan saya ngga terlalu melelahkan untuk dibaca karena terlalu panjang, maka akan saya batasi topiknya dengan membaginya menjadi beberapa artikel.

Isu pertama adalah soal makanan.

Selama ini saya sudah sering mendengar keluhan dari teman2 seperjuangan (hadeeh seperjuangan wkwkwkw), maksud saya senasib sepenanggungan dinegeri orang LOL… , topiknya adalah tentang kebiasaan orang Indonesia (sepertinya di Asia pada umumnya mirip2 sih) untuk asal ngasih makanan pada anak-anak tanpa nanya ortunya dulu.
Ngerti sih, secara umum mereka tuh ngga ada niat jelek, cuma mau berbaik hati dan beramah tamah dengan anak kecil yang dianggap menyenangkan.

Tapi itu adalah hal yang sebenarnya ngga seharusnya dilakukan. Sayangnya, ketika kita mengingatkan dan juga wanti-wanti pada saudara dan ortu yang lagi ngajak anak kita main untuk jangan biarin anak kita makan pemberian orang sembarangan, seringnya itu malah jadi sumber konflik. Dianggapnya kita sombong mentang-mentang udah jadi orang Eropa. Bahkan tak jarang keluarga kita sendiri pun protes dan ngajak “berantem” gara-gara isu ini.

Well… itu sama sekali salah besar, ngga ada hubungannya sama sekali dengan “kesombongan”, merasa jijik, “nggaya” ngga doyan lagi sama makanan lokal, ngga menghargai atau apapun yang semacam itu.

Ada beberapa alasan yang mungkin dibenak kebanyakan orang Asia ngga pernah terlintas, yaitu sebagai berikut:

1. Pernah nggak terpikir kalau si anak ternyata punya alergi serius terhadap bahan makanan tertentu?

Alergi itu ngga cuma sesederhana kulit bentol-bentol atau merah2 dan gatal ya. Kasus alergi yang serius itu bisa berakibat fatal, bisa menghilangkan nyawa lho.
Alergi kacang misalnya, itu yang serius bisa menutup saluran pernafasan dan efeknya cukup kilat. Di Eropa yang proses pertolongan daruratnya cepat, bahkan bisa manggil helikopter segala kalau perlu pun belum tentu memberi cukup waktu untuk menolong, apalagi di Indonesia dimana ambulan aja bisa terjebak macet dan ngga akan bisa bawa anak ke RS secepatnya. Apalagi kalau kita lagi jauh dari kota besar yang punya fasilitas kesehatan yang komplit.
Seperti di kota kelahiran saya yang dari ibukota propinsi terdekat saja jaraknya 3-4 jam perjalanan naik mobil. Mau nangis darah juga percuma kalau sampai kejadian macam itu terjadi.

Dan produk jadi buatan pabrik yang bahan utamanya bukan kacang misalnya, belum tentu ngga ada jejak kacang sama sekali, apalagi produk rumahan yang ngga terpantau Depkes.
Kasus intoleransi terhadap laktosa pada anak itu juga cukup banyak. Di Eropa setiap produk akan selalu ada keterangan apakah sebuah produk ada kemungkinan jejak bahan tertentu yang bisa memicu alergi, sesedikit apapun itu, tapi di Indonesia nggak ada kewajiban macam itu.

Karena itu, jangan sepelekan isu ini.

2. Di Eropa anak-anak itu secara umum dididik untuk mandiri sedini mungkin.

Disini yang namanya asisten rumah tangga itu nggak umum. Tenaga manusia itu mahal jadi keluarga kebanyakan itu nggak ada yang punya baby sitter yang bisa ngikutin anak kemana-mana. Kita juga ngga bisa nitipin anak ke saudara atau nyuruh orang tua/mertua momong anak dan bertanggung jawab penuh secara kontinyu.
Karena itulah anak-anak dari kecil dibiasakan untuk nggak sembarangan nerima pemberian dari orang tanpa setahu ortunya, apalagi kalau orang itu tidak mereka kenal baik.

Ini penting sekali, karena anak adalah sasaran empuk kejahatan dan paling gampang terbujuk oleh makanan dan mainan. Orang dewasa aja bisa tertipu mulut manis dan senyum ramah, apalagi anak kecil.
Bukannya kita mencurigai tetangga sendiri ya…sama sekali bukan!

Walaupun berdasarkan statistik, pelaku pedofilia itu memang mayoritas justru orang yang ada dilingkungan terdekat si anak sih… tapi diluar isu inipun tetap ada alasan lain yang nggak kalah signifikan, yaitu “pendidikan”.
Mendidik anak bukanlah hal yang gampang dan butuh proses panjang, karena itu kita nggak mau kerja keras kita begitu lama rusak total hanya karena liburan di Indonesia yang mungkin bahkan sebulan aja nggak ada.

Kita ngga mau anak kita jadi kebiasaan suka minta-minta ke orang lain kalau liat anak lain makan sesuatu karena itu nggak sopan, itu satu. Tapi yang lebih penting adalah seperti saya bilang diatas, kita ingin anak kita hati-hati dan ngga gampang terbujuk oleh rayuan orang jahat dengan makanan ataupun mainan, karena anak kita ngga mungkin setiap menit selalu ada dibawah pantauan mata orangtua/pengasuhnya/orang yang kebetulan sedang dititipi tanggung jawab.

3. Kali ini mungkin ngga terkesan serius, tapi sebenarnya juga bisa menjadi serius terutama bagi anak dibawah 3 tahun, karenaa mereka masih tergolong rapuh. Contohnya: Pencegahan “Diare” dan usaha untuk menjaga agar kesehatan dan organ tubuh anak kita terpelihara kesempurnaan fungsinya.

Diare kedengarannya adalah isu ringan, tapi itu jika sifatnya nggak bakterial dan penderitanya orang dewasa yang secara umum sehat. Tapi bahkan bagi dewasa pun, adalah hal yang ngga menyenangkan untuk dialami ketika kita udah ngabisin duit puluhan juta untuk liburan dan ujung-ujungnya harus menderita kan?

Sementara itu, bagi batita, diare pun bisa membahayakan nyawa lho… karena anak sangat gampang dehidrasi dan kalau sakit akan susah makan minum biasanya kan. Anak saya doyan makanan Indonesia, tapi bagaimanapun dia lahir dan besar di Jerman sehingga tubuhnya ngga punya imunitas terhadap kuman-kuman yang ada di Asia. Butuh waktu cukup lama bagi tubuhnya untuk beradaptasi dan satu dua minggu belum tentu cukup, sementara fisik mungilnya masihlah belum setangguh tubuh orang dewasa dalam menghadapi penyakit yang sama.

Dalam hal ini saya sangat bersyukur karena sejauh ini nggak pernah ngalami problem menyusui sehingga si kecil masih bisa dapat asupan ASI cukup banyak sampai sekarang. Dan itu ngga cuma praktis tapi amat SANGAT membantu menjaga ketahanan tubuhnya.

ASI adalah “immunity booster” super wahid, pencegah dehidrasi paling top dan supplier nutrisi ideal bagi anak.
Udah gitu ASI nggak perlu ngeluarin duit ekstra pula.
Karena itu saya sangat menyayangkaan kenapa di Indonesia -bahkan didesa saya yang penduduknya masih banyak yang tergolong miskin pun- lebih suka ngasih anaknya susu formula, meskipun pada dasarnya ngga mengalami masalah dalam menyusui, dan si ibu ngga kerja “full time” diluar rumah pula.

(Padahal kerja diluar rumah pun ASI bisa dipompa dan disimpan di kulkas lho!)

Selain itu, mungkin tidak banyak rakyat kita yang menyadari bahwa organ tubuh bayi itu belum semuanya siap untuk menerima asupan bahan makanan tertentu pada umur tertentu.
Contohnya: madu baru boleh diberikan setelah minimal umur setahun karena ada substansi tertentu didalamnya yang organ bayi belum bisa mengatasinya. Asupan garam juga belum disarankan dibawah satu tahun dan cuma perlu ditingkatkan pelan-pelan sesudah itu, karena ginjal bayi masih lemah, nggak boleh dibebani terlalu banyak. Kita juga ngga mau anak kecanduan gula terlalu dini, karena itu tidak ingin memberi makanan dengan tambahan gula. Terutama karena kita juga ingin menjaga kesehatan giginya.
Salah satu produk yang bagus untuk menjaga kesehatan pencernaan adalah yoghurt, dan kebetulan anak saya suka sekali yoghurt, plain tentunya. Terutama untuk mengatasi masalah perut di Asia, saya ingin memberi si kecil Yoghurt setiap hari. Tapi tahu nggak, di Indonesia itu ternyata susah sekali nyari produk jadi yang alami, yang nggak ditambahi gula dan perasa macam-macam.
Heran deh, produk untuk balita pun ada gulanya…gila kan? Saya sempat seneng ketika di supermarket nemu yoghurt yang pake label “asli eropa” dan “plain”, bukannya karena saya sok “nggaya”, tapi karena saya pikir itu yoghurt beneran natural, ngga pake tambahan apa-apa gitu…Eeeeh, ternyata saya salah besar. “Plain” dan “natural” disini ternyata maksudnya cuma nggak pakai perasa buah artifisial ataupun pewarna, tapi tetep aja ditambah gula. Dan ketika saya icipi rasanya “muaniiis”…
Minta ampuuun… kaya gitu masih bisa heran kenapa di Indonesia begitu banyak orang yang udah punya masalah gigi dari kecil, dan kenapa pula begitu banyak orang Indonesia yang udah bermasalah dengan diabetes padahal masih muda dan ngga selalu punya keturunan diabetes itu lho.
Terang ajalah kalau dari kecil udah kebiasaan dapat asupan gula begitu banyak. Akhirnya tempo hari saya cuma kasih anak saya susu full cream selain ASI, ketika saya berada di kota kecil dimana nggak bisa menemukan supermarket besar yang menjual produk impor beneran ataupun produk lokal tapi yang organik sehingga bener-bener alami tanpa campuran apapun.
Ngomong-ngomong, ketika di Thailand saya juga menghadapi problem yang sama dalam mencari yoghurt, cuma setidaknya… kadar gulanya prosentasinya masih jauh lebih kecil daripada produk Indonesia. Dan berhubung saya berada dilokasi wisata yang populer bagi turis asing, setidaknya masih nggak terlalu sulit menemukan toko yang menjual produk natural yang biasa dicari keluarga Eropa yang bepergian dengan balita.

Kebiasaan yang terbentuk dari kecil itu susah menghilangkannya, jadi nantinya sampai dewasa sukanya makan yang manis-manis, padahal dari konsumsi nasi yang begitu banyak, manusia di Indonesia itu asupan gula hariannya udah cukup besar.
Nah… saya nggak mau anak saya juga punya kebiasaan semacam itu, karena itu tolong hargailah keinginan saya (dan ibu-ibu lain yang berfikiran sama) untuk tidak asal ngasih anak saya makanan tanpa minta persetujuan saya dahulu.
Bukannya sama sekali nggak boleh menerima pemberian orang yang bermaksud baik ya, tapi saya ingin tahu persis apa yang masuk ke mulut anak saya dan berapa banyak yang sekiranya masih bisa saya tolerir.

4. Terakhir dan tak kalah penting: ini adalah soal “respek”.

Ini menyangkut anak orang lain, jadi sudah selayaknya kalau kita menghormati wilayah privat orang lain. Seperti apa dan bagaimana seseorang membesarkan anaknya, termasuk dalam hal memberi makanan, apa yang boleh dan ngga boleh itu adalah hak prerogratif setiap keluarga. Orang lain tidak punya alasan untuk komplain, titik.
Satu-satunya alasan yang bisa dijustifikasi bagi orang luar untuk ikut campur dalam urusan keluarga orang adalah jika terjadi kasus “pelecehan/penelantaran/penganiayaan/kekerasan”, selain itu TIDAK ADA lagi.

Untungnyaa… keluarga saya biarpun orang kampung ternyata masih konsisten dengan prinsipnya dari dulu yang mana selalu mencoba menghormati kehendak orang lain meskipun itu anggota keluarganya yang jauh lebih muda. Mereka nanya dan memang protes pada awalnya, tapi bersedia menerima. Saya sangat mensyukuri itu.
Dan faktanya, saya nggak overprotektif pada anak saya kok selama disana. Bisa dilihat di foto-foto dan video yang pernah kami upload selama di Indonesia… saya bahkan membiarkan si kecil berjalan dengan telanjang kaki di lantai tanah, main disawah, mainan dengan ternak dan juga sesekali makan kerupuk aja saya ijinkan kok.
Saya cuma nggak ingin sikecil mengkonsumsi sesuatu diluar sepengetahuan saya itu apa dan seberapa banyak.

Untuk sementara cukup ini dulu bahasannya, karena sekedar ngomongin satu tema pun udah segini panjang hehehe.
Sampai jumpa pada tulisan dengan tema berikutnya dan terimakasih banyak sebelumnya atas upvote-nya.
Salam @kobold-djawa

Advertisements

Mengajari thuyul kecil saya untuk jadi multilingual.

Standard

Halo sobat Steemian, apa kabar?

Kali ini saya ingin nulis tentang hasil pertama usaha kami untuk menciptakan thuyul kecil yang polyglot alias menguasai banyak bahasa. 😀

Dunia semakin mengecil dan batas negara semakin menipis. Globalisasi takhanya berarti pertukaran barang alias produk, akan tetapi juga termasuk SDM. Oleh karena itu kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa sudah pasti adalah poin plus dalam koleksi kompetensi seseorang. Hal ini makin penting mengingat dijaman modern ini pendidikan formal tak lagi tergolong barang mewah, setidaknya di negara berkembang bebas perang seperti Indonesia, apalagi di negara maju seperti Jerman.
Demi bisa memiliki nilai tawar yang cukup bagus didunia kerja, maka setiap orang harus memiliki nilai tambah yang istimewa.

Sebagai anak yang tumbuh di keluarga beda bangsa ataupun satu bangsa yang kebetulah tinggal di mancanegara, maka lingkungan ini seharusnya menjadi peluang berharga bagi si anak untuk bisa mempelajari setidaknya dua bahasa pada level bahasa ibu alias sangat fasih. Karena si anak tumbuh besar dengan otak yang masih bagai spon yang bisa menyerap informasi apapun dengan lebih cepat dan mudah plus memiliki guru pembimbing yang mengajari dengan penuh cinta, dedikasi dan kesabaran, bukan sekedar tutor yang bekerja demi uang, dan penutur asli bahasa tersebut pula. Sehingga bahasa yang dipelajari pun bisa dikenal dengan aksen dan intonasi aslinya.
Saya tahu bahwa ini nggak akan mudah, terutama karena tidak setiap anak punya ketertarikan dan bakat di bidang linguistik. Akan tetapi, saya rasa kita setidaknya harus mampu membuat anak sendiri bisa memahami bahasa ibunya meskipun pasif, jika kita memang cukup persisten.
(Tentu saja akan lain kasusnya jika si anak memiliki kondisi yang menghambatnya dalam belajar).
Karena akan sayang sekali jika anak kita bahkan ngga bisa ngobrol dengan tema dangkal sekalipun dengan kakek nenek dan sodara-sodaranya dari pihak ortu yang kebetulan tinggal diseberang lautan sana.
Saya rasa jauh lebih masuk akal untuk mengharapkan si kecil yang belajar dari pada menuntut kakek nenek yang sudah lanjut usia dimana kapasitas memorinya sudah terpakai terlalu banyak, ya nggak?!

Well, sejauh yang saya pelajari selama ini, teknik paling efektif dan simpel yang bisa diterapkan untuk melatih anak dengan dua bahasa pertamanya adalah teknik OPOL, yaitu: One Parent One Language.
Saya ngajarin bahasa indonesia sementara dengan bapaknya si kecil bercakap-cakap dalam bahasa jerman. Saya hanya berbahasa jerman dengan sikecil jika ada orang ketiga yang hanya menguasai bahasa jerman, seperti contohnya di tempat umum dimana sering ada nenek-nenek yang ngajak ngobrol.

Sebelum kita mudik ke Indonesia akhir September kemarin, anakku belum mulai bicara kecuali ngucapin Mama dan Papa.Tapi dia sudah mengerti banyak, baik itu dalam bahasa Indonesia ataupun Jerman. Disuruh buang sampah aja dia juga sudah ngerti.
Cuma butuh beberapa hari menghabiskan waktu bersama keluargaku yang memanjakannya, dia udah langsung mulai berbicaraa.
Contohnya aja nama-nama binatang yang dipelihara keluargaku, juga anggota badan dia udah bisa mengucapkan walaupun tidak semuanya sempurna.
Cuma uniknya, dia sepertinya milih-milih bahasa berdasarkan level kesulitan pengucapan.
Ada beberapa kata yang dia lebih suka ngucapin dalam bahasa jerman begitu juga sebaliknya.
Saya masih punya banyak PR untuk mengajari dia memilah bahasa sesuai partnernya hahaha.
Yang paling berkesan buat saya contohnya adalah ketika saya lagi dandan ssebelum menghadiri konferensi Steemfest 3 di Krakow tempo hari, tiba2 sikecil nongol di kamarmandi sambil memuji saya “schön” yang artinya cantik…gimana nggak GR saya hahaha.
Tak ada yang jauh lebih membahagiakan lagi dibandingkan pujian tulus dari anak kita yang masih batita. 😀
Nyaris nggak percaya saya ulangi lagi bertanya apakah dia bener2 lagi muji mamanya cantik, eeeeh dia ngangguk2 sambil bilang “schön” lagi. Hepiii hahaha. Apalagi karena waktu aku pakaikan dia rok yang memang bagus, dia kembali bilang “schön”, artinya dia beneran ngerti dong hehe.

Ngomong-ngomong, berhubung saya kemarin gagal terus upload video di DTube, jadi sekarang silahkan dilihat aja Little Kobold berbicara bahasa Indonesia di YouTube channel saya:

Sekian untuk sementara ini dan terimakasih untuk upvotenya yaaa!

Pasar malam natal 2017 di sebuah pusat kota di wilayah barat daya Jerman

Standard

Beberapa hari yang lalu aku dan suami mengajak thuyul kecil kita ke pasar malam natal. Di Indonesia ada pasar malam di kala hari raya lebaran tiba, maka disini pun nggak kalah… ada juga pasar malam buat menghibur anak-anak di hari raya… pasar malam natal.

Pasar malam ini mulai buka begitu memasuki minggu advent , yaitu kira-kira 4 minggu sebelum hari natal tiba.
Disini juga ada komidi putar dan roda kincir untuk dinaiki anak-anak juga lho. Cuma berhubung thuyulku masih tergolong bayi, jadi belum bisa naik komidi putar (mungkin patut disyukuri kali ya, karena dia belum ngerti jadi belum bisa merengek-rengek minta naik hahahaha.
Ntar kalau dah ngerti, begitu ngerasain sekali naik nggak mau turun lagi deh.. bisa bangkrut emaknya, dompetnya bocor wkwkwkwkwkwk.
Cuma sayang bapaknya yang dipercaya jadi tukang foto malah ngga bikin itu foto komidi putar dan kios gula kapas juga kios-kios makanan khas pasar malam. Padahal kalau buat ike, itu yang paling menarik di pasar malam LOL.
Dan sayangnya lagi disini ngga ada kios yang jual martabak, tahu petis dan pisang molen hahaha.
Ya udahlah, kita nikmati aja apa yang ada ya…

Disini kita bisa temui kios-kios yang jual bakwan goreng dari kentang, bakpao ala Londo yang disebut “Dampfnudeln” (isinya selai atau coklat, aneh juga menurutku.
Dulu waktu pertama dengar namanya kupikir Dampfnudeln itu bakmi kukus, ternyata bakpao hahahahaha. Habis “Nudeln” itu kan artinya mie, sementara “Dampf” itu uap panas, jadi kalau digabung mestinya artinya ya bakmi kukus, lha kok keluarnya bakpao hahaha), ada sosis dan daging panggang, ada crepes, waffel, buah lapis coklat, roti baquet disemir saus bawang putih, keju, salami ataupun ham.
Ada juga yang jual salami dari binatang liar hasil buruan: contohnya rusa, kijang dan babi hutan.

Yang khas lagi adalah Glühwein (anggur panas), jadi itu jenis minuman anggur yang dicampur bumbu-bumbu herbal yang diminum panas-panas untuk menghangatkan badan di musim dingin.
Glühwein ini ada yang mengandung alkohol dan ada yang tidak. Jadi bagi yang abstain dari alkohol dan anak-anak juga tetep bisa ikut beli minuman segar penghangat badan ini.
Kalau di Indonesia mungkin semacam bandrek rasa buah kali ya, yang jelas berasa banget rempah-rempahnya.
Kalau mau beli kita mesti bayar jaminan 2 Euro untuk cangkir mug-nya, jadi kita bisa bawa cangkirnya untuk menikmati anggur panas itu dimanapun kita mau duduk.
Kalau ngga mau balikin ya tinggal bawa pulang ngga papa, karena toh cangkirnya udah dibayar sekalian. Jadi kalau misalnya turis mungkin akan dibawa pulang, karena cangkirnya cantik-cantik motifnya.
Tapi kalau orang lokal sih biasanya dibalikin, lumayan juga kan 2 Euro per cangkir.
Kalau pergi sekeluarga dan beli semua kan sayang juga. Mana dirumah kan udah punya banyak cangkir juga hahaha.
Jaminan ini penting, soalnya saking ramainya, meskipun ngakunya mau diminum ditempat, emangnya penjualnya bisa ingat siapa yang tadi udah balikin cangkir dan siapa yang belum hahaha. Jadi mending suruh bayar aja cangkirnya sekalian, ntar kalau mau duitnya balik tinggal cangkirnya aja dibalikin lagi, praktis dan nggak perlu ada ribut segala hehehe.

Biasanya si kecil BT kalau dipakein baju tebel-tebel dan diajak keluar dingin-dingin gini. Tapi kali in dia tampaknya seneng tuh. Mungkin karena bisa liat kereta salju terbangnya santa Claus, lihat lampu-lampu kelap kelip atau karena ada banyak anak-anak juga disekitarnya.

Yang jelas dia tampak hepi, itu yang penting.
So… mari kita nikmati aja foto-fotonya ya.

dig

dav

 

 

sdr

davdav

davsdrsdrsdr

sdr

 

“Original content” bisa dibaca di blog saya yang aktual di Steemit.com !

Disitu bisa diakses pula video rekaman pertunjukan kereta salju Santa Claus.

Sampai jumpa!

 

 

 

 

 

 

Teman, tolong deh jaga lidah dari pertanyaan usil tentang hal-hal yang masuk wilayah pribadi, karena itu tidak sopan …

Standard

Hari ini tepat setelah saya kirim ucapan selamat berlebaran kepada teman-teman lama tiba-tiba saya kembali mendapatkan pertanyaan macam ini:
“Maaf An, apakah kamu masih muslim?”

Tja… apakah itu penting? Ataukah barangkali, andai saya bukan muslim lagi, ucapan selamat dan “good wishes” dari saya tidak lagi punya nilai dan ngga layak lagi diterima? Apakah jika saya tdk lagi muslim, saya jadi tidak memenuhi kualifikasi sebagai teman lagi?
Lagipula… jika saya menjawab “masih” sekalipun, darimana sang penanya bisa tahu apakah saya bohong atau nggak?
Lalu andai si penanya menjawab balik begini: „Emang sih, saya mungkin nggak tahu, tapi kan kamu sendiri tahu apakah kamu bohong, juga konsekuensinya sebuah kebohongan. Tuhan juga kan tahu kalau kamu bohong.“
Aha…well said, kalau begitu, apa gunanya juga nanya?

Toh pada akhirnya cuma saya dan Tuhan yang tahu status spiritual saya bukan?
Ikhlas atau nggak dan diterima atau nggak ibadah saya juga cuma Tuhan yang tahu kan?
Jadi buat apa sih sering-sering menonjolkan status keagamaan dan ritual ibadah…?
Apakah demi mendapat pengakuan manusia lain?
Eniwei buswei … padahal apa sih artinya pengakuan manusia lain?

Jangan salah ngerti ya, saya nggak tersinggung atas pertanyaan itu kok,
karena saya menyadari bahwa bagi orang indonesia pertanyaan macam itu bukan hal yang langka alias biasa saja, karena konsep “privacy” alias “private affairs” bagi sebagian besar masyarakat Indonesia itu sepertinya hal yang sangat “asing”.

Tapi “menyadari” bukan berarti saya setuju untuk menerapkannya pada diri saya juga.

You may ask, but I also have the full right not to answer such question.
It’s not that I would mind if my social or spiritual status is being revealed, but merely because my private affairs just don’t concern you (…or anybody at all).

Jika itu sekedar “curiousity”, pertanyaan iseng, tanggapan saya adalah:

“Please, jangan pelihara lagi kebiasaan untuk kepo akan hal apapun yang sudah masuk wilayah pribadi orang.
It’s not appropriate question.
Pertanyaan soal agama, itu sebanding dengan pertanyaan akan umur orang (khususnya pada wanita), kapan punya anak atau kenapa ngga punya anak, suamimu sunat atau nggak, kapan kawin, gaji (eh serius lho, dulu sering dengar juga pertanyaan soal gaji ini, dan itu bukan karena ada topik yang sesuai seperti misalnya diskusi umum akan standar gaji profesi tertentu di daerah tertentu, melainkan emang sekedar kepo), dan semacamnya.
Pertanyaan tentang hal-hal pribadi macam itu sangat tidak sopan, terlepas dari fakta apakah yang ditanya sebenarnya punya jawaban menyenangkan atau nggak.
Tolong perhatikan itu jika kamu memang masih berminat untuk berada didalam lingkaran pertemanan dekat saya.”
Ini bukan karena saya merasa ngga punya jawaban yang membuat kalian senang… (I don’t live to get your approvement or your liking anyway…), melainkan lebih karena ini adalah soal prinsip.

Dulu ada juga teman lain yang bertanya hal yang sama dan beralasan bahwa itu karena dia ngga mau salah ketika ngasih ucapan selamat dan „good wishes“ pada saya (katakanlah: ngucapin selamat Natal, selamat berhari raya nyepi, waisak dst. pada orang yang merayakan Lebaran atau mungkin sebaliknya).
Well… let me tell you something!
Dimana letak kesalahan dalam mendoakan/mengharapkan hal-hal yang baik dan menyenangkan terjadi pada temannya?
Dimana jeleknya menyampaikan ucapan selamat berpesta dan bersuka ria dalam sebuah hari raya. Bahkan pada setiap hari raya, kita yang di Indonesia biasanya dapat libur lho. Dan saya kira, setiap hari libur itu pantas disambut dengan suka cita oleh siapapun hehehe.
Does it make sense at all to be angry or reverse, to apologize for some good wishes?
Jadi buat saya itu bukan isu.
Saya senang-senang aja menerima „good wishes“ dari teman-teman saya, apapun itu kepercayaan saya.
Kalau menerima “wishes” supaya segera “dilaknat” dan disumpahin jadi kerak “neraka”, kena “azab” dan semacamnya…
Naaaah itu baru deh beneran bikin sakit hati, ya nggak, hayooo?!?

Akan tetapi jika kamu memang merasa bahwa status spiritual saya itu jauh lebih penting daripada kepribadian saya dan cara saya memperlakukanmu sebagai manusia,
sehingga pertanyaan macam itu menjadi perlu kamu sampaikan, well…
Jika artinya kamu memang tergolong pada kaum yang menelan mentah ayat suci dengan mengabaikan akal sehat serta etika, hingga menganggap bahwa nonmuslim itu orang kafir yang bahkan dijadikan teman dekat pun sebenarnya nggak boleh… hmmm
yakinlah saya nggak akan merasa kehilangan kok kalau kamu keluar dari lingkup pertemanan saya.

Saya hanya suka berteman dekat dengan orang-orang yang juga berfikiran positif terhadap teman-temannya tanpa pandang bulu; yang berbuat baik, saling tolong dan bersikap menyenangkan tanpa memilah alias pilih-pilih status sosial juga spiritualnya.

If you’re nice to me then I’ll be nice to you, that’s the most essential law to be my friend. Period.

Hubungan saya dengan sang Pencipta itu cuma urusan saya langsung dengan DIA seorang.
Bukannya surga itu propertinya Tuhan?!?
Logika sih kayanya cuma Tuhan yang bisa kasih kita surga ya, jadi ngapain sih repot-repot mikirin
urusan spiritual orang lain hehehe.

Saya ngga membutuhkan pengakuan manusia lain apakah saya ini orang mukmin atau nggak, karena bagi saya yang punya hak prerogratif atas pengakuan dan penentuan kadar iman saya hanya Sang Pencipta itu sendiri.

Sungguh ngga disangka, hanya beberapa jam setelah saya posting ucapan selamat lebaran dan berniat ingin membersihkan jalur pertemanan dari sampah dan duri beracun seiring datangnya bulan syawal yang fitri, saya mesti membuat tulisan yang mungkin membuat jalan itu kembali penuh onak. Tapi itu sebenarnya bukanlah hal yang saya harapkan. However I just can’t help it, some people just have to drive me to do it…
Na ja, this is me and my principle— if you dislike it, just feel free to remove me from your friendlist.
I believe that if God really exist and so allmighty, then God wouldn’t be a petty personality.
I would definitely be understood.

See you next time. 🙂
And once again sincerely I wish you a happy celebration and nice moments with your loved ones.

Minal aidin walfaizin.

Semoga Ramadan kali ini benar-benar membawa hikmah bagi anda dan berhasil membuat anda menjadi manusia yang berkarakter lebih baik daripada sebelumnya 😉

Renungan kecil di Hari Kartini

Standard
Saya yakin banyak dari kita yang sering mendengar kalimat begini:
“Sia-sia amat ya sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma jadi Ibu RT dan ngurus anak doang? Punya banyak ilmu rugi amat nggak bisa dimanfaatkan, mending nggak usah sekolah aja sekalian, buang2 duit dan energi aja.”
Well, saya cuma punya satu balasan untuk ini:

>>>Sejak kapan yang namanya memiliki banyak ilmu itu merugikan dan sejak kapan pengetahuan itu tidak ada manfaatnya?
Apakah tujuan orang sekolah saat ini memang cuma untuk dapat ijazah dan buat nyari kerjaan doang? Apakah manfaat ilmu pengetahuan itu cuma bisa diukur dari banyaknya duit yang bisa dikumpulin dengan bantuannya?

Jadi bukannya lagi untuk membuat pikiran dan perspektif kita menjadi luas? <<<

Kalau memang tujuannya cuma untuk nyari ijasah, yeah…
pantas aja deh jaman sekarang ada begitu banyak orang dengan titel berderet tapi pikirannya picik, sempit kayak katak dalam tempurung dan begitu kolot serta ignoran.
Last but not least, ada ucapan satu narasumber saya untuk buku KKC yang sangat saya suka karena saya anggap sangat mengena, sehati sama saya dan saya rasa layak jadi renungan banyak orang tua khususnya kaum wanitanya, yaitu ini:

“Adakah pengasuh, pembimbing dan pendidik pribadi harian yang lebih baik lagi buat anak kita, selain ibu kandungnya sendiri yang punya kompetensi mumpuni dan berpendidikan tinggi? Lebih baik mana dengan membiarkan tumbuh kembang mereka dibawah asuhan utama dari orang bayaran yang adakalanya bahkan ijasah SMP aja belum tentu punya, apalagi hanya untuk ditukar dengan pekerjaan yang hasilnya setelah dipotong biaya bayar pengasuh belum tentu sebanding nilainya dengan pengorbanan yang diberikan ( seperti: waktu, energi, serta masa2 berharga bersama anak yang takkan terulang)?”
Well, saya disini ngga bermaksud merendahkan peranan asisten RT ataupun mereka yang tidak bersekolah tinggi, apalagi mencela mereka para wanita yang suka berkarir diluar rumah.

Not at all…
Saya cuma ingin memberikan perspektif lain bagi para wanita yang tak jarang merasa terintimidasi oleh ucapan-ucapan nyinyir macam diatas dari lingkungan sekitarnya.

Setiap kali saya melihat perseteruan antara kaum “pro-karir” dengan “ibu RT” yang begitu seru dan kadang bahkan ganas-ganas komennya, saya merasa semua itu sangatlah konyol dan seringkali argumen-argumennya juga sungguh absurd dan intinya cuma saling melecehkan saja.
Ada banyak alasan kenapa seorang wanita berkarir aktif setelah berkeluarga dan memiliki anak . Tidak sedikit yang melakukannya lebih karena tuntutan keadaan. Walaupun memang ada juga yang melulu karena ambisi, yang mana menurut saya juga bukan sesuatu yang secara prinsip pantas dianggap negatif ataupun disalahkan.
Kata siapa ambisi cuma boleh dimonopoli oleh laki-laki coba?
Dan bukankah tanpa adanya wanita pintar yang punya ambisi, kita tidak akan punya tokoh-tokoh macam Angela Merkel, Indira Gandhi, Sri Mulyani, Bu Menteri Susi, Bu Menteri Retno dst?!
Hanya saja, sampai pada titik tertentu, menurut saya pribadi kadangkala memang perlu lagi kita tanya pada diri sendiri dalam hal ini, apakah “membentuk keluarga dan memiliki anak” memang adalah pilihan yang tepat untuk hidupnya.
Bukankah kalau memang mengaku dirinya wanita independen yang mumpuni, seharusnya kita juga cukup mandiri dan berani untuk tidak membiarkan orang lain … meskipun itu keluarga sendiri … memaksakan pilihan, target, ataupun value tertentu pada kita, seperti misalnya dalam urusan ‘jodoh dan anak’, jika itu membuat hidup kita sendiri bukannya bahagia dan “content”, tapi justru malah cenderung menjadi terbebani’?!?
Sementara disaat yang sama juga menyeret individu lain: yaitu *sang partner* dan bahkan *anak-anak* yang pada dasarnya nggak pernah meminta untuk dilahirkan, jika akhirnya hanya harus menerima nasib untuk di “nomor sekian“-kan atau yang lebih parah lagi: “ditelantarkan”?!
Bagi yang bisa menjaga cukup keseimbangan, tentu lain lagi persoalannya ya …
Sebaliknya pula bagi yang kebetulah tidak memiliki peluang untuk menerapkan ilmu akademik dan keahliannya didunia profesional setelah memiliki anak, tak ada perlunya juga berkecil hati apalagi sampai merasa terintimidasi oleh nyinyiran orang kurang kerjaan.
You, as a highly educated and knowledgeable mother, are definitely the best teacher, carer and baby sitter your children could ever get.
So there is nothing to regret at all for spending so much time and effort in studying.
Ilmu pengetahuan itu ngga ada masa kedaluarsa, ngga akan basi, dan akan selalu ada manfaatnya, setidaknya jika kita memang benar-benar memahami apa intisari dari ilmu itu sendiri.
 
Disaat yang sama tak ada alasan pula bagi siapapun untuk nyinyirin para wanita yang memilih untuk menjadi “stay home Mommy“.
Emangnya kita ini siapa sih, sok tau amat dengan apa yang bikin orang lain bahagia ataupun susah?
Kalau kondisi finansial yang bersangkutan memang mengijinkan untuk bisa hidup layak dengan satu pencari nafkah aja, sementara yang bertugas nyari duit aja juga nggak komplen, lantas apa pula urusannya dengan orang lain?
Ngga semua wanita yang menjadi “stay home Mom” itu merasa ngga berguna cuma karena nggak menghasilkan duit lho, apalagi merasa ditekan oleh pasangannya.

Lagipula, kata siapa pekerjaan itu harus selalu berarti tiap hari ngantor? Itu pikiran kuno. Jaman digital begini, yang namanya “home office” itu bukan hal yang luar biasa lho.
Dan kata siapa pula bahwa “sukses dan performance” itu cuma bisa dinilai dari banyaknya uang ataupun piagam/piala yang dikoleksi?
Mengutip kata suami saya: “Dein Wert hat nichts mit Geld bzw. Arbeit zu tun”.
(Nilai dirimu tidak ada hubungannya dengan duit ataupun pekerjaan).
Karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk memiliki “self-esteem” yang rendah hanya karena ngga menyetor duit ke kas rumah tangga, jika memang keadaan finansial tidak memaksa kita untuk bekerja.
Orang hidup ngga harus mendongak terus kan ya?!
Kalau hobinya mendongak ketinggian melulu sih, mau sampe kiamat juga pasti akan selalu ada yang kurang lah hehehe. Jadi, sepanjang kondisi finansial sudah bisa dibilang “cukup”, mestinya status ‘bekerja’ ataupun ‘tidak bekerja’ tidak perlu menjadi isu, apalagi sampai dibiarkan menjadi beban pikiran, seramai dan semeriah apapun omongan orang disekeliling kita.
Aktivitas dan kesibukan untuk mengisi waktu luang  (yang berlebihan) itu kan nggak selalu harus diwujudkan dengan karir yang membawa duit.

Jadi kesimpulannya:
“Jika haus akan ilmu, belajar sajalah terus sebanyak yang diinginkan, baik itu di bangku sekolah ataupun diluar lingkungan akademis.
Ilmu bisa diperoleh dari mana saja dan belajar itu nggak mengenal umur, status ataupun gender.
Tak perlu pula memusingkan apakah nantinya ilmu yang didapat itu semuanya bakal menghasilkan duit atau nggak, karena orang yang benar-benar berilmu (bukan sekedar pengoleksi ijasah lho), itu tidak akan pernah merugi.”
Sampai jumpa lagi lain kali 😉

Apa sih intisari sholat, puasa, sedekah dst itu …?

Standard
16730429_10210228344678486_5139045341366644636_n.jpg

source: anonymous (found in Facebook site)

Tema kali ini mungkin rada sensitif, bagi anda yang nggak suka bercermin, baperan dan sensian … silahkan lewatkan saja.
Saya ngga bertanggungjawab kalau anda kena darah tinggi dan endingnya jadi jantungan gara-gara baca tulisan saya. 😀
Anda-anda yang mengaku dirinya muslim paling sejati, khususnya kalian yang suka menuduh muslim lain yang beda tafsir itu tersesat dan butuh “hadiyah” … 😀
saya ingin bertanya: apakah anda semua benar-benar mengerti apa sih sebenarnya intisari dan pesan yang dibawa oleh rukun islam: syahadat, sholat, puasa, zakat/sedekah, haji?

Hasil observasi saya sih, sepertinya banyak umat islam jaman sekarang yang tidak lagi belajar pada ustad yang memahami hal itu, melainkan lebih suka menghadiri ceramah ustad-ustad instant yang hanya mengajari cara menjalankan “RITUAL” nya doang.

Saya sendiri bukan ustad, bukan pula ahli agama … tapi saya masih ingat benar, jaman saya kecil dulu … guru agama saya sih ngajarinnya begini ini:

1. Syahadat itu pengakuan atas sang pencipta dan rasul, menghindari syirik.
Tapi realita yang ada saat ini, yang ditinggikan seolah bukan sang Tuhan dan yang diikuti bukanlah akhlak sang Rasul, melainkan “ulama”.
Padahal ulama itu bukan orang suci dan sama saja seperti manusia lainnya, tempatnya salah dan alpa. Dimata umat sekarang, ulama yang omongannya besar dan pinter silat lidah bicara berapi-api, sok dan justru suka “riya” plus hobi mengkafir-kafirkan orang lain yang dianggap hebat. Yang humble dan berusaha mencontoh akhlak nabi itu justru yang dipandang sesat.
Jadi bukannya menjadikan dirinya layak jadi tauladan bagi orang disekitarnya supaya terpikat dan jatuh cinta pada ajaran yang dia bawa, tapi yang ada nih … bahkan yang udah muslim malah dikafir-kafirkan juga cuma karena tafsir islam-nya beda darinya.
By the way … tidakkah semua ajaran agama itu sebuah “Tafsir”?
Kenapa pula disebut “ilmu Tafsir” coba?
Tidakkah dari arti kata literal nya aja sudah jelas terlihat?
Semuanya sekedar “intrepretasi”, dan sudah wajar sewajar-wajarnya kalau “intrepretasi” itu bisa berbeda antara satu kepala dengan lainnya.
Dan kita bukanlah pencipta Alkitab ataupun Hadist.
Jika Alkitab itu buatan Tuhan, maka hanya Tuhan-lah satu-satunya yang tahu benar apa yang dia maksudkan dengan setiap yang tertulis disana, kita semua cuma “MENAFSIRKAN”, jadi mbok ya jangan kurang ajar dan sok tahu gitu lho.
Or do you think you are “God”???
Yang tahu pasti itu ya cuma yang bikin gitu lhooooo, who are you to claim to know the best than everyone else? 

2. Sholat itu ngajarin kebersihan dan disiplin.
Realita? Kayanya saya ngga perlu tunjukkan satu-satu dan ngga usah nyari semut dikejauhan sana, kita lihat saja Indonesia: negara berpenduduk muslim terbesar didunia. Apakah indonesia bersih? Apakah penduduknya bisa dibilang disiplin dengan sendirinya?
Hmmm …
Kalau dibandingkan dengan negara kafir yang suka dihujat itu, kira-kira lebih bersih dan disiplin mana?
So, what has their “sholat” taught them? Has it given them any effect at all?

Well, obviously not … Cuma sebatas ritual doang. Oberflächlich.

 

3. Puasa.
Katanya untuk mengajari umat bersabar dan mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan empati bagi orang yang lebih nggak beruntung daripada kita.
Realita???
Setiap saatnya puasa tiba, boro-boro punya empati bagi orang yang nggak beruntung secara umum … empati bagi orang miskin seagama yang cuma bisa ngais rejeki dari jualan makanan aja nggak ada …
Tega-teganya mengobrak abrik lapak mereka (tanpa ngasih kompensasi apapun pula).
Menahan hawa nafsunya cuma sebatas nafsu seks dan nafsu makan doang.
Amarah dimanjakan, kebencian tetap dipupuk, pintu maaf tertutup rapat, tenggang rasa nggak ada, egoisme dipelihara, sifat agresif, anarkis dan kasar diutamakan.
Masih pantaskah disebut ujian hawa nafsu jika disetiap kesempatan selalu menuntut seluruh potensial “ujian” di blokir, yang nggak wajib puasa pun dipaksa ikut puasa juga, cuma supaya dirinya nggak perlu berjuang lagi terlalu berat menahan “nafsu” nya, 😀
minta dimanjakan dengan privilege “boleh malas-malasan” di lingkungan kerja dan sekolah cuma dengan alasan “kan lagi puasa”.
Menjadi mayoritas bukannya berusaha berperan menjadi pelindung pihak yang lemah, tapi malah menjadi penindas.
Malah lebih buruk daripada penjajah asing itu mah, lha wong sama saudara sebangsa setanah air aja tega menindas gitu.
Katanya rahmat bagi seluruh semesta, tapi kok kalah sama bangsa yang dijuluki kafir ya.
Yang disebut negara kafir itu masih mau menampung, ngasih makan dan tempat tinggal buat muslim yang merana lho.
Sementara yang menyebut dirinya pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia, lha kok malah begitu banyak yang jahat pada manusia dan makhluk lain?
Ngakunya aja muslim yang takwa, tapi kok kepada sesama muslim aja bisa jahat, apalagi pada umat dan makhluk lain?!?
So … akhirnya, apa coba dong hasil puasanya? Bawa hikmah nggak?
Kalau yang “attitude” nya begitu sih, kayaknya lebih logis dan masuk akal kalau jawabannya adalah …:

“NONE” … “NOTHING”

 

4. Zakat/sedekah
Tidakkah itu juga bertujuan untuk ber-empati pada orang yang nggak beruntung? Berapa banyak yang ikhlas melakukan itu tanpa memamerkannya pada dunia? Yang melakukannya benar-benar hanya untuk mengajari diri jadi umat yang berhati seluas samudera, nggak serakah dan nggak dengki pada orang lain, dan bukannya sekedar untuk mencari PENGAKUAN dari publik betapa ber-taqwa-nya dia?
Ketika orang benar-benar tergolong orang yang taqwa, kaya tapi tetap murah hati dan humble, itu akan terlihat dengan sendirinya tanpa harus sengaja ditunjukkan pada dunia lho …
Dan harusnya orang ibadah itu bukannya untuk membersihkan dirinya sendiri dan meningkatkan kualitas spiritualnya sendiri agar bisa merasa dekat pada sang Khalik?
Kalau mereka ini memang percaya bahwa Tuhan lebih suka umat yang sok merasa paling bertaqwa dan lebih berhak masuk sorga daripada orang lain
(ah ya, alangkah kurang ajarnya, mendahului kehendak Tuhan gitu lho, sok tahu isi hati dan isi kepala sang Tuhan ^_^ ).
Then actually this is a real Blasphemy to God … karena Tuhan seolah digambarkan sebagai sosok yang picik, diskriminatif dan dangkal.

Ataukah jangan-jangan, sekarang tujuan ibadah itu sudah berubah dan yang utama adalah demi mendapatkan PENGAKUAN publik?

5. Ibadah haji itu wajibnya cuma sekali, dan hanya wajib bagi yang benar-benar mampu.. ngga cuma secara finansial tapi juga jiwa dan raganya benar2 mampu.
Dan sepertinya sih hikmahnya adalah supaya manusia bisa bercermin pada hidupnya sendiri, apakah sejauh ini sudah jadi muslim yang baik, yang bisa jadi tauladan bagi saudara-saudaranya?
Belajar untuk menyadari bahwa tak peduli berapa banyak gelar jabatan dan duit yang dimiliki, berada dilautan manusia di bawah terik matahari itu semuanya terlihat sama, ngga ada istimewanya antara 1 manusia dengan yang lainnya.

Ketika mati semuanya cuma bawa badan dan paling banter juga sekedar secarik kain. MANUSIA semua sama dimata sang Khalik, jadi jangan sok.
Tapi realita???
Ibadah haji jaman sekarang lebih banyak malah cuma kayak objek wisata,
yang cuma bisa menunjukkan bahwa yang bersangkutan bisa bayar ongkosnya.
Benarkah pelakunya sudah sungguh mampu di lihat di segala segi?
Benar-benar mampu secara finansial aja belum tentu.
Betapa banyak yang masa depan anak-anaknya saja belum terjamin, banyak anggota keluarga dibawah tanggung jawabnya yang hidupnya masih sengsara, tapi sudah ngotot ber-haji.
Betapa banyak yang bahkan berani ber-haji pake duit nggak halal, seolah kalau dipake haji trus jadi halal begitu …
Betapa banyak pula yang ngotot mendapat jatah bisa berhaji berkali-kali tanpa peduli bahwa masih banyak muslim lainnya yang ngantri dapat jatah kuota haji dan belum pernah sekalipun merasakan.
Betapa banyak orang yang sepulangnya dari haji bukannya jadi muslim yang jauh lebih baik dari sebelumnya tapi sekedar pengen dapat embel-embel sebutan “Haji/Hajah” dan bisa ngeklaim shaf sholat di deretan depan. 😀
Boro-boro jadi tauladan umat yang baik, humble, sabar, murah hati penuh maaf, kalau ada orang lupa nyebut dia dengan “titel”nya aja bisa tersinggung berat. 😀 😀 😀
Ketika kita melihat kehancuran, kerusakan dan ketertinggalan di wilayah-wilayah dominan muslim, alangkah bagusnya kalau untuk sesaat kita tekan sejenak hasrat untuk mencari kambing hitam dan melempar kesalahan kepada pihak lain dulu …
tidakkah lebih berguna jika kita bercermin kenapa itu semua bisa terjadi?
Karena kalau kita sendiri solid dan menjalani hidup dengan baik di negara kita sendiri, saling mendukung sesama saudara sebangsa, punya kasih tanpa pilah-pilah, bisa menentukan prioritas dengan benar … bahwa dalam kehidupan bermasyarakat itu yang terbaik adalah pencapaian “mutual welfare and well being of everyone” di negara tersebut, dan bukan hanya bagi golongan tertentu saja …
Jika itu yang jadi prioritas, maka tidak akan ada pihak luar manapun yang bisa merusak tatanan di negara tersebut.Politik adudomba hanya akan berfungsi kalau yang diadu domba mau aja dijadikan domba bodoh yang suka diadu. 😀
Kenapa dengan ajaran agama yang katanya adiluhung dan terbaik didunia, agama yang merupakan Rahmat bagi semesta alam, tapi kok negara dominan muslim justru lebih banyak yang bukannya jadi makmur sejahtera aman tenteram bersih teratur, tapi justru sengsara dan mengalami perang berkepanjangan?!?
Boro-boro jadi rahmat seluruh alam semesta, menjadi rahmat bagi satu biji kota aja susyeh banget kayanya.
Ngeklaim menjadi Rahmat bagi semesta tapi nggak bisa memberi kasih kepada seluruh isi semesta tanpa pandang bulu,
tapi yang ada malah menciptakan kesan Tuhan itu rasis dan diskriminatif, menilai umatnya bukan lagi dari akhlak dan amalannya tapi cuma sekedar dari “cara mereka menjalankan ritual, berpakaian dan asal-usul serta latar belakang sosialnya” doang.
Ketika anda sendiri tergolong orang yang suka mengkotak-kotakkan manusia … maka anda adalah orang yang paling tidak pantas untuk berkhotbah bahwa ideologi anda itu adalah yang paling layak untuk disebut pembawa rahmat bagi SELURUH semesta.

Ambillah cermin dulu.

IRONIS rasanya, jika orang yang berkata bahwa dia memperjuangkan:
“The borderless nations, the world is for everyone, passport is only a part of bureucracy, only a piece of paper and shouldn’t separate humans, block their life and talent, now it’s time for GLOBALISATION bla bla bla …”

Jika disaat yang sama, dia justru berkampanye dan berprinsip bahwa “haram bagi umat islam untuk nyoblos non muslim dalam pemilu/pilkada, yang nyoblos itu berarti bukan muslim sejati” >>> dan itu disebuah negara yang memakai sistem demokrasi lho, bukannya Monarki. Monarki konstitusional aja nggak, apalagi monarki berasas agama <<<.

Is the statement: “borderless nation and the world for everyone, globalisation”
only a beautiful tagline of an advertisement for own special purpose and actually has no meaning at all?

 Schade echt schade …
Katanya sih berilmu, tapi kok mencampur adukkan antara “Hablumminallah dengan Hablumminannas.”
Banyak diantaranya berpendidikan akademis tinggi, tapi tidak bisa membedakan antara “Civil Servant” dengan “Otokrat/Raja”.
Dalam
 negara bersistem demokrasi, even kepala negara itu adalah “Pelayan Rakyat” yang jadi bos itu Rakyat, dan bukannya sang pejabat terpilih.
Jadi, bahkan andai kita anggap bahwa tafsir isi QS. Al Maidah seperti yang para islamis konservatif katakan itu benar, maka itu tetaplah nggak relevan untuk diterapkan di sebuah negara bersistem “Demokrasi”, karena konsep “pemimpin jalannya pemerintahan” yang dipakai tidaklah sama.
Kalau yang berprinsip ngawur dan bisa dicuci otak oleh ustad yang di“pakai” oleh politisi tertentu itu adalah orang bodoh awam tak berpendidikan sih masih masuk akal ya,
tapi kalau orang yang katanya berpendidikan tinggi dan punya integritas juga ikut-ikutan begitu, kok rasanya sayang banget ya … ironis sekali gitu …
Ilmunya diumpetin kemana? Ataukah integritas-nya sudah tergadai pula hingga sang “ilmu” disingkirkan saja begitu?
Sayang oh sayang …

Saya sih juga seneng-seneng aja milih kandidat muslim kalau emang nyata-nyata lebih kompeten dan janji-janjinya itu tergolong masuk akal, cukup “feasible”, nggak cuma bisa “umuk”.
Kalau cuma bilang “produk saya jaminan mutu dan pasti nomor satu”, setiap iklan mah pasti akan begitu lah.
Tapi kalau orang mau pake otak dengan baik, mestinya tahu dong: mana iklan yang kira-kira berpotensi untuk terwujud hasilnya dan mana yang cuma “nggedebus”.
Tapi kalau kandidat muslim yang ada tidak cukup menjanjikan, lah yo mosok ngotot dipilih juga cuma sekedar karena dia “muslim”?
Kalau kayak gitu, kok masih bisa-bisanya ngarepin masyarakat bisa punya masa depan cerah dan ada perbaikan situasi kesejahteraan yang signifikan, lah emangnya sihir?

 

Well … saya tidak akan minta maaf kalau ada yang tersinggung, karena EXACTLY anda yang merasa tersinggung itulah yang menjadi cerminan dari apa yang saya narasikan diatas.
Bagi yang tidak merasa begitu, sudah pasti ngga perlu tersinggung.

Lah apanya yang perlu di tersinggungkan, kalau dia bukan termasuk umat muslim yang begitu kan LOL ?!?
Ketika seseorang merasa tersinggung saat mendengar kritikan yang tidak mengandung unsur hinaan ataupun kata-kata kasar yang nggak relevan,
maka tidak lain tak bukan sebabnya hanyalah karena biasanya justru “kritikan itu tepat sasaran”, spot on gitu lhooo wkwkwkwkwk.
Orang yang punya akal sehat mestinya bisa menilai sebuah kritik dari sudut pandang objektif, dan ngga ambil pusing “siapa yang ngomong”, karena yang lebih substansial adalah isi omongannya masuk akal nggak, dan bukannya “siapa yang ngomong” hehehe.

Sementara disini dulu ocehan saya …
see you next time …
semoga aja setelah kita sudah sempat bercermin rame-rame dengan semestinya
 hehehe

Teman bukan sodara bukan, tapi cerewet, kepo dan usil…

Standard

Hari ini pas nge-brunch aku minum air kelapa muda lalu ingat almarhum nenekku yang dulu ngomel waktu aku kecil sampai gadis suka manjat kelapa gading dibelakang rumah karena pengen minum airnya yang manis dan segar. Aku cerita kalau nenekku selalu nyeletuk: “Anak gadis pecicilan, nanti ngga ada yang mau nikahin kamu lho.” (…nobody would want to marry you!“)
Suamiku ngangkat alis nyeletuk: “And that kind of statement would definitely only be said to a girl, isn’t it? Why is it always only about marrying issue? Is the aim of life for women really only to get a man and be a baby factory? Ok, let’s say it’s the core issue of evolution, but if we really would judge it from this point of view, then why are the men excluded here? Why are such a remark never said to boys?, kemudian setelah menenggak tehnya kembali melanjutkan dengan ini,“Well, apart from that… it is obvious now that I’m not just a *Nobody*. I married you  😀 “(narsisnya kumat hehehe).

Gara-gara ini aku jadi teringat pada insiden beberapa waktu lalu ketika Ira Koesno menghebohkan jagad virtual dengan penampilan “excellent-nya dalam Debat Pilkada Jakarta dan kecantikannya yang tak memudar sedikitpun diusianya yang mulai mendekati setengah abad. Kenapa aku jadi geregetan?
Karena diluar hebohnyaa netizens yang terpesona dan kagum baik pada kecantikannya dan prestasinya, ternyata ada yang nggak kalah mengundang berita: “statusnya yang masih single”. Dan komentar-komentar tentang itu sungguh sangat menyakitkan hati, nggak cuma bagi si target “bullying” tapi bagi setiap wanita yang masih punya pikiran waras sebenarnya sih.

Ya… saya sungguh heran betapa sukanya orang-orang di negeriku ini mencari-cari sisi negatif dari seseorang bahkan meskipun ada begitu banyak hal positif yang sebenarnya ada pada dirinya. Betapa pula sukanya sok kasih petuah sama orang dalam hal yang sebenarnya tergolong urusan pribadi seperti: pilihan hidup, jodoh dan agama. Padahal mereka itu statusnya bahkan teman aja kadang bukan, sodara pun bukan.
Andai saja mereka ini mau ngaca, kira-kira dirinya suka nggak kalau ada orang yang sama sekali bukan siapa-siapanya ngasih petuah panjang lebar tentang urusan pribadinya, tanpa diminta. Ini yang bersangkutan (yang dikuliahi) sama sekali ngga lagi dalam posisi curhat dan minta dikasih saran lho ya. Mungkin ada yang memang sedang butuh saran, tapi sama sekali ngga ada hubungannya dengan “isi kuliah” nya itu, gagal fokus deh ceritanya. Yang ditanya A jawabannya X,Y,Z…ngga sesuai dengan isi pertanyaan, melencengnya jauuuuh banget. Nanya gimana cara urus dokumen nikah A,B dan C, jawabannya tahu-tahu “jangan nikah dengan yang begini atau begitu…dosa, nggak sah dsb dst… Lah emangnya yang nanya dosa atau nggaknya itu siapaaaaa coba?
Emangnya hanya dengan embel-embel:”jangan tersinggung ya…saya ngga bermaksud SARA…dst dsb”, lantas sudah cukup untuk membuat kekurangajaran anda bisa dimaklumi begitu?
What a ridiculous remark…
Emangnya hanya dengan embel-embel kata pengantar begitu lantas membuat “statement yang “rasis” trus bisa jadi berubah nggak rasis begitu?
Apakah hanya dengan kasih embel-embel begitu lantas kalimat yang nyakitin bisa berubah kesan menjadi tawar begitu?
Coba aja kita praktekkan yang sebaliknya, kira-kira enak nggak rasanya…?
Terlepas dari apapun topik yang dibahas, intinya cuma satu: “ikut campur urusan pribadi orang, dan ngasih kuliah panjang lebar soal isu pribadi orang lain tanpa diminta, apalagi ngomentari soal agama, moral dan akhlak segala, itu artinya cuma ini:
TIDAK SOPAN dan TIDAK PUNYA TATA KRAMA.

Contoh lain ya insiden yang menimpa Ira Koesno kemarin itu…
ketika orang menyatakan kekagumannya sama dia, eh adaaaa aja yang mengejeknya macam-macam hanya karena dia belum menikah…seolah-olah “MENIKAH” itu adalah sebuah PRESTASI yang membanggakan dan tujuan hidup yang terbaik bagi setiap orang.
Hah… kalau sekedar nyari laki-laki untuk diajak menikah doang mah… gampaaang lagi.
Semua orang juga bisa lah… tentu aja dengan catatan, ngga usah pake kriteria, pokoknya asal bisa bercinta dan bikin anak gitu…
Ngga usah pula nyari yang bertanggung jawab segala, yang penting “Menikah” kan, nggak jadi perawan tua kan?
Gampaaaaaaang. Apalagi Ira cantik, pinter dan banyak duit pula… laki-laki mana ngga mau sama dia, asal ngga perlu memenuhi kualifikasi apapun sih, yang penting laki-laki dan bersedia menikahi kan?? Biar dia ngga perlu berstatus “perawan nggak laku begitu?”

Tuduhannya macam-macam deh:
-ada yang bilang “mungkin dia merasa paling sempurna, nyarinya anak raja” segala.
Heh, anda ini siapa sok tau amat. Kenal juga nggak…
-ada pula yang statusnya perempuan bisa-bisanya ngomong: “bohong kalau sendiri itu bisa happy, emangnya tinggal di hutan?”
Eh mbak, hanya karena situ hepi cuma karena sekedar ada “pejantan” yang mau menikahi situ dan ngasih banyak anak doang, nggak lantas berarti semua wanita juga bakal hepi hanya karena bisa nemu “anybody” asal berkelamin “laki-laki” dan burungnya bisa “berdiri” yang mau ngelamar ya mbak…
Jangan samain standar situ dengan standar semua orang, jangan sok yakin pula kalau tujuan hidup situ dengan tujuan hidup semua orang itu pasti sama lageeeee…
Kalau kualitas dirinya cuma mampu untuk “handle” barang pasaran, ya emang nggak logis kalau mau minta yang kualitas “premium” dong.
Tapi masak iya yang kualitas dirinya tergolong “premium” harus turun standar cuma biar bisa kawin yaaaa? Ada sih emang yang mau…tapi hanya karena ada satu dua perempuan yang mau gara-gara takut jadi bahan gosip, nggak lantas berarti yang lainnya juga harus mau pula kaaaaan.
Saya aja ogah membiarkan hidup dan kebahagiaan saya di kontrol oleh “gosip” dan orang-orang kepo model-model kayak anda begitu. Apalagi Ira Koesno wkwkwkkwk.

The biggest mistake a woman could make regarding this issue is: “If she gets married just for the sake of getting married. Getting married it self is not the problem, but if one really doesn’t want to get married, then one shouldn’t compromise at all. Getting married is not an obligation to fulfil for our parents. In the end, we’re the one that has to live our life, not them, let alone those strangers out there.

-ada pula yang bilang anak dan suami itu bahagianya 1000 kali dibanding materi, udah mau setengah abad..lekaslah menikah keburu tua…Kasihan siapa yang mau nikahin ayooo.
Hmmm… yang kasihan itu justru orang-orang model anda begini deh.
Tahu nggak kenapa banyak wanita asia yang usia juga belum ada 30 udah “ngelomprot” sementara yang single dan usia udah setengah abad masih kinclong?
Itu karena yang pada “ngelomprot” itu dulunya nyari suaminya asal-asalan aja yang penting nikah hingga akhirnya terperangkap mesti ngabisin umur sama laki-laki kayak begini ini.
Yang single dan tetep kinclong hidupnya bebas dari rongrongan suami kualitas kampret macam anda. 😀
Daripada dapat yang model begini, hidup sendiri jelas lebih bahagia, bebas stress, makanya jadi awet muda hehehehe.
Wanita yang kepalanya punya isi itu berdandan dan merawat dirinya bukan sekedar untuk menyenangkan laki-laki. That’s totally wrong. Mereka merawat diri dan berdandan karena mereka ingin merasa cantik untuk dirinya sendiri, karena dia merasa senang dan puas ketika bercermin dan melihat daya tariknya sendiri.
Sedang untuk pasangan hidup, yang kami cari adalah pria yang akan tetap membuat kami merasa menjadi wanita paling cantik dan terbaik kualitasnya dimatanya, baik kami ini berdandan atau nggak, melayaninya dengan pengabdian sampai kayak orang yang dibayar ataupun nggak.
Jadi kami ngga perlu setiap saat was-was bakal dicampakkan begitu aja hanya karena udah ada keriput di muka, dan ngga perlu pula memborong segala jenis produk “sari rapet” dan pergi ke dukun-dukun koleganya “mak Erot” karena takut ditinggal nyari perawan lagi.
Buat apa nikah cepat-cepat kalau baru juga masa bulan madu lewat udah harus diliputi kekhawatiran tiap kali suaminya dapat teman baru berstatus “cewek”, dan harus selalu mencurigai setiap perempuan yang kinclong dikit.
Gitu dibilang nikah dan beranak itu selalu menjamin hepi…lebih hepi daripada single?
Kalau yang ngantri cuma yang kelas begituan mah saya bahkan berani jamin lebih hepi jadi perawan tua wkwkwkwkwk.
Kecuali memang perempuannya itu ngga punya kemampuan lain dalam hidup kecuali “macak, masak dan manak” doang sih… hehehe.
-ada yang bilang udah expired segala, ngga subur lagi… well… kalau memang pengennya cuma bisa beranak… walaaah… ngga usah nikah juga bisa lagi bikin anak wkwkwkkwk, dan dijamin Ira ngga bakal kesulitan ngasih makan anak 10 biji sekalipun biarpun ngga punya suami hahaha.

Dan masih banyak lagi deh… nggilani pokoknya dah…
Tapi intinya sebenarnya cuma satu…
WHO ARE YOU people??? Who do you think you are?
Siapa yang ngasih situ hak untuk menilai-nilai hidup orang?
Kalaupun ada orang yang setidaknya punya “relevansi” untuk ngasih opini terhadap seseorang dalam hal pribadi kaya gini, itu cuma “Orang Tua”, “Saudara” atau setidaknya “sahabat”, bukan “completely strangers” gini.
Dan “ke-kepo-an” begini ini ngga lantas jadi representasi orang nggak berpendidikan doang lho., sama sekali ngga mencerminkan status sosial lho.
Saya ini orang kampung asalnya, ortu saya nggak berpendidikan tinggi, tapi mereka tahu tuh menghargai privasi.
Orang yang dari dulu suka sok kepo begini itu justru bener-bener orang yang sama sekali asing buat saya, teman dekat bukan sodara juga bukan.
Ortu saya, sodara-sodara dan teman dekat saya… justru sama sekali ngga ada yang ceriwis dan kepo sampai kayak begini ini.
Meskipun saya tahu kalau ortu pasti ada harapan punya cucu pula, tapi sepanjang 7 tahun terakhir pernikahan saya, baru sekali ibuku menyinggung soal anak, itu baru lebaran tahun lalu. Dan gara-garanya juga karena dalam percakapan tiba-tiba ada topik yang relevan, jadi beliau pun ada “kesempatan” untuk menyinggung soal itu.
Itupun tidak berupa tuntutan tapi lebih sekedar ungkapan rasa khawatir, apakah semuanya baik-baik saja. Karena tipikal orang asia khawatir “suami” bakal nyari bini baru kalau nggak dikasih anak.
Dan jawaban saya pun singkat saja: “Ngga usah khawatir macam-macam. Suamiku adalah tipe pria yang cuma akan suka dan sayang dengan “anaknya” hanya karena itu adalah “anak saya”, dan bukannya tipe pria yang suka dan sayang sama “saya” hanya karena saya adalah “ibu dari anaknya”. Jadi cinta dan sayangnya sama saya ngga tergantung dari eksistensi anak dalam hubungan kami.
Jika sampai hubungan kami berakhir, yang jelas itu bukan karena faktor “anak”.
Sedang dari sisi aku sendiri, ibu cuma perlu tahu: bahwa dari sejak remaja dulu keinginan saya adalah mencari suami yang tidak memandang perempuan sekedar sebagai teman bercinta, pengelola rumah tangga dan pabrik anak saja.
I don’t wish to marry a man who against the idea of having kids at all for all reason, but neither do I want a man who desperately want kids so that my existence has no meaning to him at all.”
Dan ibuku pun tidak bicara lebih jauh lagi.
So…. ini yang jabatannya ibu kandung aja nggak cerewet… ini orang yang bukan siapa-siapa pula sok ikut campur amat. Nggak tahu malu dan nggak punya sopan santun amat ya.
Setiap wanita punya kriteria yang berbeda-beda dalam memilih pasangan hidup, dan kompromi serta menentukan prioritas memang dibutuhkan untuk itu, tapi nggak lantas berarti kita harus banting harga dengan drastis, kasih diskon besar-besaran sampai nyaris gratis cuma demi status pernah “menikah” doang.
I’m okay with your criterias, whatever they are… (i don’t care whether it’s shallow or high) but please deh… that’s only yours, but not mine…and not always mean the criterias of every single woman on this earth either.
Silahkan jalani hidup sesuai standar nilai kamu, tapi jangan cerewetin orang lain dan jangan gunakan standar pribadi kamu untuk menilai hidup orang lain karena itu ngga masuk akal dan nggak sopan.
Apalagi sampai menyuruh orang lain untuk juga menerapkannya, karena kalau sudah sampai pada tahap ini, namanya sudah bukan lagi “ketidak sopanan dan tidak adanya tata krama”, melainkan sudah merupakan “Pelanggaran Hak Asasi”.
Kebahagiaan itu adalah hal yang sifatnya sangat personal, cuma yang bersangkutan yang bisa menilainya, bukan orang lain.

Kriteria dalam milih pasangan hidup yang rasional

Standard

Disini saya ngga bermaksud untuk menjadi ahli dalam percintaan ya. 😀
And this is a subjective opinion from me anyway… jadi bisa dibilang itu kriteria utama saya ketika nyari suami hehehehehe.
Ini juga nggak lantas berarti sudah jadi kunci bahwa pernikahan bakal langgeng, karena kelanggengan sebuah hubungan itu melibatkan banyak sekali faktor yang bagi setiap pasangan akan berbeda kasusnya.
Hanya saja, jika arti pentingnya faktor-faktor berikut ini aja kita udah ngga bisa memahami, saya rasa sih potensi kegagalan akan meningkat lebih tajam:

1. Kamu salah pilih suami kalau kamu menikah dengan target agar dia suatu saat berubah menjadi sosok ideal yang kamu impikan. Ini adalah kesalahan fatal. Never marry potential. Kalau lu ngga bisa cukup hepi dengan karakteristik yang dia miliki saat ini, mending balik kanan aja. Masih banyak ikan dilaut. Ini termasuk soal perbedaan kepercayaan ataupun mungkin ketaatannya dalam beribadah, watak, kebiasaan juga lho.
Watak itu bawaan orok, sementara kebiasaan itu…biarpun memang ada potensial untuk bisa dipengaruhi tapi garansi sukses ngga pernah ada karena mungkin sudah terlanjur berurat berakar dari kecil. Spiritualitas/agama?
Ini yang jauh lebih fatal. Kalau orang dasarnya emang nggak percaya, biarpun diancam dengan pedang dileher juga paling banter kalau ketakutan cuma mulutnya yang akan patuh, tapi apakah hati dan otak bisa dipaksa percaya?
Itu harapan yang konyol. Gedanken sind frei=thoughts are free.
Mungkin aja emang pada sekian persen kasus ada yang bisa berubah haluan, tapi garansi untuk itu tidak ada.
Kalau emang hatinya ngga bisa nerima sepenuhnya bahwa pasangannya tidak seiman, lebih baik nyari yang lain aja. Jangan menipu diri sendiri, jangan memaksakan diri untuk menjadi orang “toleran” kalau dirimu memang aslinya nggak cukup “toleran” untuk benar-benar bisa menghormati dan menerima perbedaan.
Jangan gunakan “api asmara yang sedang membara” sebagai senjata untuk “blackmail” calon kamu.
Kalau kamu bilang: “Kalau dia memang cukup besar mencintaiku, maka dia akan rela berkorban dong….” Hmmm apakah itu artinya cinta kamu pada dia nggak cukup besar? Kok cuma dia yang harus berkorban? Kalau kamu yang diminta untuk berkorban hal yang sama mau nggak kira-kira?
Jadi jujur aja deh pada diri sendiri. Kalau nggak, suatu saat kamu bisa menyesal… dan kalau penyesalan itu datang ketika anak-anak sudah ada, alangkah kasihannya mereka.

2. Karakter itu lebih penting dari sekedar perasaan ada “butterfly fluttering in your stomach”.
Chemistry itu emang yang bikin naksir, tapi yang bisa bikin rasa suka dan nyaman dengannya itu bisa tahan lama adalah kecocokan karakternya dengan kita. Menengok poin pertama kembali, ketika kita hidup bersama seseorang, kita akan saling mempengaruhi…jadi ngga cuma kita yang bisa membawa pengaruh pada pasangan, tapi yang sebaliknya juga akan terjadi.
Karena itu, tanya dulu pada diri sendiri, apakah kita siap dengan resiko bahwa kita ternyata lebih terbawa karakter pasangan kita daripada sebaliknya. Apakah kita siap jika anak-anak kita nanti ternyata lebih seperti pasangan kita daripada mengikuti kita? Kalau jawabannya “NO”, ya balik kanan aja lah.

3. Kita tidak bisa mendapatkan semuanya dalam hidup. Kompromi itu perlu.
Tapi untuk menentukan apakah kita bisa bertahan lama hidup dengan orang yang dulunya benar-benar asing bagi kita pada dasarnya yang penting cuma ini: adanya ketertarikan, some mutual interest (ngga harus semua sama ya, tp setidaknya ada yang sama hingga ada aktivitas yang bisa dilakukan bersama-sama tanpa salah satu bosan. Sementara pada aspek yang tidak sama, jadi tetap ada “space” untuk saling memberikan kebebasan menikmatinya sendiri tanpa salah satu merasa teracuhkan/terabaikan), nilai-nilai hidup yang dianut kurang lebih juga kompatibel.
Jangan paksain hidup dengan orang yang “standard value” dalam hidupnya berbeda drastis dengan anda cuma karena saat ini sedang berbunga-bunga hatinya karena si dia.
Suatu saat nanti bisa nyesel lho.
Suami/istri itu ngga sama dengan sekedar teman, kita harus hidup bareng dengan dia, setiap hari lho. Kalau teman mah, begitu ketauan ngga cocok tinggal cari teman baru lagi yang lain. Sedih dan kecewa sih iya, tapi kan konsekuensinya nggak segede kalau kita nikah, punya anak lalu cerai.

4. Apakah kita cukup merasa nyaman menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura bersamanya? Apakah kita bisa bercerita tentang nyaris tentang semua hal padanya, bahkan hal-hal yang biasanya membuat kita merasa rapuh atau malu jika orang lain tahu? Kalau kita merasa harus selalu ekstra berhati-hati SETIAP kali ngomong karena takut menyinggung pasangan, hingga kita sampai harus mengorbankan integritas dan jati diri sendiri, takut mengekspresikan perasaan dan pendapat kita secara terbuka… Hmmm artinya dalam hubungan itu ada yang nggak beres. Emangnya mau hidup selamanya seperti itu? Bisakah bahagia dengan kondisi begitu meskipun dia sangat cakep, kaya raya dan keliatannya benar-benar tergila-gila sama kita saat ini hingga apapun yang kita mau diturutin? Controlling and making suggestion are 2 different things.
Begitu juga jika kita merasa ada kebutuhan untuk selalu mengontrol pasangan, waaah…
artinya ada yang nggak beres itu. Emang mau gitu, hidup selalu dalam kekhawatiran suami selingkuh kalau nggak diawasi?
Gile, apa kalau perlu dipasangi chip sekalian untuk memonitor aktivitasnya biar aman gitu? 😀 😀

5.  Apakah dia cukup bisa diandalkan dan bisa mandiri dalam bertindak untuk pilihan-pilihan pribadinya sendiri sebagai manusia dewasa (tanpa pengaruh dari siapapun termasuk orang tuanya)? Omongannya bisa dipegang untuk hal-hal yang serius?
Hormat pada orang tua itu perlu, tapi itu nggak berarti bahwa kita harus membiarkan mereka mengendalikan hidup kita yang sudah jadi manusia dewasa dan punya kehidupan sendiri.
Yang akan menjalani pernikahan itu nanti adalah kita, yang bisa ngerasain seneng dan sebaliknya yang harus “struggle” itu juga nantinya kita bukan mereka.
Hal ini juga berlaku bagi kita sendiri. Kalau nggak siap untuk membuat keputusan terpenting dalam hidup secara mandiri, berarti sebenarnya kita belum benar-benar siap untuk menikahi orang ini. Jangan dipaksakan.
Patah hati itu sakit, tapi sakit sekarang itu kerusakannya nggak akan sefatal kalau udah terlanjur menikah dan beranak. ^_^

But by the way… kalau emang udah terlanjur menikah, dan ngga bahagia… ya sama aja jangan dipaksakan. Trying to save a marriage as good as possible is advisable, but if we’re already in a point where we’re not psychologically healthy in this relationship, then there would be no good outcome for everyone…even for our children.
It is not healthy for their development if they have to grow up in an unhealthy relationship. You’d be only giving them bad example in life.
Sometimes unhealthy marriage could at least still turn out to be a good friendship before they destroy each other and diminish the last respect left.
At least one can still cooperate to raise the children well when there is no hate involved yet.
Pada prinsipnya kalau menurut saya sih, kuncinya yang terpenting adalah ini:
“Jangan pernah mencoba membohongi diri sendiri”.
Hal-hal yang saya sebut diatas itu teorinya saya rasa banyak orang juga ngerti sih, cuma yang jadi masalah itu pada umumnya saya rasa ya karena “ketidak beranian untuk jujur pada diri sendiri” itu tadi.
So, tanya pada diri sendiri apa yang penting bagi kita dan apakah kandidat pasangan kita itu kompatibel atau nggak.
Dan kalau jawabannya “YA”, jangan biarkan orang lain mendikte kita dengan doktrin-doktrinnya dan “nilai-nilai” mereka. Biarkan orang lain berfikir atau bicara apa saja, hidup kita adalah kita yang atur.
Orang lain punya hidupnya sendiri, prioritas-prioritasnya sendiri dan “value” nya sendiri masing-masing. It’s just not applicable for everyone.

See you again next time. ^_^