Tag Archives: wanita

Renungan kecil di Hari Kartini

Standard
Saya yakin banyak dari kita yang sering mendengar kalimat begini:
“Sia-sia amat ya sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma jadi Ibu RT dan ngurus anak doang? Punya banyak ilmu rugi amat nggak bisa dimanfaatkan, mending nggak usah sekolah aja sekalian, buang2 duit dan energi aja.”
Well, saya cuma punya satu balasan untuk ini:

>>>Sejak kapan yang namanya memiliki banyak ilmu itu merugikan dan sejak kapan pengetahuan itu tidak ada manfaatnya?
Apakah tujuan orang sekolah saat ini memang cuma untuk dapat ijazah dan buat nyari kerjaan doang? Apakah manfaat ilmu pengetahuan itu cuma bisa diukur dari banyaknya duit yang bisa dikumpulin dengan bantuannya?

Jadi bukannya lagi untuk membuat pikiran dan perspektif kita menjadi luas? <<<

Kalau memang tujuannya cuma untuk nyari ijasah, yeah…
pantas aja deh jaman sekarang ada begitu banyak orang dengan titel berderet tapi pikirannya picik, sempit kayak katak dalam tempurung dan begitu kolot serta ignoran.
Last but not least, ada ucapan satu narasumber saya untuk buku KKC yang sangat saya suka karena saya anggap sangat mengena, sehati sama saya dan saya rasa layak jadi renungan banyak orang tua khususnya kaum wanitanya, yaitu ini:

“Adakah pengasuh, pembimbing dan pendidik pribadi harian yang lebih baik lagi buat anak kita, selain ibu kandungnya sendiri yang punya kompetensi mumpuni dan berpendidikan tinggi? Lebih baik mana dengan membiarkan tumbuh kembang mereka dibawah asuhan utama dari orang bayaran yang adakalanya bahkan ijasah SMP aja belum tentu punya, apalagi hanya untuk ditukar dengan pekerjaan yang hasilnya setelah dipotong biaya bayar pengasuh belum tentu sebanding nilainya dengan pengorbanan yang diberikan ( seperti: waktu, energi, serta masa2 berharga bersama anak yang takkan terulang)?”
Well, saya disini ngga bermaksud merendahkan peranan asisten RT ataupun mereka yang tidak bersekolah tinggi, apalagi mencela mereka para wanita yang suka berkarir diluar rumah.

Not at all…
Saya cuma ingin memberikan perspektif lain bagi para wanita yang tak jarang merasa terintimidasi oleh ucapan-ucapan nyinyir macam diatas dari lingkungan sekitarnya.

Setiap kali saya melihat perseteruan antara kaum “pro-karir” dengan “ibu RT” yang begitu seru dan kadang bahkan ganas-ganas komennya, saya merasa semua itu sangatlah konyol dan seringkali argumen-argumennya juga sungguh absurd dan intinya cuma saling melecehkan saja.
Ada banyak alasan kenapa seorang wanita berkarir aktif setelah berkeluarga dan memiliki anak . Tidak sedikit yang melakukannya lebih karena tuntutan keadaan. Walaupun memang ada juga yang melulu karena ambisi, yang mana menurut saya juga bukan sesuatu yang secara prinsip pantas dianggap negatif ataupun disalahkan.
Kata siapa ambisi cuma boleh dimonopoli oleh laki-laki coba?
Dan bukankah tanpa adanya wanita pintar yang punya ambisi, kita tidak akan punya tokoh-tokoh macam Angela Merkel, Indira Gandhi, Sri Mulyani, Bu Menteri Susi, Bu Menteri Retno dst?!
Hanya saja, sampai pada titik tertentu, menurut saya pribadi kadangkala memang perlu lagi kita tanya pada diri sendiri dalam hal ini, apakah “membentuk keluarga dan memiliki anak” memang adalah pilihan yang tepat untuk hidupnya.
Bukankah kalau memang mengaku dirinya wanita independen yang mumpuni, seharusnya kita juga cukup mandiri dan berani untuk tidak membiarkan orang lain … meskipun itu keluarga sendiri … memaksakan pilihan, target, ataupun value tertentu pada kita, seperti misalnya dalam urusan ‘jodoh dan anak’, jika itu membuat hidup kita sendiri bukannya bahagia dan “content”, tapi justru malah cenderung menjadi terbebani’?!?
Sementara disaat yang sama juga menyeret individu lain: yaitu *sang partner* dan bahkan *anak-anak* yang pada dasarnya nggak pernah meminta untuk dilahirkan, jika akhirnya hanya harus menerima nasib untuk di “nomor sekian“-kan atau yang lebih parah lagi: “ditelantarkan”?!
Bagi yang bisa menjaga cukup keseimbangan, tentu lain lagi persoalannya ya …
Sebaliknya pula bagi yang kebetulah tidak memiliki peluang untuk menerapkan ilmu akademik dan keahliannya didunia profesional setelah memiliki anak, tak ada perlunya juga berkecil hati apalagi sampai merasa terintimidasi oleh nyinyiran orang kurang kerjaan.
You, as a highly educated and knowledgeable mother, are definitely the best teacher, carer and baby sitter your children could ever get.
So there is nothing to regret at all for spending so much time and effort in studying.
Ilmu pengetahuan itu ngga ada masa kedaluarsa, ngga akan basi, dan akan selalu ada manfaatnya, setidaknya jika kita memang benar-benar memahami apa intisari dari ilmu itu sendiri.
 
Disaat yang sama tak ada alasan pula bagi siapapun untuk nyinyirin para wanita yang memilih untuk menjadi “stay home Mommy“.
Emangnya kita ini siapa sih, sok tau amat dengan apa yang bikin orang lain bahagia ataupun susah?
Kalau kondisi finansial yang bersangkutan memang mengijinkan untuk bisa hidup layak dengan satu pencari nafkah aja, sementara yang bertugas nyari duit aja juga nggak komplen, lantas apa pula urusannya dengan orang lain?
Ngga semua wanita yang menjadi “stay home Mom” itu merasa ngga berguna cuma karena nggak menghasilkan duit lho, apalagi merasa ditekan oleh pasangannya.

Lagipula, kata siapa pekerjaan itu harus selalu berarti tiap hari ngantor? Itu pikiran kuno. Jaman digital begini, yang namanya “home office” itu bukan hal yang luar biasa lho.
Dan kata siapa pula bahwa “sukses dan performance” itu cuma bisa dinilai dari banyaknya uang ataupun piagam/piala yang dikoleksi?
Mengutip kata suami saya: “Dein Wert hat nichts mit Geld bzw. Arbeit zu tun”.
(Nilai dirimu tidak ada hubungannya dengan duit ataupun pekerjaan).
Karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk memiliki “self-esteem” yang rendah hanya karena ngga menyetor duit ke kas rumah tangga, jika memang keadaan finansial tidak memaksa kita untuk bekerja.
Orang hidup ngga harus mendongak terus kan ya?!
Kalau hobinya mendongak ketinggian melulu sih, mau sampe kiamat juga pasti akan selalu ada yang kurang lah hehehe. Jadi, sepanjang kondisi finansial sudah bisa dibilang “cukup”, mestinya status ‘bekerja’ ataupun ‘tidak bekerja’ tidak perlu menjadi isu, apalagi sampai dibiarkan menjadi beban pikiran, seramai dan semeriah apapun omongan orang disekeliling kita.
Aktivitas dan kesibukan untuk mengisi waktu luang  (yang berlebihan) itu kan nggak selalu harus diwujudkan dengan karir yang membawa duit.

Jadi kesimpulannya:
“Jika haus akan ilmu, belajar sajalah terus sebanyak yang diinginkan, baik itu di bangku sekolah ataupun diluar lingkungan akademis.
Ilmu bisa diperoleh dari mana saja dan belajar itu nggak mengenal umur, status ataupun gender.
Tak perlu pula memusingkan apakah nantinya ilmu yang didapat itu semuanya bakal menghasilkan duit atau nggak, karena orang yang benar-benar berilmu (bukan sekedar pengoleksi ijasah lho), itu tidak akan pernah merugi.”
Sampai jumpa lagi lain kali 😉

Teman bukan sodara bukan, tapi cerewet, kepo dan usil…

Standard

Hari ini pas nge-brunch aku minum air kelapa muda lalu ingat almarhum nenekku yang dulu ngomel waktu aku kecil sampai gadis suka manjat kelapa gading dibelakang rumah karena pengen minum airnya yang manis dan segar. Aku cerita kalau nenekku selalu nyeletuk: “Anak gadis pecicilan, nanti ngga ada yang mau nikahin kamu lho.” (…nobody would want to marry you!“)
Suamiku ngangkat alis nyeletuk: “And that kind of statement would definitely only be said to a girl, isn’t it? Why is it always only about marrying issue? Is the aim of life for women really only to get a man and be a baby factory? Ok, let’s say it’s the core issue of evolution, but if we really would judge it from this point of view, then why are the men excluded here? Why are such a remark never said to boys?, kemudian setelah menenggak tehnya kembali melanjutkan dengan ini,“Well, apart from that… it is obvious now that I’m not just a *Nobody*. I married you  😀 “(narsisnya kumat hehehe).

Gara-gara ini aku jadi teringat pada insiden beberapa waktu lalu ketika Ira Koesno menghebohkan jagad virtual dengan penampilan “excellent-nya dalam Debat Pilkada Jakarta dan kecantikannya yang tak memudar sedikitpun diusianya yang mulai mendekati setengah abad. Kenapa aku jadi geregetan?
Karena diluar hebohnyaa netizens yang terpesona dan kagum baik pada kecantikannya dan prestasinya, ternyata ada yang nggak kalah mengundang berita: “statusnya yang masih single”. Dan komentar-komentar tentang itu sungguh sangat menyakitkan hati, nggak cuma bagi si target “bullying” tapi bagi setiap wanita yang masih punya pikiran waras sebenarnya sih.

Ya… saya sungguh heran betapa sukanya orang-orang di negeriku ini mencari-cari sisi negatif dari seseorang bahkan meskipun ada begitu banyak hal positif yang sebenarnya ada pada dirinya. Betapa pula sukanya sok kasih petuah sama orang dalam hal yang sebenarnya tergolong urusan pribadi seperti: pilihan hidup, jodoh dan agama. Padahal mereka itu statusnya bahkan teman aja kadang bukan, sodara pun bukan.
Andai saja mereka ini mau ngaca, kira-kira dirinya suka nggak kalau ada orang yang sama sekali bukan siapa-siapanya ngasih petuah panjang lebar tentang urusan pribadinya, tanpa diminta. Ini yang bersangkutan (yang dikuliahi) sama sekali ngga lagi dalam posisi curhat dan minta dikasih saran lho ya. Mungkin ada yang memang sedang butuh saran, tapi sama sekali ngga ada hubungannya dengan “isi kuliah” nya itu, gagal fokus deh ceritanya. Yang ditanya A jawabannya X,Y,Z…ngga sesuai dengan isi pertanyaan, melencengnya jauuuuh banget. Nanya gimana cara urus dokumen nikah A,B dan C, jawabannya tahu-tahu “jangan nikah dengan yang begini atau begitu…dosa, nggak sah dsb dst… Lah emangnya yang nanya dosa atau nggaknya itu siapaaaaa coba?
Emangnya hanya dengan embel-embel:”jangan tersinggung ya…saya ngga bermaksud SARA…dst dsb”, lantas sudah cukup untuk membuat kekurangajaran anda bisa dimaklumi begitu?
What a ridiculous remark…
Emangnya hanya dengan embel-embel kata pengantar begitu lantas membuat “statement yang “rasis” trus bisa jadi berubah nggak rasis begitu?
Apakah hanya dengan kasih embel-embel begitu lantas kalimat yang nyakitin bisa berubah kesan menjadi tawar begitu?
Coba aja kita praktekkan yang sebaliknya, kira-kira enak nggak rasanya…?
Terlepas dari apapun topik yang dibahas, intinya cuma satu: “ikut campur urusan pribadi orang, dan ngasih kuliah panjang lebar soal isu pribadi orang lain tanpa diminta, apalagi ngomentari soal agama, moral dan akhlak segala, itu artinya cuma ini:
TIDAK SOPAN dan TIDAK PUNYA TATA KRAMA.

Contoh lain ya insiden yang menimpa Ira Koesno kemarin itu…
ketika orang menyatakan kekagumannya sama dia, eh adaaaa aja yang mengejeknya macam-macam hanya karena dia belum menikah…seolah-olah “MENIKAH” itu adalah sebuah PRESTASI yang membanggakan dan tujuan hidup yang terbaik bagi setiap orang.
Hah… kalau sekedar nyari laki-laki untuk diajak menikah doang mah… gampaaang lagi.
Semua orang juga bisa lah… tentu aja dengan catatan, ngga usah pake kriteria, pokoknya asal bisa bercinta dan bikin anak gitu…
Ngga usah pula nyari yang bertanggung jawab segala, yang penting “Menikah” kan, nggak jadi perawan tua kan?
Gampaaaaaaang. Apalagi Ira cantik, pinter dan banyak duit pula… laki-laki mana ngga mau sama dia, asal ngga perlu memenuhi kualifikasi apapun sih, yang penting laki-laki dan bersedia menikahi kan?? Biar dia ngga perlu berstatus “perawan nggak laku begitu?”

Tuduhannya macam-macam deh:
-ada yang bilang “mungkin dia merasa paling sempurna, nyarinya anak raja” segala.
Heh, anda ini siapa sok tau amat. Kenal juga nggak…
-ada pula yang statusnya perempuan bisa-bisanya ngomong: “bohong kalau sendiri itu bisa happy, emangnya tinggal di hutan?”
Eh mbak, hanya karena situ hepi cuma karena sekedar ada “pejantan” yang mau menikahi situ dan ngasih banyak anak doang, nggak lantas berarti semua wanita juga bakal hepi hanya karena bisa nemu “anybody” asal berkelamin “laki-laki” dan burungnya bisa “berdiri” yang mau ngelamar ya mbak…
Jangan samain standar situ dengan standar semua orang, jangan sok yakin pula kalau tujuan hidup situ dengan tujuan hidup semua orang itu pasti sama lageeeee…
Kalau kualitas dirinya cuma mampu untuk “handle” barang pasaran, ya emang nggak logis kalau mau minta yang kualitas “premium” dong.
Tapi masak iya yang kualitas dirinya tergolong “premium” harus turun standar cuma biar bisa kawin yaaaa? Ada sih emang yang mau…tapi hanya karena ada satu dua perempuan yang mau gara-gara takut jadi bahan gosip, nggak lantas berarti yang lainnya juga harus mau pula kaaaaan.
Saya aja ogah membiarkan hidup dan kebahagiaan saya di kontrol oleh “gosip” dan orang-orang kepo model-model kayak anda begitu. Apalagi Ira Koesno wkwkwkkwk.

The biggest mistake a woman could make regarding this issue is: “If she gets married just for the sake of getting married. Getting married it self is not the problem, but if one really doesn’t want to get married, then one shouldn’t compromise at all. Getting married is not an obligation to fulfil for our parents. In the end, we’re the one that has to live our life, not them, let alone those strangers out there.

-ada pula yang bilang anak dan suami itu bahagianya 1000 kali dibanding materi, udah mau setengah abad..lekaslah menikah keburu tua…Kasihan siapa yang mau nikahin ayooo.
Hmmm… yang kasihan itu justru orang-orang model anda begini deh.
Tahu nggak kenapa banyak wanita asia yang usia juga belum ada 30 udah “ngelomprot” sementara yang single dan usia udah setengah abad masih kinclong?
Itu karena yang pada “ngelomprot” itu dulunya nyari suaminya asal-asalan aja yang penting nikah hingga akhirnya terperangkap mesti ngabisin umur sama laki-laki kayak begini ini.
Yang single dan tetep kinclong hidupnya bebas dari rongrongan suami kualitas kampret macam anda. 😀
Daripada dapat yang model begini, hidup sendiri jelas lebih bahagia, bebas stress, makanya jadi awet muda hehehehe.
Wanita yang kepalanya punya isi itu berdandan dan merawat dirinya bukan sekedar untuk menyenangkan laki-laki. That’s totally wrong. Mereka merawat diri dan berdandan karena mereka ingin merasa cantik untuk dirinya sendiri, karena dia merasa senang dan puas ketika bercermin dan melihat daya tariknya sendiri.
Sedang untuk pasangan hidup, yang kami cari adalah pria yang akan tetap membuat kami merasa menjadi wanita paling cantik dan terbaik kualitasnya dimatanya, baik kami ini berdandan atau nggak, melayaninya dengan pengabdian sampai kayak orang yang dibayar ataupun nggak.
Jadi kami ngga perlu setiap saat was-was bakal dicampakkan begitu aja hanya karena udah ada keriput di muka, dan ngga perlu pula memborong segala jenis produk “sari rapet” dan pergi ke dukun-dukun koleganya “mak Erot” karena takut ditinggal nyari perawan lagi.
Buat apa nikah cepat-cepat kalau baru juga masa bulan madu lewat udah harus diliputi kekhawatiran tiap kali suaminya dapat teman baru berstatus “cewek”, dan harus selalu mencurigai setiap perempuan yang kinclong dikit.
Gitu dibilang nikah dan beranak itu selalu menjamin hepi…lebih hepi daripada single?
Kalau yang ngantri cuma yang kelas begituan mah saya bahkan berani jamin lebih hepi jadi perawan tua wkwkwkwkwk.
Kecuali memang perempuannya itu ngga punya kemampuan lain dalam hidup kecuali “macak, masak dan manak” doang sih… hehehe.
-ada yang bilang udah expired segala, ngga subur lagi… well… kalau memang pengennya cuma bisa beranak… walaaah… ngga usah nikah juga bisa lagi bikin anak wkwkwkkwk, dan dijamin Ira ngga bakal kesulitan ngasih makan anak 10 biji sekalipun biarpun ngga punya suami hahaha.

Dan masih banyak lagi deh… nggilani pokoknya dah…
Tapi intinya sebenarnya cuma satu…
WHO ARE YOU people??? Who do you think you are?
Siapa yang ngasih situ hak untuk menilai-nilai hidup orang?
Kalaupun ada orang yang setidaknya punya “relevansi” untuk ngasih opini terhadap seseorang dalam hal pribadi kaya gini, itu cuma “Orang Tua”, “Saudara” atau setidaknya “sahabat”, bukan “completely strangers” gini.
Dan “ke-kepo-an” begini ini ngga lantas jadi representasi orang nggak berpendidikan doang lho., sama sekali ngga mencerminkan status sosial lho.
Saya ini orang kampung asalnya, ortu saya nggak berpendidikan tinggi, tapi mereka tahu tuh menghargai privasi.
Orang yang dari dulu suka sok kepo begini itu justru bener-bener orang yang sama sekali asing buat saya, teman dekat bukan sodara juga bukan.
Ortu saya, sodara-sodara dan teman dekat saya… justru sama sekali ngga ada yang ceriwis dan kepo sampai kayak begini ini.
Meskipun saya tahu kalau ortu pasti ada harapan punya cucu pula, tapi sepanjang 7 tahun terakhir pernikahan saya, baru sekali ibuku menyinggung soal anak, itu baru lebaran tahun lalu. Dan gara-garanya juga karena dalam percakapan tiba-tiba ada topik yang relevan, jadi beliau pun ada “kesempatan” untuk menyinggung soal itu.
Itupun tidak berupa tuntutan tapi lebih sekedar ungkapan rasa khawatir, apakah semuanya baik-baik saja. Karena tipikal orang asia khawatir “suami” bakal nyari bini baru kalau nggak dikasih anak.
Dan jawaban saya pun singkat saja: “Ngga usah khawatir macam-macam. Suamiku adalah tipe pria yang cuma akan suka dan sayang dengan “anaknya” hanya karena itu adalah “anak saya”, dan bukannya tipe pria yang suka dan sayang sama “saya” hanya karena saya adalah “ibu dari anaknya”. Jadi cinta dan sayangnya sama saya ngga tergantung dari eksistensi anak dalam hubungan kami.
Jika sampai hubungan kami berakhir, yang jelas itu bukan karena faktor “anak”.
Sedang dari sisi aku sendiri, ibu cuma perlu tahu: bahwa dari sejak remaja dulu keinginan saya adalah mencari suami yang tidak memandang perempuan sekedar sebagai teman bercinta, pengelola rumah tangga dan pabrik anak saja.
I don’t wish to marry a man who against the idea of having kids at all for all reason, but neither do I want a man who desperately want kids so that my existence has no meaning to him at all.”
Dan ibuku pun tidak bicara lebih jauh lagi.
So…. ini yang jabatannya ibu kandung aja nggak cerewet… ini orang yang bukan siapa-siapa pula sok ikut campur amat. Nggak tahu malu dan nggak punya sopan santun amat ya.
Setiap wanita punya kriteria yang berbeda-beda dalam memilih pasangan hidup, dan kompromi serta menentukan prioritas memang dibutuhkan untuk itu, tapi nggak lantas berarti kita harus banting harga dengan drastis, kasih diskon besar-besaran sampai nyaris gratis cuma demi status pernah “menikah” doang.
I’m okay with your criterias, whatever they are… (i don’t care whether it’s shallow or high) but please deh… that’s only yours, but not mine…and not always mean the criterias of every single woman on this earth either.
Silahkan jalani hidup sesuai standar nilai kamu, tapi jangan cerewetin orang lain dan jangan gunakan standar pribadi kamu untuk menilai hidup orang lain karena itu ngga masuk akal dan nggak sopan.
Apalagi sampai menyuruh orang lain untuk juga menerapkannya, karena kalau sudah sampai pada tahap ini, namanya sudah bukan lagi “ketidak sopanan dan tidak adanya tata krama”, melainkan sudah merupakan “Pelanggaran Hak Asasi”.
Kebahagiaan itu adalah hal yang sifatnya sangat personal, cuma yang bersangkutan yang bisa menilainya, bukan orang lain.

Prenatal screening

Standard
Prenatal screening

Hallo teman-teman yang hobi baca ^_^…

Kali ini saya ingin berbicara mengenai tema yang biasanya menghantui para ibu yang sedang hamil muda: “prenatal screening“.
Sesuai dengan namanya, tema kali ini adalah tentang pemeriksaan dan diagnosa terhadap kondisi fetus di periode kehamilan trimester pertama, sehingga masih mungkin melakukan aborsi dengan alasan medis (setidaknya di Eropa), dimana diperiode ini resikonya masih relatif rendah (dinilai dari segi psikis maupun fisik calon ibu).
Di Jerman aborsi di masa kehamilan lanjut hanya bisa dilakukan dengan kondisi tertentu dan itupun tidak semua klinik mau melakukannya, karena itu “prenatal screening” memiliki peranan penting terutama bagi mereka yang kebetulan tergolong “high-risk pregnancy“. Data statistik menunjukkan bahwa sekitar 20% dari angka kehamilan yang ada tergolong “high-risk pregnancy” (note: statistik yang saya pakai disini adalah untuk wilayah jerman).

Sebelumnya saya ingin tegaskan bahwa saya tidak ingin berkomentar atas pilihan yang diambil masing-masing wanita apakah akan meneruskan kehamilannya atau tidak. Saya rasa orang luar sama sekali tidak berhak untuk men-“judge” keputusan orang lain. Pertama karena kita tidak tahu secara persis seburuk apa situasi si ibu dan bayi secara medis.
Seringkali ini tidak hanya menyangkut soal tema down syndrom semata melainkan juga apakah si fetus “überhaupt lebensfähig” (bisa bertahan hidup cukup lama) diluar rahim. Argumen bahwa jika bagaimana bisa seorang ibu menolak anak sementara banyak ibu lain bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan anak tidak selalu bisa diterapkan disini.
Come on, please let’s not be too naive…
Jika si ibu benar-benar tidak sanggup membesarkan karena satu dan lain alasan, lalu memberikannya untuk diadopsi, saya ingin tahu… berapa banyak sih orang yang mau dengan sukarela mengadopsi anak yang tidak sehat?
Kita nggak cuma bicara soal down syndrom lho, tapi juga “organ defekt” yang serius dan mungkin tak ada harapan sembuh, no quality of life, dalam hidup yang pendek itu mungkin si anak cuma harus menderita.
Kedua, karena hanya yang bersangkutan sendiri yang bisa menimbang kemampuan dirinya baik secara finansial ataupun psikologis untuk membesarkan anak yang tidak sehat.
Jika kita sendiri yang harus mengalami hal yang sama, saya yakin seyakin yakinnya bahwa kita ngga akan bisa semudah itu bicara.
So let’s just respect whatever people chose, it’s their life not ours.

Karena itu tolong dipahami bahwa tulisan saya ini hanya sebatas informasi yang sifatnya objektif agar setiap ibu yang sedang berada dalam kebingungan benar-benar paham dengan situasinya sebelum mengambil keputusan. Apapun itu keputusannya.
Hal ini mengingat bahwa banyak sekali ibu-ibu yang sebenarnya tidak mengerti betul tentang arti dari pemeriksaan yang disarankan pada mereka berikut konsekuensi dari hasil yang diperoleh, sehingga akhirnya malah mengalami stress yang tidak perlu, yang sebenarnya justru lebih merusak sifatnya bagi kesehatannya sendiri.
STRESS is harming us more severely as it could bring even more health problem, which could make everything even worse ^_^.
Ok, mari kembali ke topik utama :).

Yang tergolong pada “high-risk pregnancy” adalah berikut ini:
usia dibawah 18 tahun atau diatas 35 tahun, obesitas, diabetes, cacat fisik, riwayat penyakit serius (khususnya yang sifatnya genetis atau penyakit turunan), pernah keguguran/“stillbirth”(masalah kehamilan apapun yang lain sebelumnya), prediksi kehamilan dengan beberapa fetus sekaligus, calon orang tua adalah perokok/pengkonsumsi alkohol tinggi/pengkonsumsi obat terlarang, sudah melahirkan anak lebih dari 4 kali, “placenta insufficciency”, “chronic bladder infection”, dan ada masalah dengan kompatibilitas Rhesus.
Tingkat resiko akan makin meningkat seiring dengan makin banyaknya faktor-faktor resiko diatas yang dimiliki oleh sang ibu hamil.

Ada banyak jenis metode prenatal screening tapi disini saya cuma akan membahas beberapa yang paling sering menjadi rekomendasi oleh dokter saja, yaitu:

1. Nackentransparenz-Messung (Nuchal Translucency scan)
, atau kadang disebut sebagai “1st. trimester screening”.
Di Jerman 3 kali USG di setiap trimester adalah standard dalam jadwal kontrol kehamilan oleh ginekolog sehingga biayanya akan dicover oleh asuransi negara.
Pada dasarnya, organ defekt akan diketahui pada saat pemeriksaan trimester kedua untuk bisa dicari solusi medis yang bisa ditempuh demi menyelamatkan anak seoptimal mungkin, sehingga bagi yang tidak tergolong beresiko kehamilannya, 1st. trimester screening tidaklah benar-benar diperlukan, itu sebabnya pula mengapa dia tidak termasuk dalam standar pemeriksaan dan biayanya secara umum tidak ditanggung asuransi negara.
Tapi bagi yang menjadi klien beberapa jenis “private insurance” kadangkala masih bisa klaim atas biaya pemeriksaan ini dengan basis “kulanz=voluntary given for service purpose” walaupun si ibu tidak tergolong menjalani “high-risk pregnancy“.
Sedangkan asuransi negara hanya akan menanggung biaya untuk ini jika dokter menetapkan bahwa itu sangat penting untuk dilakukan mengingat riwayat medis si ibu.
Screening ini secara umum untuk mendeteksi kemungkinan adanya kelainan kromosom berikut ini: Trisomy 21  (yang utama) dan sisanya adalah: Turner syndrome, Trisomy 18, Trisomy 13 dan Triploidy. Probabilitas akan kelainan kromosom yang lainnya pada prinsipnya tidak bisa sepenuhnya terdeteksi dengan baik memakai metode ini.
Pemeriksaan ini memiliki rasio akurasi 90% dalam mendeteksi kemungkinan kasus Trisomy 21, tapi apakah sebenarnya artinya ini bagi kita?

Secara statistik, dari 100.000 wanita hamil, ada 170 probabilitas meningkatnya resiko akan kasus down syndrom.
Dari 170 ini cuma 153 yang resiko DS nya teranalisa meningkat (true posititve result), 17 sisanya hasilnya adalah potensial resiko tidak meningkat padahal hasilnya bisa jadi terbalik karena itu disebut “false negatif” (bayangkan shock-nya ketika sudah tenang merasa nggak beresiko tapi tiba-tiba ketika lahir terjadi hal sebaliknya.
Sementara itu, 99830 kasus lainnya realitanya tidak mengalami kasus DS. Meskipun begitu ada setidaknya 4991 fetus diduga akan mengalami DS dari hasil screening walaupun sebenarnya tidak. Mereka ini biasanya akan disarankan melakukan konsultasi lanjutan, screening tambahan disana-sini ==> STRESS dan KETAKUTAN, yang pada sebagian darinya sebenarnya tidak perlu ada dan bahkan 30 dari mereka menjadi kasus keguguran karena efek samping dari screening lanjutan yang sifatnya “invasive”.

Hanya saja kesimpulan yang terpenting disini yang paling sering disalah artikan adalah “HASIL dari NT-Messung itu CUMA sebuah PROBABILITAS.” Ini bukan sebuah diagnosa.
Informasi dari dokterku contohnya, menyatakan bahwa probabilitas kehamilan diusia 30 tahun untuk kasus DS adalah 1:895, seandainya kemudian setelah melakukan NT-Messung tiba-tiba mendapat hasil rasio resiko menjadi 1:300.
Apa sih artinya itu?
Tidak semua orang benar-benar menyadarinya lho.
Rasio ini artinya adalah: bahwa dari 300 kehamilan, hanya ada 1 bayi yang benar-benar mengalami DS. Dan apakah si ibu ini menjadi yang 1 ini atau termasuk pada yang 299 sisanya, itu tidak bisa dipastikan dengan test ini.
Jadi apakah kesimpulannya? Sangat jelas.
Artinya melakukan aborsi HANYA dengan berdasarkan hasil NT-Messung sebenarnya keputusan yang terlalu gegabah.
Bagaimana coba andai anak kita sebenarnya baik-baik saja, andai kita sebenarnya termasuk pada 299 ibu yang tersisa tadi?
Apalagi setiap klinik atau dokter bisa saja menemukan hasil yang berbeda karena mereka mungkin menggunakan software yang berbeda untuk menentukan rasio probabilitas ini.
Begitu juga sebaliknya, merasa 100% tenang sebenarnya kita juga nggak bisa.
Jadi… pada akhirnya hasil test ini bisa memberikan beban pikiran yang cukup berat pada para ibu yang pada sebagian dari mereka mungkin sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Selain itu, ada pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih penting disini, yaitu:
“Apa sebenarnya yang akan anda lakukan jika hasilnya resiko DS benar-benar  cukup tinggi pada anda? Apakah aborsi merupakan sebuah opsi bagi anda?
Jika jawabannya “YA”, well…oke.. mungkin memang screening ini jadi penting buat anda, bahkan meskipun harus bayar sendiri.
Tapi jika jawabannya adalah “TIDAK”, anda siap menerima apapun kondisi bayi anda… maka saya rasa screening ini sebenarnya tidak begitu perlu, dan mungkin hasilnya hanya akan makin membebani pikiran saja.

Screening ini menjadi sangat krusial artinya, hanya jika kita mempertimbangkan untuk aborsi diusia kandungan masih cukup dini. Karena potensi defekt yang lain, toh akan ketahuan juga begitu kehamilan berusia lebih tua nantinya, yaitu ketika menjalani screening terjadwal di trimester kedua.
Spina bivida misalnya.. itu juga baru akan terdeteksi paling cepat di usia kehamilan 22 minggu “anyway”, sementara NT-Scan dilakukan pada usia kehamilan antara 12-akhir usia 14 minggu. Begitu juga kelainan organ lain, pada dasarnya baru bisa dilihat lebih akurat apakah pertumbuhannya kurleb sesuai usia kehamilan atau tidak, baru ketika usia kehamilan masuk ke trimester kedua. Jadi NT-Scan tidaklah begitu menentukan disini.

Sementara jika alasan kita adalah untuk persiapan mental, well… saya rasa untuk ini tidak akan terlambat juga kan jika kita mengetahuinya ketika kehamilan berusia lanjut, ketika ciri-ciri yang bisa dilihat jauh lebih banyak dan lebih jelas?!
Karena pertimbangan inilah, mengapa pada akhirnya saya dan suami memutuskan untuk tidak melakukan NT-Messung, ataupun prenatal screening apapun.
Bahkan meskipun kami punya “private insurance” yang sudah memberikan konfirmasi tertulis bahwa mereka bersedia menanggung semua biaya prenatal screening atas dasar “kulanz”, termasuk bahkan jika kita mau mengambil metode test genetis terbaru melalui darah ibu yang tidak tergolong berbahaya buat janin dan terkenal tarifnya masih sangat mahal (dikenal dengan nama Harmony Test).

Saya sendiri jujur aja agak surprise dengan dukungan dari suami akan keputusan ini, mengingat dia sebenarnya tidak pernah mengharapkan punya anak, dia setuju memiliki anak cuma karena dia ingin melengkapi kebahagiaan saya saja.
Tapi komentarnya yang bikin saya benar-benar merasa tidak salah pilih partner adalah ini:
“Who can actually determine that someone with Down Syndrome would have a worse and unhappier life than those who are not? Having DS or having a family with DS is not the worst thing could ever happen to someone in this world.”
My husband is truly a caring person by nature… That’s the biggest reason why I chose him
(cieeee lebayyyyy …yang mau muntah monggoooo hahaha).
Jadi artinya kita sudah siap untuk menerima apapun yang terjadi nantinya :), karena itu pada akhirnya test-test itu tidak kita lakukan sama sekali.

Sebaliknya bagi kalian yang memilih melakukannya dan mendapatkan hasil yang mencurigakan, maka akan dibutuhkan pemeriksaan selanjutnya, yang sifatnya biasanya invasive yaitu:

2. pengambilan sample jaringan yang menyimpan informasi genetis bayi dari plasenta: 
Chorionzottenbiopsie/Chorionic villus sampling (CVS)

baby-2

source:embryology.med.unsw.au

baby

source: embryology.med.unsw.au

3. dari air ketuban: Amniocentesis

Tapi perlu diingat lagi bahwa kedua test ini memiliki resiko keguguran mencapai 1 %Padahal potensi kesalahan diagnosa metode ini juga masih ada walaupun hasilnya memang jauh lebih akurat dan pada dasarnya lebih merupakan sebuah diagnosa dan bukan sekedar probabilitas seperti pada NT-Scan.

Karena itu bagi yang secara finansial mampu dan ingin menjalani test untuk mengetahui adanya kelainan genetis pada fetus dengan tanpa risiko membahayakan calon bayi, mungkin jauh lebih baik untuk memilih melakukan:

4. Harmony pränatal test.
Disini sample genetis diambil dari darah si ibu sehingga tidak membahayakan fetus dengan tingkat keakuratan untuk mendeteksi Trisomy 21 mencapai setidaknya 99,5%, pada Turner Syndrom tingkat akurasinya 93%. Ongkosnya mencapai setidaknya 400€ (bisa lebih, tapi bisa juga kurang sedikit, tergantung berapa macam diagnosa yang ingin diketahui, dan di klinik mana test dilakukan). Cuma kembali jangan dilupakan bahwa artinya,  bahkan utk jenis test baru ini pun masih ada kemungkinan 0,5 % diagnosis meleset utk Trisomy 21 dan 7% ketidak akuratan pada kasus diagnosis Turner Syndrome, dan begitu jg pd jenis diagnosis kelainan kromosom lainnya. 

Dan perlu jg diingat bahwa TIDAK SEMUA jenis kelainan yang mungkin terjadi pada janin bisa di diagnosis dengan metode-metode diatas. Jadi sebenarnya menyalahkan dokter yang merawat Kita ketika Kita menjumpai hasil akhir diluar prognosis   juga tidak selalu bisa di benarkan 😊.

There are indeed still some error rates in those methods that one should always keep in mind. 

Well… kali ini sekian dulu ya ibu-ibu… walaupun lagi-lagi tulisan saya lumayan panjang hehehe, tapi semoga aja berguna bagi kalian yang sedang bimbang.

Source:

Harmony TestPränataldiagnostik1.st trimester screeningprenatal screening

“Tabu”-nya orang Indonesia itu kadang memang bikin “speechless”…

Standard
“Tabu”-nya orang Indonesia itu kadang memang bikin “speechless”…

Saya sering bicara bahwa sebuah kultur itu nggak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk daripada yang lainnya, mereka memang beda, cuma itu. Setiap kultur memiliki ciri khasnya masing-masing dan ada latar belakangnya pula mengapa begitu.  Dan pendapat saya ini masih tetap sama, akan tetapi itu adalah opini secara umum terhadap keseluruhan budaya sebuah bangsa, jadi nggak berarti bahwa saya anggap setiap jenis adab/nilai/kebiasaan/budaya tertentu dari suatu masyarakat itu sensibel dan sebaiknya dilestarikan.
Kultur itu sendiri pada dasarnya adalah hal dinamis, dari jaman prasejarah sampai abad digital akan selalu mengalami perubahan entah itu positif atau negatif arahnya sesuai dengan perkembangan pengetahuan kita (ilmu dan teknologi itu sendiri juga kan bagian dari produk kultur toh? Sejauh ini rata-rata orang cuma mengasosiasikan kultur dengan seni, kerajinan ataupun tradisi saja; padahal kultur itu sangatlah luas). Tentu saja yang ideal adalah jika perubahan itu membawa ke arah yang positif ya. Dan inilah yang ingin saya ungkapkan disini: beberapa hal tipikal di kalangan masyarakat indonesia yang cukup “irritating” hingga ingin saya bagi disini.

Tema kali ini ngga jauh beda dengan hal yang saya tulis beberapa hari yang lalu, hanya saja kali ini lebih relevan bagi khususnya kaum wanita. Saya tergelitik untuk menulis ini ketika kemarin tanpa sengaja membaca komentar-komentar ibu-ibu Indonesia pada artikel online tentang berita proses melahirkannya artis “Andien” yang kebetulan nongol di newsfeed akun medsos saya karena ada “mutual friend” saya yang komentar disitu.
Sejauh ini saya bukan tipe orang yang suka ngikutin berita artis, buat saya “up to date”soal artis sama sekali bukan hal penting dan nggak begitu menarik jadi seringnya saya ini cenderung kuper soal berita artis. Kalau ada info yang ngga sengaja nangkring gini aja sih, dan kebetulan isunya lumayan “nyentil” baru saya kadang iseng untuk nggugel karena penasaran mengapa orang-orang begitu hebohnya.
Seperti kali ini, yang menarik perhatian saya justru adalah komen-komen para wanita itu yang bikin saya jadi gatel. KENAPA?

Karena ada wanita-wanita yang bilang “JIJIK” dengan Andien, cuma gara-gara sang artis ini berbagi tentang proses kelahiran anaknya yang secara natural dan peran aktif sang suami dalam membantu proses kelahiran anak mereka.
Saya bisa mengerti bahwa tidak semua orang mau membagi hal-hal sakral dalam hidupnya, karena saya sendiri juga tidak. Saya juga ingin membatasi hal-hal yang ingin saya jaga dalam lingkungan pribadi saya dan mana yang bisa saya bagi kepada publik.
Saya juga bukan tipe orang yang suka PDA (Mamerin kemesraan dengan pasangan dimuka banyak orang, baik itu dulu ataupun sekarang ketika saya sudah tinggal di Eropa. Not that I find it unacceptable, but it’s simply not my cup of tea. I don’t need to show my affection anywhere anytime anyway)…
Tapi saya tetap tidak bisa bayangkan ada “wanita” yang sama-sama secara alami di desain untuk hamil dan melahirkan bisa-bisanya menganggap bahwa “proses kelahiran” dan ekspresi “cinta” dari pasangan hidup itu sesuatu yang “menjijikkan”.
Saya sampai penasaran dan nggugel lama untuk ngecek seperti apa sih foto-foto yang di bagi oleh Andien itu dan seperti apa dia menceritakan proses melahirkannya, kok sampai dianggap menjijikkan?!
Tapi sejauh ini yang saya temukan sama sekali belum layak untuk dikategorikan “menjijikkan” deh. Lebay juga nggak lho (nggak kayak acara lahiran anaknya si Anang yang sampai di siarkan langsung segala…itu baru lumayan pantes dikategorikan lebay).
Foto-foto yang di bagi oleh keluarga Andien sekedar menunjukkan ekspresi “cinta”, sama sekali nggak bernuansa “seksual” ataupun porno.
Sejak kapan orang melahirkan itu porno? Ini sama aja kayak orang-orang Amrik sana yang menganggap bahwa “menyusui” bayi itu juga hal yang “saru”, “tabu” dan “porno” :-D. Tapi anehnya berpose telanjang dianggap biasa-biasa saja. Semakin lama saya benar-benar semakin merasa betapa miripnya masyarakat amrik dengan indonesia ^_^.
Hal-hal yang secara natural dikodratkan pada makhluk hidup dimuka bumi, tapi dianggap “TABU”, how ridiculiously funny…

Baru juga informasi dan foto begitu aja dari Andien udah dibilang “menjijikkan” dan tabu… apalagi kalau mereka lihat betapa banyak video proses kelahiran natural yang bisa diakses dengan mudah di YouTube ya? Banyak dari para ibu di video itu bahkan sepenuhnya telanjang. Andien mah masih pake baju, ya!
Para wanita di Indonesia begitu terbiasa dengan begitu banyaknya servis yang ada mungkin, begitu banyaknya orang disekelilingnya yang bisa membantunya ngurus anak, dan begitu menganggap enteng “operasi caesar” sehingga membuat mereka melupakan bahwa proses melahirkan itu adalah hal yang sepenuhnya “NATURAL”, tidak layak untuk masuk kategori “tabu”, apalagi kita nggak lagi hidup di jaman kuno dimana bahkan wanita yang haid dan nifas pun dianggap “kotor” hingga “suami” pun ngga boleh “menyentuh”-nya.
Sungguh kolot pula memandang bahwa peran serta seorang suami dalam proses kelahiran dan ungkapan kebahagiaannya ketika si bayi lahir ditangannya dianggap “gesture” yang tidak pantas (rolling my eyes…).
For God sake, this man didn’t give her a french kiss! It was merely a light peck.
Ada bidan dan orang-orang lain disekitarnya gitu lho, yang benar aja lah…

Harap jangan salah tangkap ya, saya ngga bermaksud menganggap wanita yang melahirkan melalui operasi caesar itu lebih rendah nilainya daripada ibu yang melahirkan natural lho. Ada banyak situasi khusus yang membuat kelahiran caesar adalah hal yang terbaik bagi beberapa kasus tertentu. Tapi bagaimanapun adalah fakta bahwa SETIAP WANITA terlahir kedunia dengan membawa karakteristiknya yang khas sebagai media untuk membawa generasi baru kemuka bumi, jadi pada dasarnya kita sudah dilengkapi dengan semua yang dibutuhkan untuk membawa manusia baru ke muka bumi dengan selamat. Jangankan binatang liar, wanita-wanita yang hidupnya jauh dari peradaban modern semuanya juga melahirkan tanpa asistensi dokter ahli dengan peralatan canggihnya kan?!
Apakah kemampuan alami itu akan dimanfaatkan oleh setiap dari kita atau tidak, itu adalah soal lain lagi.
Mungkin wanita-wanita Indonesia yang menganggap lebay tulisan ataupun video tentang hal-hal semacam ini karena mereka nggak perlu ngerasain repotnya dan khawatirnya harus menjalani semua proses (yang bagi setiap “calon ibu baru” menakutkan) karena di sana ada banyak orang yang bisa mereka andalkan untuk membantu, bahkan bayar asisten banyak pun nggak susah karena murah.
Mereka nggak tahu betapa tulisan ataupun video yang di bagi oleh sesama ibu di dunia ini bisa sangat membantu sekali bagi kita-kita khususnya yang tinggal jauh dinegeri orang tanpa orang tua yang bisa dimintai tolong dan dimana jasa pembantu ataupun baby sitter adalah sebuah kemewahan.

Memang benar jasa medis di negara maju bisa diandalkan, tapi itu kan tidak lantas kita bisa mendapatkan semua informasi dan bantuan dari mereka. Dan tidak pula semuanya bisa ditanggung asuransi, khususnya jika itu hal-hal yang nggak mengancam kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi. Akan tetapi tetap saja itu bisa berupa hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh para calon ibu yang sedang mengandung untuk yang pertama kali.
Jadi adanya orang-orang yang bersedia berbagi pengalaman pribadinya (yang sebenarnya tergolong privacy dan sakral) adalah hal yang justru patut untuk dihargai.
Toh itu bukan sebuah aib, itu bukanlah hal yang memalukan gitu lho…

Saya juga kebetulan tertarik akan proses melahirkan dalam air, karena itu saya suka melihat dan membaca apapun yang bisa saya temukan tentang pengalaman pribadi orang yang mengalaminya, jadi nggak cuma informasi yang sifatnya teori saja dari jurnal-jurnal medis dan omongan dokter doang.
Kalian-kalian yang merasa tidak butuh, ya nggak papa, tapi mbok nggak usah nyinyir…
toh nggak ada yang menyuruh kalian untuk melihat atau membacanya kan?!
Kita semua tahu betapa banyaknya operasi caesar di indonesia yang dilakukan tanpa adanya rekomendasi medis, melainkan murni karena alasan: ngga mau sakit, takut vaginanya melebar (hingga suami jadi berpotensi untuk ngelirik perawan sebelah 😀 ), dan alasan-alasan nggak rasional lainnya semacam itulah, hanya karena merasa secara finansial mampu menanggungnya.
Jadi adalah hal yang menurut saya justru sangat positif, ketika ada publik figur yang mau berbagi karena itu bisa menjadi semacam “encouragement” pada para wanita yang sedang mengalami ketakutan untuk melahirkan normal dan sedang bimbang karena dibujuk dokter (yang mata duitan) dan sebenarnya ibu-ibu yang sedang bimbang ini secara medis nggak butuh operasi.
Bagaimanapun harus kita akui bahwa pengaruh “artis” dan efek persuasif dari tindakan mereka pada publik itu cukup besar.

Lagipula… rasanya lucu juga kalau menyebut “video dan foto orang melahirkan” itu tabu dan saru, tapi anehnya ngomongin aib suami sendiri, dan bercanda serta bercerita tentang kehidupan seksualnya bersama suami/istri, bikin jokes-jokes berbau seks kok nggak dianggap tabu ya… Malah kadang jadi topik tipikal di tayangan komedi lho…
Betapa paradoks… ^_^ .
Bahkan nguliahin orang tentang pilihan pasangan hidup orang make dalih agama (yang notabene adalah urusan pribadi yang paling pribadi), dianggap normal (lagi-lagi jadi “rolling my eyes…”), pada nggak sadar bahwa kalau sebaliknya ada orang yang negur atau nasehatin dia tanpa diminta, dianya marah-marah juga…merasa tersinggung 😀 .

Seharusnya, orang-orang yang ngaku dirinya “intelek” bisa membedakan mana yang patut untuk dikategorikan “lebay” dan pamer dengan yang nggak.
Kalau ngomongin “Ah, artis sih… cuma melahirkan aja pake masuk berita, semua wanita juga bisa melahirkan, apanya yang istimewa?!”
Hmmm saya jadi heran, siapa pula yang bilang kalau dia itu istimewa? Nggak ada kan?
Lagipula, dijaman media digital saat ini… siapa orangnya yang butuh jadi artis dulu untuk bisa memamerkan dirinya dimata dunia coba?
Setiap orang bisa upload gambar-gambar dan pengalamannya sendiri dan membaginya pada publik tanpa memandang apapun statusnya. Dan kalau beruntung, setiap orang juga punya kesempatan yang sama untuk membuat postingannya menjadi viral dan bikin dia terkenal di dunia.
Jadi siapa bilang cuma artis yang bisa melakukan itu?
Di jaman sekarang ini semua orang bisa melakukannya, itu kalau memang mau 😀 .
Saya kok trus jadi punya prasangka ya, para wanita yang suka sinis itu sebenarnya sirik karena suaminya kolot dan menganggap bahwa terlibat aktif dalam proses kelahiran anaknya sendiri itu hal yang “menjijikkan”.
Kalau mereka mau jujur, pasti akan mengakui bahwa orang yang paling terdekat dalam hidup kita dan paling punya potensi untuk memberikan dukungan moril dan kekuatan untuk berjuang, yang seharusnya paling bisa dipercaya adalah orang terkasih kita… (bahkan yang harusnya paling layak untuk jadi tempat kita mempercayakan nyawa. Bukankah setiap proses melahirkan itu adalah saat antara hidup dan mati?)
Dan siapa lagi itu kalau bukan belahan jiwa kita sendiri (logisnya lho ya)?
Yang paling diharapkan selalu ada disisi saat itu adalah pasangan hidup kita, kecuali jika sikon tidak mengijinkan itu.
Para wanita yang pasangannya tidak merasa bahwa mengekspresikan kasih itu hal yang memalukan dan tabu, tidak akan mengungkapkan hal-hal yang sinis seperti itu, bahkan meskipun dia sendiri kebetulan tergolong orang yang suka melindungi privacynya seperti saya.
Orang yang isi kepala dan hatinya bersih, merasa “content” dengan hidupnya, tidak akan sinis dengan kebahagiaan orang lain, karena dirinya sendiri juga sudah cukup bahagia :-D.
Sepertinya istilah: “Susah ngeliat orang lain senang dan senang ngeliat orang lain susah”, kadang-kadang emang tepat banget untuk diterapkan pada “jenis-jenis” tertentu manusia di Indonesia hahahahaha.

Saya sendiri… mungkin juga ngga selalu menganggap semua informasi yang saya temukan di Internet itu bagus untuk diterapkan pada saya, tapi saya tetap bisa menghargai setiap informasi yang dibagikan orang. Semua adalah tugas kita sendiri masing-masing untuk menyaring mana yang cocok dan mana yang nggak buat kita, tapi tetap sangatlah bagus bahwa ada begitu banyak yang bisa kita temukan dengan bantuan internet di jaman modern ini.
Meskipun tak ada ibu yang bisa mendampingi, kita jadi nggak merasa buta dan “helpless” dengan adanya semua itu.

Ok deh..sekian dulu ocehan saya hari ini… sampai jumpa lain kali hehehe.

 

 

Menstrual Cup

Standard

Hallo… akhirnya ada waktu nulis lagi ^_^. Kali ini saya ingin mengulas soal “menstrual cup”, hmm… makanan apaan sih tuh?

Sejauh ini di Indonesia yang populer dipakai selama menstruasi masih pembalut wanita, walaupun mungkin sudah ada sebagian wanita di Indonesia yang memakai tampon. Hanya saja tampon di Indonesia masih tergolong produk mahal dan tidak bisa ditemukan disetiap toko atau super-/minimarket. Selain itu, meskipun sudah menikah akan tetapi tidak semua wanita merasa nyaman memakainya. Daya serap tampon yang kuat dan ditempatkan di dalam organ kewanitaan membuatnya tidak hanya menyerap darah menstruasi, melainkan juga seluruh cairan kewanitaan yang sebenarnya diperlukan untuk menjaga keseimbangan PH di organ intim wanita. Oleh karena itu para wanita yang memiliki sensitifitas cukup tinggi akan mudah mengalami iritasi di lokasi tersebut, seperti contohnya saya.

Setengah tahun terakhir dikala sedang mencari informasi tertentu di internet saya terantuk pada produk baru pesaing pembalut dan tampon, yaitu “menstrual cup”. Sebenarnya produk ini tidak bisa dibilang baru juga sih, karena dia sudah dipasarkan cukup lama, hanya saja sepertinya kurang begitu populer. Entah karena kurang sosialisasi atau mungkin memang target pasarnya yang masih berada dalam fase takut mencoba hal baru. Terutama karena dulu harganya cukup mahal. Supaya lebih gamblang berikut akan saya tulis nilai-nilai plus dari menstrual cup:
Bisa dipakai ulang ==> selama menstruasi tidak perlu disterilkan, cukup dicuci saja dan bisa dipakai lagi. Cup ada dalam beberapa pilihan ukuran sesuai volume menstruasi masing-masing wanita. Saya sendiri selama ini pakai ukuran S dan sepanjang malam masih tidak perlu ganti. Jika menstruasi selesai mensterilkannya pun tidak susah. Cukup merendamnya dengan air hangat dicampur sedikit cuka kemudian bisa dibilas dengan air hangat lagi. Sebelumnya bisa juga dicampur sedikit sabun cuci tangan jika diinginkan, cuma harus dibilas yang bersih supaya bagi yang sensitif sama sabun juga ngga terganggu. Saya sih ngga pernah pakai sabun. Kalau mau bisa beli juga cairan atau tissue pembersih khusus untuk cup yang diproduksi perusahaan yang bersangkutan. Tapi sebenarnya sama sekali nggak perlu.
Gampang banget kan?

Harga tidak lagi bisa disebut mahal jika dibandingkan dengan produk sekali buang seperti tampon dan pembalut, karena menstrual cup terbuat dari silikon lembut yang tahan lama dan bisa dipakai terus selama masih dibutuhkan. Di Jerman kita sudah bisa mendapatkannya dengan harga 9,90€ dan itu bisa dipake terus sampai kita udah nggak butuh lagi. Coba bandingkan dengan budget bulanan untuk tampon dan pembalut.
Lebih nyaman daripada tampon meskipun pemakaian juga didalam vagina. Kenapa? Karena dia hanya menampung darah menstruasi dan tidak menghisap cairan vagina, sehingga keseimbangan flora dalam vagina tetap terjaga. Vagina tidak akan kering dan iritasi lagi. Cairan dalam vagina tidak cuma berfungsi sebagai “lubricant”, tapi juga menjaga keseimbangan PH dan “antibacterial”. Karena itulah mengapa wanita yang tergolong sangat sensitif cenderung tidak cocok memakai tampon. Karena tampon menyerap semua cairan yang ada dalam vagina, termasuk “lubricant dan antibacterial substance” yang ada dalam vagina. Saya cuma pernah coba tampon sekali, itupun ngga sampai habis dan langsung berganti kembali pakai pembalut sampai saya bertemu dengan “menstrual cup”.
– Kita bisa tetap berenang dan berendam di bath tub selama datang bulan.
Praktis dan tidak makan tempat. Sekarang tak perlu lagi mengalami insiden: “Waaa, tiba-tiba hariku datang dan aku lagi kehabisan (atau nggak bawa pembalut), gimana nih?!?”

tasse

image: amazon

Bentuknya yang kecil dan saat beli biasanya diberi kantong

p60902-1500181

image: koleksi pribadi

cantik untuk bungkus, jadi memudahkan kita dalam membawanya setiap kali “travelling untuk liburan” atau pergi kemanapun di masa-masa menstruasi kira-kira akan datang. Ngga makan tempat di tas lho, tampon dan pembalut jelas makan tempat cukup banyak :-D.

Ini point terakhir yang menurut saya justru yang terpenting meskipun mungkin bagi sebagian besar orang kurang jadi perhatian, yaitu: “Dengan memakai menstrual cup kita ikut berkontribusi mengurangi SAMPAH di muka bumi. Dengan kata lain kita ikut berkontribusi memelihara bumi kita.” Bayangkan coba berapa banyak sampah yang diproduksi wanita setiap bulannya hanya dari pemakain tampon dan pembalut?!? Hal sangat besar artinya bagi Indonesia yang penduduknya segitu banyaknya dan tak punya managemen sampah yang baik.

Ada plus tentu ada minus, berikut adalah kelemahan produk ===>>> Ketika bepergian dan bertemu toilet umum yang tak memberikan cukup privacy untuk membuang isi cup (toilet yang lokasi bak untuk cuci tangannya berada diluar), misalnya saja saat pergi ke pantai. Masalah ini solusinya cukup mudah, bawa aja 1 pembalut untuk ganti ketika bepergian demi berjaga-jaga menghadapi situasi tak terduga seperti ini. Cup-nya sendiri untuk sementara cukup dibersihkan dengan tissue didalam bilik dan nanti dicuci di wastafel diluar bilik dan masukkan tas. Dengan memakai cup dan hanya membutuhkan ekstra pembalut untuk emergency saja, maka kita sudah berhasil mengurangi sampah dan berhemat dalam jumlah besar lho. Lagipula, pengalaman menunjukkan bahwa cup biasanya bisa bertahan selama setidaknya 10-12 jam, jadi sebenarnya masalah ini nyaris tak pernah saya jumpai. Tapi jika perlu kita juga masih bisa memakai satu ukuran lebih besar jika bepergian jauh dan dalam waktu lama, supaya tidak perlu membuang isi selama masih dijalan dan tak bertemu toilet yang layak. Untuk di Indonesia sendiri hal ini bahkan sama sekali bukan masalah karena di Indonesia kita cebok pakai air, jadi di dalam bilik toilet pasti ada fasilitas selang penyemprot yang bisa dipakai untuk mencuci “cup” hehehe.
Diluar hal ini saya tidak menemukan kelemahan apa lagi yang bisa saya sebutkan, kecuali mungkin bagi perempuan yang masih perawan yang tentunya tak ingin memasukkan apapun kedalam vagina hehehe.
Cara pemakaian dan melepasnya kembali juga sangat mudah. Jauh lebih mudah daripada yang saya bayangkan sebelumnya ketika baru membaca referensi di media cetak ataupun elektronik. Di Youtube bisa ditemukan banyak video tutorial tentang ini. Ya, saya memutuskan untuk mencoba tentu saja setelah banyak mempelajari referensi yang ada. Sekarang saya bisa membuat testimoni tangan pertama: Sama sekali tidak sakit, tak seperti yang saya khawatirkan sebelumnya, meskipun bentuknya terkesan besar. Cup-nya sangat lembut dan lentur, tidak seperti tampon yang meskipun kecil tapi keras. Daya serap tampon yang kuat itulah yang memberi saya rasa tidak nyaman dan cenderung menggigit, sehingga membuat saya selalu kesulitan dalam memasang meskipun cukup kecil. Apalagi jujur saja, saya selalu ada perasaan takut tidak bisa mengeluarkan si tampon kembali, ini cuma anggapan personal saya tentu saja 😀 😀 .
Tapi saat memakai menstrual cup rasa khawatir itu tidak saya rasakan.
Ketika memasukkan mangkuknya kita lipat supaya mulutnya cukup kecil untuk dimasukkan dan begitu sampai didalam cukup melepaskan jari dan otomatis akan tercipta situasi “vacuum” yang membuatnya menempel di mulut rahim dengan kuat untuk menampung darah menstruasi dan tak memberinya peluang untuk menetes keluar. Untuk melepasnya kembali kita cukup memasukkan satu jari dan menekan ujung bawah cup supaya kondisi “vacuum” hilang dan mulut cup pun terlepas dengan sendirinya dari mulut rahim sehingga bisa ditarik perlahan dengan dua jari sementara posisi mangkuk dijaga tetap vertikal agar tidak tumpah. Buang isi ke toilet, cuci di wastafel, lap dengan tissue dan pasang lagi, beres.
Untuk lebih jelasnya bisa dilihat panduan pemakaian di Youtube seperti berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=9jSGCqr3c74  atau disini:  https://www.youtube.com/watch?v=84Yjy9yR55w

https://www.youtube.com/watch?v=ilq2Mdau2TU (Yang ini berbau iklan hehehe, cuma lebih bagus penjelasannya)
dan masih banyak lagi  lainnya, silahkan di google saja sendiri ^_^.

Referensi pribadi dari saya: I’m really satisfied with this product, that’s why I’m now sharing it to you ^_^.
Good bye TRASH 😀 !!! Good Bye too stockpile of sanitary napkins ^_^!
And I can use the budget for those napkins to have some fun LOL!
What do you think friends 🙂 ?