Category Archives: Pendidikan & Pekerjaan

Renungan kecil di Hari Kartini

Standard
Saya yakin banyak dari kita yang sering mendengar kalimat begini:
“Sia-sia amat ya sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma jadi Ibu RT dan ngurus anak doang? Punya banyak ilmu rugi amat nggak bisa dimanfaatkan, mending nggak usah sekolah aja sekalian, buang2 duit dan energi aja.”
Well, saya cuma punya satu balasan untuk ini:

>>>Sejak kapan yang namanya memiliki banyak ilmu itu merugikan dan sejak kapan pengetahuan itu tidak ada manfaatnya?
Apakah tujuan orang sekolah saat ini memang cuma untuk dapat ijazah dan buat nyari kerjaan doang? Apakah manfaat ilmu pengetahuan itu cuma bisa diukur dari banyaknya duit yang bisa dikumpulin dengan bantuannya?

Jadi bukannya lagi untuk membuat pikiran dan perspektif kita menjadi luas? <<<

Kalau memang tujuannya cuma untuk nyari ijasah, yeah…
pantas aja deh jaman sekarang ada begitu banyak orang dengan titel berderet tapi pikirannya picik, sempit kayak katak dalam tempurung dan begitu kolot serta ignoran.
Last but not least, ada ucapan satu narasumber saya untuk buku KKC yang sangat saya suka karena saya anggap sangat mengena, sehati sama saya dan saya rasa layak jadi renungan banyak orang tua khususnya kaum wanitanya, yaitu ini:

“Adakah pengasuh, pembimbing dan pendidik pribadi harian yang lebih baik lagi buat anak kita, selain ibu kandungnya sendiri yang punya kompetensi mumpuni dan berpendidikan tinggi? Lebih baik mana dengan membiarkan tumbuh kembang mereka dibawah asuhan utama dari orang bayaran yang adakalanya bahkan ijasah SMP aja belum tentu punya, apalagi hanya untuk ditukar dengan pekerjaan yang hasilnya setelah dipotong biaya bayar pengasuh belum tentu sebanding nilainya dengan pengorbanan yang diberikan ( seperti: waktu, energi, serta masa2 berharga bersama anak yang takkan terulang)?”
Well, saya disini ngga bermaksud merendahkan peranan asisten RT ataupun mereka yang tidak bersekolah tinggi, apalagi mencela mereka para wanita yang suka berkarir diluar rumah.

Not at all…
Saya cuma ingin memberikan perspektif lain bagi para wanita yang tak jarang merasa terintimidasi oleh ucapan-ucapan nyinyir macam diatas dari lingkungan sekitarnya.

Setiap kali saya melihat perseteruan antara kaum “pro-karir” dengan “ibu RT” yang begitu seru dan kadang bahkan ganas-ganas komennya, saya merasa semua itu sangatlah konyol dan seringkali argumen-argumennya juga sungguh absurd dan intinya cuma saling melecehkan saja.
Ada banyak alasan kenapa seorang wanita berkarir aktif setelah berkeluarga dan memiliki anak . Tidak sedikit yang melakukannya lebih karena tuntutan keadaan. Walaupun memang ada juga yang melulu karena ambisi, yang mana menurut saya juga bukan sesuatu yang secara prinsip pantas dianggap negatif ataupun disalahkan.
Kata siapa ambisi cuma boleh dimonopoli oleh laki-laki coba?
Dan bukankah tanpa adanya wanita pintar yang punya ambisi, kita tidak akan punya tokoh-tokoh macam Angela Merkel, Indira Gandhi, Sri Mulyani, Bu Menteri Susi, Bu Menteri Retno dst?!
Hanya saja, sampai pada titik tertentu, menurut saya pribadi kadangkala memang perlu lagi kita tanya pada diri sendiri dalam hal ini, apakah “membentuk keluarga dan memiliki anak” memang adalah pilihan yang tepat untuk hidupnya.
Bukankah kalau memang mengaku dirinya wanita independen yang mumpuni, seharusnya kita juga cukup mandiri dan berani untuk tidak membiarkan orang lain … meskipun itu keluarga sendiri … memaksakan pilihan, target, ataupun value tertentu pada kita, seperti misalnya dalam urusan ‘jodoh dan anak’, jika itu membuat hidup kita sendiri bukannya bahagia dan “content”, tapi justru malah cenderung menjadi terbebani’?!?
Sementara disaat yang sama juga menyeret individu lain: yaitu *sang partner* dan bahkan *anak-anak* yang pada dasarnya nggak pernah meminta untuk dilahirkan, jika akhirnya hanya harus menerima nasib untuk di “nomor sekian“-kan atau yang lebih parah lagi: “ditelantarkan”?!
Bagi yang bisa menjaga cukup keseimbangan, tentu lain lagi persoalannya ya …
Sebaliknya pula bagi yang kebetulah tidak memiliki peluang untuk menerapkan ilmu akademik dan keahliannya didunia profesional setelah memiliki anak, tak ada perlunya juga berkecil hati apalagi sampai merasa terintimidasi oleh nyinyiran orang kurang kerjaan.
You, as a highly educated and knowledgeable mother, are definitely the best teacher, carer and baby sitter your children could ever get.
So there is nothing to regret at all for spending so much time and effort in studying.
Ilmu pengetahuan itu ngga ada masa kedaluarsa, ngga akan basi, dan akan selalu ada manfaatnya, setidaknya jika kita memang benar-benar memahami apa intisari dari ilmu itu sendiri.
 
Disaat yang sama tak ada alasan pula bagi siapapun untuk nyinyirin para wanita yang memilih untuk menjadi “stay home Mommy“.
Emangnya kita ini siapa sih, sok tau amat dengan apa yang bikin orang lain bahagia ataupun susah?
Kalau kondisi finansial yang bersangkutan memang mengijinkan untuk bisa hidup layak dengan satu pencari nafkah aja, sementara yang bertugas nyari duit aja juga nggak komplen, lantas apa pula urusannya dengan orang lain?
Ngga semua wanita yang menjadi “stay home Mom” itu merasa ngga berguna cuma karena nggak menghasilkan duit lho, apalagi merasa ditekan oleh pasangannya.

Lagipula, kata siapa pekerjaan itu harus selalu berarti tiap hari ngantor? Itu pikiran kuno. Jaman digital begini, yang namanya “home office” itu bukan hal yang luar biasa lho.
Dan kata siapa pula bahwa “sukses dan performance” itu cuma bisa dinilai dari banyaknya uang ataupun piagam/piala yang dikoleksi?
Mengutip kata suami saya: “Dein Wert hat nichts mit Geld bzw. Arbeit zu tun”.
(Nilai dirimu tidak ada hubungannya dengan duit ataupun pekerjaan).
Karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk memiliki “self-esteem” yang rendah hanya karena ngga menyetor duit ke kas rumah tangga, jika memang keadaan finansial tidak memaksa kita untuk bekerja.
Orang hidup ngga harus mendongak terus kan ya?!
Kalau hobinya mendongak ketinggian melulu sih, mau sampe kiamat juga pasti akan selalu ada yang kurang lah hehehe. Jadi, sepanjang kondisi finansial sudah bisa dibilang “cukup”, mestinya status ‘bekerja’ ataupun ‘tidak bekerja’ tidak perlu menjadi isu, apalagi sampai dibiarkan menjadi beban pikiran, seramai dan semeriah apapun omongan orang disekeliling kita.
Aktivitas dan kesibukan untuk mengisi waktu luang  (yang berlebihan) itu kan nggak selalu harus diwujudkan dengan karir yang membawa duit.

Jadi kesimpulannya:
“Jika haus akan ilmu, belajar sajalah terus sebanyak yang diinginkan, baik itu di bangku sekolah ataupun diluar lingkungan akademis.
Ilmu bisa diperoleh dari mana saja dan belajar itu nggak mengenal umur, status ataupun gender.
Tak perlu pula memusingkan apakah nantinya ilmu yang didapat itu semuanya bakal menghasilkan duit atau nggak, karena orang yang benar-benar berilmu (bukan sekedar pengoleksi ijasah lho), itu tidak akan pernah merugi.”
Sampai jumpa lagi lain kali 😉
Advertisements

Burnout-Syndrom: Depresi dimasa studi bukanlah isu ringan

Standard

DEPRESI, sepertinya topik ini di masyarakat Indonesia masih tabu untuk dibahas seolah itu adalah sebuah aib yang sangat memalukan. Depresi itu bukan dosa apalagi kejahatan, melainkan gangguan kesehatan yang efeknya tidak bisa dianggap remeh bahkan bisa menjadi sesal berkepanjangan tidak berhasil diatasi sebelum terlambat.
Untuk menemukan solusi yang optimal sebelumnya orang harus mencari akar masalahnya dulu, jadi menutup-nutupi masalah bukanlah jalan terbaik yang bisa diambil, karena hanya dengan tidak membahasnya dan menutupinya tidak lantas berarti masalah itu jadi menghilang dengan sendirinya.

Orang yang sedang mengalami depresi itu butuh support dari orang-orang disekitarnya, mereka tidak bisa berjuang sendirian. Semakin mereka merasa sendiri semakin besar perasaan “helpless” dan ancaman bunuh diri juga makin kencang. Karena itu “awareness” dari orang-orang disekitar kita sangat besar peranannya.
Belum lama saya menulis sentilan kepada orang-orang yang hobinya mencari perhatian publik dengan sengaja menyebar kisah dramatis pribadinya dan menjelek-jelekkan partner/anggota keluarganya sendiri. Tulisan tentang depresi ini tidak lantas berarti menunjukkan bahwa saya nggak konsisten dengan opini saya.
Karena ini adalah dua hal yang jauh berbeda.
Cukup jelas kok bedanya, orang yang berbagi dengan niat mencari solusi dengan orang yang cuma mencari “cheerleaders” dan teman bergosip, cuma mencari pembenaran akan attitude-nya dan keluhan-keluhannya yang jelas-jelas kekanak-kanakan (yang kayak gini mah lebay namanya).
Orang yang benar-benar depresi biasanya itu justru cenderung tertutup, karena itulah perasaan “helpless” jadi besar, seolah mereka ngga punya siapa-siapa yang bisa mengerti dirinya, mungkin bahkan adanya rasa malu dan gengsi untuk mengakui bahwa dirinya punya masalah itulah yang makin memperburuk keadaan. Apalagi jika kita tumbuh di masyarakat dimana “kehilangan muka” dan “kehormatan” serta “prestige” itu dipandang sebagai hal yang sangat krusial seperti Indonesia.

Saya bukan psikolog ataupun psikiater, sehingga saya tidak cukup berkualifikasi untuk menganalisa tentang depresi. Disini saya cuma ingin berusaha membangkitkan kesadaran akan adanya bahaya depresi dikalangan calon akademisi kepada masyarakat Indonesia yang kecenderungannya saya lihat masih berpandangan terlalu sempit, menganggap itu suatu hal yang memalukan hingga tak pantas untuk dibicarakan secara terbuka.
Padahal itu adalah isu yang bisa menimpa siapa saja, dan sekecil apapun kesediaan untuk berbagi atau memberi perhatian pada isu ini, mungkin akan bisa menyelamatkan nyawa banyak orang yang mungkin saat ini sedang menghadapi masalah tersebut.
Yang sudah pergi takmungkin kembali, sudah terlambat untuk berbuat sesuatu baginya kecuali sekedar mendoakan.
Tapi diluar sana masih banyak orang-orang lain yang mungkin masih bisa dibantu sebelum terlanjur terlambat pula baginya.
Sebagai kaum intelektual, seharusnya bisa membedakan antara “tulisan bertendensi gosip” dengan tulisan yang sifatnya informatif dan edukatif sehingga lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya.
Depresi dikalangan mahasiswa janganlah diremehkan. Di Jerman sendiri tercatat setidaknya 1 dari 5 mahasiswa didiagnosis mengalami depresi. Informasi bisa dilhat disini, disini dan disini. Dan kasus bunuh diri karena depresi juga bukanlah hal yang langka. Mahasiswa Indonesia juga tidak terkecualikan dari ancaman ini. Terutama karena mereka di usia dimana kondisi psikologis dan emosi mereka cenderung masih labil dan sudah harus hidup merantau dinegeri orang sendirian. Yang orang lokal saja tidak sedikit yang kena lho.
Apalagi kita semua tahu betapa besar pengaruh keluarga dan orang tua pada anak-anak Asia. Banyak sekali kasus dimana mereka bahkan bersekolah itu demi memenuhi ambisi orang tuanya dan bukannya untuk mengeksplorasi bakat dan potensinya sendiri. Banyak anak-anak asia yang terpaksa harus ambil jurusan teknik atau kedokteran cuma karena gengsi dan reputasinya yang bagus, padahal mungkin bakat dan “passion” mereka tidak ada disana. Ini juga merupakan faktor tambahan penyebab depresi lho.
Sementara itu, kultur kita biasanya membawa “bad consciousness” yang sangat tebal ketika yang bersangkutan merasa tak mampu untuk bisa memenuhi harapan-harapan orang tuanya. Ketakutan untuk pulang membawa kegagalan karena bisa memberikan malu pada keluarga, tebalnya rasa bersalah ini membuat semuanya semakin buruk.

Disinilah letak pentingnya kesadaran orang-orang tercinta disekitarnya agar tidak membuat tekanan perasaan ini semakin besar. Supaya kelak tidak ada sesal dibelakang hari jika si anak pada akhirnya benar-benar tak bisa menahan godaan untuk mengakhiri semuanya dengan cara yang salah.
Disinilah perlunya tulisan-tulisan yang bisa membuka mata orang-orang kita akan potensi depresi bahkan pada anak-anak yang “sepertinya” sejauh ini baik-baik saja, patuh, tidak pernah nyusahin keluarga, bahkan mungkin pinter.
Jangan salah, “the really intelligent people are even more likely to have stress and they are often pessimistic/skeptical towards the world.”
Terlalu tinggi harapan pada anak (apalagi sampai pada level “tuntutan”) itu sama riskannya dengan terlalu memanjakaan anak.
Tolong jangan abaikan peluang untuk menunjukkan pada anak bahwa mereka tetap dicintai dan ngga akan dianggap sebagai perusak reputasi keluarga hanya karena mereka ngga selalu pulang membawa kesuksesan karir atau prestasi akademis.
Didunia ini ngga semua orang harus jadi insinyur, dokter, ilmuwan ataupun ekonom top.
Yang tidak bisa memiliki karir seperti itupun ngga lantas berarti mereka ngga berharga dan nggak layak dibanggakan lagi.
Dengan begini, setidaknya mungkin kita bisa mengurangi beban mental mereka yang sedang berjuang menempuh studi dinegeri orang.
Kuliah di jerman itu nggak gampang… angka kegagalannya mencapai hampir 50%, secara general… ngga cuma pada mahasiswa asing melainkan seluruh mahasiswa di negeri ini.
Gagal bukanlah hal yang memalukan, itu bukan dosa bukan tindakan kriminal, dan bukan pula akhir dari hidup. Gagal disatu bidang tidak lantas berarti kita akan gagal dalam semua hal.

Yang paling penting lagi… sebaiknya dikembangkan kebiasaan untuk terbuka. Kita memang nggak harus mengumumkan masalah pribadi pada setiap orang, kepada publik, tapi setidaknya janganlah semua hanya disimpan sendiri jika itu terasa berat.
Berbagilah pada teman terdekat atau siapapun itu yang bisa diajak berbagi cerita.
Jika memang tak ada teman yang bisa dipercaya, pergilah mencari bantuan professional bila ada masalah. Di Jerman sini apalagi, ada banyak sekali layanan konseling gratis.
Setiap orang juga punya asuransi sehingga mencari konsultan yang nggak gratis juga bukanlah sebuah masalah.
Jangan anggap “depresi”, “stress” dan “burnout syndrom” itu hal yang memalukan. Itu hal yang bisa terjadi pada siapa saja.
Forum-forum online untuk saling berbagi secara anonym seperti ini misalnya,  juga bisa dimanfaatkan.
Semoga tulisan ini bisa dianggap bermanfaat, karena saya sama sekali nggak ingin bergosip ^_^ .
Turut berduka cita bagi siapa saja yang saat ini sedang berduka karena orang yang dikasihi meninggalkannya gara-gara tak mampu mengatasi depresinya…
Semoga angka korban depresi dikalangan mahasiswa (khususnya) bisa berkurang dimasa mendatang.

Sampai Jumpa.

Studi di Jerman: Informasi seputar Studienkolleg

Standard

Hallo, jumpa kembali ^_^…

Kali ini kembali ceritanya tentang studi di Jerman, untuk menjawab beberapa pertanyaan yang kembali nongol di Mailbox Facebook saya sekaligus ^_^. Saat ini temanya adalah: “Studienkolleg“.
1. Studienkolleg
itu apa sih? (Ngomong-ngomong, orang Indonesia yang sangat hobi menyingkat-nyingkat semua hal, ngga peduli secara linguistik boleh atau nggak, biasa menyebutnya “Studkol”. Disini supaya tulisan bisa dipersingkat saya akan pake juga itu singkatan, malas ngetiknya soalnya sering disebut LOL).

Studkol adalah sebuah institusi pendidikan, yang merupakan bagian dari Universitas/Fachhochschule di Jerman dan menjadi fasilitas bagi calon mahasiswa asing yang ijasah SMU/SMK-nya dianggap tidak setara dengan ijasah SMU/SMK di Jerman. Secara umum selama ini dianggap bahwa semua lulusan sekolah menengah dari negara dunia ketiga harus mengikutinya sedangkan dari negara industri maju tidak perlu.
Tapi itu tidak 100% benar, karena fakta yang ada menunjukkan bahwa di Universitas Saarland misalnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir memiliki beberapa mahasiswa yang berasal dari USA, yang ternyata wajib menempuh pendidikan di Studkol dan mengikuti kelas “Science” dulu sebelum berhak mendaftar di Universitas, jadi sama seperti rata-rata lulusan dari negara dunia ketiga.
Hal ini menunjukkan bahwa setiap aplikasi calon mahasiswa di Jerman akan dilihat dulu asal sekolahnya serta isi ijasahnya dan di evaluasi apakah yang tercantum dalam ijasah tersebut merepresentasikan standar pengetahuan dasar yang dibutuhkan untuk dianggap layak menempuh studi di Universitas/Fachhochschule Jerman. Setiap negara memiliki kurikulum yang berbeda, bahkan di negara Industri maju pun prinsip pola pendidikan mereka belum tentu sebanding dengan di Jerman. Sehingga selalu ada kemungkinan bahwa apa yang mereka pelajari tidak sesuai dengan yang menjadi kebutuhan di Jerman dan tidak selalu relevan dengan jurusan yang dituju.
Tapi kalau cuma mau melihat gambaran kasar sih, biasanya lulusan dari sekolah negeri di EU, Korea selatan, Singapura, Israel dan Jepang misalnya, tidak perlu masuk “Fachkurs” Studkol jika ingin kuliah level Bachelor.
Suami saya kebetulan mengajar di Studkol, jadi saya kurang lebih tahu bahwa ada sebagian mahasiswanya yang benar-benar “clueless” tentang beberapa tema dalam program studi yang dia ajarkan, meskipun teoretis mereka berasal dari kelas sains di negara asalnya. Yang berasal dari sekolah yang cenderung “religius” contohnya, biasanya sangat minim pengetahuannya tentang genetik dan evolusi. Itu sekedar salah satu contoh, dan itu nggak cuma yang berasal dari negara berkembang yang mayoritas islam ya, tapi di negara yang sekuler dan mayoritas kristen pun ada yang begitu.
Sekedar catatan: tentu saja saya tidak tahu detail siapa si A dan si B yang begini atau begitu di kelas suami saya lho. Hanya sekedar informasi umum aja yang sifatnya tidak rahasia. Kode etik profesi gitu lho hehehe. So, bagi mahasiswa indonesia yang kebetulan di Saarland, jangan ngarep ngorek info dari saya yaaa wkwkwkwkkwkk. Because even if I want to help you, I still can’t anyway  😀 . I have no idea about the details LOL.
Tapi ada juga mahasiswa yang datang dari negara yang dianggap “berkembang” dan secara umum diwajibkan mengikuti kelas di Studkol dulu, tapi mungkin memang kualitas sekolahnya bagus dan anaknya sendiri benar-benar pintar, sehingga masa sekolah di Studkol sebenarnya adalah membuang-buang waktu bagi yang bersangkutan. Hal ini contohnya aja pernah terjadi beberapa tahun lalu ketika suami saya mendapatkan sederetan siswa dari SMU Taruna Nusantara disatu tahun ajaran dan 2 tahun lalu ketika mendapat sekelompok jenius pula dari China sekaligus. Tentu saja disetiap tahun ada aja satu dua yang pintar, tapi saya sebutkan kasus diatas sebagai contoh karena kebetulan satu kelompok pintar-pintar semua sehingga kurang lebih bisa dipakai sebagai gambaran akan kualitas sekolah asalnya dan bukan sekedar “keistimewaan individu”.

2. Kalau menilik kasus tersebut, kira-kira bisa nggak sih calon mahasiswa yang merasa dirinya pintar “skip” masa studienkolleg?
Jawabannya adalah:”mungkin”, tapi apakah itu keputusan yang sensibel atau nggak, itu persoalan lain lagi. Karena perlu diingat bahwa setiap mata kuliah untuk studi “Bachelor” pada umumnya memakai bahasa Jerman, dan merasa “mampu”berbahasa Jerman dari kursus yang hanya berlangsung beberapa bulan di negaranya sendiri belum tentu itu berarti benar-benar “mampu” membuatnya bisa mengikuti setiap mata kuliah tanpa kesulitan yang berarti. Tentu saja kita ngga dituntut harus menyamai “native speaker” ya, tapi tetap saja untuk bisa mengikuti pelajaran berbahasa asing dan memahami kosakata-kosakata ilmiah; dimana dosennya juga ngomong sangat cepat, dan kadang bahkan disertai pemakaian idiom (yang biasanya ngga akan diajarkan di kursus bahasa, lain dengan orang yang kuliah germanistik ya) serta ngga punya waktu untuk memperhatikan setiap mahasiswa, akan  dibutuhkan tempo yang cukup untuk beradaptasi selama beberapa waktu menerapkan bahasa terkait sehari-hari di lingkungan akademis.
It is not always the same, believe me ^_^!
Disitulah peran Studkol jadi sangat membantu, terutama karena dosennya hanya mengajar kelas relatif kecil sehingga punya waktu yang cukup untuk memperhatikan setiap mahasiswa yang kesulitan dan membutuhkan bantuan. Peluang berdiskusi pun cukup besar. Karena itu, manfaatkanlah dengan baik masa-masa di Studkol, jangan malas. It might not always be a nice time, and your teacher might be strict but one day when you’re already in the University you will finally realise how useful it was, if you really used your chance very well.

Selain itu, pada umumnya calon mahasiswa ini datang paling banter baru pernah belajar bahasa Jerman sampai level B1, sementara yang dibutuhkan untuk bisa masuk Universitas adalah level C1, artinya masih kurang 2 level kan. Jadi jika toh masih harus menempuh masa belajar bahasa Jerman setidaknya 2 semester “anyway”, lantas kenapa ngga sekalian aja mengikuti “Fachkurse”-nya? Toh pada akhirnya, mau ikut kelasnya ataupun tidak jika ingin mendaftar di Universitas si calon mahasiswa tetap aja harus lulus FSP dan DSH dulu.
Ya betul, bagi yang merasa dirinya tergolong jenius bisa menghubungi pihak Studienkolleg tujuannya dan bertanya akan kemungkinan mengikuti ujian FSP sebagai peserta eksternal. Jika lulus, maka dia berhak langsung mendaftar di Universitas (tentu saja hanya jika kemampuan bahasa Jermannya juga sudah level C1). Jadi pada prinsipnya masa studkol cuma bisa di skip total jika yang bersangkutan lulus FSP dan DSH sebagai peserta eksternal atau lulus FSP sebagai peserta eksternal plus punya sertifikat TestDAF. Dan TestDAF itu sama sekali ngga gampang dan harga pendaftaran ujiannya nggak murah.
Dan jika tidak lulus, peluangnya sudah hilang sekali dan hanya bisa mengulang sekali semester/tahun depan. Jika tidak lulus lagi maka harus pulang. Jadi resikonya cukup tinggi. Kuncinya adalah: “Don’t overestimate your self. Self confidence is great, but don’t forget to be honest to your own weakness.” Jika mungkin, cobalah untuk mencari soal-soal contoh dari FSP di tahun-tahun sebelumnya dan cari orang yang bisa menilai kemampuanmu secara fair supaya bisa tahu apakah kamu memang benar-benar punya modal untuk “skip” masa studkol ini.
Cuma ini nggak gampang, karena tidak semua studkol akan  membagi hasil ujian kepada mahasiswanya. Beberapa diantaranya cuma mengumumkan hasil secara online supaya kerahasiaan data masing-masing siswa terjaga dan siswa yang ingin cross check hasilnya dengan dosen yang bersangkutan bisa meminta appointment khusus, ada juga yang menunjukkan hasil di kelas dan sang siswa cuma diberi waktu selama kelas berlangsung untuk mengecek hasil ujiannya dan protes jika diperlukan tapi ujian berikut soal harus dikembalikan dan masuk arsip kampus.
Tapi memang ada juga studienkolleg yang membagikan kertas ujian kepada siswa, contohnya studkol saya dulu.
Bagi yang datang untuk kuliah level Master (Dengan catatan ijasah Bachelor dari negara asalnya diakui oleh Depdikbud Jerman), tentu hanya dibutuhkan bukti kemampuan bahasa jerman level C1, jika jurusan tujuan tidak memakai bahasa pengantar bahasa inggris.

3. Berapa lama sih masa studkol itu? Jawabannya tergantung anaknya. Yang jelas kita cuma boleh mengulang ujian sekali saja, dan masalahnya tidak semua studienkolleg mengijinkan mengulang kelasnya dan tidak semua studkol mengadakan ujian FSP setiap semester. Jadi perkiraannya adalah dari 1-2,5 tahun. Jadi, pastikan bahwa dana untuk kuliah di Jerman yang dipersiapkan memadai untuk waktu yang lama. Karena bagaimanapun tujuan utama kalian adalah untuk belajar bukan untuk bekerja. Banyak sekali kasus kegagalan studi yang nggak cuma disebabkan oleh kebanyakan main, tapi juga kebanyakan “kerja”(“kebanyakaan” disini karena tak jarang melampaui batasan jam kerja yang diijinkan bagi mahasiswa asing). Apalagi, selama masih di studkol, ijin kerja yang ada lebih sedikit daripada untuk mereka yang sudah berstatus mahasiswa penuh).

4. Bagaimana dengan biayanya?
Di Jerman ada 2 jenis studkol, yaitu negeri dan swasta. Selama bisa diterima di Studkol negeri maka untuk saat ini di seluruh Jerman tidak ada beban tuition fee, hanya “Semesterbeitrag” yang dilengkapi dengan fasilitas langganan transportasi publik yang berlaku di negara bagian setempat dengan standar harga anak sekolah.
Sedangkan jika tidak mendapat tempat di Studkol negeri dan masuk ke studkol swasta, tentunya ada tuition fee. Tapi sebelum mendaftar di studkol swasta, pastikan dulu bahwa studkol tersebut ijasahnya diakui oleh negara.
Selain itu ada pula kategori lain untuk membedakan jenis studkol, yaitu: studkol dari Universität dan studkol dari Fachhochschule (University of Applied Science).
Ijasah studkol yang diakui negara akan berlaku untuk seluruh wilayah jerman tanpa memandang asal daerahnya, hanya saja: ijasah studkol dari Universität bisa dipakai juga untuk mendaftar kuliah di “Fachhochschule” sedangkan ijasah studkol dari FH hanya bisa dipakai untuk mendaftar di FH saja dan tidak bisa dipakai mendaftar kuliah di Universität.
Jangan salah paham, di Jerman sebagai hasil akhirnya titel Bachelor ataupun Master dari Universität tidak dibedakan dari FH, keduanya sederajat. Yang membedakan mereka cuma titik berat dalam metode pengajaran. Di Universitas itu lebih kuat di teori dan riset, sementara di FH yang menjadi fokus adalah aplikasi, ilmu terapan. Oleh karena itu, kalaupun ada perbedaan di hasil akhir datangnya lebih cenderung dari Industri yang menerima mereka nantinya. Tapi biasanya itu cuma pada saat periode pertama masa kerja saja. Lulusan FH karena terbiasa dengan banyak praktek kerja di industri dan banyak “project” semasa studi yang sebagian bahkan harus dilakukan di perusahaan, membuat lulusan FH jauh lebih siap pakai di dunia kerja daripada lulusan Universitas yang lebih banyak belajar teori daripada praktek di lingkungan industri. Oleh karena itu, untuk gaji pertama kerja biasanya lulusan FH mungkin saja akan menerima sedikit lebih banyak daripada lulusan Universitas. But it is not necessarily like that either, it’s only a probability based on the general overview.
Tapi jika cita-citanya adalah menjadi ilmuwan/peneliti/inventor misalnya, jauh lebih disarankan untuk berusaha masuk studkol Universität saja, karena pilihannya lebih luas dan kamu nanti toh masih bisa berubah pikiran setiap saat apakah setelah lulus mau masuk Universität atau FH.

5. Dimana sajakah studkol negeri yang masih ada di Jerman?
Di sini kalian bisa temukan contact details-nya: Daftar Studienkolleg negeri di Jerman
Silahkan dibaca di website terkait, beberapa diantaranya ada yang menyediakan halaman berbahasa inggris. Tapi jika tidak, saya rasa itu juga bukan masalah. Bagaimanapun kalian yang ingin kuliah kan harusnya belajar bahasa jerman juga toh?
Langsung juga hubungi kampusnya untuk informasi yang lebih detail.
Beberapa kampus memungkinkan kita untuk mendaftar langsung ke Universitas/FH-nya, sehingga bagi yang lulusan SMK masih punya peluang cukup besar untuk bisa masuk.
Sedangkan sebagian yang lain tidak melayani pendaftaran langsung dan “outsourcing” prosedur penerimaan mahasiswa kepada Uni-Assist  , sedangkan untuk mengetahui apakah ijasah kita diakui oleh depdikbud Jerman atau tidak, bisa di lihat di sini .
Jangan khawatir, staff yang kerja di bagian ini di kampus terbiasa berurusan dengan orang asing yang bahasanya masih pas-pasan jadi mereka sangat ramah dan ngga akan menganggap remeh hanya karena bahasa jerman kamu belum bagus. Beberapa diantaranya juga bahasa inggrisnya cukup bagus sehingga komunikasi tidak akan jadi masalah serius.

Ok deh, sementara sampai disini dulu. Lain kali disambung lagi dengan tema yang lain.
Kalau ada request atau pertanyaan, silahkan sampaikan di kolom komentar dibawah.
Ciaooo…

Image source: www.studienkolleg-hamburg.de
Info tambahan: Universität des Saarlandes tidak lagi memiliki “Fachkurse” untuk mahasiswa asing secara umum. Saat ini hanya ada kelas untuk bahasa jerman dan “Fachkurse” yang ada hanya dibuka bagi “Refugees“.
Website untuk HTWG Konstanz yang ada di link diatas tidak lagi aktual, yang baru adalah ini.

Kosakata:
FSP: Feststellungsprüfung (Ujian persamaan untuk menentukan apakah yang bersangkutan memenuhi syarat mendaftar di Universitas/FH atau tidak)
DSH: Deutsche Sprachprüfung für den Hochschulzugang (Ujian bahasa Jerman untuk menilai kemampuan bahasa Jerman. Standar kelayakan untuk kuliah adalah jika yang bersangkutan lulus minimal level DSH 2. Lulus dengan nilai yang cuma merepresentasikan DSH 1 masih belum cukup, karena itu cuma mewakili standar kemampuan B2.
Fachkurse: kelas untuk mata pelajaran yang relevan dengan jurusan yang dituju.
Contoh: T-Kurs: Matematika, Fisika, Technische Zeichnen (technical design/drawing) dan mungkin juga Informatik (Information Technology) serta Kimia.
M-Kurs: mirip dengan T-Kurs hanya saja ada tambahan “Biologi” tapi tanpa TZ juga tanpa Informatik. Untuk W-Kurs: Matematika, Ekonomi (macro economics and business studies)… dan tergantung dari jurusan yang tersedia di FH yang bersangkutan yang boleh dimasuki oleh lulusan W-Kurs-nya, kemungkinan akan ada juga mata pelajaran Informatik dan Fisika di W-Kurs. G-Kurs dan S-Kurs biasanya bisa saling menggantikan bagi yang ingin kuliah di bidang sosiologi, germanistik, linguistik, hukum, seni dan semacamnya yang tidak tergolong jurusan STEM (Germans: MINT) atau Ekonomi.
STEM: Science, Technology, Engineering and Mathematics
FH: Fachhochschule (University of Applied Science)
Semesterbeitrag: biaya administrasi per-semester (bukan biaya SKS lho)

Management Waktu bagi calon Student

Standard

Management Waktu yang optimal itu perlu bagi setiap orang, tapi bagi calon mahasiswa yang pengen kuliah di Jerman artinya bisa sangat krusial, khususnya bagi yang berencana ambil Bachelor sampai Master dan kalau perlu lanjut sampai doktoral. Karena Visa studi itu jangka waktunya terbatas. Dan tidak ada jaminan akan selalu bisa diperpanjang hanya karena masih punya uang di rekening. Staff Imigrasi butuh perspektif positive dari jalannya studi sebelum memutuskan akan memberikan perpanjangan visa. Orang asing ngga bisa sembarangan dan sering gonta-ganti jurusan seperti orang lokal kalau jalannya studi nggak lancar atau merasa salah pilih jurusan misalnya.
Selain itu WN non EU dan dari negara lainnya yang non sekutu Jerman “pada umumnya” sebelum bisa mendaftar untuk program Bachelor harus lulus FSP dulu (apa itu FSP silahkan baca di “post” terdahulu) yang membuat batas waktu visa studi yang bisa diperolehnya sudah terpotong banyak untuk masa-masa pra-Studium ini.
Tentu saja mengikuti ujian FSP sebagai peserta eksternal itu selalu mungkin, akan tetapi kalau melihat statistik kuota kegagalan bagi mahasiswa yang bahkan menjalani di Studienkolleg juga kuota mahasiswa yang baru lulus setelah harus mengulang ujian di semester (atau bahkan mungkin di tahun berikutnya, karena tidak semua Studienkolleg mengijinkan mengulangi kelas dan tidak semua Studienkolleg memiliki kelas untuk program studi yang sama disetiap semester), maka sangatlah penting untuk mengatur waktu kapan harus mulai urus dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk keperluan kuliah di Jerman serta tentunya kapan sebaiknya saat yang tepat untuk masuk Jerman.

Kembali disini “being self informed” itu sangat penting artinya, karena agency kemungkinan besar tidak akan “assisting” calon student sampai sedetil itu, apalagi sampai membantu mencarikan “deadline” pendaftaran untuk setiap jurusan yang diminati di setiap kampus universitas yang dimau.
Tapi itu adalah sepenuhnya masuk akal, karena untuk memberikan “assistance” dengan menyesuaikan diri pada minat dan bakat SETIAP calon mahasiswa itu bebannya terlalu besar dan sangat tidak fleksibel.
Khususnya bagi lulusan SMU jurusan IPA yang mana memberi fleksibilitas paling gede dalam memilih jurusan. Maka dari itu hanya si anak sendiri lah pada dasarnya yang bisa menyaring serta memutuskan, jurusan apa saja yang kira-kira masih relevan dengan minat serta bakat personalnya.
Meminta orang lain yang mencarikan informasi untuk itu dan sekaligus mengatur manajemen waktunya dalam proses perburuan kursi adalah hal yang nggak realistis sebenarnya. Kenapa?

  • karena kemungkinan adanya perbedaaan nama jurusan di setiap kampus yang berbeda meskipun sebenarnya yang dipelajari kurang lebih sama itu selalu ada.
    Atau spesifikasi jurusan tidak selalu sama persis. Hal ini relevan bagi yang berminat kuliah di jurusan-jurusan yang tergolong “exotisch”.
  • ada jurusan yang statusnya “restricted admission” dan ada yang bebas.
  • tidak semua jurusan buka pendaftaran di setiap semester. Ada yang cuma menerima pendaftaran di Sommersemester atau sebaliknya hanya di Wintersemester. Terlalu rumit kalau agensi harus melayani hal-hal detail seperti ini, apalagi karena setiap calon mahasiswa bachelor itu pada umumnya bakalan berjuang mencari kursi di Studienkolleg disetiap Bundesland. Perlu diingat bahwa jumlah Studienkolleg belakangan ini makin berkurang sehingga persaingan mencari kursi bagi mahasiswa asing akan semakin ketat.
  • persyaratan pendaftaran bagi jurusan yang sama belum tentu seragam di setiap universitas. Misalnya saja: sebuah jurusan X di Perguruan Tinggi A mengharuskan adanya bukti TELAH selesai menjalani “Vorpraktikum” (internship) dengan spesifikasi tertentu di bidang yang sesuai atau pernah bekerja di bidang yang relevan. Sementara di PT  B mungkin saja mengijinkan bukti sertifikat internship tersebut diberikan paling lambat di awal semester 3, jadi boleh daftar dulu dan menjalan internship nanti di Jerman di masa liburan semester. Sedangkan PT C bisa saja tidak meminta adanya bukti menjalani “internship” sama sekali.
    Nah, adalah jauh lebih masuk akal tentunya kalau setiap calon mahasiswa menyaring sendiri informasi tentang setiap jurusan yang sesuai dengan bakat dan minatnya serta perguruan tinggi dikota apa saja yang disukai. Sangat tidak efisien kalau meminta orang lain yang mencari informasi ini secara umum.

Beberapa PT di jerman memiliki website berbahasa inggris yang cukup bagus, terutama yang memiliki banyak program studi dengan bahasa pengantar bahasa inggris, tapi banyak juga yang tidak. Hanya saja, bagi yang memang pada dasarnya ingin kuliah di jurusan yang tidak “spesial” dan atau jurusan yang tidak menawarkan bahasa pengantar bahasa inggris untuk seluruh mata kuliahnya, maka sang calon mahasiswa itu sendiri seharusnya toh sudah mempersiapkan diri dengan kemampuana bahasa yang cukup memadai untuk mencari informasi.
Kalaupun belum sampai pada level yang “excellent” untuk bisa memahami semua isi website tanpa ada keraguan, setidaknya harusnya tetap cukup memadai untuk bisa menemukan “masalah” / “ketidakjelasan” tertentu yang nantinya bisa ditanyakan lebih lanjut, baik kepada “contact person” yang tersedia ataupun kepada teman-teman senior di forum-forum mahasiswa yang tersebar online.

Rata-rata deadline pendaftaran di Sommersemester adalah 15 Januari. Sementara pembukaan mulai 1 Desember (tapi inipun variatif, tidak semua Universitas sama persis). Sedangkan untuk Wintersemester rata-rata deadline 15 juli, pembukaan mulai 1 Juni.
Tapi deadline ini tidak selalu sama bagi setiap jurusan. Bagi jurusan-jurusan yang statusnya “ohne NC” atau “unrestricted admission” biasanya memiliki jadwal pendaftaran yang berbeda.
Perburuan tempat di Studienkolleg dilakukan diseluruh jerman, karena itu pastikanlah untuk bisa efisien dalam mengatur “itinerary” perjalanan dalam menjalani test masuk. Pendaftaran memang dilakukan online, tapi sang calon mahasiswa nantinya akan harus menjalani test masuk yang fungsinya tidak hanya menyaring calon mahasiswa tapi juga untuk menentukan ada di level berapa sebenarnya kemampuan bahasa jermannya. Dan jadwal test ini juga bervariasi.
Karena jujur aja ya, pengalaman menunjukkan bahwa “ein B2 -Zertifikat” dari negara asal nggak selalu menampakkan hasil yang sesuai dengan ijasahnya. Ini ada dua alasan yang mungkin: pertama, di Indonesia siswa yang rajin ikut bimbingan test pada umumnya udah terbiasa dengan pola-pola ujian sehingga faham trik bagaimana untuk bisa lulus ujian dengan baik :-D, karena udah biasa di “drill” sebelumnya. Ini secara umum bisa berguna memang untuk bisa lolos saringan. Tapi tidak selalu berguna bagi tes yang tujuannya murni untuk mengecek level seseorang.
Karena tes ini pada prinsipnya hasilnya harus benar2 representatif, karena tujuannya untuk menentukan materi pelajaran yang benar-benar sesuai dengan kemampuannya. Bagi yang bahasa jermannya belum begitu bagus maka tentunya lebih bijak jika yang bersangkutan mengikuti kelas bahasa Jerman yang belum terlalu “advance” supaya hasilnya lebih membangun. Yang hasilnya ini sangat menentukan bagi “efisiensi manajemen waktu”. Semakin bagus level bahasa jerman yang dimiliki, akan semakin besar kemungkinan bisa memperpendek masa studi. Masa-masa pre-Studienkolleg jadi nggak akan lebih lama dari 3 bulan (visa 3 bulannya benar-benar hanya akan dipakai untuk menjalani kursus bahasa di masa transisi diawal kedatangan, dan untuk mencari kursi di salah satu Studienkolleg yang tersedia), dan masa Studienkolleg-nya pun mungkin benar-benar bisa dibatasi maksimal 1 tahun saja.
Jangan lupa bahwa calon mahasiswa cuma punya waktu “maksimal” 1 tahun (3 bulan pertama+9 bulan perpanjangan) sejak mendarat di Jerman, hanya untuk mencari kursi di Studienkolleg. Ingat! Itu maksimalnya.
Dan setelah itu, perpanjangan visa tidak hanya tergantung pada jumlah uang di rekening tetapi juga biasanya justru jauh lebih tergantung pada “prospek” studi nya. Status terdaftar di sebuah institusi pendidikan adalah persyaratan terpenting disini.

Selain itu, pengaturan waktu yang optimal tentu saja efeknya cukup besar bagi isi rekening. Makin bagus dalam mengorganisir jadwalnya dan “itinerary” nya sendiri, maka makin sedikit duit yang akan terbuang dimasa-masa persiapan studi ini.
Jangan lupa, bahwa selama status belum menjadi mahasiswa penuh sebuah PT, maka ijin kerja yang diberikan sangat terbatas. Terlebih lagi dimasa-masa awal perkuliahan, sebenarnya sangat tidak disarankan untuk memforsir diri dengan pekerjaan, apalagi kalau dimasa masih pra-Studium alias belum benar-benar kuliah.
Jangan sampai nanti masuk kelompok pasukan yang pulang sebelum masuk medan perang yang sesungguhnya. Sayang kan…
Most people are not born as genius ^_^. Geniuses are rare products.
So, being optimistic is good, but don’t overestimate your self. Success people know how to do self assessment properly (well…being honest to oneself is very crucial matter).
And don’t get easily insulted. You are now in Germany, people in general have no hidden meaning in their words, most of the case people here are merely stating a fact :-D. This also applied to many foreign students who already got settled here. They tend to be more pragmatical and outspoken than before.

If you really want to build your self, then get accustomed to it. Kalau ingin jawaban yang membangun atas pertanyaan yang diajukan di forum, sebaiknya ya jangan gampang tersinggung dengan komentar-komentar yang tidak lagi faham basa-basi ala indonesia.
Karena kalau mau fair dalam menilai, justru mereka-mereka yang tipe pragmatis inilah yang biasanya justru memberikan komentar yang “layak” untuk menjadi pertimbangan serius, karena pada umumnya mereka ngga sekedar memberikan “harapan-harapan” bagus saja.

Sampai jumpa lagi…

Note: untuk mengajukan visa studi, diminta bukti penerimaan di sebuah institusi pendidikan, dan yang paling mudah didapat adalah mendaftar kursus bahasa jerman di VHS atau Goethe Institut misalnya. Pastikan saat pengajuan visa memberikan pernyataan bahwa visa yang diminta adalah mengikuti kelas bahasa dengan perspektif untuk kuliah di jerman, sehingga visa (3 bulan) ini habis masa berlakunya akan bisa di konversi menjadi ijin tinggal sementara untuk mencari Studienkolleg/Universitas. Daftarlah kursus untuk midsemester, yang masa selesainya mendekati waktu-waktu pendaftaran Studienkolleg, supaya ngga buang-buang waktu terlalu lama di Jerman.
Informasi seperti yang semacam ini sudah tentu bisa diperoleh dari forum mahasiswa online, jadi kalau bisa nyari sendiri percayalah… meskipun nggak pake agen semua akan baik-baik saja.

Kuliah sambil kerja di Jerman

Standard

Dari hasil “sharing” pengalaman sesama mahasiswa di Jerman, saya ambil kesimpulan bahwa informasi yang diberikan oleh agen pendidikan kepada peminatnya hanya fokus pada hal-hal yang indah saja dan tidak menyeluruh/mendetail.
Bohong sih ngga selalu ya, tapi ngga jarang cenderung “misleading” gitu deh, karena infonya nggak lengkap.
Belum lagi realita itu kan dimana-mana lebih menggigit daripada teori.
Banyak yang percaya mati bahwa di Jerman itu sekolah gratis dan mahasiswa boleh kerja legal, jadi ngga usah terlalu takut mikirin biaya, karena dari kerja sambilan dijamin bisa sukses.
Ya, itu memang benar, tapi cuma dalam tanda kutip. Masih ada aspek-aspek lain yang harus diperhatikan lho. Hanya saja, kalau memang ke Jerman itu adalah sebuah cita-cita, seharusnya banyak browsing dulu dan sebisa mungkin jangan di website-website yang komersil. Website kedutaan jerman, DAAD atau GIZ misalnya, yang versi bahasa indonesia juga ada kok.
Jaman sekarang enak ada internet, nggak kayak dulu. Dengan begitu ntar pas nanya ke teman-teman yang di Jerman itu udah punya modal bagus, jadi tinggal nanya aja “praktek”nya disini gimana… realitanya gimana, seberapa jauh bisa melenceng dari teori begitu lho.
Na ja…sudahlah, saya langsung aja lah ya…
Disini saya mau meringkas informasi untuk menjawab rasa penasaran peminat studi di Jerman tentang kemungkinan “kuliah sambil kerja” ini, karena mengenai “topik kuliah gratis” dibahas di postingan yang lain supaya nggak kepanjangan.
Ini khususnya relevan bagi mahasiswa indonesia yang murni cuma memegang visa studi, tanpa adanya sponsor keluarga yang memiliki paspor atau PR (permanent residence) di Jerman.

Seringkali dalam diskusi di forum ada yang bilang boleh kerja 8 jam sehari lah, 4 jam sehari lah, maksimal 20 jam seminggu lah, 450€ sebulan lah, ada juga yang bilang yang penting ngga lebih dari 8354€ setahun, mana yang benar?
(Note: artikel ini dulu dibuat tahun 2014. Yang teraktual untuk 2017 PTKP nya sekarang menjadi 8820€)

Sebenarnya ngga ada yang salah kok, hanya saja juga ngga bisa dibilang 100% tepat.
Kasus yang umum adalah sekedar “misintrepretasi” informasi, entah karena kurang mengerti disebabkan oleh kendala bahasa tapi malu bertanya lebih detail kepada petugas imigrasi yang bertanggungjawab, atau memang ngga bener-bener baca sendiri dari sumber yang “reliable”.
Melainkan hanya dari “katanya” si A, si B dan si C misalnya. Hati-hati, apa yang selama ini biasa dilakukan oleh beberapa teman dan sejauh ini selamat alias nggak menemui masalah, itu nggak selalu berarti bahwa apa yang mereka lakukan itu benar-benar legal lho.
Contoh sederhana memakai analogi: ketika terjadi kebakaran kecil, dan jumlah kerugian kebetulan tidak lebih dari 1000€ misalnya, lantas asuransi A tanpa banyak cingcong langsung bayar klaimnya. Di kasus lain asuransi B menolak klaim senilai sama, dengan alasan kewajiban memasang sensor asap disetiap rumah tidak dipenuhi korban misalnya. Pertanyaan: kalau memang ada aturan pemerintah mewajibkan memasang sensor asap, kenapa asuransi A kok mengganti rugi tanpa banyak suara, apakah asuransi B menipu?
Tentu saja tidak… alasannya sebenarnya simpel saja, asuransi A punya kebijakan sampai pada batas nilai klaim kerugian tertentu memilih untuk “skip” penyelidikan menyeluruh, karena biaya penyelidikan juga cukup mahal, makan waktu dan tidak “worth it” jika dibandingkan dengan jumlah ganti rugi yang bisa dihemat dan efek “promosi kepuasan konsumen” yang bisa diperoleh. Khususnya karena kasus semacam itu secara statistik cukup jarang terjadi.
Jadi aturan tersebut memang ada, karena itu tidaklah salah bila ada asuransi yang “strict” dalam  memanfaatkan UU yang ada.
Tapi ngga berarti pula hanya karena ada perusahaan asuransi yang memberi banyak “kulanz” dan cenderung fleksibel, terus lantas UU nya jadi bisa dianggap ngga ada. Begitulah contoh analoginya.

Also… pada prinsipnya setiap mahasiswa asing dari negara dunia ketiga yang masuk ke Jerman tidak dengan memakai visa family, alias murni pakai visa studi, hanya boleh bekerja selama 120 hari (fulltime) atau 240 hari (half-day) dalam setahun. Dan itu keduanya bisa dikombinasi pembagian waktunya, seperti misalnya 100 hari “fulltime”, dan 40 hari “half-day”. Karena itulah bisa juga diartikan secara kasar: maksimal 20 jam seminggu atau 4 jam sehari. Tapi sebenarnya 8 jam sehari juga boleh, selama dalam setahun itu tidak melebihi 120 hari masa kerjanya.
Tapi shift kerja 4 jam sehari dan 240 hari dalam setahun itu juga cuma hitungan secara umum, dalam arti cuma berlaku pada “perusahaan” yang memang menerapkan shift kerja: 8 jam sehari. Jika misalnya yang bersangkutan bekerja di industri metal, yang menerapkan jam kerja 7 jam dalam satu shift, maka “half-day” disini berarti 3,5 jam. Jadi, kalau tiap hari kerja selama 3,5 jam dan itu sudah dilakukan di perusahaan yang sama selama 240 hari, ya hak kerjanya udah habis untuk kalender tahun tersebut. Terlepas dari kapan mulainya bekerja, limit ini diberlakukan tetap untuk satu tahun kalender penuh, yaitu dari 1 januari sampai 31 desember.
“Fulltime” ini terhitung seluruh hari kerja dimana yang bersangkutan bekerja di hari tersebut lebih lama dari separuhnya jam kerja normal.
Pada kasus pekerjaan dengan jam kerja fleksibel harus memperhatikaan hal berikut:
misalnya saja siapapun yang selama 3 hari dalam semingggu bekerja di sebuah perusahaan totalnya 12 jam dan bebas membagi sendiri jam kerjanya dalam periode tersebut, seandainya dia misalnya saja di hari pertama dan kedua kerja 3 jam, kemudian di hari ketiga 6 jam; atau di kasus kedua dia memilih kerja tiap hari kerja 4 jam.
Maka pada kasus pertama dia terhitung kerja penuh 1 hari dan kerja separuh hari selama 2 kali, disini dia tentu udah rugi “satu hari untuk itungan “half-day”.
Jadi yang lebih optimal tentu pilihan kedua. Dalam mengatur jam kerja pastikan bahwa tentu saja jauh lebih baik kerja 8 jam atau 4 jam langsung dalam sehari, dan sebisa mungkin jangan 5 jam atau 2 jam saja jika tidak terpaksa.
Kemungkinan kombinasi lain yang optimal, supaya selama semester berjalan bisa lebih banyak waktu untuk belajar, bisa dibagi seperti berikut: 22 hari bekerja “fulltime” di masa liburan panjang (2 kali setahun),
dengan begini masih tersisa 76 hari penuh untuk setahun yang bisa dibagi sepanjang semester berjalan menjadi 152 “half-day”.
Disamping itu, mahasiswa bisa juga melakukan aktifitas ekstra yang menghasilkan duit tanpa batasan waktu selama itu ada dilingkungan universitas. Dalam hal ini tetap harus diperhatikan syarat bahwa kesibukan ini tidak mengganggu aktivitas utama sebagai mahasiswa, yaitu belajar.
Untuk pekerjaan “freelance” dan wiraswasta seperti misalnya “web-designing”, “programming”, berdagang dan seterusnya, diperlukan ijin khusus dari imigrasi. Begitu juga apabila seseorang mendapatkan tawaran pekerjaan yang jam kerjanya melebihi batas dalam aturan, maka akan dibutuhkan ijin khusus dari “Arbeitsagentur” dan dari imigrasi. Meskipun “Arbeitsagentur” sudah menyetujui, masih ada kemungkinan pula bahwa imigrasi akan menolak, seandainya hasil observasi mereka menyimpulkan bahwa perkembangan studi mahasiswa yang bersangkutan terganggu oleh aktivitas pekerjaannya.
Mengenai nilai upah kerja, 450€ per bulan adalah status “mini-job”, yang mana secara kasar bisa dikatakan batas aman pekerjaan sambilan yang bisa dilakukan oleh mahasiswa tanpa resiko. Karena jam kerja dan nilai upah sebesar itu sudah pasti tidak akan melebihi batas aturan yang diijinkan bagi mahasiswa asing, dan masih bebas pajak, juga bebas “Sozialabgaben”.
Sebab di Jerman ada standar UMR (8,5 € perjam) dan kalaupun ada yang bandel dan cuma mau menggaji mahasiswa lebih rendah dari itu, kurleb per jam nya masih ada dikisaran 5-7 € (biasanya di gastronomi, kalau di pabrik atau perusahaan biasanya akan taat aturan).
Tergantung industri, jenis pekerjaan dan kota/negara bagiannya (tingginya biaya hidup masing-masing negara bagian itu beda), maka ada juga yang bisa beruntung mendapatkan upah sampai 15€ per jam, terutama jika itu berupa “seasonal job”, seperti “Ferienjob” atau jadi tenaga cabutan untuk “Messe” (eksibisi) misalnya.
Bagi yang masih berstatus siswa Studienkolleg atau kursus bahasa, limit jam kerja jauh lebih ketat. Mereka tidak bisa bekerja sebanyak yang sudah resmi berstatus mahasiswa di perguruan tinggi.
Sedangkan batas gaji 8354€ (sekarang 8820€) itu adalah batas maksimal gaji yang bebas pajak dalam setahun (PTKP istilah pajak indonesianya, yg diperuntukkan bagi student).
Pada prinsipnya memang bisa aja sih kerja sampai dapat gaji sebanyak itu, hanya saja pada prakteknya dan umumnya sebagai mahasiswa jumlah itu masih ngga akan terjangkau karena beberapa faktor.
Seberapa banyak memang bisa dijalani kerja sambil kuliah ini?
Orang jerman sendiri tidak mudah mencari pekerjaan yang layak. Berapa besar kemungkinannya sebagai orang asing yang berstatus masih mahasiswa pula dengan kemampuan bahasa yang jelas kalah dari “native speaker” dan pada umumnya nggak ada “network” yang menjanjikan, untuk bisa bersaing dengan orang lokal?
(Jadi ingat pertanyaan klasik yang sering diajukan teman lama, khususnya teman sekolah jaman SMA yang baru aja ada kontak setelah lama ngga ada kabar: “Ana, cariin kerjaan di Jerman dong, disana pasti lebih enak kan… gajinya gede bla bla…”
Ah ya, dikiranya gaji gede pengeluaran nggak gede kali hehehe. Di Zürich juga gaji 2 kali lipat daripada di Jerman, tapi harga kebab misalnya juga dua kali lipatnya di jerman LOL. Kadang-kadang emang orang itu nanyanya ngga logis banget wkwkwkwk.
Dimana-mana rumput tetangga selalu lebih hijau. )

Tentu saja tidak sedikit diantara mahasiswa asing yang melanggar aturan dan kerja dengan status “gelap”, melebihi batas yang diijinkan tentu aja. Dan karena gelap pula jadinya rela dibayar jauh lebih rendah dari pada UMR dan tanpa asuransi tentunya.
Itu adalah pilihan pribadi dan saya nggak mau nge-judge ya, tapi perlu saya ingatkan bahwa konsekuensi yang diambil tidak kecil. Bagi pemilik visa family ataupun WN Jerman, melanggar batas jam kerja bagi student sih ngga terlalu masalah, hanya status pajaknya aja yang berubah.
Tapi bagi pemilik visa studi murni tentunya ngga sesimpel itu.
Jika sampai ketahuan sudah tentu ada sanksinya, kalau sekedar didenda sih masih mending ya… tapi gimana coba kalau visa dibatalkan sementara studi sudah setengah jalan?
Lebih apes lagi kalau ketahuannya pas udah mau rampung, apa nggak sayang?
Selain itu di Jerman asuransi adalah obligatoris, jika sampai terjadi kasus kecelakaan kerja dan cukup serius, gimana coba? Siapa yang akan tanggung jawab? Dan ketika hal semacam terjadi, sudah pasti yang tersembunyi takkan bisa lagi disembunyikan ==> double bad luck.
Last but not least, bekerja terlalu banyak sudah pasti akan membuat studi keteteran.
Kuliah di jerman tidak cukup hanya butuh pintar, tapi juga “hard work” dan “persistence”. Harus tahan banting. Ada berapa persen sih jumlah orang jenius?
Rata-rata yang ada adalah adanya kecerdasan akademis yang cukup memadai untuk belajar dan kemauan untuk bekerja keras dalam mengejar kekurangan.
Kalau ingin studi lancar, maka bisa dipastikan sebagian besar waktu harus dihabiskan di perpustakaan. Karena itu, kerja sambilan seharusnya benar-benar cuma merupakan sambilan. Tidak boleh terlalu “excessive”, kalau tidak ingin terancam gagal.
Kuota kegagalan di jerman secara umum saja sudah cukup besar, apalagi bagi orang asing yang sudah jelas punya kendala bahasa. Sudah cukup banyak kegagalan mahasiswa asing yang sebenarnya tidak bodoh, tapi disebabkan oleh kekurang mampuan dalam me-manage waktu, kurang asertif, kurang belajar karena kebanyakan kerja  dan terlalu menggampangkan sesuatu.

Belajar sambil kuliah sepenuhnya itu disini memang tidak mustahil, tapi dalam melakukan “self assesment”, yang terpenting adalah harus berani jujur pada diri sendiri, supaya solusi yang diambil bisa optimal. Harus jujur dalam menilai mampu tidaknya kita; apakah kita memang tergolong cerdas dan tidak butuh waktu lama dalam memahami setiap pengetahuan baru; punya kemampuan bahasa asing yang bagus;
ataukah kita cenderung tergolong yang berkemampuan secukupnya dan butuh ekstra rajin untuk bisa menguasai keahlian tertentu.
Kedua tipe sama-sama bisa sukses dan sama-sama bisa gagalnya.
Yang jelas jangan sampai memompa kepercayaan diri terlalu berlebihan hingga sampai pada level menipu diri sendiri. Karena itu hanya akan mencelakai diri sendiri saja.
Bagi yang tidak tergolong “pintar” baik secara kognitif maupun pragmatis, serta dalam manajemen waktu, maka saya cenderung menyarankan untuk menyiapkan modal finansial yang memadai sehingga tidak perlu banting tulang dalam bekerja dan bisa menyediakan cukup waktu untuk belajar.
Atau menyelesaikan S1 di Indonesia aja dulu, baru kemudian mencari beasiswa untuk S2 di jerman. Jadi ngga perlu mikirin harus kerja keras sampai mengabaikan belajar demi bertahan hidup di negeri orang. Dan fase Studienkolleg pun tak perlu lagi dijalani. Terutama karena saat ini jumlah Studienkolleg negeri yang ada sudah semakin banyak berkurang sehingga perjuangan untuk mendapatkan tempat semakin berat, mengingat kita masih harus bersaing dengan mahasiswa lain dari banyak negara.
Terlebih lagi juga karena beban studi master tidaklah seberat bachelor. Di level master mahasiswa setidaknya jauh lebih fleksibel dalam memilih subjek yang diminati, jadi semangat belajarnya biasanya juga lebih gede.
Oke deh, sementara ini dulu.
Semoga bermanfaat.

Source: https://www.uni-bonn.de/studium/studium-in-bonn-fuer-internationale-studierende/betreuung-auslaendischer-studierender/pdf.dateien/arbeitsmoeglichkeiten-fuer-ausl.-stud.-2012

https://www.uni-bonn.de/studium/studium-in-bonn-fuer-internationale-studierende/studium-mit-abschluss/im-studium#Arbeiten_w_hrend_des_Studiums

Biaya sekolah di Jerman

Standard

Hallo semuanya…
Selama ini saya sering mendapat pertanyaan melalui “private message” tentang biaya yang dibutuhkan untuk sekolah dan hidup di Jerman, juga apakah benar sekolah di Jerman itu gratis. Ini pertanyaan yang jawabannya gampang-gampang susah ya. Karena biaya hidup itu selalu relatif tergantung standar kualitas hidup yang dituntut oleh masing-masing orang dan juga dimana mereka tinggal. Tidak semua negara bagian level UMR nya sama dan level biaya hidupnya pun pasti saling menyesuaikan.

Tapi ok-lah saya akan coba kasih gambaran perhitungan kasar dengan standar hidup yang “relativ bescheiden” alias “modest” bin sederhana di wilayah yang juga ngga tergolong mahal (di Saarland).
Biaya Visa dan segala tetek bengek selama masih di Indonesia ngga saya masukkan, karena itu baru relevan kalau keputusan sudah diambil bahwa kuliah di Jerman memang tetap jadi pilihan ^_^. Saya cuma cantumkan kebutuhan kasar untuk bisa menjalani hidup sebagai mahasiswa di Jerman ya hehehe.

So… yang dibutuhkan (2016/2017) adalah kurang lebih sebagai berikut:
1. Jaminan finansial untuk visa studi
Saat ini yang resmi diminta minimal sejumlah 8640€ , dengan asumsi kebutuhana hidup minimal standar Student sejumlah 720€ per bulan. Karena itu, rekening tersebut harus diblokir dengan kemungkinan tarik tunai maksimal 720€ per bulan.
Jumlah ini “teoretis” harus kembali utuh setiap kali si pelajar ingin memperpanjang visa studinya. Hanya saja, pada prakteknya bukti “print out account” tidak selalu diminta lagi saat proses perpanjangan, jika yang bersangkutan beruntung ketemu dengan staff imigrasi di Jerman yang ngga terlalu “strict”.
Karena ada kriteria lain yang jauh lebih penting, yaitu “Immatrikulationsbescheinigung” (tanda bukti kita masih berstatus mahasiswa atau bukti lain yang “adequate”) serta kadang akan dimintai surat keterangan dari Universitas jika si mahasiswa udah kuliah terlalu lama tanpa ada perkembangan positif terkait proses studinya (statusnya jadi cenderung mencurigakan, entah berpotensi DO atau “fake student” dan jadi tenaga kerja ilegal misalnya). Hal ini kalau staff imigrasinya disiplin bisa menjadi sandungan yang jauh lebih serius daripada duit.

2. Semesterbeitrag
Kuliah di Jerman saat ini memang benar tidak ada “Tuition Fee“, setidaknya berlaku untuk jurusan yang tergolong normal dan bukan di universitas “pure” swasta yang tidak mendapatkan suntikan dana sama sekali dari negara. Kalau pengen kuliah jadi pilot misalnya, tentu saja “policy tuition free” ini tidak lagi berlaku, karena pendidikan pilot itu istimewa dan mahal hehehe. Di Perguruan Tinggi tempat saya kuliah tempo hari biayanya 69.900€ untuk 6 semester, jadi level Bachelor (harus dibayar dimuka semuanya, atau uang muka 50.000€ dan sisanya dibayar per bulan 1.800€ bisa), kerjasamanya dengan Lufthansa.
Itu cuma satu contoh, tentu ada jurusan-jurusan “istimewa” lainnya yang jelas tidak gratis seperti iklan hehehe.
Selain itu sekalipun kuliah di kampus yang ngga meminta “tuition fee”, tapi masih ada aspek biaya yang “seringnya” ngga di ceritakan dalam iklan ataupun promosi nya para agen pendidikan hehe. Yaitu “Semesterbeitrag”. Ini adalah biaya administrasi plus hak untuk bisa menikmati setiap transportasi publik yang beroperasi di Bundesland dimana Universitas terkait berada.
Semakin besar wilayah “Bundesland“-nya dan makin variatif jenis transportasi publiknya, serta semakin banyak fasilitas yang di “cover” oleh kartu mahasiswanya, sudah tentu “Semesterbeitrag” semakin tinggi. Yang mana biaya ini tidak bisa dihindari, jadi punya mobil dan ngga suka naik bus pun nggak ngaruh. Tetep Semesterbeitrag harus bayar karena sistemnya subsidi silang, supaya perusahaan transportasi bisa tetap menyediakan tiket untuk pelajar dengan murah.
Jadi andaikata masih menerapkan “tuition fee” ya berarti biayanya “Studiengebühren alias tuition fee + Semesterbeitrag“.
Di beberapa Universitas tertentu di Bundesland tertentu ada yang Kartu Mahasiswa nya juga sekaligus bisa dipake sebagai Kultur-Ticket alias bisa gratis masuk ke museum dan semacamnya. Ini berlaku sepanjang semester, jadi sebenarnya tergolong murah banget kalau dibandingkan yang harus dibayar oleh orang dewasa non student untuk menikmati fasilitas-fasilitas yang sama.
Bandingkan saja, Semesterbeitrag saya yang terakhir 195€ berlaku 6 bulan dan untuk seluruh Saarland, sementara suamiku cuma untuk area nomor 111 (dalam kota saja) udah kena ca. 57€ per bulan atau jika ambil kontrak setahun jatuhnya perbulan ca.48€.
Makanya jadi mahasiswa itu enak, karena itu saya suka keluyuran sendirian suami ditinggal dirumah wkwkwkwkwk (pengennya kuliah aja terus hahahahaha).
“Rate” Semesterbeitrag di Jerman saat ini ada di kisaran 195€-350€

3. Asuransi kesehatan
Setiap orang yang berdomisili di Jerman wajib dicover asuransi. Biaya premi untuk pelajar variatif dikisaran 65-75€/bulan.
4. Biaya kos/kontrak kamar
Tergantung tinggalnya dimana dulu dong… di München yang kota mahal atau di Saarland yang miskin hehe? Begitu juga lokasinya, didesa atau dikota. Tapi kalau diambil rata-rata, selama bisa mendapatkan tempat di “Studentenwohnheim” (dormitory for students) biayanya untuk kamar terkecil  210€, dengan “Kaution” (uang jaminan kontrak) mulai dari 390€-450€. Itu biaya listrik, air, sampah dkk belum termasuk. Kalau inklusif ya bisa mulai 270€-an paling murah. Kalau bisa/mau tinggal di WG  alias “home sharing” ya bisa lebih murah lagi sedikit. Kalau mau tinggal sendiri di single apartment biaya sewa termurah rata2 ada dilevel 280-350-an €/bulan, kamarnya kecil tentu aja (apartemen studio).
5. Biaya makan…
Ini sangat relatif… boros atau tidak, dan memperhatikan kualitas atau nggak, suka masak atau tidak. Tapi untuk perhitungan kasar bisa lah dianggap 150-200€ / bulan cukup
6. Alat tulis, fotokopi, print dsb… ca. 33 € /bulan (di kampus aku setiap semester mendapat 300 lembar print gratis di lab. computer jadi ngga sampai segitu sih pengeluaran saya untuk pos ini. Cuma kayanya sih belakangan jumlahnya turun banyak. Sejak ada di semester lanjut saya udah ngga begitu banyak butuh print out lagi. Paper dan assignment saya kirim dalam bentuk Pdf dan kalaupun butuh cetak, karena jumlah ngga banyak saya toh punya printer di rumah, jadi kalau ngga kebetulan lagi ada seminar ya enggan pergi ngampus kalau hanya untuk cetak beberapa lembar saja. Karena itu saya ngga begitu memperhatikan lagi berapa lembar cetak gratis di kampus yang masih di kasih tiap semesternya).
7. Internet, telepon, GEZ ca. 35 € /bulan
8. Baju, sport dan hiburan…ini sangat relatif… “set your own budget” hehehe. Tapi di universitas ada banyak “fasilitas sport” yang sebagian besar bisa dinikmati gratis oleh mahasiswa, termasuk aerobik ataupun zumba. Yang harus bayar itu biasanya yang “special offer” hingga kampus mesti bayar tutor profesional dari luar, seperti misalnya: latin dance, tari perut, taichi dan lain-lain yang eksotis gitu deh. Tapi itupun nggak begitu mahal, karena tiket berlaku per-semester. Aku dulu ikut latin dance per orang bayar 24 € berlaku 1 semester, sangat murah tuh.
(perkiraan kasar dari forum student pos ini kurleb butuh ca. 63€/bulan)

Sedangkan kalau mau dijumlah total, untuk ukuran Saarland bisa diperkirakan kebutuhan kasar Student tiap bulan dalam prakteknya ada di kisaran 700€-900€ (apakah anda perokok, suka minum bir, hobi clubbing atau tidak juga mempengaruhi jumlah pengeluaran soalnya :-D. Rokok itu kan membakar duit, makin banyak ngerokoknya, pengeluaran makin banyak. Bayangin aja lah, satu pak rokok ca. 5,60€ kalau seminggu 2 pak aja berapa coba sebulannya, padahal bisa jadi lebih kan kalau udah perokok berat. By the way, dari 5,60 € itu pajaknya 3,97€ jadi lebih mahalan pajaknya daripada nilai rokoknya hehehe. Masih mau merokok?!?)
Karena itu jaminan finansial yang diminta untuk visa jumlahnya dengan realita kebutuhan minimal yang mungkin dijalani cuma beda-beda tipis lah.

Nah, monggo di pertimbangkan sendiri kira-kira bisa ditanggung atau nggak.
Tentu ada kemungkinan kerja sambilan (tentang ini akan saya bahas lebih detail lain kali saja), tapi saran saya jangan dijadikan tulang punggung untuk biaya studi di Jerman.
Kenapa? Karena sekolah di Jerman itu susah, dan potensi DO itu ngga kecil.
Kuota kelulusan dari Universitas di Jerman per tahunnya (berlaku general bagi seluruh mahasiswa, termasuk warga negara setempat) rata-ratanya ada di kisaran 30%. Banyak yang gonta-ganti jurusan tapi banyak juga yang DO.

Unbenannt

Source: Statistisches Bundesamt

Gonta-ganti jurusan ini untuk orang asing juga sudah merupakan problem tersendiri terkait visa, ngga ada garansi diperpanjang kalau keseringan soalnya ^_^. Sejauh yang saya ingat bahkan ada aturan tertentu lagi tentang transfer jurusan ini terkait masalah visa. Karena itu, kalau ngga bener-bener pinteeer baik secara kognitif maupun pinter dalam me-manage waktu dan proses kuliah-nya, bisa jadi ya malah berantakan… gagal deh, karena kebanyakan kerjanya daripada belajar-nya (tidak jarang anak-anak yang kerja melanggar aturan batas yang diijinkan soalnya).

Perlu di ingat: melanggar aturan bagai pemilik PR atau WN Jerman tidak seram efeknya, paling-paling cuma kena pajak saja, tapi kalau bagi pemegang visa studi ya bisa cukup “hitam” prospeknya kalau sampai ketahuan.
Karena itu… paling aman tetap memperhitungkan biaya diatas  bisa di penuhi oleh ortu masing-masing, karena tugas utama pelajar tetap adalah untuk belajar. Kerja sebaiknya cuma di jadikana “pasokan tambahan” saja.

Sampai jumpa lagi 🙂

Peluang Pendidikan Tingkat Lanjut di Jerman

Standard

Tulisan kali ini relevan bagi pemakai bahasa Indonesia yang akan/ingin ke Jerman untuk menetap karena mengikuti pasangannya ataupun yang datang dengan tujuan untuk menambah kualifikasi profesionalnya. Bagi imigran yang belum lama disini dan masih dalam fase menimbang-nimbang dalam menentukan aktifitas dinegara barunya pun mungkin akan bisa mengambil manfaatnya.

Disini saya akan mengupas beberapa kemungkinan yang bisa diambil dan pembaca bisa mempertimbangkan yang mana yang paling sesuai dengan kondisinya masing-masing. Selain itu saya juga hanya akan menulis hal-hal yang sifatnya umum saja, karena itu bagi yang merasa berkepentingan sudah selayaknya investasi sedikit waktu dan energi untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang setiap pilihan yang menarik perhatiannya sendiri-sendiri.
Tentu saja jika ada kesulitan dalam memahami petikan-petikan informasi tersebut, saya bersedia membantu sejauh kemampuan saya. Pertanyaan yang sifatnya pribadi seperti biasa bisa disampaikan melalui “contact form” dan akan saya jawab via E-Mail. Hanya saja tolong jangan mengajukan pertanyaan yang terlalu mentah, karena sudah terlalu sering saya mendapatkan pertanyaan semacam itu. Please do your homework first, as our topic here is actually about an advance level of education. Karena itu sudah selayaknya jika pertanyaan yang diajukan juga merepresentasikan “advance level” ^_^.
Terlebih lagi, untuk bisa mendapatkan informasi yang optimal, diperlukan pertanyaan yang berbobot juga kan? Mungkin ini terdengar tidak enak ditelinga, tapi percayalah, jika anda memang ingin “survive” di Jerman tanpa merasa sengsara, biasakanlah untuk mendengar komentar ala tembak langsung (“blunt”) semacam ini. Orang Jerman secara umum selalu menitikberatkan pada efisiensi dan efektifitas, karena itu basa-basi demi mencegah kehilangan muka adalah hal terakhir yang mungkin akan terlintas di benak orang jerman karena itu tergolong tindakan yang tidak efisien.

Ok, here we go:

  1. Ausbildung

Yang tergolong “Ausbildung” adalah setiap pendidikan keahlian yg diperlukan bagi siapapun yang ingin melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan khusus. Masa tempuh standard-nya kurang lebih sama dengan masa yang dibutuhkan untuk mendapatkan titel Bachelor yaitu 3-3,5 tahun akan tetapi Ausbildung lebih berorientasi praktek dan tidak memberikan gelar akademis.
Beberapa jenis profesi keahlian di Jerman hanya boleh dijalankan oleh lulusan Ausbildung yang berhasil lulus di ujian negara, yang disebut “Meisterprüfung”.
Contohnya saja: pemasangan instalasi listrik untuk peralatan elektronik tertentu sebenarnya hanya boleh dilakukan oleh seorang “Meister Elektriker”, atau juga pemasangan atap rumah, tangga utama, dan hal-hal sejenis lainnya yang memiliki resiko akan kesehatan dan keselamatan manusia. Jika hal ini dilanggar, maka jika sampai suatu saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka selain sanksi hukum bisa dipastikan asuransi juga akan menolak klaim.

Oleh karena itu, meskipun Ausbildung tidak memberikan titel dan untuk bisa mendaftar sekolah di Ausbildung Zentrum tidak selalu diperlukan kecerdasan akademis (ijazah  Realschule sudah cukup), tapi jenis pendidikan ini tidak sepatutnya dipandang sebelah mata. Seorang lulusan Ausbildung yang benar-benar bagus, biasanya tidak akan kesulitan dalam mencari pekerjaan. Mungkin mereka bahkan akan lebih mudah mencari duit daripada lulusan Universitas yang hanya punya ijasah dan tidak memiliki nilai lebih apapun (having no USP).
Jenis Ausbildung tidak hanya terbatas pada keahlian fisik seperti pertukangan saja, melainkan cukup variatif. Kualifikasi yang dibutuhkan pun variatif menyesuaikan bidang yang diambil (terutama sebagai orang asing yang paling relevan untuk diperhitungkan disini adalah kualifikasi bahasa). Secara umum, kursus Integrasi yang diwajibkan bagi setiap imigran yang menetapkan standar kelulusan ujian bahasa level B1 sudah cukup untuk mengikuti Ausbildung.
Akan tetapi untuk jenis-jenis profesi dimana dibutuhkan banyak komunikasi (profesional) dalam bekerja, secara logis akan menuntut level kemampuan bahasa jerman yang cukup baik. Misalnya saja: Ausbildung untuk menjadi Asisten dokter, perawat, pegawai bank atau asuransi, bisa saja (walaupun tidak selalu) akan mensyaratkan level kemampuan bahasa B2, atau setidaknya “Deutsch für Beruf” (sesuai okupansi yang dipilih). Sementara itu untuk Ausbildung menjadi: “Baker”, koki, tukang potong, atau pengasuh anak/lansia  misalnya, tentu saja B1 dari kursus integrasi pun sudah cukup.

Dalam Ausbildung sebagian masa pendidikan ditempuh di kelas (teori) dan sebagian lagi berupa praktek langsung di lingkungan kerja. Jadi selama menempuh pendidikan yang bersangkutan biasanya sudah mendapatkan gaji walaupun belum sebesar gaji yang berhak didapatkan oleh status pekerja tetap. Karena prosentase masa kerja yang cukup besar ini (sudah pasti melebihi batas waktu yang diijinkan bagi mahasiswa/pelajar untuk bekerja sambilan), maka dari itu itu jenis pendidikan ini secara umum cuma relevan bagi pemilik ijin tinggal (Resident Permit) dan warga negara jerman.
Orang asing yang masuk Jerman dengan visa studi tidak memungkinkan untuk memilih jalur ini karena visa studi tidak memberikan ijin kerja fulltime (ataupun midi-job). Bagi yang gagal dalam Studi dan ingin pindah haluan mengikuti Ausbildung, akan membutuhkan perubahan status visa terlebih dahulu. Kesuksesan upaya ganti haluan ini akan tergantung pada sponsor perusahaan tempat kita mengikuti Ausbildung dan jenis profesi yang ingin di pilih. Hal ini ada kaitannya dengan politik perlindungan hak tenaga kerja lokal. Perubahan status visa itu sendiri (secara umum) akan menuntut yg bersangkutan untuk kembali ke negara asal terlebih dahulu dan mengganti visanya dengan yang baru.

2. Normales Studium in Hochschulen (Universität und Fachhochschule)

Di Jerman ada dua jenis Perguruan Tinggi yaitu:
a. Universität: ini adalah PT umum, kurikulum nya lebih bersifat teoretikal.
b. Fachhochschule: ini bahasa inggrisnya: University of Applied Science. Jadi kurikulumnya lebih menitikberatkan kepada ilmu terapan, aplikasi dalam dunia kerja langsung. Karenanya mahasiswa akan dituntut menjalani “internship” (bisa lebih dari sekali dan salah satunya minimal 6 bulan) sebagai salah satu syarat kelulusan.
Perguruan Tinggi ini biasanya memfokuskan pada beberapa bidang tertentu saja. Misalnya: Technische Hochschule: cuma menyediakan jurusan berbau teknik, Music Hochschule: tentunya cuma untuk belajar musik, ada juga Hochschule yang menyediakan jurusan ekonomi dan teknik. Bagi yang memiliki ijasah SMU bisa melanjutkan studi di Universitas dan Fachhochschule, sedangkan yang ijasah sekolah menengahnya berasal dari SMK, hanya bisa menempuh studi di Fachhochschule dan dijurusan yang relevan dengan bidang yang diambil semasa di SMK. Akan tetapi sebelum bisa mendapatkan hak untuk melanjutkan studi di PT Jerman, setiap pemilik ijasah sekolah menengah di Indonesia harus lulus FSP dulu di Studienkolleg.

FSP ini semacam ujian persamaan untuk setara lulusan “Gymnasium” (SMU-nya Jerman). Sebelum bisa mengikuti FSP calon mahasiswa harus terdaftar sebagai siswa di Studienkolleg untuk mengikuti kelas persamaan dalam pelajaran-pelajaran tertentu sesuai jurusan yang dituju. Misalnya ingin kuliah dibidang farmasi, kedokteran atau biologi, maka kelas yang harus diambil adalah M-Kurs dan pelajarannya meliputi kimia, matematika dan biologi. Jika ingin kuliah di bidang teknik ya ambilnya T-Kurs dan disini yang dibutuhkan kimia, matematika dan fisika. Untuk yang ingin kuliah di jurusan Ekonomi, maka masuknya di W-Kurs dan disitu dibutuhkan nantinya lulus FSP di mata pelajaran: ekonomi (business study and macro economics), matematika, tergantung Hochschule-nya menawarkan jurusan apa saja mungkin akan ada pula IT dan fisika. Bagi yang ingin kuliah hukum masuknya di G-Kurs dengan pelajaran: literatur jerman, sejarah, ilmu sosial. Jadi kasarnya kayak UNAS ulang dah, cuma kali ini ujiannya dalam bahasa Jerman :-D.
Disamping itu tentunya mutlak akan ada kelas bahasa jerman yang ujian akhirnya ada di level C1.
Bagi orang indonesia yang sudah pernah mengikuti kuliah di Indonesia setidaknya 2 semester dan lulus di semua modul pada semester yg ditempuh tersebut dan mata kuliah yang diambil pun sesuai dengan jurusan yang diminati di jerman, maka dia memiliki “kemungkinan” untuk melewatkan kewajiban lolos FSP. Untuk ini harus konsultasi langsung kepada Universitas terkait. Ini relevan bagi setiap calon mahasiswa yang ingin kuliah level bachelor (S1). Bagi yang SMU nya adalah sekolah berkurikulum internasional, silahkan konsultasi langsung pada universitas yang bersangkutan untuk mencari tahu adanya kemungkinan “skip” fase Studienkolleg ini.
Sementara itu bagi yang ingin kuliah master, silahkan untuk “cross check” apakah diploma S1 Indonesia-nya dikeluarkan oleh PT yang diakui di Jerman.
Untuk studi level Master, kemungkinan menemukan jurusan berbahasa inggris cukup banyak.
Informasi tentang ijasah pendidikan dari negara asing (termasuk indonesia) bisa dilihat disini: http://anabin.kmk.org/no_cache/filter/hochschulabschluesse.html
Selebihnya silahkan konsultasi sendiri, selain itu juga bisa mencari informasi dari DAAD yang cabangnya ada di Jakarta dengan website berikut: http://www.daadjkt.org/
Pada dasarnya di setiap PT kita cuma punya kesempatan ujian 3 x untuk setiap mata kuliah. Jika gagal akan langsung di DO dan tertutup kemungkinan untuk pindah ke universitas lain di seluruh jerman untuk jurusan yang sama (ada kemungkinan bahkan bisa tertutup untuk setiap jurusan yang memiliki mata kuliah yang sama dengan yang telah menjadi batu sandungan tersebut).
Di Studienkolleg sendiri cuma bisa mengulang FSP satu kali, jika gagal dan di DO maka visa studi takakan bisa diperpanjang lagi. Untuk setiap visa studi yang diterbitkan bagi calon mahasiswa level Bachelor. Dengan visa studi tersebut setiap mahasiswa memiliki waktu 10 tahun untuk menyelesaikan masa studinya di Jerman. Terdengar cukup lama memang, tapi tidak sedikit WNA yang membutuhkan waktu sampai 3 tahun untuk bisa sampai lulus FSP.
Bagi anak lulusan SMU yang murni datang untuk sekolah, 2-2,5 tahun itu sudah termasuk cepat. Karena fase pencarian tempat di Studienkolleg itu sendiri aja udah bisa memakan waktu 9 bulan-1 tahun kalau si anak sendiri ngga efisien dalam mengatur urusannya sendiri, apalagi yang cuma ngandalin diurusin sama orang lain (oleh agen contohnya, hingga begitu sampai Jerman si anaknya “clueless” sama sekali dan ujung-ujungnya “gedandapan”, itu istilah jawanya).  3 bulan pertama adalah untuk kursus bahasa jerman yang diambil demi mendapatkan visa studi yang pertama.
Peraturan visa studi mengatur bahwa setelah masa 3 bulan pertama visa habis, visa tersebut bisa diperpanjang sampai maksimal 9 bulan sampai berhasil mendapatkan tempat di Studienkolleg atau di Perguruan Tinggi. Hal ini sesuai dengan jaminan finansial yang diminta dalam proses visa studi, yang merepresentasikan jaminan biaya hidup selama 1 tahun sebagai “student”. Jika dalam 1 tahun ini tidak mendapat tempat maka yang bersangkutan terpaksa harus pulang lagi ke negara asalnya. Setelah tempat didapatkan, maka visa studi akan diberikan mengacu pada perkembangan studinya). Di Jerman tidak ada banyak lagi Studienkolleg yang tersisa, sementara satu kelas cuma diisi 15-20 orang dan itu harus diperebutkan dengan pelajar dari negara lain.
Jika ada mapel di Studienkolleg yang harus ngulang, maka bisa jadi fase persiapan Uni ini aja totalnya udah makan waktu 3,5 tahun. Jadi praktis orang asing diperbolehkan maksimal sampai 14 semester untuk menyelesaikan Bachelor-nya. Jika melihat bahwa tidak sedikit orang jerman sendiri yg membutuhkan 10 semester untuk lulus, maka batas maksimal 10 tahun visa studi secara keseluruhan itu sudah merupakan batas yang moderat dan “murah hati”. Mahasiswa yang ngga cuma pinter tapi juga efisien dan efektif dalam me-manage waktu dan “study process”-nya,  tentu aja 10 tahun itu akan cukup buatnya untuk bisa sampai selesai master kalau mau.
Bagi mahasiswa yang berada di jerman dengan Familienzusammenführungsvisusm (family visa) tentu akan beda perlakuan dalam setiap urusan yang berkaitan dengan kebijakan visa.

3. Duales Studium / berufsbegleitendes Studium

Disini membicarakan tentang kemungkinan untuk menempuh studi sambil bekerja.
Syarat-syarat pendaftaran ke PT-nya bagi orang asing tetap sama seperti syarat masuk PT biasa, hanya saja status visa yang dibutuhkan yang beda. Kemungkinan ini banyak ditawarkan oleh “Fachhochschulen” sesuai dengan kurikulumnya yang memang “practice oriented”. Jadi sistemnya seperti Ausbildung, hanya saja penyelenggaranya adalah Perguruan Tinggi yang memiliki kerjasama dengan Perusahaan tertentu. Karena itu yang pertama harus ditempuh adalah melamar pada perusahaan  yang menawarkan kemungkinan tersebut terlebih dahulu. Jalur ini tentu saja cuma mungkin untuk dijalani oleh pemilik “resident permit” atau WN Jerman saja, karena seperti juga pada kasus Ausbildung, disini jam kerja yang dijalani cukup banyak melebihi batas hak seorang mahasiswa biasa dalam melakukan kerja sambilan.

4. Berufliche Weiterbildung
Ini adalah pendidikan tambahan yang bisa ditempuh oleh setiap orang yang menetap di Jerman untuk menambah kualifikasi diluar titel akademisnya. Sertifikasi SAP, CATIA, AutoCAD, Bahasa asing, intercultural communication, public speaking dan kualifikasi-kualifikasi tambahan lainnya. Bisa dicari peluangnya di institut-institut semacam “Volkshochschule”, “Caritas”, dan “Bildungszentren” lainnya.

Saya sendiri menempuh studi biasa di perguruan tinggi. Akan tetapi jika diperbolehkan memberi saran, jika pembaca (khususnya yang pindah ke Jerman karena mengikuti pasangan sementara usia tidak lagi muda) memang memiliki target untuk berkarir diluar rumah, entah karena ambisi pribadi atau tuntutan ekonomi, maka saya cenderung menyarankan untuk mengambil Ausbildung, atau jika ingin kuliah cobalah mencari peluang untuk menjalani “duales Studium”.
Pelaku Dual-Studium memang tidak selalu mendapatkan jaminan akan diambil sebagai pegawai tetap oleh perusahaan yang bersangkutan setelah lulus (mengingat setiap perusahaan selalu pengen ngirit gaji pegawai T_T. Ya… gaji karyawan yang sambil kuliah gini gajinya adalah level gaji internship, level gaji student part-timer, tidak ada UMR nya, sementara kerjanya full time lho itu).
Tapi apabila suatu saat perusahaan tersebut benar-benar membutuhkan tenaga kerja tetap, maka sudah pasti anak asuhnya sendiri lah yang akan mendapatkan peluang terbaik untuk diambil. Karena mereka kan sudah jauh lebih berpengalaman dalam pekerjaan terkait dan sudah familiar dengan seluk beluk perusahaan tersebut.
Pelaku Dual-Studium biasanya akan di rotasi ke setiap departemen dalam perusahaan yang relevan dengan jurusan yang dia ambil. Jadi pada prinsipnya, begitu dia lulus dia sudah memiliki pengalaman kerja di berbagai departemen berbeda. Sehingga dalam berkompetisi di pasar kerja pun mereka jelas memiliki nilai plus jika dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi biasa.
Yang perlu dipastikan cuma bahwa “performance” nya secara akademis juga cukup menjanjikan.
Bagi yang pintar masak dan ingin bekerja memanfaatkan keahlian dan hobi masaknya, mungkin bisa buka usaha gastronomi yang spesialisasinya masakan indonesia.
Karena khusus dalam hal ini, sebagai orang indonesia kita tidak wajib punya ijasah pendidikan memasak lagi jika yang kita jual adalah masakan dari daerah asal kita. Cukup ikut kursus singkat di Departemen Kesehatan Jerman utamanya untuk mempelajari tentang hygiene makanan saja maka kita udah boleh jadi tukang masak.
Cuma ya itu, buka usaha sendiri tentu lebih ribet dan harus berani ambil resiko bangkrut ^_^.

Jujur saja ketika saya menikah dulu dan pindah ke Jerman saya tidak ada “planing” apapun terkait karir, karena semua berlangsung terlalu cepat. Suami saya sendiri kebetulan penghasilannya cukup untuk kami berdua hidup layak dan kami bukanlah orang yang ambisius. Tidak ingin menjalani hidup yang “hectic”. Kami berdua sama-sama memiliki pandangan bahwa “Value” seseorang tidak ditentukan dari seberapa banyak uang yang dia hasilkan, “award” yang dia peroleh ataupun pencapaian akademis semata.
Pekerjaan buat kami hanyalah metode untuk mendapatkan uang secukup yang dibutuhkan untuk membiayai hidup yang layak, bukan untuk menentukan “value” diri. Karena itu selama kondisi finansial tidak mengharuskan, maka tidak perlu menargetkan diri saya harus berkarir. Saya bisa kerja sesuai pendidikan ya puji syukur, kalau nggak ya nggak papa. Tentu saja kalau saya bisa kerja dengan gaji lebih banyak dari suami, suami juga ngga keberatan jadi bapak rumah tangga…hanya saja, kayanya kok utopis banget kalau melihat sikon wkwkwkkwk.
Karena itu saya dulu tidak terlalu ambil pusing dengan pilihan aktifitas yang ada di tempat tinggal baru saya, ngga banyak cari info yang berkaitan dengan peluang kerja dan kuliah.
Tujuan utama saya hanyalah membuat otak saya tetap bekerja.
So, ANY activity will do, as long as it has a positive impact for my life.
Bosan?!? Makanan apa sih itu LOL.
Orang yang bisa memberdayakan otaknya tidak akan mengenal kata bosan, karena ilmu itu sumbernya dimana-mana dan tidak ada habisnya, tidak akan pernah ada cukup waktu untuk mempelajari semuanya.
Hanya saja, jika saya bisa putar balik waktu, saya mungkin akan pilih Dual-Studium saja jika dibandingkan dengan jalur studi yang saya ambil tempo hari :), karena energi dan waktu yang saya investasikan toh tidak akan jauh berbeda, sedikit banyak dapat gaji pula selama kuliah :-D.
Karena itulah saya nulis blog ini, dengan harapan bisa memberi manfaat buat generasi pelaku kawin campur Jerman-Indonesia dibawah saya yang mungkin masih bingung mau ngapain di Jerman diluar ngurusin rumah tangga.
Sampai jumpa lagi…

Catatan kecil tentang atmosfir di lingkungan kerja di Jerman

Standard

 

du-bist-der-grund-warum-ich-jeden-morgen-aufstehe-nein-spass-ich-muss-zu-arbeit

Quelle:www.spruch-des-tages.org

Sudah lama banget aku tidak menulis lagi… yah mau gimana lagi. Sejak 3,5 bulan yang lalu aku menjalani periode praktek yang menjadi bagian dari studiku di Jerman. Ini adalah pengalaman pertama kerja fulltime di negeri ini dan tiap kali pulang kerumah  rasanya benar-benar KO. Belum lagi dengan status menikah tentu masih ada banyak hal lain yang harus dikerjakan dirumah: belanja, masak, beres-beres, dan seterusnya. Emang sih suami nggak ngerepotin dan mau bantuin, tapi tetep aja lah…. For you who are married must know what I’m saying :-D.

Selama aku menjalani masa praktek ini, ada beberapa catatan kecil yang cukup mengesankan dan mau tidak mau membuatku jadi membanding-bandingkan dengan situasi di lingkungan kerja Indonesia khususnya yang kantoran. Bukannya saya mau sok mentang-mentang sekarang tinggal di LN trus lebay menganggap semua yang ada di negara baru itu TOP dan yang di Indonesia semuanya jelek ya.. Hell NO! Saya hanya bercerita dan membandingkan berdasarkan fakta yang saya jumpai dan alami pribadi. Orang lain bisa saja memiliki kesan dan pegalaman yang lain, tapi yang ini adalah kisah saya. Saya berusaha seobyektif mungkin dalam berkisah, tapi jika ada unsur subyektif yang terlibat tentunya itu bukan hal yang aneh. Tidak semuanya yang ada di Jerman sini menurut saya oke… tapi saya rasa jika sebuah bangsa/masyarakat bercita-cita untuk bisa “develope” dan “improve” kondisi mereka menjadi lebih baik, maka sebaiknya masyarakat itu sendiri..artinya “KITA” bersedia untuk melakukan “self reflection”, terbuka pada kritik dan meskipun hal yang baik itu datangnya dari pihak luar atau bahkan yang tak disukai, tetap ngga akan gengsi untuk meneladaninyaa.

Ok… back to the main topic…

Saya saat ini menjalani kontrak kerja selama 6 bulan dengan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang export import sparepart mobil, bus dan truk. Seperti yang sudah saya sebut diatas, maka berikut ini akan saya daftar beberapa hal yang sangat berkesan bagi saya selama memasuki lingkungan kerja profesional di Jerman:

1. Sistem hirarki yang nggak kental.

Disini biarpun jadi bos tapi nggak lantas “bossy”. Ditempat kerjaku bahkan si bos besar biasa dipanggil cukup dengan nama depan saja. Dan semuanya menyapa dengan “du” (kamu/kau) dan bukannya “Sie” (Anda, atau mungkin kalau di Indonesia lebih umum menyapa orang yg lebih berpangkat dengan sebutan “Bapak/Ibu”).
Setiap kali mau ngasih perintah ataupun sekedar meminta sesuatu tak pernah lupa bilang “tolong”. Pak Bos besar kalau pas lewat di ruanganku dan tiba-tiba ingin sekedar menyapa, ataupun bertanya “Is everything okay?” atau mungkin ingin tahu sesuatu tentang “project” yang kupegang, atau apapun itu; sesudahnya pasti selalu bilang…
“Ah..gut..alles klar. Danke schön.” (Ah, good.. I see… Thank you).
Ya… selalu kata “terima kasih” tak pernah lupa, bahkan meskipun ngga ada hal yang berarti sekalipun. Yang jadi atasan langsungku pun tak jauh beda. Di setiap E-Mail, atau dipenghujung pembicaraan telepon, selalu ditutup dengan ucapan terimakasih. Meskipun yang dia minta itu hal yang memang sudah menjadi tugasku, udah sewajarnya jika kulakukan.
So… it’s not like in Indonesia, where everything seems to be taken for granted. Begitu punya posisi bagusan dikit aja banyak yang udah langsung menunjukkan “kekuasaan/pengaruh”, dan menganggap bahwa dia selalu berhak untuk dilayani. Boro-boro deh menunjukkan penghargaan atas “effort” orang lain yang jadi bawahannya.
Tapi lain Indonesia lain disini.
Bahkan ketika kita ada meeting kecil untuk bahas sebuah “project” dengan bagian IT, aku nyaris tak percaya pada pendengaranku ketika atasanku cewek rusia yang cantik itu malah bilang: “Ana, kamu mau duduk? Silahkan kamu aja yang pake gak papa…”
Well hmmm, kebetulan ruangannya memang agak sempit dan cuma ada satu kursi ekstra. Tapi malah bosku nawarin aku yang duduk. Gimana aku ngga sempat terhenyak coba :-D. Hal kaya gitu ngga akan pernah terbayang deh di Indonesia. FYI itu sama sekali bukan basa-basi, tapi serius bener. You just know when someone is serious or not.
Lagipula, hal itu tidak cuma sekali dua kali doang..but it is just what they do here. Dan saya ini cuma sekedar anak magang lho.
Tawaran itu dikala itu kutolak, karena kebiasaan kultural yang “memberiku rasa tidak enak alias risih jika aku duduk dan bosku berdiri hehehe”. Tapi dilain kesempatan pernah aku terima karena situasi memang “terkesan” pantas kalau aku yang duduk. Karena saat itu aku yang “take in charge” alias yg di plot untuk kerjain nyaris semuanya dan saat itu yang lagi butuh dibimbing oleh sang tokoh utama. Jadi atasanku ya berdiri saja.

2. Tidak ada office boy yang bisa disuruh-suruh segala macam yang bahkan ngga ada urusannya sama pekerjaan.
Seperti misalnya disuruh bikinin kopi, disuruh muter-muter kota untuk beliin makanan, minuman.
Kamu mau minum teh atau kopi? Good, silahkan bikin sendiri ==>pantry fasilitasnya komplit, kita cuma harus mau angkat pantat dan bergerak. Lapar? Monggo beli sendiri… kalau ngga mau keluar kantor ya bawa makanan dari rumah dong. Microwave ada, kompor juga ada, kulkas pun ada. Hampir semuanya bawa makanan dari rumah, kecuali lagi kesiangan. Satu-satunya situasi dimana pegawai harus bikinin kopi/teh buat orang lain adalah cuma jika ada tamu perusahaan yang berkunjung. Selebihnya adalah cuma “kerelaan berbaik hati” sesama teman saja. Tentu saja kalau ada kolega yang kebetulan turun ke kota, atau sopir kantor kebetulan harus ngantar sesuatu ke kota misalnya, boleh ajalah kita minta nitip… tapi itu namanya “minta tolong” jadi yang jelas “tidak boleh nyusahin alias nggak sampai merepotkan”. Cuma masuk akal jika yang bersangkutan kebetulan perginya searah dengan tempat dia harus beliin barang titipan misalnya. Yang perlu ditekankan disini adalah, tugas sopir kantor itu bukan untuk melayani staff untuk urusan yang ngga ada hubungannya sama kebutuhan kantor.
Pak bos besar ku juga kadang makan di pantry semeja sama pegawainya kalau lagi nggak makan diluar.

3. You clean up your own mess.
Cleaning service itu cuma bersihin toilet, sedot debu, ngepel lantai, ngelap jendela dan buang sampah kantor doang.
Urusan pantry adalah urusan kita bersama… Tidak peduli apapun pangkatnya, semuanya mendapatkan jatah piket. Yang dapat giliran maka seminggu lamanya tugasnya menjaga kondisi pantry tetap nyaman. Membawa ketiga tong sampah yang penuh keluar (plastik, kertas, sampah dapur yang kotor), dan mengganti kantongnya dengan yang baru jika yang lama penuh. Menjalankan mesin cuci piring dan merapikan isinya jika selesai.
Meskipun ada yang piket, ngga lantas berarti yang lain trus seenaknya aja ninggalin kotorannya dan piring kotornya gitu aja diatas meja ya. Temen piketmu itu bukan budak kita. Kalau sampai ada yang jorok dan suka ninggalin barangnya geletakan sembarangan dimeja pantry, apalagi dalam kondisi kotor ==> pasti nasibnya masuk tempat sampah biarpun isinya masih penuh atau tempat makannya masih bagus. Dan itu bukannyaa ngawur ya… peringatan sudah diberikan dari awal. Ada dipapan tuliss dan ada pula di “Hausordnung” (setiap pegawai baru mendapat satu buklet tata tertib kantor dihari pertama bekerja)
Kalau dah bersih sih lain, sebenernya nggak boleh juga geletakin sembarangan meskipun di pantry karena “kerapian” itu kultur yg harus dijaga juga disini..tapi kalau ngga keseringan sih masih bisa ditolerir, namanya manusia kadang bisa lupa. Tapi jangan heran kalau tiba-tiba ketika kamu ingat mau ngambil udah nggak ada. Cari aja ke mesin cuci piring, biasanya nangkring disana :-D.

4. Ngga ada dresscode. dan make up juga bukan hal yang penting. Tergantung selera yang bersangkutan saja.
You work with your head or some others may work with their hands, but absolutely not the outfits decide whether you are able to work well or not ^_^. Pemilik perusahaan ini, juga adik ceweknya aja kalau ngantor nggak jarang cuma pake t-shirt, pullover sama jeans dan muka polos los. Juga nggak bossy sama sekali. As long as you do your job all right, everything is ok.
Mungkin kalau kerja di bank atau institusi keuangan lainnya situasi akan agak beda… tapi diluar itu, sejauh yang saya amati di Jerman ini rata-rata bener-bener low profile gayanya.

5. Satu hal lagi yang khas dan jelas takkan terbayangkan terjadi di Indonesia. Memasang staff yang sudah berumur, kagak kinclong alias no make up, dengan body yang cenderung bulet dan pendek pula di posisi resepsionis!!!
Impossible 😀 :-D. Tapi seperti itulah di kantorku.
Yang satu juga udah punya beberapa anak tapi suka dandan. Tapi yang satunya lagi udah lebih berumur, gemuk, dan nggak suka dandan… Tapi keduanya sangat ramah dan bisa bicara 4 bahasa. That is what exactly relevant for their position. Tampang bukan prioritas. Well… untuk bidang lain saya nggak begitu kaget, tapi bahwa resepsionis perusahaan ekspor impor pun ngga ada tuntutan “penampilan menarik dan masih segar”, saya benar-benar surprise.
You would never expect that in Indonesia, right?

Itu adalah beberapa hal yang menjadi catatan istimewaku menjalani pengalaman pertamaku masuk dunia kerja profesional di Jerman. Apakah semuanya begitu ditempat lain? Tentu saya tak bisa bilang dengan pasti.
Tapi kalau mengacu kepada korelasi dengan pengalaman di lingkungan sehari-hari…maka saya cenderung berpendapat: “ya”, setidaknya 75 % dari poin-poin diatas berlaku “general” disini, mungkin hanya dengan perbedaan sedikit dibeberapa situasi berbeda.

Saya rasa dari sini bisa dilihat, kenapa saya bisa kerasan disini… Karena apa yang saya temui kurang lebih merefleksikan prinsip hidup saya sehingga saya ngga perlu terlalu sering “gatal-gatal” wkwkkwkwkkwwk
Ngomong-ngomong, perusahaan tempat saya saat ini bekerjaa memakai sistem “jam kerja fleksibel”. Jadi saya ngga perlu panik kalau bangun kesiangan atau ketinggalan bus hahaha. Karena saya fleksibel mau masuk kerja antara jam 7-10, bisa milih. Kunci kantor elektronis yang kupegang berfungsi sekaligus sebagai pencatat waktu.
So that’s my experience this far, how is yours? Lain kali kalau ada lagi yang baru akan kutambahkan lagi, sampai jumpa… ;).

Selamat Datang Mahasiswa Asing, Jerman menghapuskan biaya kuliah. Hmm…betulkah?

Standard

Belakangan ini beredar berita diseluruh dunia bahwa jerman sekarang membuka pintu untuk mahasiswa asing dengan menghapuskan biaya kuliah. Benarkah?

Yeah.. berita itu sebenarnya agak menyesatkan ya, kurang tepatlah. Jerman dari dulu menyambut mahasiswa asing, well…”seluruh mahasiswa” sebenarnyalah term yang lebih tepat, karena mereka toh selama ini tidak pernah membedakan asal usul pelajar.
Fasilitas apapun yang diperoleh pelajar jerman, maka pelajar asingpun akan mendapatkannya. Satu-satunya yang tak bisa didapatkan orang asing cuma “kredit pelajar” dari negara. Dan hak untuk bekerja sambilan diluar kampus pun didapatkan seluruh pelajar tanpa memandang asal-usul dengan kondisi hak yang sama. Artinya: semua pelajar boleh bekerja maksimal 20 jam seminggu di masa sekolah dan tanpa batas waktu dimasa liburan. Tidak ada batasan gajinya. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa mulai nilai pendapatan 450€/bulan maka setiap orang harus sadar akan kewajiban pajak dan segala kondisi yang menyertainya.

Sekilas tentang sejarah biaya perkuliahan di Jerman:

Di jerman setiap universitas itu otonom dan pendidikan sendiri pada dasarnya bukanlah urusan pemerintah federal melainkan kebijakan negara bagian. Setiap negara bagian berhak menentukan kebijakan masing-masing tentang pendidikan diwilayahnya. Jadi aturan tentang biaya kuliah inipun berbeda-beda di setiap negara bagian. Pada tahun 1998 Baden-Wüttemberg mulai memberlakukan biaya kuliah kepada mahasiswa yang kuliah terlalu lama melebihi rata-rata yang ada tapi kemudian hal ini di tuntut di pengadilan oleh koalisi merah-hijau dengan memakai argumen: “Hak atas pendidikan gratis itu adalah hak konstitusional setiap penduduk”. Tuntutan pun dikabulkan dan amandemen terhadap UU terkait pun dilakukan. (Sambil ngiri, kapan ya di indonesia ada partai yang nuntut ke Mahkamah Konstitusi dengan argumen yang benar-benar demi pembangunan positif rakyat kayak gini hiks…).

Tetapi beberapa tahun kemudian beberapa negara bagian kembali menuntut bahwa tidak seharusnya pemerintah federal ikut campur wewenang daerah. Karena itu amandemen pun kembali mentah. Mulai saat itu (2007 untuk wilayah Saarland), satu demi satu negara bagian jerman kembali menerapkan biaya kuliah. Sebenarnya sih biaya kuliah ini masih cukup moderat jika dibandingkan dengan biaya kuliah di negara-negara lain, khususnya di negara maju selevel jerman lainnya. 400€-600€ per semester sih nggak terlalu besar ya, apalagi jika kita mempertimbangkan hak-hak yang didapat dengan status mahasiswa, terutama fasilitas penggunaan semua jenis transportasi publik yang berlaku untuk seluruh wilayah di negara bagian yang terkait. Di Hamburg sendiri biaya kuliah ini baru di kenakan setelah sang mahasiswa akhirnya selesai kuliah dengan sukses, selama kuliah ngga perlu dipusingin dengan biaya dulu :-D. Nah…dibandingkan dengan biaya kuliah di beberapa universitas kota besar di Indonesia, ini pun masih terkesan kecil lho hehehe, apalagi kalau kita bandingin juga fasilitas untuk mahasiswanya hehe.

500euro

Tapi bagaimanapun, itu tetap tidak sesuai dengan prinsip yang dilindungi konstitusi jerman sehingga hal inipun kembali jadi bahan perdebatan. Hessen hanya menerapkan biaya kuliah ini setahun saja dan kembali menghapusnya, yang diikuti satu demi satu oleh negara bagian lain. Saarland, negara bagian dimana saya tinggal saat ini, memberlakukan “tuition fee” tahun 2007 dan menghapusnya kembali pada Wintersemester 2010, ketika partai Hijau berhasil memaksa partai pemenang pemilu untuk menyetujui program kampanye partai Hijau yang menjanjikan pendidikan gratis kembali.
Well yeah, suara partai hijau saat itu dibutuhkan untuk membentuk koalisi yang kuat disana. Melihat hal ini kita bisa tunjukkan bahwa sebuah partai tidak harus jadi pemilik suara terbanyak dalam pemilu hanya untuk memperjuangkan ideologinya. Mereka tetap bisa bersuara dan membawa sedikit pengaruh jika memang mau dan berniat untuk memenuhi janji kampanyenya kepada rakyat yang memilih mereka khususnya. Saya sungguh ngimpi…kapan ya di Indonesia ada Fraksi DPR yang melakukan ini :-D.

Kembali ke Laaap..Top hehehe; kembali ke topik maksudnya dah ;).

Jadi berita yang benar seharusnya adalah bahwa sekarang akhirnya Niedersachsen pun mengikuti negara bagian lain dengan menghapuskan biaya kuliah di wilayahnya. Jadi saat ini secara resmi bisa dikatakan, bahwa diseluruh wilayah Jerman tidak ada lagi pengenaan biaya kuliah secara umum. Sekarang yang harus bayar cuma yang jadi mahasiswa abadi sampai bertahun-tahun dan yang kuliah untuk nyari gelar kedua, ketiga dan seterusnya saja dengan biaya kuliah yang variatif mulai dari 400€-600€ per semester. Note: Untuk jurusan-jurusan eksklusif seperti pendidikan pilot itu termasuk pengecualian ya :-D, kalau itu sih dari dulu memang mahal xixixixixi, pada umumnya harus kasih jaminan account sebesar 70.000-80.000€ diawal pendaftaran.
Tapi masuk akal-lah kalau kita melihat penghasilan mereka nantinya ^_^. Tapi selebihnya tentang status “mahasiswa abadi” ini sendiri aja penerapannya ngga terlalu ketat. Saya kenal mahasiswa yang udah kuliah bertahun-tahun nggak lulus-lulus tapi masih belum bayar juga hahaha. Ah ya, tambahan lagi: kuliah di jerman cukup berat..KO system-nya sangat ketat hingga angka kegagalan di perkuliahan ada di range 35%-55% tergantung jurusannya, jadi jika mahasiswa yang bersangkutan gagal di satu jurusan dan tak pernah menyerah untuk mencoba satu demi satu jurusan yang ada, selama dia bisa keterima sih tetep ngga akan dikenai biaya sampai dia berhasil meraih titel-nya yang pertama…enak ya wkwkwkwk.

Jadi pada prinsipnya, setiap anak muda jerman yang berhasil mendapatkan ijasah SMU dan pada dasarnya punya kualifikasi untuk kuliah, maka mereka ini bisa mencari jurusan yang benar-benar cocok dengan bakat/minatnya, dan mereka bisa “trial and error” sesering mungkin selama masih ‘qualified’ untuk  mendapat kursi di Universitas yang dia mau, tanpa harus pusing mikirin biaya kuliah (Tak ada Uang Pangkal, SPP maupun SKS, cukup ganti ongkos transportasi publik aja. Tapi jumlahnya ngga seberapa jika dilihat coverage area dan jangka waktunya. Dibandingin aja sih, cuma untuk Wabe dalam kota aja tarif langganan normalnya 48€ per bulan, sementara untuk Student cuma kena 170€-an sampai 250€an tergantung luas wilayah negara bagian terkait yang dicover dan itu berlaku 6 bulan. Murah banget itu lah. Jadi kepengen sekolah terus aja deh hahahahaha).

Satu hal yang perlu diketahui adalah, bahwa jerman tidak punya banyak pilihan mata kuliah dan jurusan yang ditawarkan dengan bahasa pengantar bahasa inggris, khususnya untuk “undergraduate study”. Jadi kalau memang berminat untuk meraih gelar di jerman, sebaiknya mulai sekarang harus menggenjot kemampuan bahasa jermannya sampai level mahir ==> ukuran EU adalah C1-Niveau untuk bisa mengikuti perkuliahan dalam bahasa jerman.

Semoga sukses ya… lain kali saya akan tulis lagi tentang persyaratan visa Studi Jerman…ciaooooo…