Category Archives: Ekonomi

Solar power storage unit (baterai buat solar cell)

Standard

Mumpung ada waktu sedikit saya ingin berbagi informasi untuk pembaca.
Untuk yang di Indonesia semoga aja bisa menjadi inspirasi bagi bapak dan ibu pembuat kebijakan dibidang ekonomi dan energi (minyak tidak akan lama lagi habis dan ingatlah bahwa indonesia itu gudang matahari, sayang kalau disia-siakan), sedangkan bagi yang di berdomisili Jerman dan kebetulan tinggal di Saarland serta memiliki atau ingin memiliki solar cell informasi ini mungkin akan jauh lebih berguna lagi ^_^.

377286_10151057273973231_1696558761_n

Secuplik atap rumah gue

Sebenarnya infonya udah rada basi sedikit karena subsidi dari kementrian energi di Saarland udah diawali sejak oktober lalu sementara waktu itu kita bener-bener lagi ngga ada duit, jadi ya ngga begitu rajin update info tentang baterai untuk solar cell dengan lebih detail, walaupun aslinya udah lama pengen hehehe. Selama ini kalau produksi strom lebih banyak dari kebutuhan harian maka sisanya mau tidak mau di salurkan ke network PLN -nya jerman, dengan kata lain harus dijual ke negara. Cuma tujuan akhir pemilik solar cell pada prinsipnya adalah independen dalam memenuhi kebutuhan energinya sendiri, karena itu memiliki baterai penyimpan kelebihan produksi sebenarnya cukup vital untuk memenuhi target tersebut. Hanya saja harga baterai masih cukup mahal untuk kapasitas yang dimiliki. Karena itu dulu waktu beli solar cell kita pilih menunggu dulu beberapa tahun sebelum beli baterai. Selain nunggu teknologi yang lebih baik lagi
(well… kaya file storage ya, dari dulu segede gaban dengan kapasitas cuma beberapa Mbyte dan sekarang ukuran makin kecil tapi kapasitas berlipat-lipat, sampai Terabyte dengan harga yang cukup murah. Karena itu saya yakin kedepannya hal yang sama akan terjadi dengan teknologi solar energi. Bahkan sebenarnya andai aja kesadaran akan hal ini bisa ditanamkan dimana-mana lebih awal lagi dan ngga melulu di tanggapi dengan resistensi dan pesimisme, harusnya teknologi tersebut saat ini udah jauh lebih modern lagi dari yang saat ini ada), juga nunggu ngumpulin duit dulu tentunya.

Back to the main topic….
Jadi waktu kita dapat informasi tentang subsidi untuk solar baterai ini, kita sudah  ketinggalan 2,5 bulan, sementara subsidinya ada “budget limit”, ngga melulu cuma dibatasi waktu permohonannya seperti subsidi yang lain pada umumnya. Kalau celengan semar kementrian energi udah abis ya ngga bakal dikasih lagi ^_^.  Karena itu aku menunggu dulu sampai aplikasi kita dapat persetujuan baru berani bagi info kepada orang lain. Takutnya ntar dikira ngibul atau sok tau lagi ah wkwkwkwk.

Habis tidak ada lagi berita di koran online yang bisa dikutip untuk jadi sumber pendukung (seperti yang saya bilang sebelumnya, saya tahunya juga udah telat beberapa bulan, makanya berita tentang itu udah ngga beredar lagi). Ditambah lagi saya belakangan ngga punya banyak waktu buat nulis artikel yang serius dan butuh data yang bener-bener masih aktual, habis ini kan urusan duit ngga sedikit kalau salah bisa berabe. Nah, kalau saya sendiri sudah membuktikan bahwa informasinya masih valid dan aktual, maka baru deh saya berani mengumumkan hehe.

Well, langsung aja ya.
Saarland sejak oktober lalu memberikan subsidi untuk setiap pembelian baterai penyimpan energi listrik tenaga matahari. Variatif tergantung sampai seberapa besar “energy saving” yang bisa dicapai setelah memiliki baterai dibandingkan dengan sebelum memiliki baterai, subsidinya bervariasi mulai dari 35%-55% terhitung dari total biaya pembelian + pemasangannya. Target utama subsidi ini adalah untuk memaksimalkan pemakaian energi matahari yang dihasilkan oleh solar cell untuk diri sendiri, artinya penjualan kelebihan strom yang dihasilkan ke jaringan listrik publik yang selama ini dilakukan sebisa mungkin diminimalisir. Dengan begini maka beban kebutuhan energi nasional pun bisa ditekan, hingga lambat laun energi fosil termasuk nuklir bisa ditinggalkan secepat mungkin. Dengan adanya subsidi ini, harga baterai penyimpan listrik tenaga matahari menjadi jauh lebih terjangkau. Semakin banyak orang yang bisa memakai energi terbarukan, maka harganya pun akan semakin terjangkau. Aplikasi kami sudah dapat persetujuan dan subsidi akan ditransfer begitu tagihan pemasangan “solar battery” nya sudah kami terima dan teruskan pada kementrian terkait. Saat ini estimasi biaya untuk baterai dengan kapasitas 6 kWh sampai selesai dipasang kira-kira 12.600€, jika kami berhasil memaksimalkan pemakaian energi matahari untuk sendiri sampai 68% maka kita pada akhirnya cuma akan terbebani biaya 45% yaitu kira-kira 5.670€. Menurut “Techniker” yang kita ajak konsultasi target itu tidak mustahil untuk kita raih, jadi kesempatan ini mesti diambil. Umur baterai diperkirakan 15 tahun sebelum harus diganti dengan biaya penggantian kira-kira 1500€ (harga saat ini lho itu. Saya sendiri yakin, 15 tahun mendatang sudah pasti nilainya jauh lebih rendah dari itu. Karena minyak, gas dan uranium tidak bisa beranak wkwkkwkwk). Dan perlu diingat pula bahwa investasi berupa solar cell unit disini bisa diamortisasi dalam laporan pajak tahunan dan pemilik akan mendapatkan restitusi pajak dari departemen keuangan sejumlah nilai amortisasinya. Jadi siapa bilang solar energi tidak oke? Saya rasa, selama dana untuk investasi awal nya ada, maka itu sangat “advisable”, jika kita memang ingin mendukung terciptanya masa depan yang lebih baik bagi bumi ini dan isinya. Karena ngga cuma subsidi, tapi nanti toh juga  bisa dapat restitusi juga (wink wink to indonesian government).

Sometimes it’s all just about setting up priority. Yes… For us, buying solar cell is simply more precious and important than having a car. And this time, again, for this solar power storage I must cancel my trip to Indonesia this year, and additionally I must cut my shopping budget for a while hehehe. However, we still think that this is really worth it the sacrifice anyway. Chance doesn’t come twice… makin lama ditunda mungkin kelak tidak akan ada subsidi lagi. Yeah…kalau udah makin banyak yang mau pake ngapain pula dikasih subsidi, iya kan? Slowly I’m gonna say, “Selamat tinggal energi fosil ^_^”.

Bagi yang merasa berkepentingan, silahkan membaca informasi yang lebih detail di website “Ministerium für Wirtschaft, Arbeit, Energie und Verkehr” (kementrian ekonomi, tenaga kerja, energi dan transportasi) berikut ini: http://www.saarland.de/130895.htm

Semua formulir yang dibutuhkan bisa langsung didownload di link tersebut. Dan saya sarankan pula untuk langsung kontak kepada departemen yang bersangkutan, karena informasi dari tangan pertama jelas yang paling akuntabel, dan tentunya jauh lebih efektif karena informasi yang didapat akan bisa disesuaikan dengan situasi anda masing-masing dengan kondisi anda masing-masing, relevansi nya jauh lebih dekat tentunya. Disini saya cuma memberikan gambaran kasar saja.

Ok…that’s all for today. Semoga informasinya bermanfaat.

PS: Ah ya lupa, ada yang ketinggalan. Dengan menjadi anggota Sonnen Community (Networking bagi pemilik solar cell, dimana masing-masing anggota saling sharing kelebihan strom-nya ke “community network” untuk membantu anggota network yang sedang kekurangan strom, link: https://www.sonnenbatterie.de/de/community-konfigurator-dehttps://www.sonnenbatterie.de/de/community-konfigurator-de),
maka bagi setiap pembelian baterai merk “Sonnenbatterei” akan mendapatkan diskon sebesar 1875€, jadi biaya yang harus dikeluarkan lebih berkurang lagi dari yang sudah saya sebut diatas wkwkwkwkkwk. That’s why finally we chose to buy that brand ;).

Balik kandang ke Indonesia dimasa pensiun. Apa yang harus diperhatikan (1) ?

Standard

Beberapa waktu lalu di KKC kembali ada diskusi yang kembali berhubungan dengan harapan sebagian pelaku pernikahan campuran untuk balik kandang ke Indonesia setelah lama menetap di LN.
Iklimnya yang hangat dan kedekatan dengan keluarga besar ==> perasaan sentimental ikatan batin dengan tanah kelahiran biasanya adalah alasan utamanya.
Akan tetapi jika mengamati jalannya obrolan dari waktu ke waktu, dari satu thread ke thread terkait yang lain bisa disimpulkan betapa banyak diantara mereka yang bercita-cita ingin mudik dimasa tua tersebut yang tidak benar-benar telah melakukan studi yang cukup dan sifatnya faktual demi membuat keputusan yang rasional terkait urusan “mudik” tersebut. Perasaan sentimental dan perbandingan secara kasar dengan orang lain-lah yang biasanya dijadikan pedoman.
Pengalaman orang lain seharusnya cuma menjadi “panduan kasar” dalam menyusun “daftar pertimbangan” kita sendiri menurut sikon kita sendiri, dan bukannya mengambilnya mentah-mentah. Ketika kita memutuskan untuk menjalani hubungan beda negara, harusnya kita sudah siap dengan banyaknya komplikasi, jelas masalahnya akan lebih kompleks daripada hubungan sesama kewarganegaraan. Karena itu harusnya kita dari awal sudah sadari bahwa “terlalu naif” itu larangan besar dan membiasakan diri untuk selalu “self informed”, aktif menambah pengetahuan dari mana saja itu suatu keharusan. Belajar tidak selalu harus dari bangku sekolah ;). Smartphone dan Tablet itu ada ngga cuma untuk dipakai chatting dan selfie lho hehehe.

Sebenarnya dorongan perasaan itu juga bukannya hal yang layak disalahkan sih, karena kebahagiaan hati sifatnya sangat personal. Hanya saja, dalam menuruti dorongan perasaan tersebut hendaknya tetaplah ditemani dengan persiapan yang cukup supaya bisa menghindarkan kita dari masalah yang serius. Jangan sampai nanti dimasa tua kita malah jadi hidup susah.

Tidak semua orang kondisinya serupa, bahkan tidak semua jumlah pemasukan yang sama akan berakhir sama setelah dikalkulasi. Karena tingginya kebutuhan hidup selalu tergantung standar personal dan lokasi yang dipilih untuk mudik serta kebijakan negara dimana kita selama ini tinggal juga tidaklah sama. Jadi pertanyaan seperti: “kira-kira hidup di Bali mahal nggak ya, berapa yang dibutuhkan per-bulan, dan semacamnya itu?” tidak selalu banyak memberi jawaban yang signifikan karena itu cuma gambaran kasar dan tidak bisa diterapkan pada setiap orang.

Diluar itu semua sebenarnya yang terpenting adalah kondisi konkrit finansial yang sifatnya diluar kuasa kita untuk mengontrolnya, yaitu adanya “peraturan yang berasal dari negara” yang tidak bisa diganggu gugat.
Besar kecilnya pengeluaran bulanan ditempat baru, itu kontrolnya masih ada ditangan kita sepenuhnya, tapi sebaliknya “peraturan” yang datang dari negara itu jelas diluar kontrol kita. Suka tidak suka harus diterima :-D.
Jadi kondisi “peraturan” itu lah yang kalau dilihat dari sudut pandang objektif sebenarnya pegang posisi deretan atas dalam daftar pertimbangan.

Disini aspek itulah yang ingin saya kupas sedikit dan pada artikel kali ini saya cuma akan membahas dari sisi negara asing dimana kita selama ini tinggal. Berhubung suami saya orang jerman dan domisili saya juga jerman maka saya cuma bisa menulis tentang peraturan di Jerman yang relevan dengan tema ini. Bagi yang berdomisili/berpasangan dengan WNA lainnya silahkan mempelajari sendiri, bagaimanapun tulisan ini mungkin tetap bisa membantu sebagai orientasi dalam mencari informasi yang dibutuhkan.
Hal yang terpenting untuk diketahui sebelum memutuskan meninggalkan Jerman dalam jangka waktu panjang adalah sebagai berikut:

  • Pastikan apakah sekeluarga sudah siap untuk lepas sama sekali dari ikatan dengan Jerman dan cuma terikat dengan Indonesia saja.
    Jika jawabannya adalah “Tidak”, maka sebaiknya harus dilakukan pembicaraan dengan pihak imigrasi Jerman, terkait dengan persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dipenuhi jika meninggalkan Jerman dalam jangka lama, demi mempertahankan validitas Ijin Tinggal yang selama ini dipakai oleh si pihak WNI. Diusia tua biasanya mulai banyak masalah kesehatan yang mungkin akan menuntut kita untuk kembali ke Jerman demi penanganan medis lanjutan, atau juga kemungkinan anak-anak ingin melanjutkan studi atau bahkan menetap di Jerman pada prinsipnya membuat pilihan untuk tetap mempertahankan ijin tinggal atau status kewarganegaraan Jerman menjadi cukup layak untuk dipertimbangkan.
  • Asuransi kesehatan.
    Di Jerman asuransi kesehatan adalah wajib, jadi setiap orang terjamin perawatan kesehatannya karena kalau tidak tergolong warga yang harus terdaftar di asuransi privat maka mereka akan terdaftar dalam asuransi negara. Di Indonesia memang sekarang ada BPJS dan WNA pemegang KITAS/KITAP juga bisa menjadi anggota BPJS, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa “coverage” BPJS tidak sama standarnya dengan di Jerman dan ditambah lagi program BPJS masih baru sehingga masih banyak “trial dan error”, masih butuh waktu sebelum program itu benar-benar berjalan optimal.
    Karena itu akan jauh lebih baik jika sebelum memutuskan untuk mudik mempelajari dulu kemungkinan asuransi kesehatan secara privat untuk “coverage” penanganan medis selama tinggal di Indonesia. Perlu diketahui bahwa untuk boleh tetap terdaftar di jaminan askes pemerintah Jerman maka kita harus masih terdaftar sebagai penduduk Jerman dan punya tempat tinggal tetap di Jerman. Bahkan beberapa asuransi swasta pun banyak yang mempersyaratkan itu. Premi yang meng-cover penanganan medis di LN tentunya ada, karena itu perlu diperhitungkan apakah biaya premi internasional tersebut masih cukup layak diterima jika dibandingkan dengan pemasukan yang didapat. Asuransi sangat penting khususnya karena ketika menua segala penyakit makin mudah timbul dan Indonesia dengan polusi-nya dan standar kesehatan produk makanan dipasarannya yang tidak selalu terkontrol dengan baik memberikan resiko medis yang tidak kecil bagi tubuh kita yang sudah lama terbiasa dengan standar Eropa ;).
    Asuransi privat di Indonesia pada umumnya tidak bersedia menerima nasabah yang sudah tua. Jadi mungkin jika memang bercita-cita untuk pensiun di Indonesia, bisa dipertimbangkan untuk bikin kontrak asuransi dengan perusahaan Indonesia dengan layanan standar jauh-jauh hari ketika batas usia belum lewat untuk kemudian mungkin dinaikkan ‘coverage’-nya setelah benar-benar pindah.
  • Pajak
    Orang banyak mengira bahwa meninggalkan Jerman dengan pajak tingginya untuk menetap di negara yang pajaknya rendah dimasa tua adalah keputusan yang bagus. Apalagi karena biasanya negara yang sering disebut ‘Tax Paradise’ itu juga iklimnya ‘nyaman’ ibarat surga :-D. Kebutuhan hidup lebih rendah (ah masa hehehe?).
    Akan tetapi sebenarnya tidaklah sesederhana itu. Selama kita masih punya hubungan ekonomis dengan Jerman dan atau masih memiliki pemasukan yang berasal dari Jerman, maka kita akan selalu menjadi Wajib Pajak Jerman, baik itu terbatas ataupun tak terbatas (definisi hubungan ekonomis ini cukup kompleks, tidak mudah untuk dikategorikan secara kasar karena sifatnya bisa sangat subjektif dan tergantung situasi. Departemen Perpajakan sendiri yang bisa menentukan apakah seseorang dianggap masih memiliki hubungan ekonomis tersebut atau tidak).
    Uang pensiun adalah salah satu jenis pemasukan tentunya.Pertanyaan pertama yang cukup penting adalah apakah uang pensiun bisa diperoleh secara penuh dan tanpa masalah? Biaya transfer dan segala ongkos yang terkait dengan pengiriman pensiun tersebut jelas harus ditanggung si penerima.
    Poin berikutnya yang sangat penting diperhatikan adalah sebagai berikut:

Sebagai pensiunan yang menetap di LN (Indonesia) maka statusnya adalah “WP terbatas”. Terdengarnya sih memang bagus, ‘kewajiban pajak’-nya cuma terbatas, karena itu kebanyakan orang akan mencentang pilihan ini di formulir yang diberikan oleh Dirjen Pajak.
Tapi apa yang tersembunyi dibaliknya itulah yang berbahaya dan menjerat jika tidak diperhitungkan keberadaannya sebelumnya.
Dengan status ini kita tidak diharuskan mengirim SPT tahunan ke Jerman dan pendapatan yang dikenai pajak hanya yang berhubungan dengan aktifitas pekerjaan di Jerman, jadi pajak atas keuntungan ekonomis yang diperoleh dari kepemilikan asset tidak dikenai pajak.
Akan tetapi perlu diketahui (banyak yang tidak tahu hal ini, bahkan orang jerman sendiri banyak juga yang terjebak), bahwa dengan status “WP terbatas” tersebut maka semua poin-poin pengurang pajak tidak boleh lagi diterapkan.
Contohnya: PTKP sebesar 8354€ per tahun bagi single (2014, tahun ini dinaikkan 118€) tidak bisa dikurangkan, “Werbungskosten und Sonderausgaben” juga tidak bisa dikurangkan, “Splitting-Tarif ” bagi yang menikah juga tidak bisa dipakai.

Dan berhubung sejak tahun 2005 dimana Uang Pensiun yang dulunya  cuma 27%-nya yang dikenai pajak kemudian dinaikkan pada tahun itu menjadi 50% dan setiap tahunnya 2%, kemudian mulai 2021 setiap tahunnya naik 1% hingga pada tahun 2040 seluruh uang pensiun ==> 100%-nya akan dikenai pajak, maka penghilangan unsur PTKP berakibat sangat mahal bagi para pensiunan. Khususnya jika mengingat bahwa nilai uang pensiun jauh lebih kecil daripada gaji pokok.
Bagi WP dalam negeri ==> WP takbatas/penuh, meskipun jumlah uang pensiun yang dikenai pajak sama besar, akan tetapi dengan penerapan PTKP pada akhirnya biasanya para pensiunan jadi tidak harus membayar pajak lagi, sebaliknya si WP terbatas harus membayar pajak mulai dari setiap sen yang dia terima. Pahit kan?
Jauh lebih pahit jika masalah itu tidak diketahui dan baru setelah 10 tahun berlalu ketika “evaluasi pajak” dilakukan, maka tidak hanya “jumlah pajak terutang”-nya saja yang harus dibayar sekaligus tapi juga “prosentase sanksi bunga” yang cukup tinggi yang akan dikenakan pada jumlah yang berupa “gelondongan” begitu. Bisa-bisa langsung bangkrut, mak dan harus jual aset segala.
Tak jarang ada orang yang bersikap masa bodoh atau katakanlah “menggampangkan sesuatu”, tapi jangan salah… Pemerintah biasanya pada awalnya memang cuma memakai asas: “saling percaya”, tapi “Steuerprüfung” bisa sewaktu-waktu dilakukan sampai jangka waktu 10 tahun berikutnya. Sudah ada yang jadi korban nyata soalnya ^_^.
Ada seorang teman yang mengalami itu (sampai harus jual rumah), saya pernah baca juga kisah seorang pensiunan wanita yang sudah lama pindah di Kanada, berumur udah 100 tahunan dengan nilai pensiun cuma 700-an€ /bulan tiba-tiba dapat tagihan pajak untuk 10 tahun terakhir sampai 8000-an €.
Jangan lupakan pula kasus Boris Becker 😀 (kalau butuh contoh dari ‘Prominenten’). Masih mending kalau ngga ditahan gara-gara “penggelapan pajak” euy, seraaam.
Melek aturan dan hukum itu penting ^_^.
Karena itu perlu dikalkulasi dengan baik apakah secara matematis status “WP terbatas” memang lebih menguntungkan dibandingkan “WP Penuh” ataukah justru sebaliknya.
Disini peran dari “kepemilikan asset dan investasi di instrumen keuangan” sangat menentukan.
Oleh karena itu tak boleh dikesampingkan pula adanya “Wegzugsteuer” (Exit Tax) yang dikenakan kepada siapa saja yang memiliki saham mencapai minimal 1% di sebuah perusahaan yang berkedudukan di Jerman. Pajak ini dikenakan dengan menghitung jumlah keuntungan yang teoretis bisa kita peroleh jika saham tersebut dijual sesaat sebelum kepindahan.
Dalam hal ini pajak tersebut bisa ditunda pembayarannya tanpa dikenai bunga sampai saat kita benar-benar menjualnya nanti.

Ada dua pilihan untuk keluar dari komplikasi dan dilema pajak tersebut:
Pertama adalah menjaga agar kita jangan sampai melanggar ketentuan 183 hari masa tinggal. Selama kita berada di luar wilayah Jerman tidak melebihi 183 hari di tahun pajak terkait, maka kita akan tetap terdaftar sebagai ‘WP Penuh’. Jadi selama syarat ini dipenuhi maka tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa. Kewajiban pajak dan segala prosedur yang harus kita jalani tetap seperti biasa seperti seolah-olah kita tetap berdomisili di Jerman secara penuh.
Seseorang dianggap sebagai wajib pajak penuh di Jerman jika memenuhi 2 syarat utama berikut:

-Dia berdomisili di Jerman minimal 183 hari

-Pemberi kerja tidak punya cabang di negara tujuan (dalam hal ini Indonesia)
Jadi bagi yang pindah dan hidup sebagai expatriat karena dipindah tugaskan oleh kantor Jerman untuk bekerja di kantor cabang di Indonesia misalnya, maka dia tidak termasuk WP Jerman lagi. Lagian, kalau terikat sama perusahaan jerman yang punya cabang di Indonesia, tentunya segala urusan pajak akan diurus oleh bagian finance, jadi tak perlu mikirin komplikasinya hehe.

Pilihan kedua adalah tetap “abmelden” dari Jerman dan pindah menetap di Indonesia dan mengajukan permohonan agar tetap diijinkan menjadi “WP Penuh” meskipun domisili tidak lagi di Jerman.
Disini tentunya akan diadakan evaluasi apakah kita memenuhi syarat untuk tetap diperlakukan sebagai WP Penuh ataukah tidak.
Syarat-syarat hubungan ekonomis dengan Jerman yang harus dipenuhi beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Jika pendapatan yang diperoleh dalam kalender pajak tersebut minimal 90%-nya berasal dari Jerman.
  2. Jika pendapatan yang tidak diperoleh di Jerman tidak melebihi nilai PTKP (Pasal 32a Alinea 1 Ayat 2 Nomor 1). Nilai PTKP ini bisa dikurangi sepanjang itu dianggap perlu menyesuaikan dengan negara yang ditinggali. Note: tidak termasuk adalaah pendapatan dari luar Jerman yang sebanding dengan pendapatan yang menurut hukum Jerman tergolong bebas pajak. Contoh: sebanding dengan upah “minijob” di Jerman.
  3. Pemasukan yang tidak berasal dari Jerman tersebut harus disertai dengan bukti tertulis yang dikeluarkan oleh institusi yang berwenang di negara asal pemasukan.

Yang jelas, jika memang ingin mudik selamanya ke Indonesia atas inisiatif sendiri sangat disarankan untuk sebelumnya konsultasi dulu ke konsultan pajak profesional. Karena peraturan pajak itu sangat rumit, yang saya tuliskan disini mah masih termasuk gambaran kasar atau poin utamanya aja. Untuk komplikasi yang lebih detail tentunya butuh saran dari profesional.
Semua itu penting dilakukan demi menghindari masalah yang bisa bikin susah dikemudian hari. Jangan sampai niat hati menikmati masa tua yang tenang dan nyaman, eeeeh malah jadi hidup merana ^_^.
Jangan lupa pula potensi ancaman “pajak berganda”. Tidak semua negara punya perjanjian bilateral terkait “pengenaan pajak berganda” dengan Jerman.
Thailand punya perjanjian semacam itu dengan Jerman, Spanyol juga punya (untunglah, karena suamiku juga pengen “auswandern” kesana mungkin. Minimal ngga harus kena pajak dobel hehehe).
Perjanjian Pajak pemerintah Jerman dengan Indonesia bisa di download di sini:
http://www.bundesfinanzministerium.de/Content/DE/Standardartikel/Themen/Steuern/Internationales_Steuerrecht/Staatenbezogene_Informationen/Laender_A_Z/Indonesien/1995-03-27-DBA-Indonesien-Verfahren-zur-Entlastung-indonesischer-Quellensteuer.html
Dan disini:
http://www.bundesfinanzministerium.de/Content/DE/Standardartikel/Themen/Steuern/Internationales_Steuerrecht/Staatenbezogene_Informationen/Laender_A_Z/Indonesien/1991-11-22-Indonesien-Abkommen-DBA.html
Jadi berhati-hatilah ;).

Source:
http://www.gesetze-im-internet.de/estg/__1.html
http://www.gesetze-im-internet.de/estg/__49.html
http://www.steuerportal-mv.de/cms2/Steuerportal_prod/Steuerportal/content/de/Finanzaemter/Finanzamt_Neubrandenburg/index.jsp
Perjanjian Pajak antara Jerman dengan negara lain bisa didownload disini:
http://www.bundesfinanzministerium.de/Web/DE/Themen/Steuern/Internationales_Steuerrecht/Staatenbezogene_Informationen/staatenbezogene_info.html

Anda bisa melihat sesuatu itu sebagai “masalah” atau “kesempatan”, semua tergantung mindset apa yang anda punya dan ingin meraih apa anda dalam hidup

Standard

Dalam bahasa China, kata “危机” bisa di terjemahkan sebagai “bahaya, ancaman, krisis” atau lebih lembut lagi bisa juga diartikan sebagai ‘masalah’, sedangkan terjemahan yang lain dari karakter “ji” bisa menjadi representasi dari sebuah “kesempataan”.

Chinese_word_for_crisis.svg

Jadi dalam filosofi china, mereka melihat “masalah” sebagai sebuah “kesempatan”, itulah salah satu alasan mengapa bangsa china secara umum begitu cepat meraih sukses.

Yeah, masuk akal sih… Pecundang memang cenderung akan berfikir sebaliknya, melihat masalah sebagai alasan untuk tidak berbuat apa-apa, mengeluh terus-terusan dan mencari kambing hitam daripada berusaha berfikir untuk setidaknya supaya bisa menemukan sebuah ide sebagai cikal bakal solusi masalah yang dihadapi.
Akankah ide itu merupakan ide yang hebat dan menghasilkan hal hebat juga atau tidak, itu bukanlah yang hal yang paling menentukan. Pola pikir yang berorientasi positif setidaknya akan memberikan orang tersebut sebuah titik awal untuk memulai perjalanan menuju penyelesaian masalah, menuju keberhasilan. Sementara itu jika ada kesalahan-kesalahan yang muncul ketika menerapkan ide tersebut, kan itu bisa selalu dikoreksi sambil jalan. Dan selama itu pasti akan muncul ide-ide baru lagi yang menyesuaikan dengan perkembangan situasi..learning during process will always go on.
Tapi dilain pihak, orang-orang yang terlalu takut akan perubahan dan hanya ingin menghindari problem daripada berusaha menghadapinya, mereka ini takkan pernah memiliki awal untuk apapun. Dan orang seperti ini jelas tak akan pernah maju selangkahpun.
Untuk bisa mendapatkan kemajuan dan menggapaai “Finish”, setidaknya anda harus melangkah setapak dulu.

Hmmmm… lebih suka menjadi tipe yang manakah kita 😉 ?

China layak diperhitungkan, akhirnya pengakuan itu resmi muncul dari institusi internasional yang cukup berpengaruh

Standard

2014 / DenzaHari ini saya membaca artikel ini:

http://www.marketwatch.com/story/its-official-america-is-now-no-2-2014-12-04
yang akhirnya menggelitik saya untuk menulis lagi hari ini. Terutama karena sebelumnya saya membaca banyak tulisan beredar di Facebook yang membodoh-bodohkan Presiden baru kita karena mendekatkan diri kepada China dan bukannya USA.

Well… orang yang berkata begitu jelas tidak tahu apa-apa tentang perkembangan dunia, terutama tentang pergerakan masa depan, atau mungkin jauh lebih tepat jika dikatakan terlalu ignoran dan masih punya mengidap ‘inferiority complex’ sebagai orang “Asia” penduduk negara berkembang bekas jajahan.

Seorang pemimpin yang punya visi masa depan sudah pasti akan melihat posisi China dalam permainan global dan tahu juga bahwa bersahabat dengan mereka lebih dekat dan tentunya mencoba belajar dari mereka akan jauh lebih menguntungkan daripada berlengket-lengket dengan bangsa kulit putih saja.
Tidak hanya karena China sekarang makin kuat secara ekonomi, akan tetapi juga karena kedekatan kultural yang kita miliki. Problematika yang dialami juga kurang lebih sama, karakteristik masyarakatnya, tendensi ketertarikan mereka akan sesuatu, bahkan kita pun punya aset yang tak jauh berbeda ==> Sumber Daya Manusia yang sangat besar.
Itu adalah aset sekaligus pasar yang sangat besar. Jadi belajar dari mereka hasilnya mungkin akan jauh lebih mengena, lebih gampang menirunya jika tekad cukup besar.
Jika anda menganggap presiden anda bodoh karena mendekati China, maka sepertinya andalah yang seharusnya banyak membaca dulu dan belajar sebelum berkomentar yang membuat anda tampak konyol sendiri.

Jika hanya menggunakan jeleknya kualitas produk China yang banyak beredar di Indonesia dan negara lain sebagai argumen sepertinya itu terlalu dangkal. Karena adalah hal yang lumrah jika yang dibicarakan adalah produk “Low End”, maka harusnya jangan mengharapkan kualitas premium. Prinsip ekonomis China adalah mengeksploitasi pasar semaksimal mungkin, jadi mereka akan menyediakan produk dari kelas bawah sampai kelas premium… karena mayoritas penduduk dunia ini dari kalangan menengah kebawah sudah tentu produk ‘low end’ lah yang lebih banyak mereka sebar. Begitu juga dengan pasar barang KW… di Indonesia sangat besar tentunya karena peminatnya disana memang besar. Kita jangan bicarakan moral dulu disini, karena itu lain lagi bahasannya. Kita sedang bicara soal prinsip bisnis. Apalagi jika masyarakat kita sendiri ikut berkontribusi didalamnya dengan menjadi “pasar potensial”-nya. Jadi… jika di Indonesia yang lebih banyak beredar adalah yang jelek-jelek, tentunya karena masyarakat kita maunya dan sanggupnya beli yang kelasnya begitu.

Tapi bagi yang mengikuti perkembangan ekonomi dan teknologi dunia dengan baik, maka mereka akan tahu bahwa China belakangan ini “strive to the excellence future”. Key Technologies to the future: mereka semua punya dan dalam perkembangan yang sangat positif.
Daimler belum lama membentuk Joint Venture bersama BYD dan meluncurkan mobil listrik kelas premium dan tahukah anda bahwa mesin dan baterai yang dipakai justru buatan BYD dan bukannya dari pihak jerman. Kenapa?
Tentunya karena baterai mobil listrik terbaik dengan kapasitas besar saat ini yang punya adalah BYD, China.
Dan nyawa dari mobil listrik adalah “electro engine and it’s battery”.
Dan hanya orang ignoran yang tidak mau mengakui bahwa itu adalah teknologi masa depan.
Minyak akan habis, tapi kebutuhan energi tidak akan berkurang justru bertambah seiring tuntutan standar hidup manusia dan pertumbuhan populasi. Jadi tidak ada solusi lain selain energi terbarukan.
Dan China juga punya gurun yang cukup luas untuk diberdayakan dan tak ragu pula membelanjakan APBN nya untuk investasi dengan orientasi hasil yang mungkin baru bisa dilihat paling cepat 20 tahun kedepan.
Dari bidang yang terkecil pun semua pasti tahu bahwa orang sukses adalah orang yang bisa melihat jauh kedepan, dan bukannya yang cuma mikir besok, sampe akhir bulan atau paling banter 5 tahun kedepan bisa punya apa.
Jadi subsidi-subsidi yang diberikan pemerintahnya akan menunjukkan hasil dikemudian hari, itu pasti.
Inilah yang bisa kita sebut sebagai subsidi produktif, dan bukannya subsidi bensin yang justru membuat pemborosan cadangan minyak bumi yang masih tersisa semakin besar dan cepat.
Cuma negara yang sudah mulai bergerak kearah sana demi mengntisipasi hal inilah yang akan memiliki kejayaan di masa depan. Terlambat bergerak sedikit saja maka anda harus siap untuk menjadi pasar saja.
Berita salah satunya bisa dibaca disini:
http://media.daimler.com/dcmedia/0-921-656186-1-1694689-1-0-1-0-0-0-0-0-0-1-0-0-0-0-0.html

Kecerdasan mereka melihat jauh kedepan juga ditunjukkan dengan tetap nekadnya mereka mengembangkan eksplorasi “Rare earth” di masa lalu, yang kini hasilnya mereka nikmati dengan menguasai pasar dunia disini. Padahal sumbernya tidak cuma ada di China. Tapi sudah jauh lebih dulu bergerak sebelum Eropa, USA dan Australia menyadari arti pentingnya “rare earth” demi teknologi masa depan.

Dan masih banyak lagi yang takmungkin saya uraikan semua disini. Tapi yang jelas sudah cukup untuk menunjukkan bahwa “membodoh”kan presiden anda hanya karena dia bisa mengenali “potensi” masa depan malah membuat anda sendiri akan terlihat bodoh.
Dan menyebut bahwa melakukan bisnis dengan negara asing itu menjual negara adalah ucapan yang juga sangat konyol. Di era globalisasi adalah sesuatu yang absurd untuk menutup diri terhadap tetangga. Anda tidak bisa hidup sendiri didunia. Kemana anda akan menjual produk anda dan sebaliknya membeli produk yang tidak bisa anda hasilk sendiri jika anda tidak mau membuka pintu kerjasama dengan negara lain?
Negosiate smartly, trade smartly, knowing your own strength & weaknesss, opportunity and thread possibility… this way it will be more or less safe to deal with your opponents.
Untuk anda-anda yang mengatakan bahwa Jokowi cuma manajer yang baik, tidak cukup bagus mengurus negara yang besar seperti ini…
Hmmm… saya tidak tahu seberapa jauh dia akan bisa membawa Indonesia melompat kedepan, karena ketertinggalan indonesia sudah lumayan jauh dan masalah yang kita hadapi terlalu besar, khususnya jika kita masih harus menghadapi rakyatnya sendiri yang sebagiannya sangat tidak supportif dan enggan berkontribusi, tapi justru cuma bisa mengeluh, mencela dan marah-marah tanpa urun solusi yang nyata tapi justru cuma memperkeruh suasana saja membuat panas iklim di masyarakat.
Kritikan dan cercaan itu adalah dua hal yang sangat jauh berbeda. Memantau secara rasional untuk membantu pencegahan kesalahan fatal demi kepentingan bersama yang lebih besar itu tidak sama dengan prejudice yang disertai ancaman-ancaman tanpa dasar/alasan yang konkrit dan realistis.
Tapi yang saya yakini… seorang yang berpengalaman sebagai pemimpin sebuah perusahaan yang sudah bisa menembus pasar internasional dengan pertumbuhan pasar yang positif dan pernah memimpin sebuah kota, memimpin rakyat sipil dengan jejak kesuksesan yang bisa diukur, jelas jauh lebih “qualified” daripada seorang mantan jendral yang belum pernah punya prestasi publik yang nyata selain daripada bintang-bintang jasa dimedan perang.
Just so you know… perang dimasa depan yang lebih signifikan bukan lagi perang senjata, akan tetapi perang ekonomi… jadi kehebatan dalam mengangkat senjata itu bukanlah hal kunci, apalagi bahwa sebagai presiden anda punya cukup jendral yang bisa anda perintah. Memulai perang bukanlah ide yang bagus dimasa sekarang ini.
Ataukah mungkin rakyat indonesia lebih suka jika indonesia menjadi seperti Syiria atau Afganistan?
Mengenai ketegasan bertindak, saat ini kita bisa lihat bahwa Presiden ceking kita ini bukan orang yang mudah digertak.
Dengan posisi koalisi yang lemah sekalipun beliau tidak gentar untuk menolak panggilan parlemen yang dianggapnya masih nggak masuk akal. Reaksi terhadap serangan politis disana-sini pun cukup kalem tapi tanpa menunjukkan kesan terintimidasi. Jadi tuduhan menjadi presiden lemah sepertinya kembali bisa ditepikan bukan?

Ngomong-ngomong, tindakan pencurian ikan dari tetangga bukanlah argumen untuk memancing keributan dan mencap negara tetangga sebagai negara pencuri ya. Hanya karena ada rakyat anda yang maling itu tidak selalu berarti bahwa negaranya lantas semuanya kualitas maling. Itu adalah dua hal yang jauh berbeda, jadi penanganannya harus dipisahkan. Tangkap malingnya, hukum mereka, tapi hubungan antar negara tetap bisa jalan terus. Hanya cukup dipastikan saja bahwa segala tindakan sudah sesuai dengan payung hukum.

Picture source: Der Spiegel