Tag Archives: anak

Renungan kecil di Hari Kartini

Standard
Saya yakin banyak dari kita yang sering mendengar kalimat begini:
“Sia-sia amat ya sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma jadi Ibu RT dan ngurus anak doang? Punya banyak ilmu rugi amat nggak bisa dimanfaatkan, mending nggak usah sekolah aja sekalian, buang2 duit dan energi aja.”
Well, saya cuma punya satu balasan untuk ini:

>>>Sejak kapan yang namanya memiliki banyak ilmu itu merugikan dan sejak kapan pengetahuan itu tidak ada manfaatnya?
Apakah tujuan orang sekolah saat ini memang cuma untuk dapat ijazah dan buat nyari kerjaan doang? Apakah manfaat ilmu pengetahuan itu cuma bisa diukur dari banyaknya duit yang bisa dikumpulin dengan bantuannya?

Jadi bukannya lagi untuk membuat pikiran dan perspektif kita menjadi luas? <<<

Kalau memang tujuannya cuma untuk nyari ijasah, yeah…
pantas aja deh jaman sekarang ada begitu banyak orang dengan titel berderet tapi pikirannya picik, sempit kayak katak dalam tempurung dan begitu kolot serta ignoran.
Last but not least, ada ucapan satu narasumber saya untuk buku KKC yang sangat saya suka karena saya anggap sangat mengena, sehati sama saya dan saya rasa layak jadi renungan banyak orang tua khususnya kaum wanitanya, yaitu ini:

“Adakah pengasuh, pembimbing dan pendidik pribadi harian yang lebih baik lagi buat anak kita, selain ibu kandungnya sendiri yang punya kompetensi mumpuni dan berpendidikan tinggi? Lebih baik mana dengan membiarkan tumbuh kembang mereka dibawah asuhan utama dari orang bayaran yang adakalanya bahkan ijasah SMP aja belum tentu punya, apalagi hanya untuk ditukar dengan pekerjaan yang hasilnya setelah dipotong biaya bayar pengasuh belum tentu sebanding nilainya dengan pengorbanan yang diberikan ( seperti: waktu, energi, serta masa2 berharga bersama anak yang takkan terulang)?”
Well, saya disini ngga bermaksud merendahkan peranan asisten RT ataupun mereka yang tidak bersekolah tinggi, apalagi mencela mereka para wanita yang suka berkarir diluar rumah.

Not at all…
Saya cuma ingin memberikan perspektif lain bagi para wanita yang tak jarang merasa terintimidasi oleh ucapan-ucapan nyinyir macam diatas dari lingkungan sekitarnya.

Setiap kali saya melihat perseteruan antara kaum “pro-karir” dengan “ibu RT” yang begitu seru dan kadang bahkan ganas-ganas komennya, saya merasa semua itu sangatlah konyol dan seringkali argumen-argumennya juga sungguh absurd dan intinya cuma saling melecehkan saja.
Ada banyak alasan kenapa seorang wanita berkarir aktif setelah berkeluarga dan memiliki anak . Tidak sedikit yang melakukannya lebih karena tuntutan keadaan. Walaupun memang ada juga yang melulu karena ambisi, yang mana menurut saya juga bukan sesuatu yang secara prinsip pantas dianggap negatif ataupun disalahkan.
Kata siapa ambisi cuma boleh dimonopoli oleh laki-laki coba?
Dan bukankah tanpa adanya wanita pintar yang punya ambisi, kita tidak akan punya tokoh-tokoh macam Angela Merkel, Indira Gandhi, Sri Mulyani, Bu Menteri Susi, Bu Menteri Retno dst?!
Hanya saja, sampai pada titik tertentu, menurut saya pribadi kadangkala memang perlu lagi kita tanya pada diri sendiri dalam hal ini, apakah “membentuk keluarga dan memiliki anak” memang adalah pilihan yang tepat untuk hidupnya.
Bukankah kalau memang mengaku dirinya wanita independen yang mumpuni, seharusnya kita juga cukup mandiri dan berani untuk tidak membiarkan orang lain … meskipun itu keluarga sendiri … memaksakan pilihan, target, ataupun value tertentu pada kita, seperti misalnya dalam urusan ‘jodoh dan anak’, jika itu membuat hidup kita sendiri bukannya bahagia dan “content”, tapi justru malah cenderung menjadi terbebani’?!?
Sementara disaat yang sama juga menyeret individu lain: yaitu *sang partner* dan bahkan *anak-anak* yang pada dasarnya nggak pernah meminta untuk dilahirkan, jika akhirnya hanya harus menerima nasib untuk di “nomor sekian“-kan atau yang lebih parah lagi: “ditelantarkan”?!
Bagi yang bisa menjaga cukup keseimbangan, tentu lain lagi persoalannya ya …
Sebaliknya pula bagi yang kebetulah tidak memiliki peluang untuk menerapkan ilmu akademik dan keahliannya didunia profesional setelah memiliki anak, tak ada perlunya juga berkecil hati apalagi sampai merasa terintimidasi oleh nyinyiran orang kurang kerjaan.
You, as a highly educated and knowledgeable mother, are definitely the best teacher, carer and baby sitter your children could ever get.
So there is nothing to regret at all for spending so much time and effort in studying.
Ilmu pengetahuan itu ngga ada masa kedaluarsa, ngga akan basi, dan akan selalu ada manfaatnya, setidaknya jika kita memang benar-benar memahami apa intisari dari ilmu itu sendiri.
 
Disaat yang sama tak ada alasan pula bagi siapapun untuk nyinyirin para wanita yang memilih untuk menjadi “stay home Mommy“.
Emangnya kita ini siapa sih, sok tau amat dengan apa yang bikin orang lain bahagia ataupun susah?
Kalau kondisi finansial yang bersangkutan memang mengijinkan untuk bisa hidup layak dengan satu pencari nafkah aja, sementara yang bertugas nyari duit aja juga nggak komplen, lantas apa pula urusannya dengan orang lain?
Ngga semua wanita yang menjadi “stay home Mom” itu merasa ngga berguna cuma karena nggak menghasilkan duit lho, apalagi merasa ditekan oleh pasangannya.

Lagipula, kata siapa pekerjaan itu harus selalu berarti tiap hari ngantor? Itu pikiran kuno. Jaman digital begini, yang namanya “home office” itu bukan hal yang luar biasa lho.
Dan kata siapa pula bahwa “sukses dan performance” itu cuma bisa dinilai dari banyaknya uang ataupun piagam/piala yang dikoleksi?
Mengutip kata suami saya: “Dein Wert hat nichts mit Geld bzw. Arbeit zu tun”.
(Nilai dirimu tidak ada hubungannya dengan duit ataupun pekerjaan).
Karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk memiliki “self-esteem” yang rendah hanya karena ngga menyetor duit ke kas rumah tangga, jika memang keadaan finansial tidak memaksa kita untuk bekerja.
Orang hidup ngga harus mendongak terus kan ya?!
Kalau hobinya mendongak ketinggian melulu sih, mau sampe kiamat juga pasti akan selalu ada yang kurang lah hehehe. Jadi, sepanjang kondisi finansial sudah bisa dibilang “cukup”, mestinya status ‘bekerja’ ataupun ‘tidak bekerja’ tidak perlu menjadi isu, apalagi sampai dibiarkan menjadi beban pikiran, seramai dan semeriah apapun omongan orang disekeliling kita.
Aktivitas dan kesibukan untuk mengisi waktu luang  (yang berlebihan) itu kan nggak selalu harus diwujudkan dengan karir yang membawa duit.

Jadi kesimpulannya:
“Jika haus akan ilmu, belajar sajalah terus sebanyak yang diinginkan, baik itu di bangku sekolah ataupun diluar lingkungan akademis.
Ilmu bisa diperoleh dari mana saja dan belajar itu nggak mengenal umur, status ataupun gender.
Tak perlu pula memusingkan apakah nantinya ilmu yang didapat itu semuanya bakal menghasilkan duit atau nggak, karena orang yang benar-benar berilmu (bukan sekedar pengoleksi ijasah lho), itu tidak akan pernah merugi.”
Sampai jumpa lagi lain kali 😉
Advertisements

Teman bukan sodara bukan, tapi cerewet, kepo dan usil…

Standard

Hari ini pas nge-brunch aku minum air kelapa muda lalu ingat almarhum nenekku yang dulu ngomel waktu aku kecil sampai gadis suka manjat kelapa gading dibelakang rumah karena pengen minum airnya yang manis dan segar. Aku cerita kalau nenekku selalu nyeletuk: “Anak gadis pecicilan, nanti ngga ada yang mau nikahin kamu lho.” (…nobody would want to marry you!“)
Suamiku ngangkat alis nyeletuk: “And that kind of statement would definitely only be said to a girl, isn’t it? Why is it always only about marrying issue? Is the aim of life for women really only to get a man and be a baby factory? Ok, let’s say it’s the core issue of evolution, but if we really would judge it from this point of view, then why are the men excluded here? Why are such a remark never said to boys?, kemudian setelah menenggak tehnya kembali melanjutkan dengan ini,“Well, apart from that… it is obvious now that I’m not just a *Nobody*. I married you  😀 “(narsisnya kumat hehehe).

Gara-gara ini aku jadi teringat pada insiden beberapa waktu lalu ketika Ira Koesno menghebohkan jagad virtual dengan penampilan “excellent-nya dalam Debat Pilkada Jakarta dan kecantikannya yang tak memudar sedikitpun diusianya yang mulai mendekati setengah abad. Kenapa aku jadi geregetan?
Karena diluar hebohnyaa netizens yang terpesona dan kagum baik pada kecantikannya dan prestasinya, ternyata ada yang nggak kalah mengundang berita: “statusnya yang masih single”. Dan komentar-komentar tentang itu sungguh sangat menyakitkan hati, nggak cuma bagi si target “bullying” tapi bagi setiap wanita yang masih punya pikiran waras sebenarnya sih.

Ya… saya sungguh heran betapa sukanya orang-orang di negeriku ini mencari-cari sisi negatif dari seseorang bahkan meskipun ada begitu banyak hal positif yang sebenarnya ada pada dirinya. Betapa pula sukanya sok kasih petuah sama orang dalam hal yang sebenarnya tergolong urusan pribadi seperti: pilihan hidup, jodoh dan agama. Padahal mereka itu statusnya bahkan teman aja kadang bukan, sodara pun bukan.
Andai saja mereka ini mau ngaca, kira-kira dirinya suka nggak kalau ada orang yang sama sekali bukan siapa-siapanya ngasih petuah panjang lebar tentang urusan pribadinya, tanpa diminta. Ini yang bersangkutan (yang dikuliahi) sama sekali ngga lagi dalam posisi curhat dan minta dikasih saran lho ya. Mungkin ada yang memang sedang butuh saran, tapi sama sekali ngga ada hubungannya dengan “isi kuliah” nya itu, gagal fokus deh ceritanya. Yang ditanya A jawabannya X,Y,Z…ngga sesuai dengan isi pertanyaan, melencengnya jauuuuh banget. Nanya gimana cara urus dokumen nikah A,B dan C, jawabannya tahu-tahu “jangan nikah dengan yang begini atau begitu…dosa, nggak sah dsb dst… Lah emangnya yang nanya dosa atau nggaknya itu siapaaaaa coba?
Emangnya hanya dengan embel-embel:”jangan tersinggung ya…saya ngga bermaksud SARA…dst dsb”, lantas sudah cukup untuk membuat kekurangajaran anda bisa dimaklumi begitu?
What a ridiculous remark…
Emangnya hanya dengan embel-embel kata pengantar begitu lantas membuat “statement yang “rasis” trus bisa jadi berubah nggak rasis begitu?
Apakah hanya dengan kasih embel-embel begitu lantas kalimat yang nyakitin bisa berubah kesan menjadi tawar begitu?
Coba aja kita praktekkan yang sebaliknya, kira-kira enak nggak rasanya…?
Terlepas dari apapun topik yang dibahas, intinya cuma satu: “ikut campur urusan pribadi orang, dan ngasih kuliah panjang lebar soal isu pribadi orang lain tanpa diminta, apalagi ngomentari soal agama, moral dan akhlak segala, itu artinya cuma ini:
TIDAK SOPAN dan TIDAK PUNYA TATA KRAMA.

Contoh lain ya insiden yang menimpa Ira Koesno kemarin itu…
ketika orang menyatakan kekagumannya sama dia, eh adaaaa aja yang mengejeknya macam-macam hanya karena dia belum menikah…seolah-olah “MENIKAH” itu adalah sebuah PRESTASI yang membanggakan dan tujuan hidup yang terbaik bagi setiap orang.
Hah… kalau sekedar nyari laki-laki untuk diajak menikah doang mah… gampaaang lagi.
Semua orang juga bisa lah… tentu aja dengan catatan, ngga usah pake kriteria, pokoknya asal bisa bercinta dan bikin anak gitu…
Ngga usah pula nyari yang bertanggung jawab segala, yang penting “Menikah” kan, nggak jadi perawan tua kan?
Gampaaaaaaang. Apalagi Ira cantik, pinter dan banyak duit pula… laki-laki mana ngga mau sama dia, asal ngga perlu memenuhi kualifikasi apapun sih, yang penting laki-laki dan bersedia menikahi kan?? Biar dia ngga perlu berstatus “perawan nggak laku begitu?”

Tuduhannya macam-macam deh:
-ada yang bilang “mungkin dia merasa paling sempurna, nyarinya anak raja” segala.
Heh, anda ini siapa sok tau amat. Kenal juga nggak…
-ada pula yang statusnya perempuan bisa-bisanya ngomong: “bohong kalau sendiri itu bisa happy, emangnya tinggal di hutan?”
Eh mbak, hanya karena situ hepi cuma karena sekedar ada “pejantan” yang mau menikahi situ dan ngasih banyak anak doang, nggak lantas berarti semua wanita juga bakal hepi hanya karena bisa nemu “anybody” asal berkelamin “laki-laki” dan burungnya bisa “berdiri” yang mau ngelamar ya mbak…
Jangan samain standar situ dengan standar semua orang, jangan sok yakin pula kalau tujuan hidup situ dengan tujuan hidup semua orang itu pasti sama lageeeee…
Kalau kualitas dirinya cuma mampu untuk “handle” barang pasaran, ya emang nggak logis kalau mau minta yang kualitas “premium” dong.
Tapi masak iya yang kualitas dirinya tergolong “premium” harus turun standar cuma biar bisa kawin yaaaa? Ada sih emang yang mau…tapi hanya karena ada satu dua perempuan yang mau gara-gara takut jadi bahan gosip, nggak lantas berarti yang lainnya juga harus mau pula kaaaaan.
Saya aja ogah membiarkan hidup dan kebahagiaan saya di kontrol oleh “gosip” dan orang-orang kepo model-model kayak anda begitu. Apalagi Ira Koesno wkwkwkkwk.

The biggest mistake a woman could make regarding this issue is: “If she gets married just for the sake of getting married. Getting married it self is not the problem, but if one really doesn’t want to get married, then one shouldn’t compromise at all. Getting married is not an obligation to fulfil for our parents. In the end, we’re the one that has to live our life, not them, let alone those strangers out there.

-ada pula yang bilang anak dan suami itu bahagianya 1000 kali dibanding materi, udah mau setengah abad..lekaslah menikah keburu tua…Kasihan siapa yang mau nikahin ayooo.
Hmmm… yang kasihan itu justru orang-orang model anda begini deh.
Tahu nggak kenapa banyak wanita asia yang usia juga belum ada 30 udah “ngelomprot” sementara yang single dan usia udah setengah abad masih kinclong?
Itu karena yang pada “ngelomprot” itu dulunya nyari suaminya asal-asalan aja yang penting nikah hingga akhirnya terperangkap mesti ngabisin umur sama laki-laki kayak begini ini.
Yang single dan tetep kinclong hidupnya bebas dari rongrongan suami kualitas kampret macam anda. 😀
Daripada dapat yang model begini, hidup sendiri jelas lebih bahagia, bebas stress, makanya jadi awet muda hehehehe.
Wanita yang kepalanya punya isi itu berdandan dan merawat dirinya bukan sekedar untuk menyenangkan laki-laki. That’s totally wrong. Mereka merawat diri dan berdandan karena mereka ingin merasa cantik untuk dirinya sendiri, karena dia merasa senang dan puas ketika bercermin dan melihat daya tariknya sendiri.
Sedang untuk pasangan hidup, yang kami cari adalah pria yang akan tetap membuat kami merasa menjadi wanita paling cantik dan terbaik kualitasnya dimatanya, baik kami ini berdandan atau nggak, melayaninya dengan pengabdian sampai kayak orang yang dibayar ataupun nggak.
Jadi kami ngga perlu setiap saat was-was bakal dicampakkan begitu aja hanya karena udah ada keriput di muka, dan ngga perlu pula memborong segala jenis produk “sari rapet” dan pergi ke dukun-dukun koleganya “mak Erot” karena takut ditinggal nyari perawan lagi.
Buat apa nikah cepat-cepat kalau baru juga masa bulan madu lewat udah harus diliputi kekhawatiran tiap kali suaminya dapat teman baru berstatus “cewek”, dan harus selalu mencurigai setiap perempuan yang kinclong dikit.
Gitu dibilang nikah dan beranak itu selalu menjamin hepi…lebih hepi daripada single?
Kalau yang ngantri cuma yang kelas begituan mah saya bahkan berani jamin lebih hepi jadi perawan tua wkwkwkwkwk.
Kecuali memang perempuannya itu ngga punya kemampuan lain dalam hidup kecuali “macak, masak dan manak” doang sih… hehehe.
-ada yang bilang udah expired segala, ngga subur lagi… well… kalau memang pengennya cuma bisa beranak… walaaah… ngga usah nikah juga bisa lagi bikin anak wkwkwkkwk, dan dijamin Ira ngga bakal kesulitan ngasih makan anak 10 biji sekalipun biarpun ngga punya suami hahaha.

Dan masih banyak lagi deh… nggilani pokoknya dah…
Tapi intinya sebenarnya cuma satu…
WHO ARE YOU people??? Who do you think you are?
Siapa yang ngasih situ hak untuk menilai-nilai hidup orang?
Kalaupun ada orang yang setidaknya punya “relevansi” untuk ngasih opini terhadap seseorang dalam hal pribadi kaya gini, itu cuma “Orang Tua”, “Saudara” atau setidaknya “sahabat”, bukan “completely strangers” gini.
Dan “ke-kepo-an” begini ini ngga lantas jadi representasi orang nggak berpendidikan doang lho., sama sekali ngga mencerminkan status sosial lho.
Saya ini orang kampung asalnya, ortu saya nggak berpendidikan tinggi, tapi mereka tahu tuh menghargai privasi.
Orang yang dari dulu suka sok kepo begini itu justru bener-bener orang yang sama sekali asing buat saya, teman dekat bukan sodara juga bukan.
Ortu saya, sodara-sodara dan teman dekat saya… justru sama sekali ngga ada yang ceriwis dan kepo sampai kayak begini ini.
Meskipun saya tahu kalau ortu pasti ada harapan punya cucu pula, tapi sepanjang 7 tahun terakhir pernikahan saya, baru sekali ibuku menyinggung soal anak, itu baru lebaran tahun lalu. Dan gara-garanya juga karena dalam percakapan tiba-tiba ada topik yang relevan, jadi beliau pun ada “kesempatan” untuk menyinggung soal itu.
Itupun tidak berupa tuntutan tapi lebih sekedar ungkapan rasa khawatir, apakah semuanya baik-baik saja. Karena tipikal orang asia khawatir “suami” bakal nyari bini baru kalau nggak dikasih anak.
Dan jawaban saya pun singkat saja: “Ngga usah khawatir macam-macam. Suamiku adalah tipe pria yang cuma akan suka dan sayang dengan “anaknya” hanya karena itu adalah “anak saya”, dan bukannya tipe pria yang suka dan sayang sama “saya” hanya karena saya adalah “ibu dari anaknya”. Jadi cinta dan sayangnya sama saya ngga tergantung dari eksistensi anak dalam hubungan kami.
Jika sampai hubungan kami berakhir, yang jelas itu bukan karena faktor “anak”.
Sedang dari sisi aku sendiri, ibu cuma perlu tahu: bahwa dari sejak remaja dulu keinginan saya adalah mencari suami yang tidak memandang perempuan sekedar sebagai teman bercinta, pengelola rumah tangga dan pabrik anak saja.
I don’t wish to marry a man who against the idea of having kids at all for all reason, but neither do I want a man who desperately want kids so that my existence has no meaning to him at all.”
Dan ibuku pun tidak bicara lebih jauh lagi.
So…. ini yang jabatannya ibu kandung aja nggak cerewet… ini orang yang bukan siapa-siapa pula sok ikut campur amat. Nggak tahu malu dan nggak punya sopan santun amat ya.
Setiap wanita punya kriteria yang berbeda-beda dalam memilih pasangan hidup, dan kompromi serta menentukan prioritas memang dibutuhkan untuk itu, tapi nggak lantas berarti kita harus banting harga dengan drastis, kasih diskon besar-besaran sampai nyaris gratis cuma demi status pernah “menikah” doang.
I’m okay with your criterias, whatever they are… (i don’t care whether it’s shallow or high) but please deh… that’s only yours, but not mine…and not always mean the criterias of every single woman on this earth either.
Silahkan jalani hidup sesuai standar nilai kamu, tapi jangan cerewetin orang lain dan jangan gunakan standar pribadi kamu untuk menilai hidup orang lain karena itu ngga masuk akal dan nggak sopan.
Apalagi sampai menyuruh orang lain untuk juga menerapkannya, karena kalau sudah sampai pada tahap ini, namanya sudah bukan lagi “ketidak sopanan dan tidak adanya tata krama”, melainkan sudah merupakan “Pelanggaran Hak Asasi”.
Kebahagiaan itu adalah hal yang sifatnya sangat personal, cuma yang bersangkutan yang bisa menilainya, bukan orang lain.

“Tabu”-nya orang Indonesia itu kadang memang bikin “speechless”…

Standard
“Tabu”-nya orang Indonesia itu kadang memang bikin “speechless”…

Saya sering bicara bahwa sebuah kultur itu nggak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk daripada yang lainnya, mereka memang beda, cuma itu. Setiap kultur memiliki ciri khasnya masing-masing dan ada latar belakangnya pula mengapa begitu.  Dan pendapat saya ini masih tetap sama, akan tetapi itu adalah opini secara umum terhadap keseluruhan budaya sebuah bangsa, jadi nggak berarti bahwa saya anggap setiap jenis adab/nilai/kebiasaan/budaya tertentu dari suatu masyarakat itu sensibel dan sebaiknya dilestarikan.
Kultur itu sendiri pada dasarnya adalah hal dinamis, dari jaman prasejarah sampai abad digital akan selalu mengalami perubahan entah itu positif atau negatif arahnya sesuai dengan perkembangan pengetahuan kita (ilmu dan teknologi itu sendiri juga kan bagian dari produk kultur toh? Sejauh ini rata-rata orang cuma mengasosiasikan kultur dengan seni, kerajinan ataupun tradisi saja; padahal kultur itu sangatlah luas). Tentu saja yang ideal adalah jika perubahan itu membawa ke arah yang positif ya. Dan inilah yang ingin saya ungkapkan disini: beberapa hal tipikal di kalangan masyarakat indonesia yang cukup “irritating” hingga ingin saya bagi disini.

Tema kali ini ngga jauh beda dengan hal yang saya tulis beberapa hari yang lalu, hanya saja kali ini lebih relevan bagi khususnya kaum wanita. Saya tergelitik untuk menulis ini ketika kemarin tanpa sengaja membaca komentar-komentar ibu-ibu Indonesia pada artikel online tentang berita proses melahirkannya artis “Andien” yang kebetulan nongol di newsfeed akun medsos saya karena ada “mutual friend” saya yang komentar disitu.
Sejauh ini saya bukan tipe orang yang suka ngikutin berita artis, buat saya “up to date”soal artis sama sekali bukan hal penting dan nggak begitu menarik jadi seringnya saya ini cenderung kuper soal berita artis. Kalau ada info yang ngga sengaja nangkring gini aja sih, dan kebetulan isunya lumayan “nyentil” baru saya kadang iseng untuk nggugel karena penasaran mengapa orang-orang begitu hebohnya.
Seperti kali ini, yang menarik perhatian saya justru adalah komen-komen para wanita itu yang bikin saya jadi gatel. KENAPA?

Karena ada wanita-wanita yang bilang “JIJIK” dengan Andien, cuma gara-gara sang artis ini berbagi tentang proses kelahiran anaknya yang secara natural dan peran aktif sang suami dalam membantu proses kelahiran anak mereka.
Saya bisa mengerti bahwa tidak semua orang mau membagi hal-hal sakral dalam hidupnya, karena saya sendiri juga tidak. Saya juga ingin membatasi hal-hal yang ingin saya jaga dalam lingkungan pribadi saya dan mana yang bisa saya bagi kepada publik.
Saya juga bukan tipe orang yang suka PDA (Mamerin kemesraan dengan pasangan dimuka banyak orang, baik itu dulu ataupun sekarang ketika saya sudah tinggal di Eropa. Not that I find it unacceptable, but it’s simply not my cup of tea. I don’t need to show my affection anywhere anytime anyway)…
Tapi saya tetap tidak bisa bayangkan ada “wanita” yang sama-sama secara alami di desain untuk hamil dan melahirkan bisa-bisanya menganggap bahwa “proses kelahiran” dan ekspresi “cinta” dari pasangan hidup itu sesuatu yang “menjijikkan”.
Saya sampai penasaran dan nggugel lama untuk ngecek seperti apa sih foto-foto yang di bagi oleh Andien itu dan seperti apa dia menceritakan proses melahirkannya, kok sampai dianggap menjijikkan?!
Tapi sejauh ini yang saya temukan sama sekali belum layak untuk dikategorikan “menjijikkan” deh. Lebay juga nggak lho (nggak kayak acara lahiran anaknya si Anang yang sampai di siarkan langsung segala…itu baru lumayan pantes dikategorikan lebay).
Foto-foto yang di bagi oleh keluarga Andien sekedar menunjukkan ekspresi “cinta”, sama sekali nggak bernuansa “seksual” ataupun porno.
Sejak kapan orang melahirkan itu porno? Ini sama aja kayak orang-orang Amrik sana yang menganggap bahwa “menyusui” bayi itu juga hal yang “saru”, “tabu” dan “porno” :-D. Tapi anehnya berpose telanjang dianggap biasa-biasa saja. Semakin lama saya benar-benar semakin merasa betapa miripnya masyarakat amrik dengan indonesia ^_^.
Hal-hal yang secara natural dikodratkan pada makhluk hidup dimuka bumi, tapi dianggap “TABU”, how ridiculiously funny…

Baru juga informasi dan foto begitu aja dari Andien udah dibilang “menjijikkan” dan tabu… apalagi kalau mereka lihat betapa banyak video proses kelahiran natural yang bisa diakses dengan mudah di YouTube ya? Banyak dari para ibu di video itu bahkan sepenuhnya telanjang. Andien mah masih pake baju, ya!
Para wanita di Indonesia begitu terbiasa dengan begitu banyaknya servis yang ada mungkin, begitu banyaknya orang disekelilingnya yang bisa membantunya ngurus anak, dan begitu menganggap enteng “operasi caesar” sehingga membuat mereka melupakan bahwa proses melahirkan itu adalah hal yang sepenuhnya “NATURAL”, tidak layak untuk masuk kategori “tabu”, apalagi kita nggak lagi hidup di jaman kuno dimana bahkan wanita yang haid dan nifas pun dianggap “kotor” hingga “suami” pun ngga boleh “menyentuh”-nya.
Sungguh kolot pula memandang bahwa peran serta seorang suami dalam proses kelahiran dan ungkapan kebahagiaannya ketika si bayi lahir ditangannya dianggap “gesture” yang tidak pantas (rolling my eyes…).
For God sake, this man didn’t give her a french kiss! It was merely a light peck.
Ada bidan dan orang-orang lain disekitarnya gitu lho, yang benar aja lah…

Harap jangan salah tangkap ya, saya ngga bermaksud menganggap wanita yang melahirkan melalui operasi caesar itu lebih rendah nilainya daripada ibu yang melahirkan natural lho. Ada banyak situasi khusus yang membuat kelahiran caesar adalah hal yang terbaik bagi beberapa kasus tertentu. Tapi bagaimanapun adalah fakta bahwa SETIAP WANITA terlahir kedunia dengan membawa karakteristiknya yang khas sebagai media untuk membawa generasi baru kemuka bumi, jadi pada dasarnya kita sudah dilengkapi dengan semua yang dibutuhkan untuk membawa manusia baru ke muka bumi dengan selamat. Jangankan binatang liar, wanita-wanita yang hidupnya jauh dari peradaban modern semuanya juga melahirkan tanpa asistensi dokter ahli dengan peralatan canggihnya kan?!
Apakah kemampuan alami itu akan dimanfaatkan oleh setiap dari kita atau tidak, itu adalah soal lain lagi.
Mungkin wanita-wanita Indonesia yang menganggap lebay tulisan ataupun video tentang hal-hal semacam ini karena mereka nggak perlu ngerasain repotnya dan khawatirnya harus menjalani semua proses (yang bagi setiap “calon ibu baru” menakutkan) karena di sana ada banyak orang yang bisa mereka andalkan untuk membantu, bahkan bayar asisten banyak pun nggak susah karena murah.
Mereka nggak tahu betapa tulisan ataupun video yang di bagi oleh sesama ibu di dunia ini bisa sangat membantu sekali bagi kita-kita khususnya yang tinggal jauh dinegeri orang tanpa orang tua yang bisa dimintai tolong dan dimana jasa pembantu ataupun baby sitter adalah sebuah kemewahan.

Memang benar jasa medis di negara maju bisa diandalkan, tapi itu kan tidak lantas kita bisa mendapatkan semua informasi dan bantuan dari mereka. Dan tidak pula semuanya bisa ditanggung asuransi, khususnya jika itu hal-hal yang nggak mengancam kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi. Akan tetapi tetap saja itu bisa berupa hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh para calon ibu yang sedang mengandung untuk yang pertama kali.
Jadi adanya orang-orang yang bersedia berbagi pengalaman pribadinya (yang sebenarnya tergolong privacy dan sakral) adalah hal yang justru patut untuk dihargai.
Toh itu bukan sebuah aib, itu bukanlah hal yang memalukan gitu lho…

Saya juga kebetulan tertarik akan proses melahirkan dalam air, karena itu saya suka melihat dan membaca apapun yang bisa saya temukan tentang pengalaman pribadi orang yang mengalaminya, jadi nggak cuma informasi yang sifatnya teori saja dari jurnal-jurnal medis dan omongan dokter doang.
Kalian-kalian yang merasa tidak butuh, ya nggak papa, tapi mbok nggak usah nyinyir…
toh nggak ada yang menyuruh kalian untuk melihat atau membacanya kan?!
Kita semua tahu betapa banyaknya operasi caesar di indonesia yang dilakukan tanpa adanya rekomendasi medis, melainkan murni karena alasan: ngga mau sakit, takut vaginanya melebar (hingga suami jadi berpotensi untuk ngelirik perawan sebelah 😀 ), dan alasan-alasan nggak rasional lainnya semacam itulah, hanya karena merasa secara finansial mampu menanggungnya.
Jadi adalah hal yang menurut saya justru sangat positif, ketika ada publik figur yang mau berbagi karena itu bisa menjadi semacam “encouragement” pada para wanita yang sedang mengalami ketakutan untuk melahirkan normal dan sedang bimbang karena dibujuk dokter (yang mata duitan) dan sebenarnya ibu-ibu yang sedang bimbang ini secara medis nggak butuh operasi.
Bagaimanapun harus kita akui bahwa pengaruh “artis” dan efek persuasif dari tindakan mereka pada publik itu cukup besar.

Lagipula… rasanya lucu juga kalau menyebut “video dan foto orang melahirkan” itu tabu dan saru, tapi anehnya ngomongin aib suami sendiri, dan bercanda serta bercerita tentang kehidupan seksualnya bersama suami/istri, bikin jokes-jokes berbau seks kok nggak dianggap tabu ya… Malah kadang jadi topik tipikal di tayangan komedi lho…
Betapa paradoks… ^_^ .
Bahkan nguliahin orang tentang pilihan pasangan hidup orang make dalih agama (yang notabene adalah urusan pribadi yang paling pribadi), dianggap normal (lagi-lagi jadi “rolling my eyes…”), pada nggak sadar bahwa kalau sebaliknya ada orang yang negur atau nasehatin dia tanpa diminta, dianya marah-marah juga…merasa tersinggung 😀 .

Seharusnya, orang-orang yang ngaku dirinya “intelek” bisa membedakan mana yang patut untuk dikategorikan “lebay” dan pamer dengan yang nggak.
Kalau ngomongin “Ah, artis sih… cuma melahirkan aja pake masuk berita, semua wanita juga bisa melahirkan, apanya yang istimewa?!”
Hmmm saya jadi heran, siapa pula yang bilang kalau dia itu istimewa? Nggak ada kan?
Lagipula, dijaman media digital saat ini… siapa orangnya yang butuh jadi artis dulu untuk bisa memamerkan dirinya dimata dunia coba?
Setiap orang bisa upload gambar-gambar dan pengalamannya sendiri dan membaginya pada publik tanpa memandang apapun statusnya. Dan kalau beruntung, setiap orang juga punya kesempatan yang sama untuk membuat postingannya menjadi viral dan bikin dia terkenal di dunia.
Jadi siapa bilang cuma artis yang bisa melakukan itu?
Di jaman sekarang ini semua orang bisa melakukannya, itu kalau memang mau 😀 .
Saya kok trus jadi punya prasangka ya, para wanita yang suka sinis itu sebenarnya sirik karena suaminya kolot dan menganggap bahwa terlibat aktif dalam proses kelahiran anaknya sendiri itu hal yang “menjijikkan”.
Kalau mereka mau jujur, pasti akan mengakui bahwa orang yang paling terdekat dalam hidup kita dan paling punya potensi untuk memberikan dukungan moril dan kekuatan untuk berjuang, yang seharusnya paling bisa dipercaya adalah orang terkasih kita… (bahkan yang harusnya paling layak untuk jadi tempat kita mempercayakan nyawa. Bukankah setiap proses melahirkan itu adalah saat antara hidup dan mati?)
Dan siapa lagi itu kalau bukan belahan jiwa kita sendiri (logisnya lho ya)?
Yang paling diharapkan selalu ada disisi saat itu adalah pasangan hidup kita, kecuali jika sikon tidak mengijinkan itu.
Para wanita yang pasangannya tidak merasa bahwa mengekspresikan kasih itu hal yang memalukan dan tabu, tidak akan mengungkapkan hal-hal yang sinis seperti itu, bahkan meskipun dia sendiri kebetulan tergolong orang yang suka melindungi privacynya seperti saya.
Orang yang isi kepala dan hatinya bersih, merasa “content” dengan hidupnya, tidak akan sinis dengan kebahagiaan orang lain, karena dirinya sendiri juga sudah cukup bahagia :-D.
Sepertinya istilah: “Susah ngeliat orang lain senang dan senang ngeliat orang lain susah”, kadang-kadang emang tepat banget untuk diterapkan pada “jenis-jenis” tertentu manusia di Indonesia hahahahaha.

Saya sendiri… mungkin juga ngga selalu menganggap semua informasi yang saya temukan di Internet itu bagus untuk diterapkan pada saya, tapi saya tetap bisa menghargai setiap informasi yang dibagikan orang. Semua adalah tugas kita sendiri masing-masing untuk menyaring mana yang cocok dan mana yang nggak buat kita, tapi tetap sangatlah bagus bahwa ada begitu banyak yang bisa kita temukan dengan bantuan internet di jaman modern ini.
Meskipun tak ada ibu yang bisa mendampingi, kita jadi nggak merasa buta dan “helpless” dengan adanya semua itu.

Ok deh..sekian dulu ocehan saya hari ini… sampai jumpa lain kali hehehe.