Rangkaian kalimat penutup keributan rutin tahunan tentang Natal

Standard

Menutup tema keributan tahunan tentang ucapan selamat natal kali ini saya punya beberapa penggal paragraf untuk dibagi:

“You know what? Saya setuju bahwa untuk berteman dengan orang yang berbeda itu tidak lantas harus mengikuti adat si teman. Jadi kalau memang ada yang tidak ingin mengucapkan selamat berhari raya kepada orang beragama lain, apapun alasannya itu adalah hak yg bersangkutan dan takbisa diganggu gugat. Tidak ada yang berhak memaksa untuk nunjukin toleransi dengan cara ngucapin selamat, tapi dilain pihak percayalah: “TIDAK ADA juga lho yang meminta-minta dan menuntut diselamati oleh orang lain.”

Analoginya: Ibaratnya dari sekian banyak teman saya ini, kalau saya lagi ulang tahun dan ada yang ngucapin selamat ya pasti akan saya syukuri, tapi kalau sampai ada yang nggak ngucapin pun: Es ist mir auch SCHEIß EGAL!!! Saya ngga ambil pusing.

I would still be happy and get older anyway. Kalaupun sampai ada absennya ucapan ultah yang bisa bikin saya ngambek, paling-paling ya kalau pelakunya adalah suami saya sendiri. Adanya orang yg tidak ngasih selamat itu sama sekali ngga akan mempengaruhi rasa syukur dan gembira yang ada dalam merayakan hari besar itu.

Begitu juga kalau ternyata ada yang salah dalam ngasih selamat, that is not a big deal either.

There is NO NECESSITY to apologize at all. So what kalau ada yang ngasih ucapan saya “frohe Weihnachten und schönes neues Jahr”, meskipun saya bukan nasrani?!

Ucapan itu didasari niat yang tulus untuk mendoakan saya melewati hari tersebut dengan bahagia dan gembira. IS IT A BAD WISH that need to be sorry for? I don’t think so. Saya baru pantas ngerasa sakit, kalau ada orang yang mendoakan saya celaka :-D. Betul tidak?

Karena itu kadang saya suka tersenyum simpul sendiri kalau ada teman-teman yang meminta maaf karena telah mengucapkan selamat natal kepada saya. Well, i think it is really sweet and friendly of them to do so. That’s why i don’t complain about it either. But it’s actually not necessary at all. Apanya yang harus dimaafkan, they were just being a nice friend and wish me something good, jadi apanya yang salah? Yang membuat saya tersenyum simpul adalah kesadaran akan kenyataan, bahwa itu hanya terjadi pada teman-teman saya yang orang Indonesia.

Itu menjadi salah satu bukti betapa “RIBET”-nya menjadi orang indonesia itu. Dimana hal yang sangat sepele pun mungkin sudah bisa jadi alasan untuk tersinggung dan berselisih paham, hal yang mestinya berniat baik pun bisa jadi awal perselisihan hingga antara teman yang sebenarnya cukup baik pun sampai harus ekstra hati-hati seperti itu karena khawatir akan merusak indahnya pertemanan cuma gara-gara salah ngasih ucapan :-D. For God Sake, analogi berikutnya==> Apakah pantas saya marah cuma gara-gara ada teman yang salah tebak umur saya ketika ngasih ucapan selamat ultah misalnya? Itu ucapan selamat lho, kebayang nggak kalau urusannya lebih serius lagi. Ribet sekali kan?

Kembali yang menjadi problem disini bukanlah soal adanya orang yang tidak ingin ngucapin selamat natal/waisak/galungan/imlek or whatever it is. Tapi propaganda yang begitu gencar dilancarkan dan upaya memperlebar jurang perbedaan itulah yang MENYAKITI orang. If you don’t like to gratulate, then fine..it’s your choice, but please just shut up and keep it for your self… Don’t make a big issue about it if there is anybody else who thinks differently.

Propaganda terang-terangan itulah yang menyakiti saudara sebangsa anda yang berbeda itu, bukan sekedar adanya “orang-orang yang nggak ngucapin selamat”.

Karena propaganda larangan-larangan itu membuat mereka terkesan jadi kayak “makhluk aneh penyebar wabah yang berbahaya dan harus dihindari kalau ngga ingin celaka”. Seolah-olah mereka itu membawa kuman Lepra atau Ebola yang harus dihindari sejauh mungkin karena takut ketularan. Rasanya gimana sih di posisikan seperti itu?

Can YOU Please Try To IMAGINE How It Feels, If It Happens To Your Self When You’re Being A Minority Somewhere Else? Like Me Here In Germany For Example? Yang mana saudara-saudara seiman kita di beberapa lokasi di jerman timur sana harus rasakan ketika bertemu dengan para aktivis PEGIDA??????

COBA-lah mengaca sedikit. Jangan cuma mau menang sendiri. Kalau dinegara orang menuntut persamaan hak tapi di negeri sendiri mengucilkan dan memojokkan golongan lain juga. Jika anda mengangkat isu kebebasan beribadah dan berpendapat, maka hormati jugalah kebebasan orang lain. Jangkauan sebuah kebebasan itu berakhir dikala itu membentur pada eksistensi hak orang lain disekitar anda. Semua itu saling terikat dan mempengaruhi, jadi saling menjaga itu mutlak diperlukan demi terciptanya kehidupan bersama yang aman dan nyaman bagi semua pihak.

Seperti yang kalian sebut sendiri: “RELIGION IS ABOUT PERSPECTIVE, IT IS A BELIEF. No body of us has ever spoken to God directly. Karena itu setiap orang berhak memiliki perpektif-nya sendiri tentang Tuhan-nya dan ajaran-Nya.

Kita semua punya kitab dan otak sendiri, demikian juga didunia ini ada banyak ahli tafsir, jadi semua orang berhak mengikuti tafsir manapun yang sesuai dengan pandangan hidupnya masing-masing.

Ikut campur pilihan pribadi orang dan sok ngatur tanpa diminta itu tidak sopan dan kurang ajar namanya. Kalau ada orang nanya pendapat pribadimu, maka jawablah sebatas itu saja, tapi ngga perlu ditambahi dengan ngatur-ngatur orang lain yang jelas-jelas ngga satu perspektif dengan anda. Who are you to decide what others should do or not do?

"Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku
 pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari
 ketika aku dibangkitkan hidup kembali." 
 
Itu adalah penggalan QS Al Maryam: 34

Tanggal 25 Desember itu sendiri cuma sebuah konsensus, tanggal yang benar juga tidak ada yang tahu, karenanya umat orthodox aja merayakannya dihari lain lagi. But that is once again not a big deal either.
Begitu juga apa yang menjadi niat dalam hati orang yang mengucapkan selamat ataupun merayakannya juga adalah urusannya masing-masing. Jika umat Nasrani ingin menganggap itu hari kelahiran Tuhan-nya, then it is their belief. Jika ada yang mengucapkan selamat dengan niat ingin ikut mengucapkan salam sejahtera kepada lahirnya salah seorang nabi, then it is another belief. Jika ada lagi kelompok orang beragama lain lagi atau bahkan ngga beragama yang ingin ikut bergembira di hari itu cuma karena suka akan kemeriahannya dan hadiah-hadiahnya, juga lantas apa salahnya?
Ngga ada juga yang akan “MENCEREWETI” apa niat yang ada dihati masing-masing. Ngga ada yang tahu dan meributkan.

What is wrong with making a celebration, a party? Adakah bencana yang bisa timbul karenanya? Membuat keributan dan pertengkaran itulah yang jelas-jelas sebuah kesalahan dan lama-lama bisa memicu bencana.

Hukum agama tanggungjawab vertikal antara umat dan Tuhannya.

Tapi selama kita hidup didunia, selama kita masih mau bermasyarakat dan bernegara, dimana isinya unsur masyarakat yang beragam… kalau ingin tatanan masyarakat dan negara itu tetap harmonis dan tentram, maka hukum dunia itu juga harus jadi pertimbangan dalam bertindak.

Kalau ngga mau memperhatikan itu, buat apa hidup bermasyarakat dan bernegara segala? Mbok sono ngumpul sama sesama golongan sendiri aja dan mengisolasi diri aja, jangan bercampur dan bergaul dengan golongan lain. Jangan membentuk negara. Serius deh, jangan katakan bahwa kita ingin menciptakan krisis “Israel – Palestina” yang kedua dinegeri kita ini, dimana masing-masing golongan yang konservatif pada ngotot ingin negara yang “pure” Yahudi dan satu negara yang lain “pure” Islam Sunni, begitukah? Cuma mungkin kalau di Indonesia sini jadi ==> “satu negara murni islam sunni”, “satu negara murni kristen”, “satu lagi murni katolik”, “satu lagi murni hindu” dan seterusnya, begitukah?

What Kind Of Life or World Are We Creating then?

CONSTITUTION WAS MADE FOR A REASON… para pendiri negara ini membentuk konstitusi kita itu bukannya sekedar buat pajangan.

So if you still have a room for a brain in your head, please think it over…
And you have the whole year to do it, start from today.

Use your brain to think before other people do it for you! Kok ya sayang Tuhan udah repot-repot ngasih otak yang begitu hebat tapi ngga dimanfaatkan dengan baik,malah cuma ngandelin buah pikiran orang lain saja…manut pasrah bongkokan asal yang ngomong itu orang terkenal :-D.
Good luck!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s