Category Archives: Kultur & Sosial

Teman, tolong deh jaga lidah dari pertanyaan usil tentang hal-hal yang masuk wilayah pribadi, karena itu tidak sopan …

Standard

Hari ini tepat setelah saya kirim ucapan selamat berlebaran kepada teman-teman lama tiba-tiba saya kembali mendapatkan pertanyaan macam ini:
“Maaf An, apakah kamu masih muslim?”

Tja… apakah itu penting? Ataukah barangkali, andai saya bukan muslim lagi, ucapan selamat dan “good wishes” dari saya tidak lagi punya nilai dan ngga layak lagi diterima? Apakah jika saya tdk lagi muslim, saya jadi tidak memenuhi kualifikasi sebagai teman lagi?
Lagipula… jika saya menjawab “masih” sekalipun, darimana sang penanya bisa tahu apakah saya bohong atau nggak?
Lalu andai si penanya menjawab balik begini: „Emang sih, saya mungkin nggak tahu, tapi kan kamu sendiri tahu apakah kamu bohong, juga konsekuensinya sebuah kebohongan. Tuhan juga kan tahu kalau kamu bohong.“
Aha…well said, kalau begitu, apa gunanya juga nanya?

Toh pada akhirnya cuma saya dan Tuhan yang tahu status spiritual saya bukan?
Ikhlas atau nggak dan diterima atau nggak ibadah saya juga cuma Tuhan yang tahu kan?
Jadi buat apa sih sering-sering menonjolkan status keagamaan dan ritual ibadah…?
Apakah demi mendapat pengakuan manusia lain?
Eniwei buswei … padahal apa sih artinya pengakuan manusia lain?

Jangan salah ngerti ya, saya nggak tersinggung atas pertanyaan itu kok,
karena saya menyadari bahwa bagi orang indonesia pertanyaan macam itu bukan hal yang langka alias biasa saja, karena konsep “privacy” alias “private affairs” bagi sebagian besar masyarakat Indonesia itu sepertinya hal yang sangat “asing”.

Tapi “menyadari” bukan berarti saya setuju untuk menerapkannya pada diri saya juga.

You may ask, but I also have the full right not to answer such question.
It’s not that I would mind if my social or spiritual status is being revealed, but merely because my private affairs just don’t concern you (…or anybody at all).

Jika itu sekedar “curiousity”, pertanyaan iseng, tanggapan saya adalah:

“Please, jangan pelihara lagi kebiasaan untuk kepo akan hal apapun yang sudah masuk wilayah pribadi orang.
It’s not appropriate question.
Pertanyaan soal agama, itu sebanding dengan pertanyaan akan umur orang (khususnya pada wanita), kapan punya anak atau kenapa ngga punya anak, suamimu sunat atau nggak, kapan kawin, gaji (eh serius lho, dulu sering dengar juga pertanyaan soal gaji ini, dan itu bukan karena ada topik yang sesuai seperti misalnya diskusi umum akan standar gaji profesi tertentu di daerah tertentu, melainkan emang sekedar kepo), dan semacamnya.
Pertanyaan tentang hal-hal pribadi macam itu sangat tidak sopan, terlepas dari fakta apakah yang ditanya sebenarnya punya jawaban menyenangkan atau nggak.
Tolong perhatikan itu jika kamu memang masih berminat untuk berada didalam lingkaran pertemanan dekat saya.”
Ini bukan karena saya merasa ngga punya jawaban yang membuat kalian senang… (I don’t live to get your approvement or your liking anyway…), melainkan lebih karena ini adalah soal prinsip.

Dulu ada juga teman lain yang bertanya hal yang sama dan beralasan bahwa itu karena dia ngga mau salah ketika ngasih ucapan selamat dan „good wishes“ pada saya (katakanlah: ngucapin selamat Natal, selamat berhari raya nyepi, waisak dst. pada orang yang merayakan Lebaran atau mungkin sebaliknya).
Well… let me tell you something!
Dimana letak kesalahan dalam mendoakan/mengharapkan hal-hal yang baik dan menyenangkan terjadi pada temannya?
Dimana jeleknya menyampaikan ucapan selamat berpesta dan bersuka ria dalam sebuah hari raya. Bahkan pada setiap hari raya, kita yang di Indonesia biasanya dapat libur lho. Dan saya kira, setiap hari libur itu pantas disambut dengan suka cita oleh siapapun hehehe.
Does it make sense at all to be angry or reverse, to apologize for some good wishes?
Jadi buat saya itu bukan isu.
Saya senang-senang aja menerima „good wishes“ dari teman-teman saya, apapun itu kepercayaan saya.
Kalau menerima “wishes” supaya segera “dilaknat” dan disumpahin jadi kerak “neraka”, kena “azab” dan semacamnya…
Naaaah itu baru deh beneran bikin sakit hati, ya nggak, hayooo?!?

Akan tetapi jika kamu memang merasa bahwa status spiritual saya itu jauh lebih penting daripada kepribadian saya dan cara saya memperlakukanmu sebagai manusia,
sehingga pertanyaan macam itu menjadi perlu kamu sampaikan, well…
Jika artinya kamu memang tergolong pada kaum yang menelan mentah ayat suci dengan mengabaikan akal sehat serta etika, hingga menganggap bahwa nonmuslim itu orang kafir yang bahkan dijadikan teman dekat pun sebenarnya nggak boleh… hmmm
yakinlah saya nggak akan merasa kehilangan kok kalau kamu keluar dari lingkup pertemanan saya.

Saya hanya suka berteman dekat dengan orang-orang yang juga berfikiran positif terhadap teman-temannya tanpa pandang bulu; yang berbuat baik, saling tolong dan bersikap menyenangkan tanpa memilah alias pilih-pilih status sosial juga spiritualnya.

If you’re nice to me then I’ll be nice to you, that’s the most essential law to be my friend. Period.

Hubungan saya dengan sang Pencipta itu cuma urusan saya langsung dengan DIA seorang.
Bukannya surga itu propertinya Tuhan?!?
Logika sih kayanya cuma Tuhan yang bisa kasih kita surga ya, jadi ngapain sih repot-repot mikirin
urusan spiritual orang lain hehehe.

Saya ngga membutuhkan pengakuan manusia lain apakah saya ini orang mukmin atau nggak, karena bagi saya yang punya hak prerogratif atas pengakuan dan penentuan kadar iman saya hanya Sang Pencipta itu sendiri.

Sungguh ngga disangka, hanya beberapa jam setelah saya posting ucapan selamat lebaran dan berniat ingin membersihkan jalur pertemanan dari sampah dan duri beracun seiring datangnya bulan syawal yang fitri, saya mesti membuat tulisan yang mungkin membuat jalan itu kembali penuh onak. Tapi itu sebenarnya bukanlah hal yang saya harapkan. However I just can’t help it, some people just have to drive me to do it…
Na ja, this is me and my principle— if you dislike it, just feel free to remove me from your friendlist.
I believe that if God really exist and so allmighty, then God wouldn’t be a petty personality.
I would definitely be understood.

See you next time. 🙂
And once again sincerely I wish you a happy celebration and nice moments with your loved ones.

Minal aidin walfaizin.

Semoga Ramadan kali ini benar-benar membawa hikmah bagi anda dan berhasil membuat anda menjadi manusia yang berkarakter lebih baik daripada sebelumnya 😉

Renungan kecil di Hari Kartini

Standard
Saya yakin banyak dari kita yang sering mendengar kalimat begini:
“Sia-sia amat ya sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma jadi Ibu RT dan ngurus anak doang? Punya banyak ilmu rugi amat nggak bisa dimanfaatkan, mending nggak usah sekolah aja sekalian, buang2 duit dan energi aja.”
Well, saya cuma punya satu balasan untuk ini:

>>>Sejak kapan yang namanya memiliki banyak ilmu itu merugikan dan sejak kapan pengetahuan itu tidak ada manfaatnya?
Apakah tujuan orang sekolah saat ini memang cuma untuk dapat ijazah dan buat nyari kerjaan doang? Apakah manfaat ilmu pengetahuan itu cuma bisa diukur dari banyaknya duit yang bisa dikumpulin dengan bantuannya?

Jadi bukannya lagi untuk membuat pikiran dan perspektif kita menjadi luas? <<<

Kalau memang tujuannya cuma untuk nyari ijasah, yeah…
pantas aja deh jaman sekarang ada begitu banyak orang dengan titel berderet tapi pikirannya picik, sempit kayak katak dalam tempurung dan begitu kolot serta ignoran.
Last but not least, ada ucapan satu narasumber saya untuk buku KKC yang sangat saya suka karena saya anggap sangat mengena, sehati sama saya dan saya rasa layak jadi renungan banyak orang tua khususnya kaum wanitanya, yaitu ini:

“Adakah pengasuh, pembimbing dan pendidik pribadi harian yang lebih baik lagi buat anak kita, selain ibu kandungnya sendiri yang punya kompetensi mumpuni dan berpendidikan tinggi? Lebih baik mana dengan membiarkan tumbuh kembang mereka dibawah asuhan utama dari orang bayaran yang adakalanya bahkan ijasah SMP aja belum tentu punya, apalagi hanya untuk ditukar dengan pekerjaan yang hasilnya setelah dipotong biaya bayar pengasuh belum tentu sebanding nilainya dengan pengorbanan yang diberikan ( seperti: waktu, energi, serta masa2 berharga bersama anak yang takkan terulang)?”
Well, saya disini ngga bermaksud merendahkan peranan asisten RT ataupun mereka yang tidak bersekolah tinggi, apalagi mencela mereka para wanita yang suka berkarir diluar rumah.

Not at all…
Saya cuma ingin memberikan perspektif lain bagi para wanita yang tak jarang merasa terintimidasi oleh ucapan-ucapan nyinyir macam diatas dari lingkungan sekitarnya.

Setiap kali saya melihat perseteruan antara kaum “pro-karir” dengan “ibu RT” yang begitu seru dan kadang bahkan ganas-ganas komennya, saya merasa semua itu sangatlah konyol dan seringkali argumen-argumennya juga sungguh absurd dan intinya cuma saling melecehkan saja.
Ada banyak alasan kenapa seorang wanita berkarir aktif setelah berkeluarga dan memiliki anak . Tidak sedikit yang melakukannya lebih karena tuntutan keadaan. Walaupun memang ada juga yang melulu karena ambisi, yang mana menurut saya juga bukan sesuatu yang secara prinsip pantas dianggap negatif ataupun disalahkan.
Kata siapa ambisi cuma boleh dimonopoli oleh laki-laki coba?
Dan bukankah tanpa adanya wanita pintar yang punya ambisi, kita tidak akan punya tokoh-tokoh macam Angela Merkel, Indira Gandhi, Sri Mulyani, Bu Menteri Susi, Bu Menteri Retno dst?!
Hanya saja, sampai pada titik tertentu, menurut saya pribadi kadangkala memang perlu lagi kita tanya pada diri sendiri dalam hal ini, apakah “membentuk keluarga dan memiliki anak” memang adalah pilihan yang tepat untuk hidupnya.
Bukankah kalau memang mengaku dirinya wanita independen yang mumpuni, seharusnya kita juga cukup mandiri dan berani untuk tidak membiarkan orang lain … meskipun itu keluarga sendiri … memaksakan pilihan, target, ataupun value tertentu pada kita, seperti misalnya dalam urusan ‘jodoh dan anak’, jika itu membuat hidup kita sendiri bukannya bahagia dan “content”, tapi justru malah cenderung menjadi terbebani’?!?
Sementara disaat yang sama juga menyeret individu lain: yaitu *sang partner* dan bahkan *anak-anak* yang pada dasarnya nggak pernah meminta untuk dilahirkan, jika akhirnya hanya harus menerima nasib untuk di “nomor sekian“-kan atau yang lebih parah lagi: “ditelantarkan”?!
Bagi yang bisa menjaga cukup keseimbangan, tentu lain lagi persoalannya ya …
Sebaliknya pula bagi yang kebetulah tidak memiliki peluang untuk menerapkan ilmu akademik dan keahliannya didunia profesional setelah memiliki anak, tak ada perlunya juga berkecil hati apalagi sampai merasa terintimidasi oleh nyinyiran orang kurang kerjaan.
You, as a highly educated and knowledgeable mother, are definitely the best teacher, carer and baby sitter your children could ever get.
So there is nothing to regret at all for spending so much time and effort in studying.
Ilmu pengetahuan itu ngga ada masa kedaluarsa, ngga akan basi, dan akan selalu ada manfaatnya, setidaknya jika kita memang benar-benar memahami apa intisari dari ilmu itu sendiri.
 
Disaat yang sama tak ada alasan pula bagi siapapun untuk nyinyirin para wanita yang memilih untuk menjadi “stay home Mommy“.
Emangnya kita ini siapa sih, sok tau amat dengan apa yang bikin orang lain bahagia ataupun susah?
Kalau kondisi finansial yang bersangkutan memang mengijinkan untuk bisa hidup layak dengan satu pencari nafkah aja, sementara yang bertugas nyari duit aja juga nggak komplen, lantas apa pula urusannya dengan orang lain?
Ngga semua wanita yang menjadi “stay home Mom” itu merasa ngga berguna cuma karena nggak menghasilkan duit lho, apalagi merasa ditekan oleh pasangannya.

Lagipula, kata siapa pekerjaan itu harus selalu berarti tiap hari ngantor? Itu pikiran kuno. Jaman digital begini, yang namanya “home office” itu bukan hal yang luar biasa lho.
Dan kata siapa pula bahwa “sukses dan performance” itu cuma bisa dinilai dari banyaknya uang ataupun piagam/piala yang dikoleksi?
Mengutip kata suami saya: “Dein Wert hat nichts mit Geld bzw. Arbeit zu tun”.
(Nilai dirimu tidak ada hubungannya dengan duit ataupun pekerjaan).
Karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk memiliki “self-esteem” yang rendah hanya karena ngga menyetor duit ke kas rumah tangga, jika memang keadaan finansial tidak memaksa kita untuk bekerja.
Orang hidup ngga harus mendongak terus kan ya?!
Kalau hobinya mendongak ketinggian melulu sih, mau sampe kiamat juga pasti akan selalu ada yang kurang lah hehehe. Jadi, sepanjang kondisi finansial sudah bisa dibilang “cukup”, mestinya status ‘bekerja’ ataupun ‘tidak bekerja’ tidak perlu menjadi isu, apalagi sampai dibiarkan menjadi beban pikiran, seramai dan semeriah apapun omongan orang disekeliling kita.
Aktivitas dan kesibukan untuk mengisi waktu luang  (yang berlebihan) itu kan nggak selalu harus diwujudkan dengan karir yang membawa duit.

Jadi kesimpulannya:
“Jika haus akan ilmu, belajar sajalah terus sebanyak yang diinginkan, baik itu di bangku sekolah ataupun diluar lingkungan akademis.
Ilmu bisa diperoleh dari mana saja dan belajar itu nggak mengenal umur, status ataupun gender.
Tak perlu pula memusingkan apakah nantinya ilmu yang didapat itu semuanya bakal menghasilkan duit atau nggak, karena orang yang benar-benar berilmu (bukan sekedar pengoleksi ijasah lho), itu tidak akan pernah merugi.”
Sampai jumpa lagi lain kali 😉

Apa sih intisari sholat, puasa, sedekah dst itu …?

Standard
16730429_10210228344678486_5139045341366644636_n.jpg

source: anonymous (found in Facebook site)

Tema kali ini mungkin rada sensitif, bagi anda yang nggak suka bercermin, baperan dan sensian … silahkan lewatkan saja.
Saya ngga bertanggungjawab kalau anda kena darah tinggi dan endingnya jadi jantungan gara-gara baca tulisan saya. 😀
Anda-anda yang mengaku dirinya muslim paling sejati, khususnya kalian yang suka menuduh muslim lain yang beda tafsir itu tersesat dan butuh “hadiyah” … 😀
saya ingin bertanya: apakah anda semua benar-benar mengerti apa sih sebenarnya intisari dan pesan yang dibawa oleh rukun islam: syahadat, sholat, puasa, zakat/sedekah, haji?

Hasil observasi saya sih, sepertinya banyak umat islam jaman sekarang yang tidak lagi belajar pada ustad yang memahami hal itu, melainkan lebih suka menghadiri ceramah ustad-ustad instant yang hanya mengajari cara menjalankan “RITUAL” nya doang.

Saya sendiri bukan ustad, bukan pula ahli agama … tapi saya masih ingat benar, jaman saya kecil dulu … guru agama saya sih ngajarinnya begini ini:

1. Syahadat itu pengakuan atas sang pencipta dan rasul, menghindari syirik.
Tapi realita yang ada saat ini, yang ditinggikan seolah bukan sang Tuhan dan yang diikuti bukanlah akhlak sang Rasul, melainkan “ulama”.
Padahal ulama itu bukan orang suci dan sama saja seperti manusia lainnya, tempatnya salah dan alpa. Dimata umat sekarang, ulama yang omongannya besar dan pinter silat lidah bicara berapi-api, sok dan justru suka “riya” plus hobi mengkafir-kafirkan orang lain yang dianggap hebat. Yang humble dan berusaha mencontoh akhlak nabi itu justru yang dipandang sesat.
Jadi bukannya menjadikan dirinya layak jadi tauladan bagi orang disekitarnya supaya terpikat dan jatuh cinta pada ajaran yang dia bawa, tapi yang ada nih … bahkan yang udah muslim malah dikafir-kafirkan juga cuma karena tafsir islam-nya beda darinya.
By the way … tidakkah semua ajaran agama itu sebuah “Tafsir”?
Kenapa pula disebut “ilmu Tafsir” coba?
Tidakkah dari arti kata literal nya aja sudah jelas terlihat?
Semuanya sekedar “intrepretasi”, dan sudah wajar sewajar-wajarnya kalau “intrepretasi” itu bisa berbeda antara satu kepala dengan lainnya.
Dan kita bukanlah pencipta Alkitab ataupun Hadist.
Jika Alkitab itu buatan Tuhan, maka hanya Tuhan-lah satu-satunya yang tahu benar apa yang dia maksudkan dengan setiap yang tertulis disana, kita semua cuma “MENAFSIRKAN”, jadi mbok ya jangan kurang ajar dan sok tahu gitu lho.
Or do you think you are “God”???
Yang tahu pasti itu ya cuma yang bikin gitu lhooooo, who are you to claim to know the best than everyone else? 

2. Sholat itu ngajarin kebersihan dan disiplin.
Realita? Kayanya saya ngga perlu tunjukkan satu-satu dan ngga usah nyari semut dikejauhan sana, kita lihat saja Indonesia: negara berpenduduk muslim terbesar didunia. Apakah indonesia bersih? Apakah penduduknya bisa dibilang disiplin dengan sendirinya?
Hmmm …
Kalau dibandingkan dengan negara kafir yang suka dihujat itu, kira-kira lebih bersih dan disiplin mana?
So, what has their “sholat” taught them? Has it given them any effect at all?

Well, obviously not … Cuma sebatas ritual doang. Oberflächlich.

 

3. Puasa.
Katanya untuk mengajari umat bersabar dan mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan empati bagi orang yang lebih nggak beruntung daripada kita.
Realita???
Setiap saatnya puasa tiba, boro-boro punya empati bagi orang yang nggak beruntung secara umum … empati bagi orang miskin seagama yang cuma bisa ngais rejeki dari jualan makanan aja nggak ada …
Tega-teganya mengobrak abrik lapak mereka (tanpa ngasih kompensasi apapun pula).
Menahan hawa nafsunya cuma sebatas nafsu seks dan nafsu makan doang.
Amarah dimanjakan, kebencian tetap dipupuk, pintu maaf tertutup rapat, tenggang rasa nggak ada, egoisme dipelihara, sifat agresif, anarkis dan kasar diutamakan.
Masih pantaskah disebut ujian hawa nafsu jika disetiap kesempatan selalu menuntut seluruh potensial “ujian” di blokir, yang nggak wajib puasa pun dipaksa ikut puasa juga, cuma supaya dirinya nggak perlu berjuang lagi terlalu berat menahan “nafsu” nya, 😀
minta dimanjakan dengan privilege “boleh malas-malasan” di lingkungan kerja dan sekolah cuma dengan alasan “kan lagi puasa”.
Menjadi mayoritas bukannya berusaha berperan menjadi pelindung pihak yang lemah, tapi malah menjadi penindas.
Malah lebih buruk daripada penjajah asing itu mah, lha wong sama saudara sebangsa setanah air aja tega menindas gitu.
Katanya rahmat bagi seluruh semesta, tapi kok kalah sama bangsa yang dijuluki kafir ya.
Yang disebut negara kafir itu masih mau menampung, ngasih makan dan tempat tinggal buat muslim yang merana lho.
Sementara yang menyebut dirinya pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia, lha kok malah begitu banyak yang jahat pada manusia dan makhluk lain?
Ngakunya aja muslim yang takwa, tapi kok kepada sesama muslim aja bisa jahat, apalagi pada umat dan makhluk lain?!?
So … akhirnya, apa coba dong hasil puasanya? Bawa hikmah nggak?
Kalau yang “attitude” nya begitu sih, kayaknya lebih logis dan masuk akal kalau jawabannya adalah …:

“NONE” … “NOTHING”

 

4. Zakat/sedekah
Tidakkah itu juga bertujuan untuk ber-empati pada orang yang nggak beruntung? Berapa banyak yang ikhlas melakukan itu tanpa memamerkannya pada dunia? Yang melakukannya benar-benar hanya untuk mengajari diri jadi umat yang berhati seluas samudera, nggak serakah dan nggak dengki pada orang lain, dan bukannya sekedar untuk mencari PENGAKUAN dari publik betapa ber-taqwa-nya dia?
Ketika orang benar-benar tergolong orang yang taqwa, kaya tapi tetap murah hati dan humble, itu akan terlihat dengan sendirinya tanpa harus sengaja ditunjukkan pada dunia lho …
Dan harusnya orang ibadah itu bukannya untuk membersihkan dirinya sendiri dan meningkatkan kualitas spiritualnya sendiri agar bisa merasa dekat pada sang Khalik?
Kalau mereka ini memang percaya bahwa Tuhan lebih suka umat yang sok merasa paling bertaqwa dan lebih berhak masuk sorga daripada orang lain
(ah ya, alangkah kurang ajarnya, mendahului kehendak Tuhan gitu lho, sok tahu isi hati dan isi kepala sang Tuhan ^_^ ).
Then actually this is a real Blasphemy to God … karena Tuhan seolah digambarkan sebagai sosok yang picik, diskriminatif dan dangkal.

Ataukah jangan-jangan, sekarang tujuan ibadah itu sudah berubah dan yang utama adalah demi mendapatkan PENGAKUAN publik?

5. Ibadah haji itu wajibnya cuma sekali, dan hanya wajib bagi yang benar-benar mampu.. ngga cuma secara finansial tapi juga jiwa dan raganya benar2 mampu.
Dan sepertinya sih hikmahnya adalah supaya manusia bisa bercermin pada hidupnya sendiri, apakah sejauh ini sudah jadi muslim yang baik, yang bisa jadi tauladan bagi saudara-saudaranya?
Belajar untuk menyadari bahwa tak peduli berapa banyak gelar jabatan dan duit yang dimiliki, berada dilautan manusia di bawah terik matahari itu semuanya terlihat sama, ngga ada istimewanya antara 1 manusia dengan yang lainnya.

Ketika mati semuanya cuma bawa badan dan paling banter juga sekedar secarik kain. MANUSIA semua sama dimata sang Khalik, jadi jangan sok.
Tapi realita???
Ibadah haji jaman sekarang lebih banyak malah cuma kayak objek wisata,
yang cuma bisa menunjukkan bahwa yang bersangkutan bisa bayar ongkosnya.
Benarkah pelakunya sudah sungguh mampu di lihat di segala segi?
Benar-benar mampu secara finansial aja belum tentu.
Betapa banyak yang masa depan anak-anaknya saja belum terjamin, banyak anggota keluarga dibawah tanggung jawabnya yang hidupnya masih sengsara, tapi sudah ngotot ber-haji.
Betapa banyak yang bahkan berani ber-haji pake duit nggak halal, seolah kalau dipake haji trus jadi halal begitu …
Betapa banyak pula yang ngotot mendapat jatah bisa berhaji berkali-kali tanpa peduli bahwa masih banyak muslim lainnya yang ngantri dapat jatah kuota haji dan belum pernah sekalipun merasakan.
Betapa banyak orang yang sepulangnya dari haji bukannya jadi muslim yang jauh lebih baik dari sebelumnya tapi sekedar pengen dapat embel-embel sebutan “Haji/Hajah” dan bisa ngeklaim shaf sholat di deretan depan. 😀
Boro-boro jadi tauladan umat yang baik, humble, sabar, murah hati penuh maaf, kalau ada orang lupa nyebut dia dengan “titel”nya aja bisa tersinggung berat. 😀 😀 😀
Ketika kita melihat kehancuran, kerusakan dan ketertinggalan di wilayah-wilayah dominan muslim, alangkah bagusnya kalau untuk sesaat kita tekan sejenak hasrat untuk mencari kambing hitam dan melempar kesalahan kepada pihak lain dulu …
tidakkah lebih berguna jika kita bercermin kenapa itu semua bisa terjadi?
Karena kalau kita sendiri solid dan menjalani hidup dengan baik di negara kita sendiri, saling mendukung sesama saudara sebangsa, punya kasih tanpa pilah-pilah, bisa menentukan prioritas dengan benar … bahwa dalam kehidupan bermasyarakat itu yang terbaik adalah pencapaian “mutual welfare and well being of everyone” di negara tersebut, dan bukan hanya bagi golongan tertentu saja …
Jika itu yang jadi prioritas, maka tidak akan ada pihak luar manapun yang bisa merusak tatanan di negara tersebut.Politik adudomba hanya akan berfungsi kalau yang diadu domba mau aja dijadikan domba bodoh yang suka diadu. 😀
Kenapa dengan ajaran agama yang katanya adiluhung dan terbaik didunia, agama yang merupakan Rahmat bagi semesta alam, tapi kok negara dominan muslim justru lebih banyak yang bukannya jadi makmur sejahtera aman tenteram bersih teratur, tapi justru sengsara dan mengalami perang berkepanjangan?!?
Boro-boro jadi rahmat seluruh alam semesta, menjadi rahmat bagi satu biji kota aja susyeh banget kayanya.
Ngeklaim menjadi Rahmat bagi semesta tapi nggak bisa memberi kasih kepada seluruh isi semesta tanpa pandang bulu,
tapi yang ada malah menciptakan kesan Tuhan itu rasis dan diskriminatif, menilai umatnya bukan lagi dari akhlak dan amalannya tapi cuma sekedar dari “cara mereka menjalankan ritual, berpakaian dan asal-usul serta latar belakang sosialnya” doang.
Ketika anda sendiri tergolong orang yang suka mengkotak-kotakkan manusia … maka anda adalah orang yang paling tidak pantas untuk berkhotbah bahwa ideologi anda itu adalah yang paling layak untuk disebut pembawa rahmat bagi SELURUH semesta.

Ambillah cermin dulu.

IRONIS rasanya, jika orang yang berkata bahwa dia memperjuangkan:
“The borderless nations, the world is for everyone, passport is only a part of bureucracy, only a piece of paper and shouldn’t separate humans, block their life and talent, now it’s time for GLOBALISATION bla bla bla …”

Jika disaat yang sama, dia justru berkampanye dan berprinsip bahwa “haram bagi umat islam untuk nyoblos non muslim dalam pemilu/pilkada, yang nyoblos itu berarti bukan muslim sejati” >>> dan itu disebuah negara yang memakai sistem demokrasi lho, bukannya Monarki. Monarki konstitusional aja nggak, apalagi monarki berasas agama <<<.

Is the statement: “borderless nation and the world for everyone, globalisation”
only a beautiful tagline of an advertisement for own special purpose and actually has no meaning at all?

 Schade echt schade …
Katanya sih berilmu, tapi kok mencampur adukkan antara “Hablumminallah dengan Hablumminannas.”
Banyak diantaranya berpendidikan akademis tinggi, tapi tidak bisa membedakan antara “Civil Servant” dengan “Otokrat/Raja”.
Dalam
 negara bersistem demokrasi, even kepala negara itu adalah “Pelayan Rakyat” yang jadi bos itu Rakyat, dan bukannya sang pejabat terpilih.
Jadi, bahkan andai kita anggap bahwa tafsir isi QS. Al Maidah seperti yang para islamis konservatif katakan itu benar, maka itu tetaplah nggak relevan untuk diterapkan di sebuah negara bersistem “Demokrasi”, karena konsep “pemimpin jalannya pemerintahan” yang dipakai tidaklah sama.
Kalau yang berprinsip ngawur dan bisa dicuci otak oleh ustad yang di“pakai” oleh politisi tertentu itu adalah orang bodoh awam tak berpendidikan sih masih masuk akal ya,
tapi kalau orang yang katanya berpendidikan tinggi dan punya integritas juga ikut-ikutan begitu, kok rasanya sayang banget ya … ironis sekali gitu …
Ilmunya diumpetin kemana? Ataukah integritas-nya sudah tergadai pula hingga sang “ilmu” disingkirkan saja begitu?
Sayang oh sayang …

Saya sih juga seneng-seneng aja milih kandidat muslim kalau emang nyata-nyata lebih kompeten dan janji-janjinya itu tergolong masuk akal, cukup “feasible”, nggak cuma bisa “umuk”.
Kalau cuma bilang “produk saya jaminan mutu dan pasti nomor satu”, setiap iklan mah pasti akan begitu lah.
Tapi kalau orang mau pake otak dengan baik, mestinya tahu dong: mana iklan yang kira-kira berpotensi untuk terwujud hasilnya dan mana yang cuma “nggedebus”.
Tapi kalau kandidat muslim yang ada tidak cukup menjanjikan, lah yo mosok ngotot dipilih juga cuma sekedar karena dia “muslim”?
Kalau kayak gitu, kok masih bisa-bisanya ngarepin masyarakat bisa punya masa depan cerah dan ada perbaikan situasi kesejahteraan yang signifikan, lah emangnya sihir?

 

Well … saya tidak akan minta maaf kalau ada yang tersinggung, karena EXACTLY anda yang merasa tersinggung itulah yang menjadi cerminan dari apa yang saya narasikan diatas.
Bagi yang tidak merasa begitu, sudah pasti ngga perlu tersinggung.

Lah apanya yang perlu di tersinggungkan, kalau dia bukan termasuk umat muslim yang begitu kan LOL ?!?
Ketika seseorang merasa tersinggung saat mendengar kritikan yang tidak mengandung unsur hinaan ataupun kata-kata kasar yang nggak relevan,
maka tidak lain tak bukan sebabnya hanyalah karena biasanya justru “kritikan itu tepat sasaran”, spot on gitu lhooo wkwkwkwkwk.
Orang yang punya akal sehat mestinya bisa menilai sebuah kritik dari sudut pandang objektif, dan ngga ambil pusing “siapa yang ngomong”, karena yang lebih substansial adalah isi omongannya masuk akal nggak, dan bukannya “siapa yang ngomong” hehehe.

Sementara disini dulu ocehan saya …
see you next time …
semoga aja setelah kita sudah sempat bercermin rame-rame dengan semestinya
 hehehe

Teman bukan sodara bukan, tapi cerewet, kepo dan usil…

Standard

Hari ini pas nge-brunch aku minum air kelapa muda lalu ingat almarhum nenekku yang dulu ngomel waktu aku kecil sampai gadis suka manjat kelapa gading dibelakang rumah karena pengen minum airnya yang manis dan segar. Aku cerita kalau nenekku selalu nyeletuk: “Anak gadis pecicilan, nanti ngga ada yang mau nikahin kamu lho.” (…nobody would want to marry you!“)
Suamiku ngangkat alis nyeletuk: “And that kind of statement would definitely only be said to a girl, isn’t it? Why is it always only about marrying issue? Is the aim of life for women really only to get a man and be a baby factory? Ok, let’s say it’s the core issue of evolution, but if we really would judge it from this point of view, then why are the men excluded here? Why are such a remark never said to boys?, kemudian setelah menenggak tehnya kembali melanjutkan dengan ini,“Well, apart from that… it is obvious now that I’m not just a *Nobody*. I married you  😀 “(narsisnya kumat hehehe).

Gara-gara ini aku jadi teringat pada insiden beberapa waktu lalu ketika Ira Koesno menghebohkan jagad virtual dengan penampilan “excellent-nya dalam Debat Pilkada Jakarta dan kecantikannya yang tak memudar sedikitpun diusianya yang mulai mendekati setengah abad. Kenapa aku jadi geregetan?
Karena diluar hebohnyaa netizens yang terpesona dan kagum baik pada kecantikannya dan prestasinya, ternyata ada yang nggak kalah mengundang berita: “statusnya yang masih single”. Dan komentar-komentar tentang itu sungguh sangat menyakitkan hati, nggak cuma bagi si target “bullying” tapi bagi setiap wanita yang masih punya pikiran waras sebenarnya sih.

Ya… saya sungguh heran betapa sukanya orang-orang di negeriku ini mencari-cari sisi negatif dari seseorang bahkan meskipun ada begitu banyak hal positif yang sebenarnya ada pada dirinya. Betapa pula sukanya sok kasih petuah sama orang dalam hal yang sebenarnya tergolong urusan pribadi seperti: pilihan hidup, jodoh dan agama. Padahal mereka itu statusnya bahkan teman aja kadang bukan, sodara pun bukan.
Andai saja mereka ini mau ngaca, kira-kira dirinya suka nggak kalau ada orang yang sama sekali bukan siapa-siapanya ngasih petuah panjang lebar tentang urusan pribadinya, tanpa diminta. Ini yang bersangkutan (yang dikuliahi) sama sekali ngga lagi dalam posisi curhat dan minta dikasih saran lho ya. Mungkin ada yang memang sedang butuh saran, tapi sama sekali ngga ada hubungannya dengan “isi kuliah” nya itu, gagal fokus deh ceritanya. Yang ditanya A jawabannya X,Y,Z…ngga sesuai dengan isi pertanyaan, melencengnya jauuuuh banget. Nanya gimana cara urus dokumen nikah A,B dan C, jawabannya tahu-tahu “jangan nikah dengan yang begini atau begitu…dosa, nggak sah dsb dst… Lah emangnya yang nanya dosa atau nggaknya itu siapaaaaa coba?
Emangnya hanya dengan embel-embel:”jangan tersinggung ya…saya ngga bermaksud SARA…dst dsb”, lantas sudah cukup untuk membuat kekurangajaran anda bisa dimaklumi begitu?
What a ridiculous remark…
Emangnya hanya dengan embel-embel kata pengantar begitu lantas membuat “statement yang “rasis” trus bisa jadi berubah nggak rasis begitu?
Apakah hanya dengan kasih embel-embel begitu lantas kalimat yang nyakitin bisa berubah kesan menjadi tawar begitu?
Coba aja kita praktekkan yang sebaliknya, kira-kira enak nggak rasanya…?
Terlepas dari apapun topik yang dibahas, intinya cuma satu: “ikut campur urusan pribadi orang, dan ngasih kuliah panjang lebar soal isu pribadi orang lain tanpa diminta, apalagi ngomentari soal agama, moral dan akhlak segala, itu artinya cuma ini:
TIDAK SOPAN dan TIDAK PUNYA TATA KRAMA.

Contoh lain ya insiden yang menimpa Ira Koesno kemarin itu…
ketika orang menyatakan kekagumannya sama dia, eh adaaaa aja yang mengejeknya macam-macam hanya karena dia belum menikah…seolah-olah “MENIKAH” itu adalah sebuah PRESTASI yang membanggakan dan tujuan hidup yang terbaik bagi setiap orang.
Hah… kalau sekedar nyari laki-laki untuk diajak menikah doang mah… gampaaang lagi.
Semua orang juga bisa lah… tentu aja dengan catatan, ngga usah pake kriteria, pokoknya asal bisa bercinta dan bikin anak gitu…
Ngga usah pula nyari yang bertanggung jawab segala, yang penting “Menikah” kan, nggak jadi perawan tua kan?
Gampaaaaaaang. Apalagi Ira cantik, pinter dan banyak duit pula… laki-laki mana ngga mau sama dia, asal ngga perlu memenuhi kualifikasi apapun sih, yang penting laki-laki dan bersedia menikahi kan?? Biar dia ngga perlu berstatus “perawan nggak laku begitu?”

Tuduhannya macam-macam deh:
-ada yang bilang “mungkin dia merasa paling sempurna, nyarinya anak raja” segala.
Heh, anda ini siapa sok tau amat. Kenal juga nggak…
-ada pula yang statusnya perempuan bisa-bisanya ngomong: “bohong kalau sendiri itu bisa happy, emangnya tinggal di hutan?”
Eh mbak, hanya karena situ hepi cuma karena sekedar ada “pejantan” yang mau menikahi situ dan ngasih banyak anak doang, nggak lantas berarti semua wanita juga bakal hepi hanya karena bisa nemu “anybody” asal berkelamin “laki-laki” dan burungnya bisa “berdiri” yang mau ngelamar ya mbak…
Jangan samain standar situ dengan standar semua orang, jangan sok yakin pula kalau tujuan hidup situ dengan tujuan hidup semua orang itu pasti sama lageeeee…
Kalau kualitas dirinya cuma mampu untuk “handle” barang pasaran, ya emang nggak logis kalau mau minta yang kualitas “premium” dong.
Tapi masak iya yang kualitas dirinya tergolong “premium” harus turun standar cuma biar bisa kawin yaaaa? Ada sih emang yang mau…tapi hanya karena ada satu dua perempuan yang mau gara-gara takut jadi bahan gosip, nggak lantas berarti yang lainnya juga harus mau pula kaaaaan.
Saya aja ogah membiarkan hidup dan kebahagiaan saya di kontrol oleh “gosip” dan orang-orang kepo model-model kayak anda begitu. Apalagi Ira Koesno wkwkwkkwk.

The biggest mistake a woman could make regarding this issue is: “If she gets married just for the sake of getting married. Getting married it self is not the problem, but if one really doesn’t want to get married, then one shouldn’t compromise at all. Getting married is not an obligation to fulfil for our parents. In the end, we’re the one that has to live our life, not them, let alone those strangers out there.

-ada pula yang bilang anak dan suami itu bahagianya 1000 kali dibanding materi, udah mau setengah abad..lekaslah menikah keburu tua…Kasihan siapa yang mau nikahin ayooo.
Hmmm… yang kasihan itu justru orang-orang model anda begini deh.
Tahu nggak kenapa banyak wanita asia yang usia juga belum ada 30 udah “ngelomprot” sementara yang single dan usia udah setengah abad masih kinclong?
Itu karena yang pada “ngelomprot” itu dulunya nyari suaminya asal-asalan aja yang penting nikah hingga akhirnya terperangkap mesti ngabisin umur sama laki-laki kayak begini ini.
Yang single dan tetep kinclong hidupnya bebas dari rongrongan suami kualitas kampret macam anda. 😀
Daripada dapat yang model begini, hidup sendiri jelas lebih bahagia, bebas stress, makanya jadi awet muda hehehehe.
Wanita yang kepalanya punya isi itu berdandan dan merawat dirinya bukan sekedar untuk menyenangkan laki-laki. That’s totally wrong. Mereka merawat diri dan berdandan karena mereka ingin merasa cantik untuk dirinya sendiri, karena dia merasa senang dan puas ketika bercermin dan melihat daya tariknya sendiri.
Sedang untuk pasangan hidup, yang kami cari adalah pria yang akan tetap membuat kami merasa menjadi wanita paling cantik dan terbaik kualitasnya dimatanya, baik kami ini berdandan atau nggak, melayaninya dengan pengabdian sampai kayak orang yang dibayar ataupun nggak.
Jadi kami ngga perlu setiap saat was-was bakal dicampakkan begitu aja hanya karena udah ada keriput di muka, dan ngga perlu pula memborong segala jenis produk “sari rapet” dan pergi ke dukun-dukun koleganya “mak Erot” karena takut ditinggal nyari perawan lagi.
Buat apa nikah cepat-cepat kalau baru juga masa bulan madu lewat udah harus diliputi kekhawatiran tiap kali suaminya dapat teman baru berstatus “cewek”, dan harus selalu mencurigai setiap perempuan yang kinclong dikit.
Gitu dibilang nikah dan beranak itu selalu menjamin hepi…lebih hepi daripada single?
Kalau yang ngantri cuma yang kelas begituan mah saya bahkan berani jamin lebih hepi jadi perawan tua wkwkwkwkwk.
Kecuali memang perempuannya itu ngga punya kemampuan lain dalam hidup kecuali “macak, masak dan manak” doang sih… hehehe.
-ada yang bilang udah expired segala, ngga subur lagi… well… kalau memang pengennya cuma bisa beranak… walaaah… ngga usah nikah juga bisa lagi bikin anak wkwkwkkwk, dan dijamin Ira ngga bakal kesulitan ngasih makan anak 10 biji sekalipun biarpun ngga punya suami hahaha.

Dan masih banyak lagi deh… nggilani pokoknya dah…
Tapi intinya sebenarnya cuma satu…
WHO ARE YOU people??? Who do you think you are?
Siapa yang ngasih situ hak untuk menilai-nilai hidup orang?
Kalaupun ada orang yang setidaknya punya “relevansi” untuk ngasih opini terhadap seseorang dalam hal pribadi kaya gini, itu cuma “Orang Tua”, “Saudara” atau setidaknya “sahabat”, bukan “completely strangers” gini.
Dan “ke-kepo-an” begini ini ngga lantas jadi representasi orang nggak berpendidikan doang lho., sama sekali ngga mencerminkan status sosial lho.
Saya ini orang kampung asalnya, ortu saya nggak berpendidikan tinggi, tapi mereka tahu tuh menghargai privasi.
Orang yang dari dulu suka sok kepo begini itu justru bener-bener orang yang sama sekali asing buat saya, teman dekat bukan sodara juga bukan.
Ortu saya, sodara-sodara dan teman dekat saya… justru sama sekali ngga ada yang ceriwis dan kepo sampai kayak begini ini.
Meskipun saya tahu kalau ortu pasti ada harapan punya cucu pula, tapi sepanjang 7 tahun terakhir pernikahan saya, baru sekali ibuku menyinggung soal anak, itu baru lebaran tahun lalu. Dan gara-garanya juga karena dalam percakapan tiba-tiba ada topik yang relevan, jadi beliau pun ada “kesempatan” untuk menyinggung soal itu.
Itupun tidak berupa tuntutan tapi lebih sekedar ungkapan rasa khawatir, apakah semuanya baik-baik saja. Karena tipikal orang asia khawatir “suami” bakal nyari bini baru kalau nggak dikasih anak.
Dan jawaban saya pun singkat saja: “Ngga usah khawatir macam-macam. Suamiku adalah tipe pria yang cuma akan suka dan sayang dengan “anaknya” hanya karena itu adalah “anak saya”, dan bukannya tipe pria yang suka dan sayang sama “saya” hanya karena saya adalah “ibu dari anaknya”. Jadi cinta dan sayangnya sama saya ngga tergantung dari eksistensi anak dalam hubungan kami.
Jika sampai hubungan kami berakhir, yang jelas itu bukan karena faktor “anak”.
Sedang dari sisi aku sendiri, ibu cuma perlu tahu: bahwa dari sejak remaja dulu keinginan saya adalah mencari suami yang tidak memandang perempuan sekedar sebagai teman bercinta, pengelola rumah tangga dan pabrik anak saja.
I don’t wish to marry a man who against the idea of having kids at all for all reason, but neither do I want a man who desperately want kids so that my existence has no meaning to him at all.”
Dan ibuku pun tidak bicara lebih jauh lagi.
So…. ini yang jabatannya ibu kandung aja nggak cerewet… ini orang yang bukan siapa-siapa pula sok ikut campur amat. Nggak tahu malu dan nggak punya sopan santun amat ya.
Setiap wanita punya kriteria yang berbeda-beda dalam memilih pasangan hidup, dan kompromi serta menentukan prioritas memang dibutuhkan untuk itu, tapi nggak lantas berarti kita harus banting harga dengan drastis, kasih diskon besar-besaran sampai nyaris gratis cuma demi status pernah “menikah” doang.
I’m okay with your criterias, whatever they are… (i don’t care whether it’s shallow or high) but please deh… that’s only yours, but not mine…and not always mean the criterias of every single woman on this earth either.
Silahkan jalani hidup sesuai standar nilai kamu, tapi jangan cerewetin orang lain dan jangan gunakan standar pribadi kamu untuk menilai hidup orang lain karena itu ngga masuk akal dan nggak sopan.
Apalagi sampai menyuruh orang lain untuk juga menerapkannya, karena kalau sudah sampai pada tahap ini, namanya sudah bukan lagi “ketidak sopanan dan tidak adanya tata krama”, melainkan sudah merupakan “Pelanggaran Hak Asasi”.
Kebahagiaan itu adalah hal yang sifatnya sangat personal, cuma yang bersangkutan yang bisa menilainya, bukan orang lain.

“Tabu”-nya orang Indonesia itu kadang memang bikin “speechless”…

Standard
“Tabu”-nya orang Indonesia itu kadang memang bikin “speechless”…

Saya sering bicara bahwa sebuah kultur itu nggak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk daripada yang lainnya, mereka memang beda, cuma itu. Setiap kultur memiliki ciri khasnya masing-masing dan ada latar belakangnya pula mengapa begitu.  Dan pendapat saya ini masih tetap sama, akan tetapi itu adalah opini secara umum terhadap keseluruhan budaya sebuah bangsa, jadi nggak berarti bahwa saya anggap setiap jenis adab/nilai/kebiasaan/budaya tertentu dari suatu masyarakat itu sensibel dan sebaiknya dilestarikan.
Kultur itu sendiri pada dasarnya adalah hal dinamis, dari jaman prasejarah sampai abad digital akan selalu mengalami perubahan entah itu positif atau negatif arahnya sesuai dengan perkembangan pengetahuan kita (ilmu dan teknologi itu sendiri juga kan bagian dari produk kultur toh? Sejauh ini rata-rata orang cuma mengasosiasikan kultur dengan seni, kerajinan ataupun tradisi saja; padahal kultur itu sangatlah luas). Tentu saja yang ideal adalah jika perubahan itu membawa ke arah yang positif ya. Dan inilah yang ingin saya ungkapkan disini: beberapa hal tipikal di kalangan masyarakat indonesia yang cukup “irritating” hingga ingin saya bagi disini.

Tema kali ini ngga jauh beda dengan hal yang saya tulis beberapa hari yang lalu, hanya saja kali ini lebih relevan bagi khususnya kaum wanita. Saya tergelitik untuk menulis ini ketika kemarin tanpa sengaja membaca komentar-komentar ibu-ibu Indonesia pada artikel online tentang berita proses melahirkannya artis “Andien” yang kebetulan nongol di newsfeed akun medsos saya karena ada “mutual friend” saya yang komentar disitu.
Sejauh ini saya bukan tipe orang yang suka ngikutin berita artis, buat saya “up to date”soal artis sama sekali bukan hal penting dan nggak begitu menarik jadi seringnya saya ini cenderung kuper soal berita artis. Kalau ada info yang ngga sengaja nangkring gini aja sih, dan kebetulan isunya lumayan “nyentil” baru saya kadang iseng untuk nggugel karena penasaran mengapa orang-orang begitu hebohnya.
Seperti kali ini, yang menarik perhatian saya justru adalah komen-komen para wanita itu yang bikin saya jadi gatel. KENAPA?

Karena ada wanita-wanita yang bilang “JIJIK” dengan Andien, cuma gara-gara sang artis ini berbagi tentang proses kelahiran anaknya yang secara natural dan peran aktif sang suami dalam membantu proses kelahiran anak mereka.
Saya bisa mengerti bahwa tidak semua orang mau membagi hal-hal sakral dalam hidupnya, karena saya sendiri juga tidak. Saya juga ingin membatasi hal-hal yang ingin saya jaga dalam lingkungan pribadi saya dan mana yang bisa saya bagi kepada publik.
Saya juga bukan tipe orang yang suka PDA (Mamerin kemesraan dengan pasangan dimuka banyak orang, baik itu dulu ataupun sekarang ketika saya sudah tinggal di Eropa. Not that I find it unacceptable, but it’s simply not my cup of tea. I don’t need to show my affection anywhere anytime anyway)…
Tapi saya tetap tidak bisa bayangkan ada “wanita” yang sama-sama secara alami di desain untuk hamil dan melahirkan bisa-bisanya menganggap bahwa “proses kelahiran” dan ekspresi “cinta” dari pasangan hidup itu sesuatu yang “menjijikkan”.
Saya sampai penasaran dan nggugel lama untuk ngecek seperti apa sih foto-foto yang di bagi oleh Andien itu dan seperti apa dia menceritakan proses melahirkannya, kok sampai dianggap menjijikkan?!
Tapi sejauh ini yang saya temukan sama sekali belum layak untuk dikategorikan “menjijikkan” deh. Lebay juga nggak lho (nggak kayak acara lahiran anaknya si Anang yang sampai di siarkan langsung segala…itu baru lumayan pantes dikategorikan lebay).
Foto-foto yang di bagi oleh keluarga Andien sekedar menunjukkan ekspresi “cinta”, sama sekali nggak bernuansa “seksual” ataupun porno.
Sejak kapan orang melahirkan itu porno? Ini sama aja kayak orang-orang Amrik sana yang menganggap bahwa “menyusui” bayi itu juga hal yang “saru”, “tabu” dan “porno” :-D. Tapi anehnya berpose telanjang dianggap biasa-biasa saja. Semakin lama saya benar-benar semakin merasa betapa miripnya masyarakat amrik dengan indonesia ^_^.
Hal-hal yang secara natural dikodratkan pada makhluk hidup dimuka bumi, tapi dianggap “TABU”, how ridiculiously funny…

Baru juga informasi dan foto begitu aja dari Andien udah dibilang “menjijikkan” dan tabu… apalagi kalau mereka lihat betapa banyak video proses kelahiran natural yang bisa diakses dengan mudah di YouTube ya? Banyak dari para ibu di video itu bahkan sepenuhnya telanjang. Andien mah masih pake baju, ya!
Para wanita di Indonesia begitu terbiasa dengan begitu banyaknya servis yang ada mungkin, begitu banyaknya orang disekelilingnya yang bisa membantunya ngurus anak, dan begitu menganggap enteng “operasi caesar” sehingga membuat mereka melupakan bahwa proses melahirkan itu adalah hal yang sepenuhnya “NATURAL”, tidak layak untuk masuk kategori “tabu”, apalagi kita nggak lagi hidup di jaman kuno dimana bahkan wanita yang haid dan nifas pun dianggap “kotor” hingga “suami” pun ngga boleh “menyentuh”-nya.
Sungguh kolot pula memandang bahwa peran serta seorang suami dalam proses kelahiran dan ungkapan kebahagiaannya ketika si bayi lahir ditangannya dianggap “gesture” yang tidak pantas (rolling my eyes…).
For God sake, this man didn’t give her a french kiss! It was merely a light peck.
Ada bidan dan orang-orang lain disekitarnya gitu lho, yang benar aja lah…

Harap jangan salah tangkap ya, saya ngga bermaksud menganggap wanita yang melahirkan melalui operasi caesar itu lebih rendah nilainya daripada ibu yang melahirkan natural lho. Ada banyak situasi khusus yang membuat kelahiran caesar adalah hal yang terbaik bagi beberapa kasus tertentu. Tapi bagaimanapun adalah fakta bahwa SETIAP WANITA terlahir kedunia dengan membawa karakteristiknya yang khas sebagai media untuk membawa generasi baru kemuka bumi, jadi pada dasarnya kita sudah dilengkapi dengan semua yang dibutuhkan untuk membawa manusia baru ke muka bumi dengan selamat. Jangankan binatang liar, wanita-wanita yang hidupnya jauh dari peradaban modern semuanya juga melahirkan tanpa asistensi dokter ahli dengan peralatan canggihnya kan?!
Apakah kemampuan alami itu akan dimanfaatkan oleh setiap dari kita atau tidak, itu adalah soal lain lagi.
Mungkin wanita-wanita Indonesia yang menganggap lebay tulisan ataupun video tentang hal-hal semacam ini karena mereka nggak perlu ngerasain repotnya dan khawatirnya harus menjalani semua proses (yang bagi setiap “calon ibu baru” menakutkan) karena di sana ada banyak orang yang bisa mereka andalkan untuk membantu, bahkan bayar asisten banyak pun nggak susah karena murah.
Mereka nggak tahu betapa tulisan ataupun video yang di bagi oleh sesama ibu di dunia ini bisa sangat membantu sekali bagi kita-kita khususnya yang tinggal jauh dinegeri orang tanpa orang tua yang bisa dimintai tolong dan dimana jasa pembantu ataupun baby sitter adalah sebuah kemewahan.

Memang benar jasa medis di negara maju bisa diandalkan, tapi itu kan tidak lantas kita bisa mendapatkan semua informasi dan bantuan dari mereka. Dan tidak pula semuanya bisa ditanggung asuransi, khususnya jika itu hal-hal yang nggak mengancam kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi. Akan tetapi tetap saja itu bisa berupa hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh para calon ibu yang sedang mengandung untuk yang pertama kali.
Jadi adanya orang-orang yang bersedia berbagi pengalaman pribadinya (yang sebenarnya tergolong privacy dan sakral) adalah hal yang justru patut untuk dihargai.
Toh itu bukan sebuah aib, itu bukanlah hal yang memalukan gitu lho…

Saya juga kebetulan tertarik akan proses melahirkan dalam air, karena itu saya suka melihat dan membaca apapun yang bisa saya temukan tentang pengalaman pribadi orang yang mengalaminya, jadi nggak cuma informasi yang sifatnya teori saja dari jurnal-jurnal medis dan omongan dokter doang.
Kalian-kalian yang merasa tidak butuh, ya nggak papa, tapi mbok nggak usah nyinyir…
toh nggak ada yang menyuruh kalian untuk melihat atau membacanya kan?!
Kita semua tahu betapa banyaknya operasi caesar di indonesia yang dilakukan tanpa adanya rekomendasi medis, melainkan murni karena alasan: ngga mau sakit, takut vaginanya melebar (hingga suami jadi berpotensi untuk ngelirik perawan sebelah 😀 ), dan alasan-alasan nggak rasional lainnya semacam itulah, hanya karena merasa secara finansial mampu menanggungnya.
Jadi adalah hal yang menurut saya justru sangat positif, ketika ada publik figur yang mau berbagi karena itu bisa menjadi semacam “encouragement” pada para wanita yang sedang mengalami ketakutan untuk melahirkan normal dan sedang bimbang karena dibujuk dokter (yang mata duitan) dan sebenarnya ibu-ibu yang sedang bimbang ini secara medis nggak butuh operasi.
Bagaimanapun harus kita akui bahwa pengaruh “artis” dan efek persuasif dari tindakan mereka pada publik itu cukup besar.

Lagipula… rasanya lucu juga kalau menyebut “video dan foto orang melahirkan” itu tabu dan saru, tapi anehnya ngomongin aib suami sendiri, dan bercanda serta bercerita tentang kehidupan seksualnya bersama suami/istri, bikin jokes-jokes berbau seks kok nggak dianggap tabu ya… Malah kadang jadi topik tipikal di tayangan komedi lho…
Betapa paradoks… ^_^ .
Bahkan nguliahin orang tentang pilihan pasangan hidup orang make dalih agama (yang notabene adalah urusan pribadi yang paling pribadi), dianggap normal (lagi-lagi jadi “rolling my eyes…”), pada nggak sadar bahwa kalau sebaliknya ada orang yang negur atau nasehatin dia tanpa diminta, dianya marah-marah juga…merasa tersinggung 😀 .

Seharusnya, orang-orang yang ngaku dirinya “intelek” bisa membedakan mana yang patut untuk dikategorikan “lebay” dan pamer dengan yang nggak.
Kalau ngomongin “Ah, artis sih… cuma melahirkan aja pake masuk berita, semua wanita juga bisa melahirkan, apanya yang istimewa?!”
Hmmm saya jadi heran, siapa pula yang bilang kalau dia itu istimewa? Nggak ada kan?
Lagipula, dijaman media digital saat ini… siapa orangnya yang butuh jadi artis dulu untuk bisa memamerkan dirinya dimata dunia coba?
Setiap orang bisa upload gambar-gambar dan pengalamannya sendiri dan membaginya pada publik tanpa memandang apapun statusnya. Dan kalau beruntung, setiap orang juga punya kesempatan yang sama untuk membuat postingannya menjadi viral dan bikin dia terkenal di dunia.
Jadi siapa bilang cuma artis yang bisa melakukan itu?
Di jaman sekarang ini semua orang bisa melakukannya, itu kalau memang mau 😀 .
Saya kok trus jadi punya prasangka ya, para wanita yang suka sinis itu sebenarnya sirik karena suaminya kolot dan menganggap bahwa terlibat aktif dalam proses kelahiran anaknya sendiri itu hal yang “menjijikkan”.
Kalau mereka mau jujur, pasti akan mengakui bahwa orang yang paling terdekat dalam hidup kita dan paling punya potensi untuk memberikan dukungan moril dan kekuatan untuk berjuang, yang seharusnya paling bisa dipercaya adalah orang terkasih kita… (bahkan yang harusnya paling layak untuk jadi tempat kita mempercayakan nyawa. Bukankah setiap proses melahirkan itu adalah saat antara hidup dan mati?)
Dan siapa lagi itu kalau bukan belahan jiwa kita sendiri (logisnya lho ya)?
Yang paling diharapkan selalu ada disisi saat itu adalah pasangan hidup kita, kecuali jika sikon tidak mengijinkan itu.
Para wanita yang pasangannya tidak merasa bahwa mengekspresikan kasih itu hal yang memalukan dan tabu, tidak akan mengungkapkan hal-hal yang sinis seperti itu, bahkan meskipun dia sendiri kebetulan tergolong orang yang suka melindungi privacynya seperti saya.
Orang yang isi kepala dan hatinya bersih, merasa “content” dengan hidupnya, tidak akan sinis dengan kebahagiaan orang lain, karena dirinya sendiri juga sudah cukup bahagia :-D.
Sepertinya istilah: “Susah ngeliat orang lain senang dan senang ngeliat orang lain susah”, kadang-kadang emang tepat banget untuk diterapkan pada “jenis-jenis” tertentu manusia di Indonesia hahahahaha.

Saya sendiri… mungkin juga ngga selalu menganggap semua informasi yang saya temukan di Internet itu bagus untuk diterapkan pada saya, tapi saya tetap bisa menghargai setiap informasi yang dibagikan orang. Semua adalah tugas kita sendiri masing-masing untuk menyaring mana yang cocok dan mana yang nggak buat kita, tapi tetap sangatlah bagus bahwa ada begitu banyak yang bisa kita temukan dengan bantuan internet di jaman modern ini.
Meskipun tak ada ibu yang bisa mendampingi, kita jadi nggak merasa buta dan “helpless” dengan adanya semua itu.

Ok deh..sekian dulu ocehan saya hari ini… sampai jumpa lain kali hehehe.

 

 

Burnout-Syndrom: Depresi dimasa studi bukanlah isu ringan

Standard

DEPRESI, sepertinya topik ini di masyarakat Indonesia masih tabu untuk dibahas seolah itu adalah sebuah aib yang sangat memalukan. Depresi itu bukan dosa apalagi kejahatan, melainkan gangguan kesehatan yang efeknya tidak bisa dianggap remeh bahkan bisa menjadi sesal berkepanjangan tidak berhasil diatasi sebelum terlambat.
Untuk menemukan solusi yang optimal sebelumnya orang harus mencari akar masalahnya dulu, jadi menutup-nutupi masalah bukanlah jalan terbaik yang bisa diambil, karena hanya dengan tidak membahasnya dan menutupinya tidak lantas berarti masalah itu jadi menghilang dengan sendirinya.

Orang yang sedang mengalami depresi itu butuh support dari orang-orang disekitarnya, mereka tidak bisa berjuang sendirian. Semakin mereka merasa sendiri semakin besar perasaan “helpless” dan ancaman bunuh diri juga makin kencang. Karena itu “awareness” dari orang-orang disekitar kita sangat besar peranannya.
Belum lama saya menulis sentilan kepada orang-orang yang hobinya mencari perhatian publik dengan sengaja menyebar kisah dramatis pribadinya dan menjelek-jelekkan partner/anggota keluarganya sendiri. Tulisan tentang depresi ini tidak lantas berarti menunjukkan bahwa saya nggak konsisten dengan opini saya.
Karena ini adalah dua hal yang jauh berbeda.
Cukup jelas kok bedanya, orang yang berbagi dengan niat mencari solusi dengan orang yang cuma mencari “cheerleaders” dan teman bergosip, cuma mencari pembenaran akan attitude-nya dan keluhan-keluhannya yang jelas-jelas kekanak-kanakan (yang kayak gini mah lebay namanya).
Orang yang benar-benar depresi biasanya itu justru cenderung tertutup, karena itulah perasaan “helpless” jadi besar, seolah mereka ngga punya siapa-siapa yang bisa mengerti dirinya, mungkin bahkan adanya rasa malu dan gengsi untuk mengakui bahwa dirinya punya masalah itulah yang makin memperburuk keadaan. Apalagi jika kita tumbuh di masyarakat dimana “kehilangan muka” dan “kehormatan” serta “prestige” itu dipandang sebagai hal yang sangat krusial seperti Indonesia.

Saya bukan psikolog ataupun psikiater, sehingga saya tidak cukup berkualifikasi untuk menganalisa tentang depresi. Disini saya cuma ingin berusaha membangkitkan kesadaran akan adanya bahaya depresi dikalangan calon akademisi kepada masyarakat Indonesia yang kecenderungannya saya lihat masih berpandangan terlalu sempit, menganggap itu suatu hal yang memalukan hingga tak pantas untuk dibicarakan secara terbuka.
Padahal itu adalah isu yang bisa menimpa siapa saja, dan sekecil apapun kesediaan untuk berbagi atau memberi perhatian pada isu ini, mungkin akan bisa menyelamatkan nyawa banyak orang yang mungkin saat ini sedang menghadapi masalah tersebut.
Yang sudah pergi takmungkin kembali, sudah terlambat untuk berbuat sesuatu baginya kecuali sekedar mendoakan.
Tapi diluar sana masih banyak orang-orang lain yang mungkin masih bisa dibantu sebelum terlanjur terlambat pula baginya.
Sebagai kaum intelektual, seharusnya bisa membedakan antara “tulisan bertendensi gosip” dengan tulisan yang sifatnya informatif dan edukatif sehingga lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya.
Depresi dikalangan mahasiswa janganlah diremehkan. Di Jerman sendiri tercatat setidaknya 1 dari 5 mahasiswa didiagnosis mengalami depresi. Informasi bisa dilhat disini, disini dan disini. Dan kasus bunuh diri karena depresi juga bukanlah hal yang langka. Mahasiswa Indonesia juga tidak terkecualikan dari ancaman ini. Terutama karena mereka di usia dimana kondisi psikologis dan emosi mereka cenderung masih labil dan sudah harus hidup merantau dinegeri orang sendirian. Yang orang lokal saja tidak sedikit yang kena lho.
Apalagi kita semua tahu betapa besar pengaruh keluarga dan orang tua pada anak-anak Asia. Banyak sekali kasus dimana mereka bahkan bersekolah itu demi memenuhi ambisi orang tuanya dan bukannya untuk mengeksplorasi bakat dan potensinya sendiri. Banyak anak-anak asia yang terpaksa harus ambil jurusan teknik atau kedokteran cuma karena gengsi dan reputasinya yang bagus, padahal mungkin bakat dan “passion” mereka tidak ada disana. Ini juga merupakan faktor tambahan penyebab depresi lho.
Sementara itu, kultur kita biasanya membawa “bad consciousness” yang sangat tebal ketika yang bersangkutan merasa tak mampu untuk bisa memenuhi harapan-harapan orang tuanya. Ketakutan untuk pulang membawa kegagalan karena bisa memberikan malu pada keluarga, tebalnya rasa bersalah ini membuat semuanya semakin buruk.

Disinilah letak pentingnya kesadaran orang-orang tercinta disekitarnya agar tidak membuat tekanan perasaan ini semakin besar. Supaya kelak tidak ada sesal dibelakang hari jika si anak pada akhirnya benar-benar tak bisa menahan godaan untuk mengakhiri semuanya dengan cara yang salah.
Disinilah perlunya tulisan-tulisan yang bisa membuka mata orang-orang kita akan potensi depresi bahkan pada anak-anak yang “sepertinya” sejauh ini baik-baik saja, patuh, tidak pernah nyusahin keluarga, bahkan mungkin pinter.
Jangan salah, “the really intelligent people are even more likely to have stress and they are often pessimistic/skeptical towards the world.”
Terlalu tinggi harapan pada anak (apalagi sampai pada level “tuntutan”) itu sama riskannya dengan terlalu memanjakaan anak.
Tolong jangan abaikan peluang untuk menunjukkan pada anak bahwa mereka tetap dicintai dan ngga akan dianggap sebagai perusak reputasi keluarga hanya karena mereka ngga selalu pulang membawa kesuksesan karir atau prestasi akademis.
Didunia ini ngga semua orang harus jadi insinyur, dokter, ilmuwan ataupun ekonom top.
Yang tidak bisa memiliki karir seperti itupun ngga lantas berarti mereka ngga berharga dan nggak layak dibanggakan lagi.
Dengan begini, setidaknya mungkin kita bisa mengurangi beban mental mereka yang sedang berjuang menempuh studi dinegeri orang.
Kuliah di jerman itu nggak gampang… angka kegagalannya mencapai hampir 50%, secara general… ngga cuma pada mahasiswa asing melainkan seluruh mahasiswa di negeri ini.
Gagal bukanlah hal yang memalukan, itu bukan dosa bukan tindakan kriminal, dan bukan pula akhir dari hidup. Gagal disatu bidang tidak lantas berarti kita akan gagal dalam semua hal.

Yang paling penting lagi… sebaiknya dikembangkan kebiasaan untuk terbuka. Kita memang nggak harus mengumumkan masalah pribadi pada setiap orang, kepada publik, tapi setidaknya janganlah semua hanya disimpan sendiri jika itu terasa berat.
Berbagilah pada teman terdekat atau siapapun itu yang bisa diajak berbagi cerita.
Jika memang tak ada teman yang bisa dipercaya, pergilah mencari bantuan professional bila ada masalah. Di Jerman sini apalagi, ada banyak sekali layanan konseling gratis.
Setiap orang juga punya asuransi sehingga mencari konsultan yang nggak gratis juga bukanlah sebuah masalah.
Jangan anggap “depresi”, “stress” dan “burnout syndrom” itu hal yang memalukan. Itu hal yang bisa terjadi pada siapa saja.
Forum-forum online untuk saling berbagi secara anonym seperti ini misalnya,  juga bisa dimanfaatkan.
Semoga tulisan ini bisa dianggap bermanfaat, karena saya sama sekali nggak ingin bergosip ^_^ .
Turut berduka cita bagi siapa saja yang saat ini sedang berduka karena orang yang dikasihi meninggalkannya gara-gara tak mampu mengatasi depresinya…
Semoga angka korban depresi dikalangan mahasiswa (khususnya) bisa berkurang dimasa mendatang.

Sampai Jumpa.

Pria “Bule” atau Lokal, mana yang lebih OK? Kenapa milih “bule”, apa mereka emang lebih baik daripada lokal?

Standard

Wanita yang pasangan hidupnya non-Indonesia, pasti sangat familiar dengan yang ini. Jawaban setengah bercanda mungkin sering diberikan seperti: “Wah, baru pernah menikahi salah satu doang, jadi ya ngga tahu gimana bedanya :-D!”
Jawaban yang “crafty” sih hehe, aku juga kadang pakai terutama jika yang saya hadapi orang yang sekedar kepo alias usil bin nyinyir.
Tapi jika ini adalah pertanyaan yang diajukan secara serius, maka saya juga nggak keberatan untuk menjawab dengan serius juga, dan itu akan saya lakukan sekarang melalui tulisan ini :).

Kalau mau jujur, kecuali kita tergolong wanita konservatif yang belum pernah pacaran sekalipun dan kemudian mendapatkan suami WNA-nya melalui jalur “Ta’aruf”, saya rasa kemungkinan besar sebenarnya kurang lebih tahu bedanya gimana bentuk interaksi hubungan dengan pria lokal (Indonesia) dengan pria asing. Mungkin memang belum pernah tinggal bersama, tapi jika pacarannya cukup lama sepertinya kita akan tetap bisa membandingkan kurang lebih seperti apa kira-kira kalau hidup dengannya sebagai suami istri dan mengapa kita lebih milih si A atau si B untuk menghabiskan hidup.
Saya kebetulan pernah ngalamin “in love” dengan pria dari 2 golongan ini.

Lalu apa jawabannya?!?
Kalau menurut pendapat saya, kita tidak bisa menjawab pertanyaan ini secara “overall”, karena setiap manusia pada dasarnya memiliki kepribadiannya masing-masing. “Bule” ataupun Indonesia, sama-sama manusia juga kan? Walaupun mungkin memang ada pengaruh kultur pada kebiasaan dan pola pikir mereka.
Tapi jika kita ingin membandingkan “attitude” atau pola pikir mana yang lebih baik, saya rasa itu juga kurang pas. Kalau kita mau bilang pria bule lebih baik, apakah lantas kita mau bilang bahwa wanita yang bersuami pria Indonesia dapat pilihan buruk dan nggak bahagia? Begitu juga sebaliknya jika saya bilang pria Indonesia pola pikir dan “attitude”-nya lebih baik, apa itu berarti wanita yang bersuamikan “bule” lantas kebahagiaannya cuma semu? Kan itu juga absurd.

Sejauh ini saya sering bilang bahwa setelah mengalami beberapa kali hubungan dengan orang lokal yang gagal, saya akhirnya berkesimpulan bahwa saya lebih suka dengan pria eropa dan nggak merasa cocok dengan pria indonesia. Tapi itu nggak berarti saya berpendapat bahwa pria Indonesia itu nggak baik. Saya hanya berkesimpulan bahwa kepribadian dan pola pikir saya jauh lebih sesuai dengan pola pikir eropa. Saya sering bilang bahwa saya ngga ingin mencari imam tapi mencari partner hidup. Itu memang benar. Tapi ini juga ngga berarti lantas wanita-wanita yang bertujuan mencari imam bagi hidupnya itu melakukan kesalahan.
Kebutuhan dan apa yang dianggap seseorang mampu membuat hidupnya terasa “content” itu kan emang sifatnya sangat personal, jadi ya memang tidak bisa distandardisasi. Belum lagi kalau kita sudah bicara “CINTA”.
Tidak ada cinta yang salah. Yang ada hanyalah orang yang membuat pilihan penting dalam hidup secara tidak sensibel hanya karena mengikuti emosi dan hasrat hati.
Saya merasa jauh lebih cocok dengan pria Eropa karena pada umumnya mereka memberikan saya ruang privat yang cukup luas untuk melakukan dan memutuskan sesuatu yang cuma relevan bagi diri saya secara mandiri. Saya nggak harus selalu minta pendapat apalagi ijin pasangan jika saya merasa itu tidak punya efek tertentu pada dia atau kepentingan bersama. Saya adalah seseorang yang butuh ruang yang luas untuk diri saya, karena itu saya tidak suka dengan tendensi pria asia untuk merasa perlu “menjadi sosok pelindung”dan mengurusi pasangannya.
I don’t need protector nor a guardian, I can protect my self well enough.
Tapi kan ada juga wanita yang menyukai perhatian besar dan luas seperti ini and that’s absolutely fine.
Pria asia cenderung menunjukkan perhatian yang besar jika mereka sayang, antar jemput seolah menjadi kewajiban, cemburu itu tanda cinta, dan hal-hal semacam itu. Itu adalah kesan saya sejauh ini.
Jadi saya kurang sepakat dengan ungkapan bahwa pria eropa selalu lebih romantis daripada pria asia. Karena untuk bisa memberikan evaluasi seperti itu, sebelumnya kita harus tetapkan dulu apa itu yang bisa dikategorikan “romantis”?
Apakah dengan memberi bunga itu cukup untuk bisa dilabeli “romantis”? Lantas apakah jika pria Indonesia yang tahu bahwa pacarnya tidak punya kendaraan pribadi selalu menyempatkan diri untuk menjemputnya pulang kerja menempuh macet meskipun lokasi mereka sangat jauh, karena nggak tega membiarkannya berdesakan di buskota dan ambil resiko mengalami pelecehan seksual tidak bisa dikatakan “romantis”?
Cowok Indonesia itu justru lebih banyak lho perhatiannya kalau sedang naksir cewek. Telepon rajin cuma untuk nanyain udah makan apa belum, bersedia direpotin ngantar kemana-mana, kalau kebetulan punya banyak duit juga mereka malah lebih royal dengan hadiah dan traktir-mentraktir… karena kultur asia yang patriarki mendidik mereka untuk menjadi penopang finansial keluarga, jadi royal dalam hal duit pada “wanitanya” jika mereka berdompet tebal bukanlah hal istimewa di Asia. Jadi asumsi bahwa kawin dengan pria “bule” bisa hidup lebih royal dan gaya itu nggak selalu benar. Pria asia nggak kalah royal kalau punya duit, malah kalau berdasarkan pengalaman saya asia justru lebih royal.

Saya tipe orang yang sangat pragmatis, karena itu saya justru tidak nyaman dengan hal-hal semacam itu. Tapi kan banyak wanita yang justru menikmatinya. Kecenderungan posesif pria Indonesia (kebanyakan ya, bukan berarti ngga ada pengecualian) sangat mengganggu saya, tapi ada kelompok wanita lain yang justru merasa terganggu kalau pasangannya ngga pernah cemburu dan memberinya banyak kebebasan. Golongan ini cenderung menganggap terlalu banyak memberi kebebasan itu adalah signal ketidakpedulian.
Apakah sekedar sering bilang “I love you”, memberi panggilan “sayang, darling, dst” itu cukup untuk mengkategorikan seseorang “romantis”?
Suamiku malah justru bilang: “Kata cinta kalau terlalu sering diucapkan nanti malah inflasi lho 😀 .”
Hah, inflasi gimana? Lha iya, kalau terlalu sering di ucapkan sehari-hari, lama-lama kesannya jadi ngga istimewa lagi, jadi kaya orang makan dan minum saja. It will be taken for granted. So, my hubby is very rarely saying “I Love you”, he also calls me by Name, tanpa embel-embel “Schatz, darling, honey, sayang, etc…” Nggak pernah kasih bunga (bagi dia: janganlah merampas sumber makanan serangga hanya untuk kesenangan kita yang cuma sesaat saja), ngga nganter aku kemana-mana, bahkan nggak pernah nanyain atau nyari apalagi neleponin dan SMS-in kalau aku pergi keluar rumah nanya kapan aku pulang, ngga punya tradisi harus selalu ngasih hadiah ultah atau dinner romantis misalnya (Don’t get me wrong, I don’t mean to say that those habit is bad hehehe. I just said that this habit doesn’t suit to everyone  LOL. All my ex-indonesian lover have done all those so called “romantic” things. Jadi kembali ngga selalu tepat untuk bilang bahwa semua pria indonesia nggak ekspresif dalam soal perasaan hehe).
But I just know that he really really cares about me, sees me as the only thing he would never leave behind and spoils me with his own way.
Contohnya aja: Dia selalu membujuk-bujuk aku untuk ikut kalau dia ingin jalan-jalan ke hutan, semua teman dia menjadi temanku juga karena aku nggak pernah ketinggalan diajak selama aku mau, dia nggak pernah membangunkan aku dan bahkan dengan hati-hati secepat mungkin mematikan weker kalau terpaksa dia harus bangun pagi, he brings me to sleep everyday… Yes indeed, he might nearly never say the word “Love” bahkan celetukan-celetukannya kadang-kadang lebih sering bikin aku geregetan dan gemas keki, but he brings me to sleep the way  my mom and dad always did when I was still a child (I think you understand how it is)  😀 😀 .
Aku bilang semua ini untuk menunjukkan betapa karakter setiap orang itu unik, jadi tidak bisa kita mengkategorikan apakah “bule” pasti begini dan pria asia itu begitu, bule pasti lebih baik dari pria indonesia ataupun sebaliknya.
Yang benar adalah: bahwa setiap orang akan lengkap dan “content” hidupnya hanya jika dia menemukan pasangan yang “pas” sesuai dengan kebutuhannya ngga cuma secara fisik tapi juga psikologis, dan itu terlepas dari status apakah itu dengan “bule” atau dengan orang “asia”. Dan hal itu hanya bisa dinilai oleh orang-nya sendiri masing-masing, ngga bisa mengambil cermin dan memakai standard penilaian dari orang lain.
Orang barat dan Asia keduanya memiliki daya tariknya sendiri. Saya memilih menikahi orang eropa, tapi nyatanya saya juga suka banget dengan gantengnya artis asia seperti: Wallace Huo, Hu Ge, Saif Ali Khan dan Takeshi Kaneshiro hehehe.
Saya memilih pria eropa cuma karena sejauh ini saya kebetulan ngga pernah beruntung berkenalan dengan pria indonesia yang bisa membuat saya merasa lengkap, yang cocok dengan kepribadian saya. Itu aja.
There is no man better or worse, apalagi dari bangsa ini atau itu yang lebih baik atau lebih jelek… yang ada hanyalah: apakah pria A, B, atau C itu cocok dengan kita atau tidak, terlepas darimana dia berasal, bangsa apa, juga agama/kepercayaan apa yang dia peluk atau justru ngga punya agama. Baik dan buruknya karakter atau attitude seseorang, tidak selalu berhubungan dengan kebangsaannya, tapi lebih pada entah itu karakter bawaan genetis dan seperti apa proses tumbuh kembangnya sejak anak-anak sampai menjadi dewasa.

Jadi tolong teman-teman wanita indonesia yang suka nanya seperti ini: “Enak ya kamu dapat suami ‘Bule’?”, apalagi kalau kamu sendiri sudah punya pasangan, janganlah bertanya hal semacam itu lagi.
Karena secara tidak langsung kamu akan membuat orang jadi bertanya-tanya: “Apakah kamu nggak puas dengan suami lokal kamu sendiri? Apakah kamu mau mengatakan bahwa suami Indonesiamu itu nggak cukup baik? Kalau nggak baik kenapa dinikahi?”

Sampai jumpa lain kali…. 🙂

Ibarat menjemur pakaian dalam kotor didepan rumah…

Standard

Kembali nyentil dikit ya prens… sekali-kali nulis tema sosial nih, udah banyak yang ngomongin pulitik 😀 .

Kali ini saya pengen ngebahas soal ibu-ibu yang suka curcol terbuka tentang rumah tangganya sendiri. Cuma catet ya: tolong dibedakan antara seseorang yang posting di grup medsos yang relevan secara “sachlich”, maksudnya obyektif menceritakan inti masalah sekedar sebanyak yang dibutuhkan untuk mendapatkan jawaban/solusi yang logis dan “feasible”, dengan seseorang yang pada dasarnya cuma butuh cheerleaders alias mencari simpati doang walaupun itu dengan harga yang harus dibayar mahal oleh keluarganya sendiri (yaitu rusaknya reputasi anggota keluarganya sendiri).

Seorang wanita yang RT-nya diambang kehancuran dan sedang mencari tahu prosedur perceraian berikut masalah-masalah yang menyertainya, seperti hak asuh anak atau layanan perlindungan dari KDRT misalnya, itu masih bisa dimaklumi jika bernarasi tentang masalahnya di forum yang memfasilitasi ini.
Katakanlah tujuannya ingin mencari informasi tahap awal secara gratis gitu. Bertanya secara obyektif itu nggak sama dengan “ranting publicly and yammer anytime” tanpa kontrol.
Tapi seorang wanita yang bercerita disetiap forum, di page pribadi dirinya atau temennya sendiri setiap kali BT dan berantem dengan suaminya, dan bercerita semua kejelekan dan kekurangan suaminya atau tentang betapa merananya dia dalam hubungan cintanya, semua ketidak puasannya akan sikap sang suami, dan itu bahkan nyaris disetiap kesempatan secara terbuka, di wall sosmed ya… bukan japri lho, jadi ngga cuma teman terdekat yang tahu akan tetapi “practically everyone”.
Ingat, sosmed itu tempat publik, biarpun di wall pribadi tetep bisa diakses siapa saja yang dalam daftar teman, dan bahkan bisa dishare lagi kemana-mana. Apalagi teman di sosmed itu biasanya ratusan, bahkan ada yang sampai ribuan segala.
Wanita yang begini ini membuat saya kadang ngerutin jidat. Dikepala saya lantas muncul beberapa pertanyaan ini:
“Kok bisa ya dia masih ngedumel kalau akhirnya menjadi bahan gosipan?! Bukannya dia sendiri yang justru memberikan bahan gosip pada semua orang?!”
“Sebenarnya apa sih yang ingin dia dapatkan dari semua itu? Dapat solusi tidak, menambah masalah lah iya…
“Sebenarnya dia masih ada rasa sayang dengan pasangannya atau nggak? Apalagi kalau udah ada anak ya… Kalaupun rasa cinta udah minim, apakah tak ada lagi sedikitpun respek tersisa buat sang ayah dari anaknya?
Ketika curcol macam itu, sudah pernah mikirin resiko adanya orang yang laporin curcolannya itu pada sang pasangan atau keluarga pasangannya nggak? Apakah emang sudah siap dengan resiko sang pasangan/keluarganya menjadi sakit hati hingga masalah yang awalnya mungkin bahkan cuma kesalahpahaman atau kekeraskepalaan saja akhirnya menjadi situasi yang tak tertolong lagi?
Apakah memang sudah tidak ingin menyelamatkan pernikahannya lagi?
Jika masih cinta, belum pengen bubar jalan… berpikirlah ratusan kali sebelum nyebar aib suami sendiri gitu lho.
Kalaupun memang udah ngga mau lagi melanjutkan hubungan dan kemarahan udah tak tertahan hingga jadi masa bodoh kalau reputasi pasangannya rusak…
Oke deh itu masih bisa dimengerti ya, namanya juga udah ngga ada lagi cinta, tapiii…
Tidak pernah juga kah terlintas dibenaknya, bahwa apapun yang dia lakukan selalu bisa dijadikan senjata melawan dia oleh sang pasangan dalam persidangan perebutan hak asuh misalnya?
Jangan salah lho, image yang tercipta adalah seseorang yang tidak “mature”, emosi tidak stabil, psikis terganggu, bukan contoh yang layak untuk mendidik anak… dan semacamnya, itu semua adalah contoh argumen kuat yang bisa dipakai untuk melawan dia lho.
Tidak ada yang namanya rumah tangga selalu mesra dan muluss-mulus saja, itu bull shit.
Namanya dua manusia hidup bersama memiliki konflik itu lumrah saja, tapi cara orang menghadapi konflik… setidaknya bagaimana bersikap dimuka publik itu sangat menunjukkan kualitas karakter seseorang.
Spoiling emotion uncontrollably will never help, it only create more damage in the end.
Lagipula, kok seneng amat sih menjadi objek belas kasihan orang? Kalau saya kok malu hati ya…
“Attitude” macam itu ibarat menjemur pakaian dalam kotor di depan rumah sendiri, kita sebagai pemilik baju kotor itu dan semua yang menjadi penghuni rumah itu semuanya akan ikut malu karena setiap orang lewat, baik itu kenal ataupun tidak semua bisa melihat baju dalam kita yang kotor dan bau itu.

Saya juga kadang pasang status tentang pasangan yang “terkesan” ngomel sih, tapi saya rasa masih bisa terlihat jelas kok bedanya, apakah “omelan” saya itu serius dan bisa merusak reputasi atau hanya setengah bercanda, sekedar ledekan tentang celetukan-celetukan atau aksi konyol si abang saja.
Ekspresi kekesalan yang ngga begitu berarti, yang kalaupun ketahuan orangnya juga ngga akan bikin perang baratayudha gitu lho. Yang begini sih lain cerita, karena yang baca juga ngga kasihan tapi justru mungkin jadi nyengir. Karena emang kadang bikin gemes itu para suami hehehe. Gemes biarpun kadang sampe pengen nyubit saking geregetannya, dengan beneran sakit hati yang bisa bikin nangis itu lain lho…
Aku kalau baca status orang yang kaya gini sih ngga bakal negatif mikirnya. Karena emang beda kok kesan yang tercipta itu.

Mungkin orang akan bilang, kok saya nyinyir amat… sosmed2 dia sendiri, yang diumbar aibnya itu suami-suami dia sendiri, itukan suka-suka dia toh?!
Well, yup betul…itu betul sekali, saya juga nulis ini bukannya mau ikut campur kok.
Urusan mereka sendiri juga ini, mau dapat susah atau nggak juga bukan masalahku hehehe.
Berhubung saya ngga suka status model begini juga toh gampang sekali kok solusinya, tinggal “unfollow” kan dijamin aman, daripada sakit mata dan merusak mood aja kan hehehe. Orang yang bawaannya umbar masalaaaah melulu itu auranya gelap, bikin orang jadi ikutan mellow aja LOL.

Ini memang cuma sekedar berbagi opini aja, siapa tahu ada pembaca yang mungkin sempat pernah baper dan nyaris khilaf karena jengkel pada si abang dan tadinya nggak terpikir sampai kesana. Siapa tahu tulisan saya ini terus jadi membuatnya jadi berfikir ulang… sebelum memilih memanjakan kemarahan dan sakit hati tanpa kendali.
Saya justru akan ikut senang, kalau setelah membaca tulisan saya ini,
pembaca yang mungkin diam-diam sedang ada masalah dalam rumah tangga akhirnya jadi bisa terhindarkan dari potensi “memperkeruh” suasana karena curcolan tak terkontrol disosmed hanya gara-gara emosi sesaat. Jadi tujuan saya nulis ini justru baik, bukan melulu untuk nyinyirin orang lho hehehe.
(Well, tapi kalau masih ada yang sensian juga ya apa mau dikata. I’m only responsible for what I said, not for what the others understand ^_^ ).
Padahal sesal kemudian nggak ada gunanya kan?
Jangan sampai kaya pepatah jawa: “Kriwikan dadi Grojogan”, awalnya cuma hal sepele akhirnya malah jadi gede :).
By the way… bukan maksud saya lantas kita harus munafik ya, belagak sok hepi sok mesra demi jaim lho. Kayak begini mah konyol juga namanya :-D.
Maksud saya intinya adalah:
“We just don’t need to spread our private issues to the world, to the people who are basically unrelated personally to us at all. Especially not without any rational and justifiable aim.”
Most people wouldn’t really have concern about you anyway. You’re already considered lucky if they just ignore it and merely giving a superficial consolation. The problem is, it’s even more likely that at least half of your audience would look at you with hidden disdain and talk behind your back despite their flowery words.
People tend to love scandals… That’s unfortunately the reality in this world, babe… 🙂
You’d only feed them with hot topic for gossipping.
People who would really care about you and take time to really seek solution with you normally are only those, whose contact details actually in your list anyway.
You can always contact them personally, right?
And remember well, friends with good and genuine intention to help you would speak to you honestly and straightforwardly, although their honesty sounds bitter to you.
On the other hand, those who only act like cheerleaders, are not the one useful to you.

See you next time 😉

 

 

 

 

Suamiku di add orang tanpa ijin: “Problem?!?”

Standard

Sering dengar keluhan klasik model gini? Bahwa ada perempuan indonesia yang dikenal di sebuah kelompok tiba-tiba kirim friend request pada suaminya tanpa ijin dulu?
(Khususnya dari wanita Indonesia yang berpasangan dengan WNA barangkali?)
Saya sering banget, terutama dulu ketika masih aktif mengasuh sebuah grup kawin campur, tapi sampai sekarang pun masih juga sering dengar walaupun sudah rada lama resign dari posisi admin.
Dan yang dijadikan kambing hitam biasanya selalu: grup, komunitas, atau organisasi yang mewadahi para pelaku hubungan antar bangsa. Katanya, adminnya terlalu lemah dan longgar lah, ngga mau kasih effort untuk menyaring anggotanya hingga ada bule-bule hunter yang bisa masuk dan mencari target buruan di”life circle” member lain.
Pertama, buat saya mencari kambing hitam itu adalah sesuatu yang konyol dan absurd “anyway. Mencari kambing hitam dimata saya adalah tipikal kebiasaan orang-orang yang tidak punya kapabilitas (atau mungkin memang pada dasarnya tidak mau) untuk menyelesaikan persoalannya sendiri secara dewasa dan logis. Mencari pihak yang bisa dituding kan emang hal yang paling gampang dilakukan kan ^_^ ?!
Tapi lebih konyol lagi jika yang dikambing hitamkan adalah “komunitas”-nya.
Grup didunia cyber itu juga ngga ada bedanya dengan kelompok masyarakat didunia nyata, bedanya cuma kita ngga saling ketemu muka… itu doang.
Ibaratnya di sebuah kelurahan atau kota, semua punya aturan dan normanya masing-masing. Seperti juga setiap grup punya ideologi, visi, misi dan normanya masing-masing dan semua itu dipilih ketika grup didirikan karena memiliki alasannya sendiri. Karena latar belakang dan tujuan berkumpulnya sekelompok individu yang membentuk grup tersebut pada awal berdirinya tidaklah sama dengan yang dimiliki kelompok individu lain. Ada komunitas yang memang dari awal ingin “eksklusif” bagi “kaum” tertentu saja, hingga butuh kriteria spesifik dalam menerima anggota, tapi juga ada organisasi yang memang visi aslinya memilih untuk terbuka atau semi terbuka dalam menerima anggota karena mereka memiliki latar belakang dan goal tersendiri yang ingin dicapai melalui pembentukan komunitas tersebut.
Karena itu setiap pendatang barulah yang harus menilai sendiri apakah dirinya cocok dan bisa menerima visi dan aturan dalam grup tersebut atau nggak. Kalau ngga bisa ya ngga usah gabung, kan nggak ada yang memaksa gabung toh?
Yang jelas, janganlah grupnya yang disalahin kalau dianya sendiri yang nggak hepi atau bertemu hal yang ngga disukai disana. Si anggota lah yang mesti belajar menyesuaikan diri dengan organisasi dan bukannya si organisasonya yang mesti berubah menuruti kemauan member (ecuali tentunya jika tujuan dasar organisasi itu sendiri memang berubah lho).
Cuma yang jelas perlu disadari bahwa grup/organisasi itu terdiri dari banyak orang, tidaklah mungkin untuk bisa menyenangkan dan memenuhi kehendak setiap anggota.

Bayangkanlah sebuah grup itu seperti sebuah kota. Ketika suatu saat kita memutuskan pindah ke kota X karena kita pikir itu kota yang asyik dan nyaman. Tiba-tiba disana ternyata ada wanita cantik (katakanlah seorang “janda muda”) yang tertarik dengan suami kita dan diam-diam mencoba “flirting”dengannya. Apakah masuk akal kalau kita lantas menyalahkan pak Bupati dan segala jajaran pegawai di Balaikota karena memberi kesempatan pada para “janda muda cantik” untuk tinggal di kota X tadi?
Emangnya pak Bupati harus memfilter setiap wanita yang masuk kategori “cantik” dan “sexy”dan mengusir mereka dari kota jika status mereka “single” apalagi “janda muda”? Apakah memang pak Bupati dan pegawainya harus menjamin bahwa cuma pasangan yang sudah menikah atau setidaknya “bertunangan” hanya supaya tidak ada acara saling menggoda sesama member dengan partner member yang lain begitu?
Dan andaikata pun itu benar dilaksanakan, di kota X cuma diisi oleh member yang sudah menikah atau bertunangan, apakah memang semua itu bisa menjamin bahwa para member itu pasti 100% setia dengan pasangannya masing-masing dan nggak akan mungkin melirik pasangan orang lain?
Emangnya pejabat pemerintah di kota terkait harus punya kemampuan menebak isi hati orang sehingga mereka selalu tahu “niat-niat tersembunyi membernya yang negatif”begitu?
Ataukah barangkali tugas pak Bupati dan pegawainya harus di perluas dengan kewajiban untuk rajin memonitor aktivitas warganya setiap saat supaya kalau ada yang terindikasi menggoda pasangan orang langsung ketahuan dan bisa diusir?
Well… really, sometimes I just can’t help shaking my head and rubbing my temple everytime I hear such remarks. You know, when some women blaming a specific group, because she found out that a particular person she knew while interacting in that group sent a friend request to their husband and tried to chat or flirt. As if it is the job of the group administrator to provide a security measure as well a sterile environment to make sure that the love relationship of the group members are well maintained 😀 😀 .

Kedua, pernikahan tidaklah seharusnya menjadi seperti penjara, cincin kawin tak seharusnya menjadi seperti borgol. Saya ngga bisa bayangkan kalau suami saya mengontrol dengan siapa saya boleh berteman. Teman baru itu bisa ditemukan dimana saja dan melalui jalan apa saja termasuk melalui “mutual friends”, didunia nyata ataupun virtual, laki-laki ataupun perempuan emangnya ada bedanya?
Saya nerima “friend request” di sosmed juga ngga cuma dari cewek lho dan saya merasa cukup dewasa untuk membuat kriteria sendiri dengan orang seperti apa saya mau berteman. Saya juga tidak merasa perlu untuk selalu minta pendapat suami saya setiap kali saya dapat undangan pertemanan dari siapapun dan melalui media manapun (termasuk jika mereka datang dari “friend circle” suami saya), lantas mengapa pula saya harus mengharapkan bahwa suami saya mesti melapor sama saya kalau dapat undangan pertemanan dari lingkungan pergaulan saya? If he told me that’s fine. But if he doesn’t, I wouldn’t presume that it would be a potential problem either.
There is just not enough reason for that. Saya manusia normal bakal nyadar juga kalau di goda cowok via japri di sosmed, but so what gitu loh. Selama saya memperlakukannya sebagai cuma angin lalu, saya tak melihat adanya masalah sama sekali.
Bukannya mau nyombong tapi hal macam gini saya justru lebih sering dapat daripada suami, karena suamiku ngga aktif di medsos sementara aku aktif dan suka pasang foto. Udah gitu aku ngga pernah pajang foto bareng suami (suami ngga suka fotonya nyebar di web), pergi keluar rumah hang out juga seringnya sorangan, karena suamiku ngga suka pergi-pergi untuk hang out. Kami berdua ngga suka pake cincin kawin sehari-hari karena emang ngga biasa pake perhiasan jadi orang yang ngga kenal baik bisa salah persepsi dengan status pribadi kami berdua.
Tapi saya juga ngga pernah khawatir suami akan gondok kalau tiba-tiba nggak sengaja melihat pesan-pesan menggoda macam itu di gadget saya. Kenapa? Karena saya tahu saya ngga kasih respon yang pantas untuk dicurigai, jadi tak ada alasan untuk cemburu ataupun khawatir seberapapun seringnya pesan-pesan macam itu datang.
Dan hal yang sama berlaku pula sebaliknya. Selama suami kita ngga merespon, lantas apalah artinya deretan pesan menggoda dari kanan kiri, baik itu berasal dari lingkungan yang saya kenal ataupun dari kenalan dia sendiri diluar sepengetahuan saya.
Saya sendiri tidak suka jika dalam memilih teman saya sendiri lantas dikontrol oleh suami, maka mengapa pula saya ingin mengontrol bagaimana suami saya memilih teman-teman barunya? When we decided to make a life commitment with someone special, then we’re just bound to know…to realise, which boundaries we should keep in order to nurture that relationship well. There is definitely no need to control, because when the heart doesn’t belong to us anymore…there is no control and rule could do anything about it.

Saya bicara begini bukannya mau sok PD dan sok yakin bahwa cinta suami saya dijamin tidak akan mungkin berubah sampai mati dan bahwa dia sudah pasti nggak akan pernah mungkin tergoda.
Karena tidak ada satu manusiapun (sehati-hati apapun dia) yang bisa memprediksi masa depan hingga bisa mengambil tindakan pengamanan yang “optimally effective” sedini mungkin untuk mencegah pecahnya pernikahan. My husband could be very loving today, but there is always a possibility that it may change… as every person is dinamic, life is dinamic…
It’s not only him could change, everybody may change including my self. And it is just normal that not every change is a positive development which leads into a happy result.
Tapi satu hal yang saya pasti betul adalah, saya tidak akan mau menghabiskan hari-hari saya dalam hidup yang singkat ini bersama orang yang tidak bisa saya percaya sepenuhnya. Jika saya masih harus selalu merasa terancam dengan adanya “potensi” godaan dari wanita lain setiap kali saya masuk dalam “friend circle” tertentu baik itu didunia nyata ataupun virtual, maka artinya hubungan itu sendiri sudah layak untuk dipertanyakan perspektif masa depannya.
Dimata saya itu konyol jika saya harus selalu merasa perlu untuk mengontrol E-Mail, SMS, Phone record suami hanya supaya saya merasa yakin nggak ada “sosok-sosok” mencurigakan yang mencoba mendekati suami saya. Bukan berarti dia tidak akan mengijinkan saya baca pesannya atau pegang gadget-nya jika saya minta ya.
But it’s just that I don’t see any necessity to do so. If there is anything he encountered that could be my concern as well, I’d just believe that he would definitely tell me.
But if he purposely hide anything from me, then it means that there has already been something wrong going on in our relationship anyway.
Apalagi sebaliknya dia sendiri juga ngga pernah melakukan itu pada saya. Ngangkat HP-ku aja dia ogah kecuali aku sedang mandi dan nyuruh dia jawab misalnya, seringnya dia cuma ambilin itu HP dan kasih ke aku untuk angkat sendiri kalau aku lagi ada di ruangan lain rumah kami.
Lagian dia yang digoda cewek duluan ataupun sebaliknya dia yang menggoda cewek duluan apa bedanya sih? Endingnya toh sama aja, kepercayaan sudah dilanggar dan kesetiaan sudah buyar jika hal semacam itu sampai terjadi. However, bertepuk butuh 2 tangan… jadi konyol banget kalau cuma nyalahin pihak cewek aja. How could we expect to have equal treatment despite our gender, if we as woman always put another woman in disadvantage position as well when something unpleasant happen whether to us or to our acquaintance and ignoring the role of the male participant.

Yeah… itu semua tentu perspektif saya pribadi ya mengenai kualitas hubungan dan apa yang penting dalam sebuah hubungan. Saya cuma ingin memberi perspektif lain untuk dipikirkan. But feel free to be different if you like and happy new year 😀

Problematika membuat dan meng-upload foto/video orang lain di Jerman

Standard

Halo semua, saya kembali lagi.
Kali ini saya ingin membahas isu yang biasanya terlintas dalam benak orang Indonesia pun tidak, apalagi dipikirkan secara mendalam, yaitu soal kebiasaan “membuat foto/video orang lain dan mengunggahnya di media sosial” tanpa seijin yang punya muka, atau ijin orang tuanya jika itu foto/video anak-anak.

unbenannt

Kebiasaan ini umum di kalangan orang Indonesia karena masyarakat kita suka melakukan aktifitas beramai-ramai kemudian mendokumentasikannya (atau istilah kerennya jaman sekarang yang drastis adalah “rata-rata suka narsis… hobi selfie daaan suka memamerkannya pada banyak orang hehehe.
Suami saya bilang: “Indonesien ist eine Schau-Gesellschaft”, dan saya jujur aja cukup setuju dengan istilah itu :-D.
Don’t get me wrong. Saya tidak bermaksud untuk selalu menafsirkannya dari sisi negatif ya. Selama itu memang fotonya sendiri, dan ngga merugikan ataupun mempermalukan orang lain sih. Saya sendiri juga suka selfie  bin narsis dan suka mamerin hasilnya di sosmed juga, tapi ya sebatas foto diri saya sendiri doang, informasi lain yang lebih pribadi tentang diri saya serta foto suami, keluarganya dan teman-teman khususnya yang non Indonesia itu tidak termasuk hehehehe.
“Privatdaten-Schutz ” di masyarakat kita sejauh ini tidak pernah dianggap sebagai sebuah tema yang penting. Nggak banyak yang benar-benar “concern” foto dan data pribadinya atau anaknya menjadi konsumsi orang-orang tak dikenal (sementara statusnya bukan publik figur), sampai semuanya terlambat…
yaitu ketika hal yang buruk, merugikan dan mungkin bahkan fatal benar-benar terjadi.

Hanya saja, kebiasaan ini sebaiknya dibuang jauh-jauh jika kemudian pindah dan tinggal di Jerman.

Tempo hari ada seorang teman yang nulis status bahwa dia dikira ngga punya teman “bule” karena ngga pernah majang foto sama mereka. Dia nulis: “Sopan santunnya di Indonesia sama di Jerman itu lain dong. Lagian emangnya teman harus selalu dipamerin…”
Saya mesem membacanya, karena saya sendiri juga sama kaya dia.
Sejauh ini belum pernah sih ada yang nyeletuk begitu, tapi membaca ini saya baru terpikir…, mungkin banyak juga orang yang mikir kaya gitu tentang saya. Boro-boro foto orang lain…foto suami sendiri aja nyaris ngga pernah dipajang.
Jangan-jangan ada juga yang “ngrasani”, saya “memalsukan status kawin”, “mungkin suaminya jelek, tua”, “mungkin ngga harmonis”, atau entah apa lagi. Kadangkala saya terpana, orang Indonesia sangat hebat dalam merangkai fantasi… kreatif, sayang sekali kreatifitas itu lebih sering dibuang untuk hal yang ngga berguna ^_^.
However… I actually never give a damn with what other think or gossip about me :-D.
Hanya saja saya jadi tertarik untuk menulis tentang ini, justru karena niat baik.
It’s not about me or an effort to justify my choice not to easily upload foto of others on my social media.
Saya hanya ingin menghindarkan orang yang menganggap dan juga saya anggap teman dari masalah karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian.

Status teman itu mengingatkan saya akan video Youtube dari seorang mahasiswa dari Indonesia di Jerman tentang pengalaman pertamanya kuliah di Jerman.
Karena kesulitan memahami penjelasan Professor di kelas, maka dia diam-diam merekam seluruh isi kuliah yang dia kunjungi untuk didengarkan lagi dirumah. Dalam video dia menjelaskan bahwa tindakannya jangan ditiru karena sebenarnya nggak boleh, tapi tanpa penjelasan lebih jauh. Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, ada banyak komentar yang bertanya mengapa nggak boleh, kan kamera milik sendiri. Disini akan saya ulang lagi jawaban saya atas pertanyaan tersebut.

Di Jerman kita ngga boleh sembarangan mengambil foto orang tanpa ijin, apalagi jika kemudian meng-upload-nya begitu saja. Saya ingat ada teman pernah cerita sambil marah karena diminta oleh temannya yang lain menghapus fotonya yand dia upload tanpa ijin di akun sosmednya. Dia ngga pedulikan permintaan itu karena merasa itu toh foto bikinan dia, pake kamera dia, hak patennya yang punya dia dan diupload di akun sosmed dia sendiri. Apa urusannya tuh orang nyuruh-nyuruh hapus.
Well, saya ngga komen banyak waktu itu karena karakternya agak sulit dan sulit menerima kritik. Sekali berusaha kasih pendapat dan dibantah ya udahlah. Untungnya tapi pihak ketiganya kayanya ngga menuntut lebih jauh.

Tapi mengenai tema siapa yang lebih ber-“HAK” atas sebuah “Foto Seseorang” akan saya bahas disini karena ini penting dan banyak yang tidak tahu atau mungkin bahkan tidak mau tahu.
* Tindakan mahasiswa tadi salah dan sangat beresiko, si mbaknya sendiri tahu dan akhirnya juga mengklarifikasi di komentar dalam video bahwa dia salah. Dia bisa mendapat sanksi seandainya ketahuan dan sang Professor cukup “kejam”.
Sekedar dikeluarkan dari kelas saat itu hanyalah masalah sepele. Mungkin ngga sampai dituntut sih, asal foto/video dihapus tuntas tanpa kemungkinan bisa di reproduksi lagi. Masa iya akan setega itu sampai menuntut, gimanapun student-nya sendiri gitu, student asing masih baru pula.. Jadi masih bisa ngeles ngga tahu peraturan. Tapi sanksi masih  tetap mungkin diberikan lho.
Saya sendiri pernah melihatnya langsung ketika seorang mahasiswa di keluarkan dari kelas karena mengambil foto papan tulis ketika sang dosen masih didepan kelas tanpa nanya dulu dan saat ditegur masih pake mencoba mbantah. Apakah ada sanksi lebih lanjut saya kurang tahu karena ngga kenal sama si anak jadi ngga bisa nanya.

* Secara kasar memang benar bahwa hasil karya intelektual, seperti fotografi ataupun seni, copy right-nya adalah milik si pembuat karya. Hanya saja disini perlu diperhatikan bahwa dalam kaitannya dengan FOTO Manusia, maka kita kembali terbentur pada UU yang lain yang posisinya lebih prioritas, yaitu :”Persönlichkeitsrecht”, dalam hal ini adalah “allgemeine Persönlichkeitsrecht”.

Si Pemilik Wajah memiliki HAK penuh atas hasil karya yang memakai wajah dan tubuhnya. UU ini bertujuan untuk melindungi harga diri dan martabat yang bersangkutan dari kemungkinan dipermalukan ataupun hal-hal lain yang tidak disukai oleh yang bersangkutan dilakukan dengan foto/video berisi dirinya.
Misalnya aja, tidak ada orang yang suka foto ketika dirinya sedang teler diunggah ke Internet, walaupun itu maksudnya bercanda. Jika yang bersangkutan tersinggung dia berhak menuntut si pembuat foto dan pengunggah. Jangan bilang bahwa itu reaksi berlebihan ya… Kita ngga boleh lupa bahwa jaman sekarang perusahaan juga akan mengecek aktivitas dunia maya seseorang ketika menyeleksi calon pegawai. Kasus pemecatan karena ketololan yg dilakukan di dunia Maya yang menodai reputasi itu juga bukan hal yang jarang terjadi lho.

Di Jerman sang fotografer tidak berhak untuk mempublikasikan foto/video orang, meskipun itu hasil karyanya sendiri, jika tanpa seijin yang punya badan.
Pengecualian hanya bagi “public figure” (tapi tentunya juga cuma jika yang besangkutan sedang berada dalam event publik yang memungkinkan untuk diambil gambarnya oleh setiap hadirin yang tertarik), atau jika itu sebuah foto orang biasa yang tanpa sengaja terambil dalam sebuah event publik (demonstrasi, pemberian hadiah undian random dalam sebuah show, keikutsertaan/kehadiran dalam sebuah parade ataupun show-show lain nya. Yang jelas, foto/video  yang diambil dalam event/acara pribadi tidak termasuk dalam pengecualian), atau mungkin foto-foto bersejarah dimasa lampau.

Perlindungan “Persönlichkeitsrecht” ini baru hangus jika sang pemilik badan menerima semacam “IMBALAN” atas kesediaannya menjadi model, meskipun itu tidak harus selalu berupa uang. Dalam hal ini maka sang pemilik body sudah memindahtangankan “HAK” nya sepenuhnya kepada sang Fotografer sehingga si fotografer menjadi berhak untuk menggunakan foto itu sesuai kebutuhannya tanpa harus minta ijin ekstra lagi.
However, “harkat dan martabat” yang bersangkutan tetap berada dalam posisi prioritas, jadi foto yang berpotensi bisa merendahkan harga diri seseorang tetap tidak bisa begitu saja dipublikasikan tanpa ijin yang bersangkutan. Jadi apa yang biasanya dilakukan oleh orang yang berprofesi sebagai Paparazzi di Jerman adalah tergolong Ilegal, melanggar setidaknya § 201a StGB dan §33 KUG. Karena biasanya mereka mengambil Foto bahkan dengan masuk wilayah privat orang tanpa ijin dan membuat serta menjual Foto orang yang meskipun publik Figur tapi sedang  dalam acara pribadi, dan terutama karena Foto yang laku di jual mahal adalah Foto sensational yang berpotensi merusak reputasi orangnya, itu semua juga pada umumnya tanpa ijin.

Tentu saja sebaliknya sang pemilik badan juga TIDAK BERHAK memakai dan menyebarluaskan karya foto/video berisi dirinya tanpa seijin si pembuatnya, apalagi memakainya untuk kebutuhan komersil. It’s a big No No as well!
Dan tentunya setiap pelanggaran hukum ada sanksinya.

Karena itu, demi menghindari masalah jangan biasakan main ambil foto/video orang atau anak orang, apalagi sampai mengunggahnya di internet tanpa ijin. Konsekuensi paling ringan hanyalah kita mungkin bisa kehilangan teman. Apalagi jika udah diminta baik-baik untuk menghapus malah ngotot dengan alasan itu,

Foto bikinan gue sendiri, pake kamera gue juga, dan uplot-nya juga di medsos gue. Kalau situ ngga suka jangan liat nape…!!!

Hmmm… tapiiii, kalau ketemu orang yang strict dan sangat concern dengan “HAK”-dasar-nya sebagai seorang manusia di negeri ini, maka anda bisa dituntut di pengadilan beneran lho.

Mungkin akan ada yang berargumen: “Kalau memang teman baik masa sih cuma karena hal sepele gini aja marah sih?!”

Aha… Gimana kalau dibalik? Pertama, sepele tidaknya sesuatu hal, itu yang menentukan adalah pihak yang memiliki/berkepentingan/bertanggung jawab atas “sesuatu hal”  tersebut,  bukan orang lain. Kedua, jika anda mengaku sebagai teman baik, tidakkah seharusnya anda mengerti dan memiliki kesadaran untuk tahu bagaimana menghormati HAK privacy teman baik sendiri, bahkan tanpa perlu adanya ancaman hukum? Jika anda tidak mengerti apa yang disebut “respect” pada teman anda, maka yang tidak layak disebut sebagai teman baik adalah anda sendiri, bukannya sang teman. 

So, please think rather well and thoroughly…don’t be ignorant and stubborn, ok?!
Kamu mungkin terbiasa melakukannya dengan teman-teman sesama Indonesia, tapi itu karena kebanyakan orang Indonesia suka mamerin fotonya dan foto anaknya dimana-mana “anyway”, jadi kemungkinan besar memang ngga keberatan kalau fotonya dipajang orang. Tapi jangan salah… it might not necessarily always be the case.
I am an Indonesian for example (but especially my husband of course), would not like to see the picture of my children to be publicised in social medias without our consent.

I don’t like to imagine the possibility that the picture of my child being spreaded on the net, and uncontrollably.
If I gave consent, then at least I realise the potential risk and decided to be fully responsible for any consequences occur. But if it’s without my notice and consent, whom can I ask for any responsibility if something bad happen?
You can call me paranoid or whatever you like…but that is just our family principle.
Foto di Fesbuk contohnya, itu bisa didownload orang dengan mudah lho, tanpa mengurangi kualitas pula. Seram amat kalau tuh foto di akses sama pengidap pedofilia misalnya T_T.
My children can decide by them selves later how far they would protect their “very personal right”, when they’re big enough to understand the relevant risks.
Things that we will definitely teach them early enough as well.

Dan saya yakin seyakin-yakinnya bahwa saya tidak sendiri, pasti ada juga orang Indonesia lain yang berfikiran sama seperti saya, meskipun mungkin tidak banyak.
Tapi bagi kita yang tinggal di Jerman, jumlah orang Indonesia yang sepaham dengan saya itu tidak terlalu signifikan… karena kita toh jauh lebih mungkin untuk menghadapi masalah gara-gara ini dengan orang Jerman daripada dengan orang Indonesia.
Demi menghindari masalah, tidak ada salahnya bertanya dulu… kecuali anda 100% yakin yang bersangkutan sama karakternya seperti anda dan ngga keberatan foto dirinya dan anaknya dipamerin dimana-mana hehehe.
Ah ya: saya juga jadi ingat dulu ada teman yang upload foto di tempat kerjanya sebagai “perawat” dan ada pasien yang ikut terpotret. Hanya sesaat saja terpajang dan kemudian langsung dihapus karena yang bersangkutan langsung teringat kalau dalam surat kontrak kerja jelas tertera larangan mempublikasikaan foto bersama pasien, konsekuensi bisa dipecat.
Ini cuma salah satu contoh yang ingin saya bagikan, betapa seriusnya isu ini untuk dipikirkan.
Selamat berakhir pekan… 🙂

Source:

https://www.rechtambild.de/2015/01/urheberrecht-vs-persoenlichkeitsrecht/


https://boehmanwaltskanzlei.de/kompetenzen/medienrecht/urheberrecht/urheberrechtsschutz/voraussetzungen/645-rechte-des-urhebers-urheberpersoenlichkeitsrechte-und-verwertungsrechte

https://www.medienrecht-urheberrecht.de/fotorecht-bildrecht/158-recht-am-eigenen-bild-personenfoto.html