Melahirkan secara anonim vs. aborsi

Standard

Kemarin di bus saya melihat stiker seperti ini:

1383805_10152639753308231_228929436095241828_n

Segera itu mengingatkan saya kepada deretan polemik yang selalu ada tidak cuma di Indonesia tetapi bahkan juga di negara tergolong maju seperti USA, yaitu polemik tentang penanganan kasus kehamilan anak-anak dan remaja, pendidikan sex di sekolah, KB khususnya pemasyarakatan kondom (via Automat) dan pelunakan ijin aborsi.

So… di Jerman sendiri yang namanya “Babyklappe” ini sebenarnya sudah ada cukup lama, meskipun secara hukum berada di area abu-abu dan pada awalnya cuma dijalankan secara independen oleh yayasan kemanusiaan yang peduli sehingga ada berapa jumlahnya di jerman tidak bisa disebutkan secara pasti, perkiraan kasar adalah 130 buah. Tak usah diherankan lagi jika itu disebabkan oleh adanya tentangan dari golongan konservatif aka religius yang selalu memakai argumen “akhlak dan etika” sebagai “excuse”, di seluruh dunia isu-nya sama saja.

Apa sih “Babyklappe” itu?  Itu adalah sebuah box bayi yang disediakan bagi orang yang menghadapi situasi sulit kehamilan tak diinginkan tapi tak ingin menggugurkan kandungannya, untuk menyerahkan bayinya agar bisa diadopsi orang lain secara anonim. Box-nya tidak ada yang mengawasi tidak ada juga kamera terpasang dan hanya dilengkapi dengan semacam alarm yang akan menghubungi perawat jaga jika ada bayi yang baru saja ditaruh disitu supaya si bayi bisa segera diambil untuk diurus dengan semestinya oleh si perawat yang bertugas. Pihak klinik terkait tidak bisa melihat siapa yang menaruh si bayi jadi sang ibu yang terdesak tersebut tetap bisa anonim. Bertahun-tahun terjadi diskusi pro dan kontra tentang hal ini namun selama itu layanan tersebut tetap ada. Well, saya rasa mereka benar: “Es ist besser ein Baby ohne Namen zu erziehen statt ein totes Baby zu finden.” Lebih baik membesarkan seorang bayi tak bernama (tanpa identitas) daripada menemukan bayi yang sudah menjadi mayat. Yang kedua ini yang jauh lebih sering kita temukan di Indonesia bukan? Yang mana coba yang lebih manusiawi? Apa sih artinya teriak-teriak anti aborsi dengan segala argumen tapi tanpa memberikan solusi apapun? Segaala isu akhlak dan agama dibawa dengan berapi-api tapi tanpa masukan yang produktif untuk menyelesaikan problem. We need solutions, not just complains. Jika agama memang cukup untuk menyelesaikan masalah dunia ini, saya rasa di bumi ini sudah lama tidak ada perang, kriminalitas dan kelaparan. Tapi faktanya tidak begitu kan? Sex dan kehamilan tak diharapkan pada remaja adalah realita gelap yang harus ditemukan pemecahannya. Dan pen-Tabu-an pendidikan sex di sekolah yang masih jadi isu di masyarakat negara dunia ketiga seperti indonesia, juga demo melawan pemasaran kondom secara luas seperti penjualan Kondom via ATM juga sama sekali tidak membantu. Keingintahukan anak-anak adalah hal yang alamiah. Jika mereka tidak mendapatkan jawaban dari rumah dan tidak pula di sekolah, maka mereka akan mencari jawabannya diluar sana. Dan bisa kita bayangkan sendiri apa hasilnya… Contohnya adalah seperti kasus paling gress berikut ini nih: http://news.fimadani.com/read/2015/01/27/tuban-geger-siswi-sd-12-tahun-ajukan-nikah-karena-hamil/

Sebenarnya memang artikel berita inilah yang mendorong saya jadi ingin mengeluarkan uneg-uneg dan membahas soal “anonimitas dalam melahirkan bayi yang tak direncanakan” ini. Jika orang tuanya cukup berpikiran sehat, bukankah jauh lebih baik jika mereka mengatur adopsi cucunya sendiri atau oleh saudara yang lain mungkin. Supaya nanti si ibu bisa sekolah lagi setelah melahirkan. Si pemuda toh tetap bisa dituntut untuk memberi nafkah lahir kalau memang dikehendaki.

Saya benar-benar tidak mengerti apa yang ada di otak birokrat konservatif dan juga masyarakat kolot di Indonesia ini. Bagaimana bisa seorang anak berusia 12 tahun mau ngotot di nikahkan dengan pria yang usianya 23 tahun? Apapun alasannya, sex dengan anak dibawah umur itu adalah kasus pedofilia. Kalau di jerman sini hukumannya berat sekali… lah ini malah mau dinikahkan. Lha iki piyeeeee. Kesalahan bukannya dibetulkan malah tambah di bikin parah. Akan jadi apa pula si bayi nanti tumbuh bersama ibu yang masih sepantasnya main ayunan? Lagi-lagi masalah utamanya adalah mentalitas lebih takut kehilangan muka daripada melihat masalah, menghadapi dan menyelesaikannya dengan benar. Hmmm…. jangan heran kenapa negeri kita ini lambat sekali perkembangannya…mentalitas enggan melihat masalah dan memilih menyembunyikan borok, menganggap bahwa kalau tidak kelihatan lagi semua beres…well… itu dia akar ketertinggalan bangsa ini. Tidak mau menghadapi masalah, tapi lebih suka ngumpet dan menyembunyikannya.

Kembali ke tema anonimitas dalam melahirkan… Lain Indonesia lain Jerman. Disini orang terbiasa untuk mencari solusi ketika dihadapkan pada masalah. Solusi yang kurang lebih bisa menolong dipandang dari berbagai sisi. Kita tidak bisa menutup mata bahwa remaja dan anak-anak adalah masa-masa rawan…rentan terhadap pengaruh dunia luar. Masa-masa mencari identitas diri yang sangat mudah menjebak mereka dalam kesulitan dan dukungan globalisasi serta teknologi informasi membuat ancaman negatif pada para remaja jadi makin besar. Semua orang bisa berbuat kesalahan, tak ada manusia sempurna.. Tapi ketika kesalahan itu terjadi, waktu tidak bisa diputar balik… Karena itu yang dibutuhkan selanjutnya adalah solusi. Sungguh tidak mendidik jika kesalahan remaja tersebut dibiarkan merusak masa depan mereka selamanya, jika si remaja itu sendiri punya niat untuk memperbaikinya. Mereka harus memiliki kesempatan lagi untuk sekolah dan melanjutkan cita-citanya. Jangan karena kesalahan yang proses pembuatannya cuma sesaat lantas mereka harus hancur selamanya. Dan membiarkan anak-anak dibesarkan oleh anak-anak juga yang masih labil, adalah keputusan terburuk yang bisa dilakukan orang. This is not only about the existence of money but more about psychology.

Selama ini pertentangan yang ada di Jerman sendiri terhadap ide “melahirkan secara anonim” ini lebih didominasi oleh adanya kontradiksi antara hak anak untuk mengetahui asal-usulnya yang dilindungi oleh Konstitusi (Artikel 2 Abs. 1 i. V. m. Artikel 1 Abs. 1 Grundgesetz) dengan  ‘der allgemeinen Persönlichkeitsrecht (Artikel 2 Abs. 1 i. V. m. Artikel 1 Abs. 1 GG) gibt das Recht auf informationelle Selbstbestimmung dem Einzelnen die Befugnis, grundsätzlich selbst über die Erhebung, Speicherung, Verwendung und Weitergabe seiner persönlichen Daten zu bestimmen (BVerfGE 65, 1 [43]; 78, 77 [84]; 84, 192 [194]; BVerfG FamRZ 2007, 441 ff.)’.

UU yang kedua ini melindungi hak privat warga negara untuk menentukan/memutuskan sendiri seberapa banyak informasi pribadi yang ingin dia teruskan kepada orang lain. Hak ini cuma bisa dikesampingkan oleh adanya keputusan dari organ pengadilan. Karena itu sungguh melegakan ketika pada akhirnya di tahun 2014 keluar UU baru yaitu: Das Gesetz zum Ausbau der Hilfen für Schwangere und zur Regelung der vertraulichen Geburt. Disini pemerintah, dalam hal ini Kementrian urusanKeluarga, Wanita, Lansia dan Anak-anak memiliki dasar hukum untuk membantu para wanita yang mengalami situasi sulit kehamilan tak diinginkan tersebut agar sang bayi bisa dilahirkan dengan selamat dan sang ibu bisa melanjutkan hidup dan memperbaiki kesalahannya dimasa lalu kemudian kembali menyongsong masa depan. Dari mulai konsultasi kesehatan selama masa kelahiran sampai sesudah melahirkan semua diberikan secara gratis dan si ibu bisa tetap anonym (setidaknya sampai si anak berusia 16 tahun).

Layanan pendampingan calon ibu itu disebut: “vertrauliche Geburt” yang dikelola oleh kementrian keluarga dengan hotline: 0800-4040-020 atau bisa juga ditemukan informasinya disini: https://www.geburt-vertraulich.de/vertrauliche-geburt/ (Bagi imigran yang belum lancar berbahasa jerman, dan cuma bisa berbahasa inggris tetap welcome, tinggal klik bendera inggris di web tersebut).

“Vertrauliche Geburt” agak berbeda dengan “Babyklappe”. Babyklappe benar-benar menjanjikan anonimitas, yang seperti saya sebut diatas, secara hukum ada di area abu-abu. Dan pada prinsipnya cuma memberi kesempatan seseorang memberikan bayinya yang baru dilahirkan untuk diadopsi secara anonim. Sementara layanan dari pemerintah ini meminta si Ibu untuk memberikan data dirinya yang akan disimpan dalam amplop bersegel yang akan tetap terjaga kerahasiaannya. Data ini harus ada demi memberi kemungkinan terjaganya hak konstitusional si anak untuk mengetahui asal-usulnya setelah mereka dewasa. Informasi tentang si ibu ini bisa diteruskan kepada si anak setelah usianya 16 tahun, jika si anak memang ingin mencari ibunya. Jadi yang boleh melihatnya cuma si anak sendiri. Akan tetapi hal inipun bisa di kesampingkan jika saatnya tiba, apabila pengadilan menganggap bahwa demi kepentingan, kesehatan dan keselamatan ibu dan anak jauh lebih penting daripada dibukanya identitas tersebut. Selain itu disini mereka memberikan pendampingan moril maupun kesehatan dari masa kehamilan sampai melahirkan secara cuma-cuma dengan tetap menjaga agar privacy si wanita tetap terlindungi.

Jujur saja, penyelesaian ini saya rasa sangat rasional dan tetap manusiawi. Tidak ada manusia didunia ini yang selalu melakukan hal benar dalam hidup… tapi setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Jika pemerintah memang ingin bekerja untuk kebutuhan dasar rakyatnya akan kehidupan yang layak dan rasa aman, maka sudah seharusnya kebutuhan mereka itulah yang jadi prioritas dan bukannya sekedar “pemenuhan ajaran agama” yang semu. Kenapa saya bilang semu? Menikahkan seorang wanita hamil pada dasarnya secara agama juga tidak diperbolehkan bukan? Seperti kasus di Tuban diatas pada akhirnya sama sekali tidak menyelesaikan kasus “sex pranikah” yang menyebabkan kehamilan bukan? Bahkan kasus pelecehan dan manipulasi seksual terhadap anak-anak pun tidak jadi fokus pertimbangan. No no no, pernikahan dini yang dipaksakan tersebut sama sekali tidak mengurangi kasus seks bebas dikalangan anak dan remaja, juga tidak akan mungkin menurunkan generasi penerus yang lebih baik. Tidak hanya masa depan si ibu muda yang rusak melainkan juga si calon bayi nantinya… Apa yang bisa diharapkan dari anak 12 tahun yang harus membesarkan bayi?

Well… sejauh yang saya tahu, layanan “Kelahiran anonim” ini selain di Jerman juga ada di Perancis dan Austria… dan semoga saja suatu saat akan ada di negara lain juga termasuk indonesia. Sangat menghancurkan hati setiap kali lagi-lagi harus membaca berita tentang ditemukannya mayat bayi di tempat sampah, tewasnya ibu muda karena pengguguran kandungan ilegal dan semacamnya itu. Jika ingin menghindari hal-hal mengerikan macam ini… DEMONSTRASI anti kondom atau anti aborsi saja tidak cukup… Sediakanlah solusi lain yang rasional dulu, jangan cuma asal melarang dan menentang sesuatu.

Advertisements

2 responses »

  1. Soal anggaran itu jelas kendala besar, tapi yang terbesar jelas mentalitas masyarakatnya :). BTw, kultur adalah bentukan masyarakat sendiri..Es entwickelt sich immer im Laufe der Zeit. Jadi bukan berarti tidak bisa berubah… Jika masyarakat ingin berkembang menjadi lebih baik, maka tentunya kultur itu harus berubah menjadi hal yang lebih baik pelan-pelan.
    Semua tergantung masyarakatnya sendiri juga, ingin tumbuh menjadi seperti apa.
    Globalisasi memberikan kita lebih banyak pilihan dan kemungkinan, yang menyedihkan adalah karena ternyata kecenderungannya yang diambil oleh masyarakat indonesia cuma kemungkinan untuk meniru hedonisme film hollywood, keglamouran yang dijual di TV dana kebebasan yang juga cuma dijual oleh film, dan bukannya yang positif tapi justru yang negatif.
    Hingga yang beredar cuma asumsi bahwa segala yang berbau asing itu liar dan bejat, mesum…
    padahal kalau dibandingkan dengan fair…:
    “kehidupan malam di kota2 besar eropa dengan di jakarta dan metropolitan lain indonesia lebih hedonis dan gemerlap mana?”. Perokok dan pemadat di eropa dan di indonesia banyakan mana? Drug dealers dan prostitusi lebih liar mana disini dan disana? Kehamilan diusia anak2 dan remaja, kematian ibu dan anak, pembuangan bayi, pemerkosaan dan pelecehan seksual kasusnya banyakan mana?
    Semakin tertutup dan semakin banyak hal di tabukan disebuah masyarakat, angka pelanggaran dan masalah yang tak terkontrol pada dasarnya semakin banyak. They are just unseen, not always visible. Ibarat gunung es, yang tampak cuma seujung sementara masalahnya sendiri sebenarnya segunung.
    Jadi dalam hal ini kamu juga benar…. masih jauh sekali jalan untuk indonesia teratur dan makmur
    😉

    Like

  2. Setuju banget ama tulisanmu Na! Ak juga miris banget tiap liat ada mayat bayi ditemukan disampah dan sebagainya. Banyak kasus juga anak lahir terus ditinggal gitu di depan rumah sakit atau rumah orang atau jalanan. Yang ditakutkan kalau ada semacam babyklappe di Indonesia, orang bakal seenaknya ‘bikin’ anak nggak tanggung jawab : ‘Ah taruh aja di ‘babyklappe’ beres!’ naah mungkin ini juga berkenaan dengan anggaran. Sepertinya Indonesia yang masih taraf berkembang, duh kapan majunya ya Na hehe, belum bisa kesini. Mungkin bakalan rumit juga mengingat Indonesia yang berbeda culture.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s