Tag Archives: studi di Jerman

Studi di Jerman: Informasi seputar Studienkolleg

Standard

Hallo, jumpa kembali ^_^…

Kali ini kembali ceritanya tentang studi di Jerman, untuk menjawab beberapa pertanyaan yang kembali nongol di Mailbox Facebook saya sekaligus ^_^. Saat ini temanya adalah: “Studienkolleg“.
1. Studienkolleg
itu apa sih? (Ngomong-ngomong, orang Indonesia yang sangat hobi menyingkat-nyingkat semua hal, ngga peduli secara linguistik boleh atau nggak, biasa menyebutnya “Studkol”. Disini supaya tulisan bisa dipersingkat saya akan pake juga itu singkatan, malas ngetiknya soalnya sering disebut LOL).

Studkol adalah sebuah institusi pendidikan, yang merupakan bagian dari Universitas/Fachhochschule di Jerman dan menjadi fasilitas bagi calon mahasiswa asing yang ijasah SMU/SMK-nya dianggap tidak setara dengan ijasah SMU/SMK di Jerman. Secara umum selama ini dianggap bahwa semua lulusan sekolah menengah dari negara dunia ketiga harus mengikutinya sedangkan dari negara industri maju tidak perlu.
Tapi itu tidak 100% benar, karena fakta yang ada menunjukkan bahwa di Universitas Saarland misalnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir memiliki beberapa mahasiswa yang berasal dari USA, yang ternyata wajib menempuh pendidikan di Studkol dan mengikuti kelas “Science” dulu sebelum berhak mendaftar di Universitas, jadi sama seperti rata-rata lulusan dari negara dunia ketiga.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap aplikasi calon mahasiswa di Jerman akan dilihat dulu asal sekolahnya serta isi ijasahnya dan di evaluasi apakah yang tercantum dalam ijasah tersebut merepresentasikan standar pengetahuan dasar yang dibutuhkan untuk dianggap layak menempuh studi di Universitas/Fachhochschule Jerman. Setiap negara memiliki kurikulum yang berbeda, bahkan di negara Industri maju pun prinsip pola pendidikan mereka belum tentu sebanding dengan di Jerman. Sehingga selalu ada kemungkinan bahwa apa yang mereka pelajari tidak sesuai dengan yang menjadi kebutuhan di Jerman dan tidak selalu relevan dengan jurusan yang dituju.
Tapi kalau cuma mau melihat gambaran kasar sih, biasanya lulusan dari sekolah negeri di EU, Korea selatan, Singapura, Israel dan Jepang misalnya, tidak perlu masuk “Fachkurs” Studkol jika ingin kuliah level Bachelor.

Sebagian mahasiswa Studkol itu memang ada yang benar-benar “clueless” tentang beberapa tema dalam program studi yang dia ajarkan, meskipun teoretis mereka berasal dari kelas sains di negara asalnya. Yang berasal dari sekolah yang cenderung “religius” contohnya, biasanya sangat minim pengetahuannya tentang genetik dan evolusi. Itu sekedar salah satu contoh, dan itu nggak cuma yang berasal dari negara berkembang yang mayoritas islam ya, tapi di negara yang sekuler dan mayoritas kristen pun ada yang begitu.

Tapi ada juga mahasiswa yang datang dari negara yang dianggap “berkembang” dan secara umum diwajibkan mengikuti kelas di Studkol dulu, tapi mungkin memang kualitas sekolahnya bagus dan anaknya sendiri benar-benar pintar, sehingga masa sekolah di Studkol sebenarnya adalah membuang-buang waktu bagi yang bersangkutan.  Masalahnya ada pada ketidakseragaman kualitas sekolah di negara terkait, perbedaannya terlalu njomplang antara masing-masing sekolah. Belum lagi faktor intelegensi anaknya sendiri yang levelnya juga kan beda-beda.

2. Kalau menilik kasus tersebut, kira-kira bisa nggak sih calon mahasiswa yang merasa dirinya pintar “skip” masa studienkolleg?
Jawabannya adalah:”mungkin”, tapi apakah itu keputusan yang sensibel atau nggak, itu persoalan lain lagi. Karena perlu diingat bahwa setiap mata kuliah untuk studi “Bachelor” pada umumnya memakai bahasa Jerman, dan merasa “mampu”berbahasa Jerman dari kursus yang hanya berlangsung beberapa bulan di negaranya sendiri belum tentu itu berarti benar-benar “mampu” membuatnya bisa mengikuti setiap mata kuliah tanpa kesulitan yang berarti.
Tentu saja kita ngga dituntut harus menyamai “native speaker” ya, tapi tetap saja untuk bisa mengikuti pelajaran berbahasa asing dan memahami kosakata-kosakata ilmiah; dimana dosennya juga ngomong sangat cepat, dan kadang bahkan disertai pemakaian idiom (yang biasanya ngga akan diajarkan di kursus bahasa, lain dengan orang yang kuliah germanistik ya) serta ngga punya waktu untuk memperhatikan setiap mahasiswa, akan  dibutuhkan tempo yang cukup untuk beradaptasi selama beberapa waktu menerapkan bahasa terkait sehari-hari di lingkungan akademis.
It is not always the same, believe me ^_^!
Disitulah peran Studkol jadi sangat membantu, terutama karena dosennya hanya mengajar kelas relatif kecil sehingga punya waktu yang cukup untuk memperhatikan setiap mahasiswa yang kesulitan dan membutuhkan bantuan. Peluang berdiskusi pun cukup besar. Karena itu, manfaatkanlah dengan baik masa-masa di Studkol, jangan malas.
It might not always be a nice time, and your teacher might be strict but one day when you’re already in the University you will finally realise how useful it was, if you really used your chance very well.

Selain itu, pada umumnya calon mahasiswa ini datang paling banter baru pernah belajar bahasa Jerman sampai level B1, sementara yang dibutuhkan untuk bisa masuk Universitas adalah level C1, artinya masih kurang 2 level kan.
Jadi jika toh masih harus menempuh masa belajar bahasa Jerman setidaknya 2 semester “anyway”, lantas kenapa ngga sekalian aja mengikuti “Fachkurse”-nya? Toh pada akhirnya, mau ikut kelasnya ataupun tidak jika ingin mendaftar di Universitas si calon mahasiswa tetap aja harus lulus FSP dan DSH dulu.
Ya betul, bagi yang merasa dirinya tergolong jenius bisa menghubungi pihak Studienkolleg tujuannya dan bertanya akan kemungkinan mengikuti ujian FSP sebagai peserta eksternal. Jika lulus, maka dia berhak langsung mendaftar di Universitas (tentu saja hanya jika kemampuan bahasa Jermannya juga sudah level C1).
Jadi pada prinsipnya masa studkol cuma bisa di skip total jika yang bersangkutan lulus FSP dan DSH sebagai peserta eksternal atau lulus FSP sebagai peserta eksternal plus punya sertifikat TestDAF.
Dan TestDAF itu sama sekali ngga gampang dan harga pendaftaran ujiannya nggak murah.
Dan jika tidak lulus, peluangnya sudah hilang sekali dan hanya bisa mengulang sekali semester/tahun depan. Jika tidak lulus lagi maka harus pulang. Jadi resikonya cukup tinggi.

Kuncinya adalah: “Don’t overestimate your self. Self confidence is great, but don’t forget to be honest to your own weakness.”
Jika mungkin, cobalah untuk mencari soal-soal contoh dari FSP di tahun-tahun sebelumnya dan cari orang yang bisa menilai kemampuanmu secara fair supaya bisa tahu apakah kamu memang benar-benar punya modal untuk “skip” masa studkol ini.
Cuma ini nggak gampang, karena tidak semua studkol akan  membagi hasil ujian kepada mahasiswanya.
Beberapa diantaranya cuma mengumumkan hasil secara online supaya kerahasiaan data masing-masing siswa terjaga dan siswa yang ingin cross check hasilnya dengan dosen yang bersangkutan bisa meminta appointment khusus, ada juga yang menunjukkan hasil di kelas dan sang siswa cuma diberi waktu selama kelas berlangsung untuk mengecek hasil ujiannya dan protes jika diperlukan tapi ujian berikut soal harus dikembalikan dan masuk arsip kampus.
Tapi memang ada juga studienkolleg yang membagikan kertas ujian kepada siswa, contohnya studkol saya dulu.
Bagi yang datang untuk kuliah level Master (Dengan catatan ijasah Bachelor dari negara asalnya diakui oleh Depdikbud Jerman), tentu hanya dibutuhkan bukti kemampuan bahasa jerman level C1, jika jurusan tujuan tidak memakai bahasa pengantar bahasa inggris.

3. Berapa lama sih masa studkol itu? Jawabannya tergantung anaknya. Yang jelas kita cuma boleh mengulang ujian sekali saja, dan masalahnya tidak semua studienkolleg mengijinkan mengulang kelasnya dan tidak semua studkol mengadakan ujian FSP setiap semester. Jadi perkiraannya adalah dari 1-2,5 tahun. Jadi, pastikan bahwa dana untuk kuliah di Jerman yang dipersiapkan memadai untuk waktu yang lama.

Karena bagaimanapun tujuan utama kalian adalah untuk belajar bukan untuk bekerja. Banyak sekali kasus kegagalan studi yang nggak cuma disebabkan oleh kebanyakan main, tapi juga kebanyakan “kerja”(“kebanyakaan” disini karena tak jarang melampaui batasan jam kerja yang diijinkan bagi mahasiswa asing). Apalagi, selama masih di studkol, ijin kerja yang ada lebih sedikit daripada untuk mereka yang sudah berstatus mahasiswa penuh).

4. Bagaimana dengan biayanya?
Di Jerman ada 2 jenis studkol, yaitu negeri dan swasta. Selama bisa diterima di Studkol negeri maka untuk saat ini di seluruh Jerman tidak ada beban tuition fee, hanya “Semesterbeitrag” yang dilengkapi dengan fasilitas langganan transportasi publik yang berlaku di negara bagian setempat dengan standar harga anak sekolah.
Sedangkan jika tidak mendapat tempat di Studkol negeri dan masuk ke studkol swasta, tentunya ada tuition fee.
Tapi sebelum mendaftar di studkol swasta, pastikan dulu bahwa studkol tersebut ijasahnya diakui oleh negara.
Selain itu ada pula kategori lain untuk membedakan jenis studkol, yaitu: studkol dari Universität dan studkol dari Fachhochschule (University of Applied Science).
Ijasah studkol yang diakui negara akan berlaku untuk seluruh wilayah jerman tanpa memandang asal daerahnya, hanya saja: ijasah studkol dari Universität bisa dipakai juga untuk mendaftar kuliah di “Fachhochschule” sedangkan ijasah studkol dari FH hanya bisa dipakai untuk mendaftar di FH saja dan tidak bisa dipakai mendaftar kuliah di Universität.
Jangan salah paham, di Jerman sebagai hasil akhirnya titel Bachelor ataupun Master dari Universität tidak dibedakan dari FH, keduanya sederajat. Yang membedakan mereka cuma titik berat dalam metode pengajaran.
Di Universitas itu lebih kuat di teori dan riset, sementara di FH yang menjadi fokus adalah aplikasi, ilmu terapan. Oleh karena itu, kalaupun ada perbedaan di hasil akhir datangnya lebih cenderung dari Industri yang menerima mereka nantinya.

Tapi biasanya itu cuma pada saat periode pertama masa kerja saja. Lulusan FH karena terbiasa dengan banyak praktek kerja di industri dan banyak “project” semasa studi yang sebagian bahkan harus dilakukan di perusahaan, membuat lulusan FH jauh lebih siap pakai di dunia kerja daripada lulusan Universitas yang lebih banyak belajar teori daripada praktek di lingkungan industri.
Oleh karena itu, untuk gaji pertama kerja biasanya lulusan FH mungkin saja akan menerima sedikit lebih banyak daripada lulusan Universitas.
But it is not necessarily like that either, it’s only a probability based on the general overview.
Tapi jika cita-citanya adalah menjadi ilmuwan/peneliti/inventor misalnya, jauh lebih disarankan untuk berusaha masuk studkol Universität saja, karena pilihannya lebih luas dan kamu nanti toh masih bisa berubah pikiran setiap saat apakah setelah lulus mau masuk Universität atau FH.

5. Dimana sajakah studkol negeri yang masih ada di Jerman?
Di sini kalian bisa temukan contact details-nya: Daftar Studienkolleg negeri di Jerman
Silahkan dibaca di website terkait, beberapa diantaranya ada yang menyediakan halaman berbahasa inggris. Tapi jika tidak, saya rasa itu juga bukan masalah. Bagaimanapun kalian yang ingin kuliah kan harusnya belajar bahasa jerman juga toh?
Langsung juga hubungi kampusnya untuk informasi yang lebih detail.
Beberapa kampus memungkinkan kita untuk mendaftar langsung ke Universitas/FH-nya, sehingga bagi yang lulusan SMK masih punya peluang cukup besar untuk bisa masuk.
Sedangkan sebagian yang lain tidak melayani pendaftaran langsung dan “outsourcing” prosedur penerimaan mahasiswa kepada Uni-Assist  , sedangkan untuk mengetahui apakah ijasah kita diakui oleh depdikbud Jerman atau tidak, bisa di lihat di sini .
Jangan khawatir, staff yang kerja di bagian ini di kampus terbiasa berurusan dengan orang asing yang bahasanya masih pas-pasan jadi mereka sangat ramah dan ngga akan menganggap remeh hanya karena bahasa jerman kamu belum bagus.
Beberapa diantaranya juga bahasa inggrisnya cukup bagus sehingga komunikasi tidak akan jadi masalah serius.

Ok deh, sementara sampai disini dulu. Lain kali disambung lagi dengan tema yang lain.
Kalau ada request atau pertanyaan, silahkan sampaikan di kolom komentar dibawah.
Ciaooo…

Image source: www.studienkolleg-hamburg.de
Info tambahan: Universität des Saarlandes tidak lagi memiliki “Fachkurse” untuk mahasiswa asing secara umum. Saat ini hanya ada kelas untuk bahasa jerman dan “Fachkurse” yang ada hanya dibuka bagi “Refugees“.
Website untuk HTWG Konstanz yang ada di link diatas tidak lagi aktual, yang baru adalah ini.

Kosakata:
FSP: Feststellungsprüfung (Ujian persamaan untuk menentukan apakah yang bersangkutan memenuhi syarat mendaftar di Universitas/FH atau tidak)
DSH: Deutsche Sprachprüfung für den Hochschulzugang (Ujian bahasa Jerman untuk menilai kemampuan bahasa Jerman. Standar kelayakan untuk kuliah adalah jika yang bersangkutan lulus minimal level DSH 2. Lulus dengan nilai yang cuma merepresentasikan DSH 1 masih belum cukup, karena itu cuma mewakili standar kemampuan B2.
Fachkurse: kelas untuk mata pelajaran yang relevan dengan jurusan yang dituju.
Contoh: T-Kurs: Matematika, Fisika, Technische Zeichnen (technical design/drawing) dan mungkin juga Informatik (Information Technology) serta Kimia.
M-Kurs: mirip dengan T-Kurs hanya saja ada tambahan “Biologi” tapi tanpa TZ juga tanpa Informatik. Untuk W-Kurs: Matematika, Ekonomi (macro economics and business studies)… dan tergantung dari jurusan yang tersedia di FH yang bersangkutan yang boleh dimasuki oleh lulusan W-Kurs-nya, kemungkinan akan ada juga mata pelajaran Informatik dan Fisika di W-Kurs. G-Kurs dan S-Kurs biasanya bisa saling menggantikan bagi yang ingin kuliah di bidang sosiologi, germanistik, linguistik, hukum, seni dan semacamnya yang tidak tergolong jurusan STEM (Germans: MINT) atau Ekonomi.
STEM: Science, Technology, Engineering and Mathematics
FH: Fachhochschule (University of Applied Science)
Semesterbeitrag: biaya administrasi per-semester (bukan biaya SKS lho)

Kuliah sambil kerja di Jerman

Standard

Dari hasil “sharing” pengalaman sesama mahasiswa di Jerman, saya ambil kesimpulan bahwa informasi yang diberikan oleh agen pendidikan kepada peminatnya hanya fokus pada hal-hal yang indah saja dan tidak menyeluruh/mendetail.
Bohong sih ngga selalu ya, tapi ngga jarang cenderung “misleading” gitu deh, karena infonya nggak lengkap.
Belum lagi realita itu kan dimana-mana lebih menggigit daripada teori.
Banyak yang percaya mati bahwa di Jerman itu sekolah gratis dan mahasiswa boleh kerja legal, jadi ngga usah terlalu takut mikirin biaya, karena dari kerja sambilan dijamin bisa sukses.
Ya, itu memang benar, tapi cuma dalam tanda kutip. Masih ada aspek-aspek lain yang harus diperhatikan lho. Hanya saja, kalau memang ke Jerman itu adalah sebuah cita-cita, seharusnya banyak browsing dulu dan sebisa mungkin jangan di website-website yang komersil. Website kedutaan jerman, DAAD atau GIZ misalnya, yang versi bahasa indonesia juga ada kok.
Jaman sekarang enak ada internet, nggak kayak dulu. Dengan begitu ntar pas nanya ke teman-teman yang di Jerman itu udah punya modal bagus, jadi tinggal nanya aja “praktek”nya disini gimana… realitanya gimana, seberapa jauh bisa melenceng dari teori begitu lho.
Na ja…sudahlah, saya langsung aja lah ya…
Disini saya mau meringkas informasi untuk menjawab rasa penasaran peminat studi di Jerman tentang kemungkinan “kuliah sambil kerja” ini, karena mengenai “topik kuliah gratis” dibahas di postingan yang lain supaya nggak kepanjangan.
Ini khususnya relevan bagi mahasiswa indonesia yang murni cuma memegang visa studi, tanpa adanya sponsor keluarga yang memiliki paspor atau PR (permanent residence) di Jerman.

Seringkali dalam diskusi di forum ada yang bilang boleh kerja 8 jam sehari lah, 4 jam sehari lah, maksimal 20 jam seminggu lah, 450€ sebulan lah, ada juga yang bilang yang penting ngga lebih dari 8354€ setahun, mana yang benar?
(Note: artikel ini dulu dibuat tahun 2014. Yang teraktual untuk 2017 PTKP nya sekarang menjadi 8820€)

Sebenarnya ngga ada yang salah kok, hanya saja juga ngga bisa dibilang 100% tepat.
Kasus yang umum adalah sekedar “misintrepretasi” informasi, entah karena kurang mengerti disebabkan oleh kendala bahasa tapi malu bertanya lebih detail kepada petugas imigrasi yang bertanggungjawab, atau memang ngga bener-bener baca sendiri dari sumber yang “reliable”.
Melainkan hanya dari “katanya” si A, si B dan si C misalnya. Hati-hati, apa yang selama ini biasa dilakukan oleh beberapa teman dan sejauh ini selamat alias nggak menemui masalah, itu nggak selalu berarti bahwa apa yang mereka lakukan itu benar-benar legal lho.
Contoh sederhana memakai analogi: ketika terjadi kebakaran kecil, dan jumlah kerugian kebetulan tidak lebih dari 1000€ misalnya, lantas asuransi A tanpa banyak cingcong langsung bayar klaimnya. Di kasus lain asuransi B menolak klaim senilai sama, dengan alasan kewajiban memasang sensor asap disetiap rumah tidak dipenuhi korban misalnya. Pertanyaan: kalau memang ada aturan pemerintah mewajibkan memasang sensor asap, kenapa asuransi A kok mengganti rugi tanpa banyak suara, apakah asuransi B menipu?
Tentu saja tidak… alasannya sebenarnya simpel saja, asuransi A punya kebijakan sampai pada batas nilai klaim kerugian tertentu memilih untuk “skip” penyelidikan menyeluruh, karena biaya penyelidikan juga cukup mahal, makan waktu dan tidak “worth it” jika dibandingkan dengan jumlah ganti rugi yang bisa dihemat dan efek “promosi kepuasan konsumen” yang bisa diperoleh. Khususnya karena kasus semacam itu secara statistik cukup jarang terjadi.
Jadi aturan tersebut memang ada, karena itu tidaklah salah bila ada asuransi yang “strict” dalam  memanfaatkan UU yang ada.
Tapi ngga berarti pula hanya karena ada perusahaan asuransi yang memberi banyak “kulanz” dan cenderung fleksibel, terus lantas UU nya jadi bisa dianggap ngga ada. Begitulah contoh analoginya.

Also… pada prinsipnya setiap mahasiswa asing dari negara dunia ketiga yang masuk ke Jerman tidak dengan memakai visa family, alias murni pakai visa studi, hanya boleh bekerja selama 120 hari (fulltime) atau 240 hari (half-day) dalam setahun. Dan itu keduanya bisa dikombinasi pembagian waktunya, seperti misalnya 100 hari “fulltime”, dan 40 hari “half-day”. Karena itulah bisa juga diartikan secara kasar: maksimal 20 jam seminggu atau 4 jam sehari. Tapi sebenarnya 8 jam sehari juga boleh, selama dalam setahun itu tidak melebihi 120 hari masa kerjanya.
Tapi shift kerja 4 jam sehari dan 240 hari dalam setahun itu juga cuma hitungan secara umum, dalam arti cuma berlaku pada “perusahaan” yang memang menerapkan shift kerja: 8 jam sehari. Jika misalnya yang bersangkutan bekerja di industri metal, yang menerapkan jam kerja 7 jam dalam satu shift, maka “half-day” disini berarti 3,5 jam. Jadi, kalau tiap hari kerja selama 3,5 jam dan itu sudah dilakukan di perusahaan yang sama selama 240 hari, ya hak kerjanya udah habis untuk kalender tahun tersebut. Terlepas dari kapan mulainya bekerja, limit ini diberlakukan tetap untuk satu tahun kalender penuh, yaitu dari 1 januari sampai 31 desember.
“Fulltime” ini terhitung seluruh hari kerja dimana yang bersangkutan bekerja di hari tersebut lebih lama dari separuhnya jam kerja normal.
Pada kasus pekerjaan dengan jam kerja fleksibel harus memperhatikaan hal berikut:
misalnya saja siapapun yang selama 3 hari dalam semingggu bekerja di sebuah perusahaan totalnya 12 jam dan bebas membagi sendiri jam kerjanya dalam periode tersebut, seandainya dia misalnya saja di hari pertama dan kedua kerja 3 jam, kemudian di hari ketiga 6 jam; atau di kasus kedua dia memilih kerja tiap hari kerja 4 jam.
Maka pada kasus pertama dia terhitung kerja penuh 1 hari dan kerja separuh hari selama 2 kali, disini dia tentu udah rugi “satu hari untuk itungan “half-day”.
Jadi yang lebih optimal tentu pilihan kedua. Dalam mengatur jam kerja pastikan bahwa tentu saja jauh lebih baik kerja 8 jam atau 4 jam langsung dalam sehari, dan sebisa mungkin jangan 5 jam atau 2 jam saja jika tidak terpaksa.
Kemungkinan kombinasi lain yang optimal, supaya selama semester berjalan bisa lebih banyak waktu untuk belajar, bisa dibagi seperti berikut: 22 hari bekerja “fulltime” di masa liburan panjang (2 kali setahun),
dengan begini masih tersisa 76 hari penuh untuk setahun yang bisa dibagi sepanjang semester berjalan menjadi 152 “half-day”.
Disamping itu, mahasiswa bisa juga melakukan aktifitas ekstra yang menghasilkan duit tanpa batasan waktu selama itu ada dilingkungan universitas. Dalam hal ini tetap harus diperhatikan syarat bahwa kesibukan ini tidak mengganggu aktivitas utama sebagai mahasiswa, yaitu belajar.
Untuk pekerjaan “freelance” dan wiraswasta seperti misalnya “web-designing”, “programming”, berdagang dan seterusnya, diperlukan ijin khusus dari imigrasi. Begitu juga apabila seseorang mendapatkan tawaran pekerjaan yang jam kerjanya melebihi batas dalam aturan, maka akan dibutuhkan ijin khusus dari “Arbeitsagentur” dan dari imigrasi. Meskipun “Arbeitsagentur” sudah menyetujui, masih ada kemungkinan pula bahwa imigrasi akan menolak, seandainya hasil observasi mereka menyimpulkan bahwa perkembangan studi mahasiswa yang bersangkutan terganggu oleh aktivitas pekerjaannya.
Mengenai nilai upah kerja, 450€ per bulan adalah status “mini-job”, yang mana secara kasar bisa dikatakan batas aman pekerjaan sambilan yang bisa dilakukan oleh mahasiswa tanpa resiko. Karena jam kerja dan nilai upah sebesar itu sudah pasti tidak akan melebihi batas aturan yang diijinkan bagi mahasiswa asing, dan masih bebas pajak, juga bebas “Sozialabgaben”.
Sebab di Jerman ada standar UMR (8,5 € perjam) dan kalaupun ada yang bandel dan cuma mau menggaji mahasiswa lebih rendah dari itu, kurleb per jam nya masih ada dikisaran 5-7 € (biasanya di gastronomi, kalau di pabrik atau perusahaan biasanya akan taat aturan).
Tergantung industri, jenis pekerjaan dan kota/negara bagiannya (tingginya biaya hidup masing-masing negara bagian itu beda), maka ada juga yang bisa beruntung mendapatkan upah sampai 15€ per jam, terutama jika itu berupa “seasonal job”, seperti “Ferienjob” atau jadi tenaga cabutan untuk “Messe” (eksibisi) misalnya.
Bagi yang masih berstatus siswa Studienkolleg atau kursus bahasa, limit jam kerja jauh lebih ketat. Mereka tidak bisa bekerja sebanyak yang sudah resmi berstatus mahasiswa di perguruan tinggi.
Sedangkan batas gaji 8354€ (sekarang 8820€) itu adalah batas maksimal gaji yang bebas pajak dalam setahun (PTKP istilah pajak indonesianya, yg diperuntukkan bagi student).
Pada prinsipnya memang bisa aja sih kerja sampai dapat gaji sebanyak itu, hanya saja pada prakteknya dan umumnya sebagai mahasiswa jumlah itu masih ngga akan terjangkau karena beberapa faktor.
Seberapa banyak memang bisa dijalani kerja sambil kuliah ini?
Orang jerman sendiri tidak mudah mencari pekerjaan yang layak. Berapa besar kemungkinannya sebagai orang asing yang berstatus masih mahasiswa pula dengan kemampuan bahasa yang jelas kalah dari “native speaker” dan pada umumnya nggak ada “network” yang menjanjikan, untuk bisa bersaing dengan orang lokal?
(Jadi ingat pertanyaan klasik yang sering diajukan teman lama, khususnya teman sekolah jaman SMA yang baru aja ada kontak setelah lama ngga ada kabar: “Ana, cariin kerjaan di Jerman dong, disana pasti lebih enak kan… gajinya gede bla bla…”
Ah ya, dikiranya gaji gede pengeluaran nggak gede kali hehehe. Di Zürich juga gaji 2 kali lipat daripada di Jerman, tapi harga kebab misalnya juga dua kali lipatnya di jerman LOL. Kadang-kadang emang orang itu nanyanya ngga logis banget wkwkwkwk.
Dimana-mana rumput tetangga selalu lebih hijau. )

Tentu saja tidak sedikit diantara mahasiswa asing yang melanggar aturan dan kerja dengan status “gelap”, melebihi batas yang diijinkan tentu aja. Dan karena gelap pula jadinya rela dibayar jauh lebih rendah dari pada UMR dan tanpa asuransi tentunya.
Itu adalah pilihan pribadi dan saya nggak mau nge-judge ya, tapi perlu saya ingatkan bahwa konsekuensi yang diambil tidak kecil. Bagi pemilik visa family ataupun WN Jerman, melanggar batas jam kerja bagi student sih ngga terlalu masalah, hanya status pajaknya aja yang berubah.
Tapi bagi pemilik visa studi murni tentunya ngga sesimpel itu.
Jika sampai ketahuan sudah tentu ada sanksinya, kalau sekedar didenda sih masih mending ya… tapi gimana coba kalau visa dibatalkan sementara studi sudah setengah jalan?
Lebih apes lagi kalau ketahuannya pas udah mau rampung, apa nggak sayang?
Selain itu di Jerman asuransi adalah obligatoris, jika sampai terjadi kasus kecelakaan kerja dan cukup serius, gimana coba? Siapa yang akan tanggung jawab? Dan ketika hal semacam terjadi, sudah pasti yang tersembunyi takkan bisa lagi disembunyikan ==> double bad luck.
Last but not least, bekerja terlalu banyak sudah pasti akan membuat studi keteteran.
Kuliah di jerman tidak cukup hanya butuh pintar, tapi juga “hard work” dan “persistence”. Harus tahan banting. Ada berapa persen sih jumlah orang jenius?
Rata-rata yang ada adalah adanya kecerdasan akademis yang cukup memadai untuk belajar dan kemauan untuk bekerja keras dalam mengejar kekurangan.
Kalau ingin studi lancar, maka bisa dipastikan sebagian besar waktu harus dihabiskan di perpustakaan. Karena itu, kerja sambilan seharusnya benar-benar cuma merupakan sambilan. Tidak boleh terlalu “excessive”, kalau tidak ingin terancam gagal.
Kuota kegagalan di jerman secara umum saja sudah cukup besar, apalagi bagi orang asing yang sudah jelas punya kendala bahasa. Sudah cukup banyak kegagalan mahasiswa asing yang sebenarnya tidak bodoh, tapi disebabkan oleh kekurang mampuan dalam me-manage waktu, kurang asertif, kurang belajar karena kebanyakan kerja  dan terlalu menggampangkan sesuatu.

Belajar sambil kuliah sepenuhnya itu disini memang tidak mustahil, tapi dalam melakukan “self assesment”, yang terpenting adalah harus berani jujur pada diri sendiri, supaya solusi yang diambil bisa optimal. Harus jujur dalam menilai mampu tidaknya kita; apakah kita memang tergolong cerdas dan tidak butuh waktu lama dalam memahami setiap pengetahuan baru; punya kemampuan bahasa asing yang bagus;
ataukah kita cenderung tergolong yang berkemampuan secukupnya dan butuh ekstra rajin untuk bisa menguasai keahlian tertentu.
Kedua tipe sama-sama bisa sukses dan sama-sama bisa gagalnya.
Yang jelas jangan sampai memompa kepercayaan diri terlalu berlebihan hingga sampai pada level menipu diri sendiri. Karena itu hanya akan mencelakai diri sendiri saja.
Bagi yang tidak tergolong “pintar” baik secara kognitif maupun pragmatis, serta dalam manajemen waktu, maka saya cenderung menyarankan untuk menyiapkan modal finansial yang memadai sehingga tidak perlu banting tulang dalam bekerja dan bisa menyediakan cukup waktu untuk belajar.
Atau menyelesaikan S1 di Indonesia aja dulu, baru kemudian mencari beasiswa untuk S2 di jerman. Jadi ngga perlu mikirin harus kerja keras sampai mengabaikan belajar demi bertahan hidup di negeri orang. Dan fase Studienkolleg pun tak perlu lagi dijalani. Terutama karena saat ini jumlah Studienkolleg negeri yang ada sudah semakin banyak berkurang sehingga perjuangan untuk mendapatkan tempat semakin berat, mengingat kita masih harus bersaing dengan mahasiswa lain dari banyak negara.
Terlebih lagi juga karena beban studi master tidaklah seberat bachelor. Di level master mahasiswa setidaknya jauh lebih fleksibel dalam memilih subjek yang diminati, jadi semangat belajarnya biasanya juga lebih gede.
Oke deh, sementara ini dulu.
Semoga bermanfaat.

Source: https://www.uni-bonn.de/studium/studium-in-bonn-fuer-internationale-studierende/betreuung-auslaendischer-studierender/pdf.dateien/arbeitsmoeglichkeiten-fuer-ausl.-stud.-2012

https://www.uni-bonn.de/studium/studium-in-bonn-fuer-internationale-studierende/studium-mit-abschluss/im-studium#Arbeiten_w_hrend_des_Studiums

Biaya sekolah di Jerman

Standard

Hallo semuanya…
Selama ini saya sering mendapat pertanyaan melalui “private message” tentang biaya yang dibutuhkan untuk sekolah dan hidup di Jerman, juga apakah benar sekolah di Jerman itu gratis. Ini pertanyaan yang jawabannya gampang-gampang susah ya. Karena biaya hidup itu selalu relatif tergantung standar kualitas hidup yang dituntut oleh masing-masing orang dan juga dimana mereka tinggal. Tidak semua negara bagian level UMR nya sama dan level biaya hidupnya pun pasti saling menyesuaikan.

Tapi ok-lah saya akan coba kasih gambaran perhitungan kasar dengan standar hidup yang “relativ bescheiden” alias “modest” bin sederhana di wilayah yang juga ngga tergolong mahal (di Saarland).
Biaya Visa dan segala tetek bengek selama masih di Indonesia ngga saya masukkan, karena itu baru relevan kalau keputusan sudah diambil bahwa kuliah di Jerman memang tetap jadi pilihan ^_^. Saya cuma cantumkan kebutuhan kasar untuk bisa menjalani hidup sebagai mahasiswa di Jerman ya hehehe.

So… yang dibutuhkan (2016/2017) adalah kurang lebih sebagai berikut:
1. Jaminan finansial untuk visa studi
Saat ini yang resmi diminta minimal sejumlah 8640€ , dengan asumsi kebutuhana hidup minimal standar Student sejumlah 720€ per bulan. Karena itu, rekening tersebut harus diblokir dengan kemungkinan tarik tunai maksimal 720€ per bulan.
Jumlah ini “teoretis” harus kembali utuh setiap kali si pelajar ingin memperpanjang visa studinya. Hanya saja, pada prakteknya bukti “print out account” tidak selalu diminta lagi saat proses perpanjangan, jika yang bersangkutan beruntung ketemu dengan staff imigrasi di Jerman yang ngga terlalu “strict”.
Karena ada kriteria lain yang jauh lebih penting, yaitu “Immatrikulationsbescheinigung” (tanda bukti kita masih berstatus mahasiswa atau bukti lain yang “adequate”) serta kadang akan dimintai surat keterangan dari Universitas jika si mahasiswa udah kuliah terlalu lama tanpa ada perkembangan positif terkait proses studinya (statusnya jadi cenderung mencurigakan, entah berpotensi DO atau “fake student” dan jadi tenaga kerja ilegal misalnya). Hal ini kalau staff imigrasinya disiplin bisa menjadi sandungan yang jauh lebih serius daripada duit.

2. Semesterbeitrag
Kuliah di Jerman saat ini memang benar tidak ada “Tuition Fee“, setidaknya berlaku untuk jurusan yang tergolong normal dan bukan di universitas “pure” swasta yang tidak mendapatkan suntikan dana sama sekali dari negara. Kalau pengen kuliah jadi pilot misalnya, tentu saja “policy tuition free” ini tidak lagi berlaku, karena pendidikan pilot itu istimewa dan mahal hehehe. Di Perguruan Tinggi tempat saya kuliah tempo hari biayanya 69.900€ untuk 6 semester, jadi level Bachelor (harus dibayar dimuka semuanya, atau uang muka 50.000€ dan sisanya dibayar per bulan 1.800€ bisa), kerjasamanya dengan Lufthansa.
Itu cuma satu contoh, tentu ada jurusan-jurusan “istimewa” lainnya yang jelas tidak gratis seperti iklan hehehe.
Selain itu sekalipun kuliah di kampus yang ngga meminta “tuition fee”, tapi masih ada aspek biaya yang “seringnya” ngga di ceritakan dalam iklan ataupun promosi nya para agen pendidikan hehe. Yaitu “Semesterbeitrag”. Ini adalah biaya administrasi plus hak untuk bisa menikmati setiap transportasi publik yang beroperasi di Bundesland dimana Universitas terkait berada.
Semakin besar wilayah “Bundesland“-nya dan makin variatif jenis transportasi publiknya, serta semakin banyak fasilitas yang di “cover” oleh kartu mahasiswanya, sudah tentu “Semesterbeitrag” semakin tinggi. Yang mana biaya ini tidak bisa dihindari, jadi punya mobil dan ngga suka naik bus pun nggak ngaruh. Tetep Semesterbeitrag harus bayar karena sistemnya subsidi silang, supaya perusahaan transportasi bisa tetap menyediakan tiket untuk pelajar dengan murah.
Jadi andaikata masih menerapkan “tuition fee” ya berarti biayanya “Studiengebühren alias tuition fee + Semesterbeitrag“.
Di beberapa Universitas tertentu di Bundesland tertentu ada yang Kartu Mahasiswa nya juga sekaligus bisa dipake sebagai Kultur-Ticket alias bisa gratis masuk ke museum dan semacamnya. Ini berlaku sepanjang semester, jadi sebenarnya tergolong murah banget kalau dibandingkan yang harus dibayar oleh orang dewasa non student untuk menikmati fasilitas-fasilitas yang sama.
Bandingkan saja, Semesterbeitrag saya yang terakhir 195€ berlaku 6 bulan dan untuk seluruh Saarland, sementara suamiku cuma untuk area nomor 111 (dalam kota saja) udah kena ca. 57€ per bulan atau jika ambil kontrak setahun jatuhnya perbulan ca.48€.
Makanya jadi mahasiswa itu enak, karena itu saya suka keluyuran sendirian suami ditinggal dirumah wkwkwkwkwk (pengennya kuliah aja terus hahahahaha).
“Rate” Semesterbeitrag di Jerman saat ini ada di kisaran 195€-350€

3. Asuransi kesehatan
Setiap orang yang berdomisili di Jerman wajib dicover asuransi. Biaya premi untuk pelajar variatif dikisaran 65-75€/bulan.
4. Biaya kos/kontrak kamar
Tergantung tinggalnya dimana dulu dong… di München yang kota mahal atau di Saarland yang miskin hehe? Begitu juga lokasinya, didesa atau dikota. Tapi kalau diambil rata-rata, selama bisa mendapatkan tempat di “Studentenwohnheim” (dormitory for students) biayanya untuk kamar terkecil  210€, dengan “Kaution” (uang jaminan kontrak) mulai dari 390€-450€. Itu biaya listrik, air, sampah dkk belum termasuk. Kalau inklusif ya bisa mulai 270€-an paling murah. Kalau bisa/mau tinggal di WG  alias “home sharing” ya bisa lebih murah lagi sedikit. Kalau mau tinggal sendiri di single apartment biaya sewa termurah rata2 ada dilevel 280-350-an €/bulan, kamarnya kecil tentu aja (apartemen studio).
5. Biaya makan…
Ini sangat relatif… boros atau tidak, dan memperhatikan kualitas atau nggak, suka masak atau tidak. Tapi untuk perhitungan kasar bisa lah dianggap 150-200€ / bulan cukup
6. Alat tulis, fotokopi, print dsb… ca. 33 € /bulan (di kampus aku setiap semester mendapat 300 lembar print gratis di lab. computer jadi ngga sampai segitu sih pengeluaran saya untuk pos ini. Cuma kayanya sih belakangan jumlahnya turun banyak. Sejak ada di semester lanjut saya udah ngga begitu banyak butuh print out lagi. Paper dan assignment saya kirim dalam bentuk Pdf dan kalaupun butuh cetak, karena jumlah ngga banyak saya toh punya printer di rumah, jadi kalau ngga kebetulan lagi ada seminar ya enggan pergi ngampus kalau hanya untuk cetak beberapa lembar saja. Karena itu saya ngga begitu memperhatikan lagi berapa lembar cetak gratis di kampus yang masih di kasih tiap semesternya).
7. Internet, telepon, GEZ ca. 35 € /bulan
8. Baju, sport dan hiburan…ini sangat relatif… “set your own budget” hehehe. Tapi di universitas ada banyak “fasilitas sport” yang sebagian besar bisa dinikmati gratis oleh mahasiswa, termasuk aerobik ataupun zumba. Yang harus bayar itu biasanya yang “special offer” hingga kampus mesti bayar tutor profesional dari luar, seperti misalnya: latin dance, tari perut, taichi dan lain-lain yang eksotis gitu deh. Tapi itupun nggak begitu mahal, karena tiket berlaku per-semester. Aku dulu ikut latin dance per orang bayar 24 € berlaku 1 semester, sangat murah tuh.
(perkiraan kasar dari forum student pos ini kurleb butuh ca. 63€/bulan)

Sedangkan kalau mau dijumlah total, untuk ukuran Saarland bisa diperkirakan kebutuhan kasar Student tiap bulan dalam prakteknya ada di kisaran 700€-900€ (apakah anda perokok, suka minum bir, hobi clubbing atau tidak juga mempengaruhi jumlah pengeluaran soalnya :-D. Rokok itu kan membakar duit, makin banyak ngerokoknya, pengeluaran makin banyak. Bayangin aja lah, satu pak rokok ca. 5,60€ kalau seminggu 2 pak aja berapa coba sebulannya, padahal bisa jadi lebih kan kalau udah perokok berat. By the way, dari 5,60 € itu pajaknya 3,97€ jadi lebih mahalan pajaknya daripada nilai rokoknya hehehe. Masih mau merokok?!?)
Karena itu jaminan finansial yang diminta untuk visa jumlahnya dengan realita kebutuhan minimal yang mungkin dijalani cuma beda-beda tipis lah.

Nah, monggo di pertimbangkan sendiri kira-kira bisa ditanggung atau nggak.
Tentu ada kemungkinan kerja sambilan (tentang ini akan saya bahas lebih detail lain kali saja), tapi saran saya jangan dijadikan tulang punggung untuk biaya studi di Jerman.
Kenapa? Karena sekolah di Jerman itu susah, dan potensi DO itu ngga kecil.
Kuota kelulusan dari Universitas di Jerman per tahunnya (berlaku general bagi seluruh mahasiswa, termasuk warga negara setempat) rata-ratanya ada di kisaran 30%. Banyak yang gonta-ganti jurusan tapi banyak juga yang DO.

Unbenannt

Source: Statistisches Bundesamt

Gonta-ganti jurusan ini untuk orang asing juga sudah merupakan problem tersendiri terkait visa, ngga ada garansi diperpanjang kalau keseringan soalnya ^_^. Sejauh yang saya ingat bahkan ada aturan tertentu lagi tentang transfer jurusan ini terkait masalah visa. Karena itu, kalau ngga bener-bener pinteeer baik secara kognitif maupun pinter dalam me-manage waktu dan proses kuliah-nya, bisa jadi ya malah berantakan… gagal deh, karena kebanyakan kerjanya daripada belajar-nya (tidak jarang anak-anak yang kerja melanggar aturan batas yang diijinkan soalnya).

Perlu di ingat: melanggar aturan bagai pemilik PR atau WN Jerman tidak seram efeknya, paling-paling cuma kena pajak saja, tapi kalau bagi pemegang visa studi ya bisa cukup “hitam” prospeknya kalau sampai ketahuan.
Karena itu… paling aman tetap memperhitungkan biaya diatas  bisa di penuhi oleh ortu masing-masing, karena tugas utama pelajar tetap adalah untuk belajar. Kerja sebaiknya cuma di jadikana “pasokan tambahan” saja.

Sampai jumpa lagi 🙂